Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rencana Kepindahan


__ADS_3

Sore itu di gazebo yang ada di halaman belakang, sambil bertopang dagu Ghani memperhatikan Queensha yang sedang menyiram taman milik Arumi yang dipenuhi oleh berbagai bunga. Mulai dari mawar, melati bahkan sampai bunga yang tidak Queensha tahu apa namanya. Selain kamar, mungkin taman itulah yang paling sering dijadikan Queensha menghabiskan waktu di antara semua ruangan yang ada di kediaman orang tua Ghani. Sadar dengan hobi istrinya itu, Ghani berjanji jika nanti mereka telah pindah ke apartemen, akan membelikan banyak pot agar dapat ditanam aneka ragam bunga untuk menghiasi kediaman mereka agar terlihat semakin indah dipandang.


Dering ponsel berhasil menyadarkan lamunan Ghani tentang rencana masa depan mereka. Melihat nama orang yang meneleponnya adalah mandor yang akhir-akhir ini sering menghubunginya, Ghani segera menerima panggilan tersebut. Tahu pasti jika pemilik nomor itu tak akan menghubungi jika bukan ada hal penting yang mau dibicarakan.


“Ada apa?” tanya Ghani begitu sambungan telepon terhubung.


“Kami sudah menyelesaikan bagian yang kemarin sempat kita bicarakan, Pak. Jadi mulai besok apartemen bapak sudah bisa di tempati kalau ingin,”


Mendengar informasi barusan, Ghani secara refleks melihat ke arah Queensha yang ternyata kini sudah mematikan keran air dan tengah berjalan ke arahnya sambil melemparkan tatapan tanya.


“Telepon dari siapa?” Begitulah kira-kira yang Queensha tanyakan jika Ghani tidak salah menebak.


“Kalau begitu terima kasih banyak, Pak. Soal pelunasan pembayaran besok kita ketemuan di apartemen saya sekaligus memastikan tidak ada kekurangan apa pun saat kami survey untuk terakhir kalinya."


Usai mendengar persetujuan dari kepala tukang yang Ghani percayakan untuk sedikit merenovasi apartemen yang saat menikah dulu pria itu jadikan mahar untuk Queensha, ia pun memutuskan panggilan dan menyimpan kembali ponselnya.


“Telepon dari siapa, Mas?” tanya Queensha begitu duduk di sebelah suaminya.


“Dari tukang yang renovasi apartemen kita. Katanya sekarang sudah selesai dan siap untuk di tempati.”


“Oh, ya?” Tampak Queensha antusias mendengarnya. Harapan untuk tinggal bersama suami serta anak tercinta akan segera terwujud.


Ghani berdehem mengiyakan. “Aku bahkan dikirimi beberapa foto hasil akhir pekerjaan mereka karena memang belum sempat melihat secara langsung. Apa kamu mau lihat?”


Mendengar tawaran itu, tanpa pikir panjang Queensha langsung menganggukan kepala dengan antusias. Tampak tak sabar melihat hasil renovasi apartemen mereka.


Ghani pun kembali mengeluarkan ponsel yang tadi sudah kembali dia simpan dan langsung memilih galeri untuk menunjukkan pada Queensha foto yang dikirimkan oleh kepala tulang untuk laporan.


Queesha mengamati foto-foto itu begitu serius dengan bibir yang tak henti menyunggingkan senyum.


“Terlihat nyaman,” ujar Queensha begitu sampai di foto terakhir yang tak lain adalah ruang keluarga.


Ghani tersenyum mendengarnya. Merasa usahanya merenovasi apartemen mereka tidak sia-sia karena Queensha terlihat menyukai hasilnya. “Kamu mau pindah kapan?”


Berbeda dari sebelumnya, kali ini bisa Ghani lihat istrinya terkejut mendengar pertanyaannya barusan seolah pertanyaan barusan begitu berat. Queensha bahkan sampai harus menarik napas dalam terlebih dahulu sebelum menjawabnya.


“Kalau aku sih terserah Mas Ghani saja,” sahut Queensha kemudian setelah berhasil menguasai diri. “Mas sendiri bagaimana?”


“Kalau aku sih ya jelas secepatnya lah, Sayang.”

__ADS_1


Jauh di lubuk hati Queensha, wanita itu juga berpikir demikian. Ingin segera menempati apartemen mereka yang kini telah berubah nama menjadi miliknya. Bukan karena tinggal di rumah orang tua Ghani tak nyaman, sama sekali tidak.


Baik Arumi ataupun Rayyan, keduanya memperlakukan Queensha dengan baik. Wanita itu bahkan merasa benar-benar disayang selayaknya anak sendiri. Begitu pula dengan anggota keluarga Ghani yang lain, menerima kehadiran Queensha di tengah-tengah mereka dengan tangan terbuka walau statusnya hanyalah orang miskin, tak berpendidikan tinggi, dan anak yatim piatu.


Queensha hanya ingin tinggal sendiri agar bisa mandiri dan tidak terus merepotkan orang tua meski mungkin Arumi dan Rayyan sama sekali tidak keberatan. Sebelum menikah, Ghani dan Queensha pernah membahas beberapa kali soal ini. Queensha pikir rencana itu akan masih sangat lama untuk bisa terlaksana, tapi secara diam-diam tanpa sepengetahuannya Ghani merenovasi apartemen mereka agar nyaman di tempati terlebih untuk putri kecil mereka Aurora.


“Terus Bunda dan Ayah?”


Ghani menatap istrinya tak mengerti. “Ada apa dengan kedua orang tuaku?”


“Mas Ghani sudah membicarakan rencana kepindahan kita dengan mereka memangnya?”


