
Akhirnya resepsi pernikahan selesai dilangsungkan. Meski make up Queensha masih melekat sempurna, tapi tak menghilangkan raut capek yang terlihat jelas di wajahnya yang cantik jelita.
“Aku capek sekali, Mas,” keluh Queensha pada Ghani sembari duduk, tanda dia amat kelelahan. Tangannya memijat lembut kedua kaki yang terasa pegal. Mengenakan sepatu heels setinggi lima centi meter dan harus berdiri dalam jangka waktu yang cukup lama membuat kakinya pegal sekali.
“Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita bisa istirahat. Namun, kita mesti menunggu Bunda dan Ayah dulu."
Queensha mengangguk. Dia tahu Ghani pun pasti tak kalah capek apalagi kakinya masih sakit. Akan tetapi, mereka tak mungkin hengkang begitu saja dari ballroom hotel yang masih menyisakan beberapa mantan rekan kerja Rayyan dan Arumi yang sengaja datang dari luar kota. Bisa-bisa nanti semua orang berpikir jika mereka tergesa-gesa meninggalkan ruangan karena sudah tak sabar ini melakukan first night.
Membayangkan itu membuat Queensha meringis. Lebih baik dia menuruti kata Ghani daripada hal itu menjadi kenyataan. Lagi pula dia tak mau diledek ‘kebelet kawin’ dengan suaminya sendiri.
“Queensha, apa kamu sudah capek, Nak?” Arumi tiba-tiba datang dengan wajah khawatir saat melihat raut wajah Queensha yang terlihat kelelahan.
“Eh, Bunda, kirain siapa. Lumayan capek, Bun. Oh iya, acaranya sudah selesai, 'kan?” Queensha ingin memastikan kembali jika pesta pernikahannya telah selesai.
“Acaranya sudah selesai kok. Nanti biar panitia yang mengatur sisanya. Kamu tinggal tahu beres saja.” Arumi tersenyum. “Bagaimana kalau kita kembali ke kamar? Bunda ada kejutan buat kamu, loh."
“Kejutan?” Mata Queensha membeliak. “Kejutan apa, Bun?”
“Rahasia dong. Kalau dikasih tahu artinya bukan kejutan dong.” Arumi tersenyum kecil. Dia menggandeng menantu kesayangannya itu untuk pergi dari ballroom hotel, meninggalkan suaminya yang masih sibuk berbincang dengan teman kuliahnya dulu semasa mereka berada di Jepang.
“Aduh, Bunda bikin penasaran saja.” Queensha merangkul lengan Arumi dengan erat seolah dia sedang merangkul almarhum mamanya yang telah lama meninggal dunia.
“Namun, bunda yakin kalau kalian pasti menyukai kejutan tersebut,” lanjut Arumi penuh percaya diri.
***
Arumi tak berbohong saat bilang kalau kejutan yang dia persiapkan akan membuat Queensha terkejut. Ya, itulah yang dirasakan Queensha sekarang. Kejutan itu rupanya berupa kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa membuat siapa pun yang melihatnya akan terperangah.
“Ya ampun, Bunda. Indah sekali.”
Bukannya Queensha yang berkata melainkan Ghani. Queensha sendiri speechless, sementara Ghani masih bisa merespon saat melihat kamar pengantin mereka telah didekorasi seindah mungkin.
__ADS_1
“Kamu suka?” tanya Arumi pada Queensha, yang sedari tadi masih saja terdiam. Arumi takut kalau kejutannya ini tak disukai oleh menantunya.
Tanpa mengalihkan pandangan dari depan sana, Queensha menjawab, “Aku menyukainya." Mata berkaca-kaca, ia terharu akan kejutan yang diberikan Arumi. “Ini sangat indah sekali, Bun."
Queensha tak bisa membendung rasa harunya. Air mata pun menetes membasahi wajah. Arumi yang melihatnya langsung menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Queensha.
“Ya ampun, kamu kok menangis?” ucap Arumi perhatian. Dengan penuh keibuan dia mengusut sudut mata menantu perempuannya.
“Aku cuma terlalu senang, Bunda. Ini semua … seperti berkah luar biasa yang Tuhan berikan kepadaku. Aku benar-benar bahagia. Saking bahagianya dada ini sampai sesak, Bun."
Ghani yang mendengarnya segera merangkul bahu istrinya itu, lalu mengecup ubun-ubun kepalanya. “Begitu pun denganku, Bun. Tak pernah berpikir jika kamar ini akan dihiasi seindah mungkin. Terima kasih banyak, Bun. Sampai kapan pun kami tidak akan pernah melupakannya."
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ghani, membuat Arumi merasa bungah. Tentu sebagai orang tua, dia akan memberikan apa pun yang terbaik untuk anaknya. Semua orang tua pasti melakukan hal demikian. Namun, mendengar putranya itu mengucapkan terima kasih, tak urung membuat Arumi merasa kerja kerasnya tak sia-sia.
“Bunda hanya melakukan apa yang semestinya dilakukan orang tua untuk anak-anaknya. Dulu bunda tidakkan kejutan dari Nenek Mei Ling, tapi bunda ingin memberikannya untuk menantu kesayanganku ini sebab kamu dan Ghani berhak mendapatkannya.” Arumi tersenyum lebar.
“Terima kasih, Bunda." Queensha maju untuk memeluk Arumi. Dia benar-benar bersyukur memiliki ibu mertua yang amat perhatian padanya dan menganggapnya seperti putri kandung sendiri.
