Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Ketika Macan Betina Mengamuk


__ADS_3

"Mama ... k-kenapa belum tidur? A-apa Papa belum pulang dari k-kampus?" tanya Leon tergagap. Sungguh tak menyangka jika dirinya disambut oleh teriakan lantang dari mulut sang mama.


"Bagaimana mau tidur sementara hati mama masih gondok akibat kelakuan kamu. Kamu sadar tidak dengan kesalahanmu tadi siang?" Lagi dan lagi Bu Ayu berbicara dengan nada meninggi seolah Leon masih anak kecil yang patut dimarahi setiap kali pulang terlambat.


'Tuh, 'kan, bener feeling gue kalau nyokap masih belum bisa ngelupain kejadian tadi siang. Alamat telinga gue panas karena dengerin Mama ceramah. Nasib, nasib, malang banget hidup gue,' keluh Leon. Entah sampai kapan mamanya itu terus memarahinya seperti anak-anak. Mau ditaruh di mana mukanya jika kebiasaan itu tidak pernah hilang sampai kapan pun.


Menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang mama. "Maafin aku, Ma, tadi buru-buru banget sampai lupa kasih kabar ke Mama."


Masih dengan mata melotot dan berkacak pinggang bu Ayu berkata, "Sepenting apa urusanmu sampai lupa sama mama sendiri! Mama sampai nunggu lebih dari satu jam setengah karena berpikir kamu diare, eh tidak tahunya kamu tinggalin mama sendirian di mall. Keterlaluan kamu!"


Rahang bu Ayu mengeras menandakan betapa kesalnya dia terhadap Leon. Tanpa pikir panjang, wanita paruh baya itu menjewer telinga anak bungsunya sampai si pria meringis kesakitan.


"Aduh, sakit! Lepasin, Ma, ini sakit banget." Leon memegangi tangan Bu Ayu yang bersarang manis di telinganya.


Akan tetapi, bu Ayu yang sudah terlanjut marah tak menggubrik rintih kesakitan Leon. Dia tetap menjewer telinga anaknya itu sambil terus mengomel.


"Papamu saja yang sudah mulai sepuh tak pernah melupakan mama. Tiap kali pergi ke mall, supermarket, ataupun pasar tradisional, dia selalu ingat mama. Menoleh ke belakang beberapa kali untuk memastikan mama mengikutinya dengan setia. Lah kamu, masih muda, tapi sudah pikun."


"Ampun, Ma! Aku betulan lupa. Sumpah demi apa pun kalau tadi aku tidak sengaja meninggalkan Mama di mall. Serius, deh." Leon bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia terlalu mengkhawatirkan Lulu sampai melupakan mamanya yang sedang sibui memilih seragam batik untuk acara akhir pekan nanti.


Melihat wajah Leon yang memerah karena menahan sakit, bu Ayu tidak tega karena bagaimanapun pria muda itu adalah anak kandungnya yang dia lahirkan susah payah sampai harus mempertaruhkan nyawanya.


Menghunus tatapan tajam dan berkata ketus. "Kalau memang ada urusan penting, ceritakan pada mama, ada masalah apa? Jangan main rahasia-rahasian segala dengan mama!"


Leon tampak bingung harus menjawab apa. Menceritakan yang sesungguhnya kepada sang mama, tentu saja dia tak mau sebab itu sama saja seperti membuka aib Lulu di depan orang lain. Mencari alasan lain maka bersiaplah menerima hukuman yang lebih menakutkan kalau sampai mamanya tahu kalau dia sedang berbohong.


"Tadi ... ada urusan di rumah sakit, Ma. Ada operasi mendadak membuat aku harus segera pergi. Semua teman-teman sudah menunggu, termasuk Ghani di sana. Aku yang cuma bawahan Ghani, mau tak mau mesti datang meski saat itu tidak ada shift." Leon terpaksa berbohong, menyembunyikan kejadian tadi siang.


Bungkam. Bu Ayu tak lagi berbicara saat mendengar penjelasan sang putera. Sadar bahwa pekerjaan Leon sebagai seorang dokter tidaklah mudah, ada saja panggilan mendadak saat sedang berlibur.


"Jadi, karena masalah itu kamu pulang terlambat?" Kini nada bicara Bu Ayu sedikit melunak. Bahkan timbul rasa bersalah karena sudah memarahi anaknya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Mengangguk pelan. "Aku mengaku salah. Maafin aku karena membuat Mama marah. Sudah, ya, jangan marah lagi. Malu dilihat tetangga."

__ADS_1


Usaha Leon tidak sia-sia. Akhirnya bu Ayu luluh dan tak lagi marah-marah kepadanya. Wajah tak lagi tegang seperti semula.


"Lalu, apa kamu sudah makan? Mama masak gudeg lengkap dengan krecek kesukaanmu. Mau makan sekarang atau nanti saja?" Kendati kesal terhadap Leon, rupanya Bu Ayu tetap perhatian. Buktinya dia memasakkan makanan kesukaan anak tersayang meski dalam keadaan marah.


Tiba-tiba Leon merasa bersalah karena sudah berbohong kepada mamanya. Namun, bukankah berbohong demi kebaikan diperbolehkan?


"Mau mandi dulu, Ma. Badanku rasanya lengket banget. Setelah itu baru makan."


Bu Ayu mengangguk. "Ya sudah, nanti biar mama yang panaskan makanannya. Sana mandi dulu, agar tubuhmu segar lagi."