“Gampanglah itu, Sayang. Mereka juga pasti akan selalu setuju dengan semua keputusan yang telah kita buat.”


“Jangan mudah menggampangkan sesuatu, Mas. Bagaimana kalau ternyata yang terjadi justru sebaliknya?”


Kening Ghani mengerut. “Ayah dan Bunda tidak memberi izin, begitu maksudmu?”


“Hmm. Kalau misalkan mereka tak setuju, apa yang akan Mas Ghani lakukan?”


Bungkam, Ghani tak berkutik diberondong pertanyaan demikian oleh sang istri. Lidah pria itu kelu dan otaknya pun tak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi kepadanya.


Ghani yang semula santai saja, kini mau tak mau jadi sedikit terganggu dengan apa yang dikatakan Queensha kemarin sore. Pria itu bahkan jadi kesulitan memejamkan mata karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada Arumi dan Rayyan tentang rencana kepindahan mereka. Karena sejujurnya Ghani pun belum membicarakan apa pun soal rencana kepindahannya bersama istri serta anak tercinta.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Queensha dengan suara serak seraya mempererat pelukannya pada tubuh sang suami. Wanita itu terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu dengan Ghani yang sedari tadi tak henti mengusap punggungnya.


“Kalau besok malam saja bagaimana?”


“Apa?”


“Soal memberitahu rencana kepindahan kita,” berita tahu Ghani.


Queensha menatap suaminya tak yakin. “Apa tidak terlalu cepat, Mas?”


“Kalau ditunda-tunda justru akan semakin sulit.”


“Ya sudah kalau begitu. Aku setuju-setuju saja," ujar Queensha kemudian. “Jadi besok pas sarapan?”


Ghani menggeleng. “Pas makan malam saja. Di luar bersama anggota yang lain juga.”

__ADS_1


Malam menjelang dan sesuai dengan ucapannya, Ghani mengajak seluruh anggota keluarganya makan malam bersama di restoran langganan mereka. Ghani secara khusus mengundang orang tua, kedua adik kembarnya serta om dan tante tersayang hadir dalam acara tersebut.


“Ini ada acara apa sih, kok tumben Kakak Pertaman mengajak makan malam bersama di restoran bintang lima segala?” tanya Zahira tak tahan.


Kini Queensha, Ghani, Arumi, Rayyan, Rini, Rio, Zavier dan Zahira sudah berkumpul di satu meja yang sama. Memenuhi undangan Ghani yang katanya ingin membicarakan sesuatu yang penting.


“Iya, Nak. Kamu mau bicara penting apa sih sampai repot-repot mengumpulkan kita begini? Jangan bikin bunda penasaran deh,” sahut Arumi.


Rini menganggukkan kepala setuju. Sama penasarannya dengan yang lain. Dari awal Ghani mengatakan jika keponakannya itu hendak mengatakan sesuatu yang penting, dia sudah penasaran. Mencoba-coba menebak-nebak apa yang hendak Ghani katakan, tetapi selalu tak membuahkan hasil sampai sebuah pikiran tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


“Jangan bilang Queensha hamil?” tebak Rini yang bahkan tampak terkejut dengan tebakannya sendiri.


Mendengar kata hamil, Arumi tentu saja menjadi orang paling bersemangat menoleh ke arah menantunya untuk memastikan.


“Kamu hamil, Sha?”


Ditodong pertanyaan seperti itu, Queensha yang tak siap tentu saja jadi gelagapan menyangkalnya. “Bukan itu, Bun. Aku ... belum hamil.”


“Jangan bohong. Kamu dan Ghani pasti mau memberi kami kejutan, 'kan? Apa setelah ini akan ada pelayan yang membawa kue berisi alat tes pack di dalamnya?”


Berbeda dengan Arumi, Rini dan Zahira yang tampak antusias, para lelaki hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Tidak apa-apa kalau memang iya, Sha. Kamu tidak perlu menunggu selama itu untuk mengumumkan kehamilanmu hanya karena tak mau kejutan yang disiapkan Ghani gagal.”


Melihat raut ketegangan terpancar dari sorot mata Queensha, Rayyan jadi tidak tega. Dia berpikir masih terlalu dini membicarakan soal kehamilan apalagi usia pernikahan anak dan menantunya masih seumur jagung. Urusan anak biarlah diserahkan kepada Tuhan saja, mereka sebagai orang tua jangan terlalu mendesak agar kejadian pahit di masa lalu tidak terulang kembali.


"Baby, hentikan. Kasihan Queensha jadi tegang begitu diberondong pertanyaan olehmu," tegur Rayyan saat merasa Arumi mulai berlebihan hingga tanpa sadar membuat menantunya kurang nyaman.


“Maaf, Bun, aku memang belum hamil.” Aku Queensha dengan suara pelan.


“Queensha benar, Bun. Dia memang belum hamil.” Ghani yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Lagi pula tujuan aku mengumpulkan kalian di sini bukan untuk membahas soal kehamilan."


“Kalau bukan mengabarkan berita kehamilan Queensha, lalu apa?” tanya Arumi tak sabar.


Di tempatnya duduk, Ghani menatap ke arah istrinya. Queensha tampak ragu. Namun, Ghani berusaha meyakinkan jika ini memang saat yang tepat dengan cara menganggukkan singkat.


“Aku dan Queensha berencana pindah ke apartemen dalam waktu dekat, Bun. Tujuan aku mengumpulkan kalian di sini untuk mengatakan itu.”


Usai Ghani mengatakan kalimat barusan, meja yang mereka tempati seketika hening. Tak ada satu orang pun yang segera menyahut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2