***
Betapa tidak. Spreinya sudah diganti dengan sprei lembut berwarna putih gading dengan aksen mawar yang amat indah. Tak hanya itu saja, penerangan kamar ini dipilih mode temaram, membuat kamar ini tampak syahdu. Belum lagi taburan kelopak bunga mawar di beberapa tempat dan lilin elektrik dibentuk menyerupai sebuah hari menambah kesan romantis.
“Mawarnya wangi sekali. Masih segar lho, Mas,” ucap Queensha dengan wajah semringah sembari mendekatkan kelopak mawar ke hidungnya. Ia menghidu dalam-dalam, memejamkan mata menikmati keharuman dari setiap kelopak bunga mawar merah.
Ghani tak menjawab. Dia hanya tersenyum sembari memandangi sosok istrinya yang sibuk mengutarakan betapa indahnya kamar pengantin mereka. Walau Queensha sudah menghapus make up pengantin dan berganti baju biasa, tapi tak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari wajah sang istri.
Merasa dipandangi sedemikian rupa, membuat Queensha jadi malu. Dia pun tak berani menatap wajah Ghani gara-gara jantungnya yang bertalu-talu saling bersahutan.
Merasa suasana amat mendukung, Ghani mendekati Queensha. Saat melirik nakas, ada buket bunga mawar yang sudah dirangkai sebelumnya. Buket itu hanya sebatas hiasan yang sudah disiapkan, tapi Ghani melihatnya sebagai sebuah benda yang dapat digunakan untuk menggoda istrinya.
Meraih buket itu dan berjalan mendekati Queensha yang masih tertunduk malu. “Terima kasih sudah mau menikah denganku, Sayang,” ucap Ghani lembut seraya menyorongkan buket bunga mawar tersebut kepada Queensha.
__ADS_1
Queensha menoleh. Wajahnya terperangah melihat apa yang dilakukan Ghani untuknya, padahal Queensha sudah melihat buket bunga mawar itu sebelumnya. Namun, ia tak menduga kalau Ghani akan memberikan buket itu. Dan yang lebih mencengangkannya, Ghani berlutut di depannya sehingga membuat jantung Queensha seakan meledak melihat sikap manis yang ditujukan pria itu padanya.
“Mas, kamu …." Queensha sampai tak bisa berkata-kata. Dia pernah melihat adegan semacam ini di buku atau film, tapi tak pernah membayangkan ada seorang pria yang akan melakukan hal itu untuknya.
“Apa kamu siap mengarungi samudra pernikahan ini bersamaku sampai maut memisahkan kita?” ucap Ghani dengan penuh kesungguhan. Karena kakinya masih sakit jadi dia tak bisa berlama-lama berlutut. Dia mengatakannya sembari berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari mata Queensha.
Air mata seketika tumpah di pipi Queensha. “Pasti, Mas. Pasti aku siap.” Queensha segera menghambur ke pelukan Ghani. Dia dekap tubuh suami erat seolah mereka tak pernah bertemu selama satu dekade lamanya.
Ruangan terasa hening. Hanya terdengar detik jam yang berdetak konstan, serta degup jantung Queensha dan Ghani. Tak ada satu pun dari keduanya yang berniat untuk melepas pelukan masing-masing. Mereka sama-sama menikmati kebersamaan tersebut.
“Sayang, apa kamu mencintaiku?” tanya Ghani tiba-tiba, membuat Queensha sedikit terkejut.
Queensha mendongakan kepalanya. “Kenapa kamu menanyakannya, Mas? Apa kamu masih meragukan perasaanku?”
Ghani mengedikkan bahu. “Yah, aku hanya penasaran.”
Sebenarnya bukan tanpa sebab Ghani menanyakan hal demikian. Berdekatan dengan Queensha di malam pernikahan mereka membuat sesuatu yang tertidur terbangun detik itu juga. Apalagi malam ini Queensha amatlah cantik, wangi parfumnya pun menggelitik penciumannnya. Dia ingin lebih dari sekadar pelukan dan ciuman saja, dia ingin menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam.
“Hmm, Sha. Apa kamu keberatan kalau malam ini kita ....” Ghani melirik ke arah tempat tidur sebagai tanda kalau dia ingin menjamah Queensha sekarang.
Tahu apa maksud Ghani, Queensha menggigit bibirnya. Tentu sebagai istri, dia berkewajiban melayani suami di ranjang. Namun, ada perasaan enggan yang dirasakan Queensha sekarang. Bisa dibilang dia belum siap untuk melakukannya karena teringat kejadian lima tahun lalu saat Ghani menyetubuhinya secara paksa dan membabi-buta.
“Maaf, Mas. Sepertinya aku masih belum siap,” ucap Queensha dengan wajah tertunduk. Dia takut penolakan ini akan membuat Ghani jadi membencinya.
Ghani menghela napas. Dia tahu apa yang membuat Queensha masih belum siap menerima dia seutuhnya. Ini bukan kesalahan Queensha.
“Baiklah. Aku akan menunggu sampai kamu siap,” jawab Ghani sambil memeluk Queensha dengan erat.
Ya, mereka masih punya banyak waktu. Jadi Ghani tak perlu terburu-buru untuk meminta haknya sebagai seorang suami karena masih ada hari esok baginya memadu kasih dengan istri tercinta.
...***...
__ADS_1