***


Sesampainya di kamar, Leon bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia menanggalkan semua pakaian lalu memasukannya ke keranjang pakaian kotor. Mengguyur tubuh di bawah air hangat rupanya membuat tubuh terasa jauh lebih rileks dan pikiran menjadi lebih tenang.


"Kali ini gue lolos, tapi enggak tau besok atau lusa. Lagian kenapa gue punya Mama mirip banget kayak emak-emak zaman sekarang, sih. Ngomel terus kerjaannya. Gue kadang heran, kok, Paoa bisa tahan hidup berumah tangga dengan Mama. Padahal Mama hobi marah-marah dan tukang kepoin urusan pribadi anak-anaknya."


"Ehm, apa mungkin karena Papa cinta mati sama Mama sampai bersedia nerima semua kekurangan yang ada pada dirinya?" Leon termenung seraya menggosok rambutnya menggunakan shampo. Lalu wajah Lulu saat sedang ketakutan melintas di benaknya.


Tubuh atletis dengan enak kotak liat melangkah mendekati nakas. Leon meraih ponsel dan menghubungi Ratna, guna mencari tahu informasi mengenai Lulu.


Tadi sebelum meninggalkan indekos Lulu, Leon dan Ratna sempat bertukar nomor telepon. Itu dilakukan untuk memantau kesehatan Lulu. Sewaktu-waktu suhu tubuh Lulu meningkat, pria itu bisa segera melajukan mobilnya dan mengantarkan Lulu ke rumah sakit.


“Halo? Leon?” sapa seseorang di ujung sana.


“Ya, halo. Na, kamu masih jagain Lulu?” tanya Leon sedikit ragu.


“Begitulah. Tadi Lulu sempat sadarkan diri, tapi karena aku kasih obat yang kamu beli, dia tertidur kembali. Mungkin efek obatnya baru bekerja." Ratna melirik ke arah Lulu yang sedang memejamkan matanya rapat. Diam-diam merasa kasihan karena gadis itu hidup sendirian di kota metropolitan ini.


"Lalu, gimana dengan demamnya. Apa sudah turun?”


“Sebentar, aku cek dulu." Lantas Ratna menghampiri pembaringan. Dia mengambil termometer yang sempat diletakkan di ketiak satu menit lalu.


Mengamati angka yang tertera di termometer. Angka tersebut menunjukan 37°C. Itu artinya sudah ada perkembangan setelah dan sesudah minum obat.

__ADS_1


Di sisi lain, Leon menunggu Ratna dengan setia. Jantungya berdebar menanti kabar terbaru dari teman indekos Lulu.


“Kayaknya sih sudah. Dahinya tidak terlalu panas seperti tadi. BTW, kamu khawatir banget, ya, sama Lulu?” tanya Ratna penasaran. Ini pertama kali baginya melihat seorang pria begitu mencemaskan keadaan Lulu sebab sebelumnya tak ada satu pria pun yang berhasil menggaet hati teman indekosnya itu.


Leon mengangguk. “Tentu saja. Aku ini dokter. Lulu sudah kuanggap seperti pasienku sendiri. Seharusnya aku yang merawat dia, bukannya pulang kayak gini. Makanya aku terus kepikiran dia dari tadi."


Ratna tersenyum samar mendengarnya. “Kirain kamu khawatirin dia sebagai pacarnya, ternyata sebagai dokter kepada pasien, toh."


"Sudah, jangan mencemaskan Lulu lagi. Dia aman sama aku. Aku emang bukan dokter atau perawat, tapi kalau jagain orang sakit sih, sudah berpengalaman.”


Leon menghela napas lega. Setidaknya dia telah melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang yang tepat. "Baiklah, aku titip Lulu, ya? Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku. Teleponku standby 24 jam."


“Oke, siap! Aku tutup dulu teleponnya. Good night."


Maka sambungan telepon pun terputus. Leon menghela napas lega setelah tahu kondisi Lulu yang mulai membaik.


“Gue bisa tenang sekarang.” Leon tersenyum. Di benaknya terbayang wajah Lulu. Senyuman dan ekspresi wajah kesal gadis itu menari indah di pelupuk matanya.


Leon tersenyum, memandangi langit-lagit kamar yang melukiskan wajah seorang gadis barbar yang sudah dua kali menemani malam minggunya.


"Moga lo cepet sembuh, Lu. Gue kangen lo yang jutek dan marah-marah enggak jelas."


Lamunan Leon terhenti saat ketukan pintu terdengar dari luar, disusul suara sang mama memanggil namanya.


"Yon, kamu sudah selesai mandi belum? Itu makanannya sudah mama siapkan di meja makan. Cepatlah turun sebelum makanan tersebut dingin."


Dari dalam kamar Leon berseru, "Oke, Ma. Bentar lagi aku turun. Aku ganti baju dulu dan baru makan."


Terdengar suara langkah menjauhi kamar Leon. Suara seseorang menuruni anak tangga, menandakan bahwa bu Ayu telah kembali ke lantai satu. Mungkin wanita itu kembali menonton drama Korea yang sedang booming di Netfilm.


"Sebaiknya gue turun sekarang sebelum nyokap ngomel lagi." Tanpa membuang waktu lama, Leon mengganti jubah mandinya dengan piyama lalu keluar kamar menuju dapur yang ada di lantai satu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2