
"Mbak Ayu, saya titip istri dan anak saya. Kalau ada sesuatu yang urgent bisa menghubungi saya," pamit Ghani sebelum meninggalkan rumah Bayu.
"Dokter Ghani tenang saja, Bu Queensha dan Aurora pasti aman tinggal di sini. Jadi Dokter Ghani dan Kang Bayu bisa fokus dengan pekerjaan kalian," jawab Ayu mencoba menenangkan.
Ghani mengulurkan tangan ke depan kemudian mengusap pucuk kepala Aurora pelan. "Sayang, jangan nakal ya selama papa tinggal. Rora harus patuh, enggak boleh buat Mama dan Aunty Ayu marah. Mengerti?"
Dengan patuh Aurora menjawab, "Oke, Papa. Rora janji enggak akan nakal." Gadis kecil itu menyodorkan jari kelingking kemudian disambut Ghani. Keduanya membuat janji kelingking seperti yang sering dilakukan.
Queensha melihat adegan itu jadi terharu. Hatinya menghangat kala menyaksikan betapa tulusnya kasih sayang Ghani kepada Aurora. Walaupun semua orang tahu kalau gadis kecil bermata bulat itu bukanlah darah dagingnya, tetapi Ghani memperlakukan Aurora seperti anak kandungnya sendiri.
Entah mengapa, pikiran Queensha melayang beberapa saat membayangkan jika seandainya bayi mereka masih hidup sudah pasti Ghani akan memperlakukan putrinya dengan baik pula sama dengan perlakuan pria itu kepada si kecil, Aurora.
Ghani melirik sekilas kepada Queensha dan berkata dengan lirih. "Sha, saya tinggal sebentar. Jika ada hal urgent dan mendesak, jangan sungkan untuk menghubungiku. Ponsel saya selalu stand by 24 jam."
"Baik. Kamu ... hati-hati di jalan, Mas. Cepatlah pulang, kami menunggumu."
Ghani tersenyum samar mendengar panggilan itu. Sejak semalam mereka bermain peran sebagai suami dan istri lagi. Ghani menyembunyikan statusnya yang sudah bercerai dari Bayu dan Ayu sebab tak mau masalah rumah tangga mereka diketahui orang luar.
Ghani memilah dan memilih mana saja yang ingin diceritakan kepada Bayu dan hal yang dia ceritakan hanya tentang masa lalunya yang pernah menodai Queensha dan kenyataan bahwa wanita itu pernah melahirkan seorang bayi perempuan di rumah sakit tempat Bayu bekerja. Selebihnya Ghani akan menyimpan dari teman lamanya itu.
__ADS_1
***
Berjalan bersisian menyusuri lorong rumah sakit. Dua pria tampan berparas rupawan melangkah bersama memasuki salah satu ruangan yang tidak sembarangan orang diperbolehkan masuk ke dalamnya. Berhubung Bayu mempunyai kekuasaan di rumah sakit itu membuat dia leluasa keluar masuk ruangan tersebut meski tetap waspada, berjaga-jaga siapa tahu ada orang dengki dan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan karirnya sebagai salah satu dokter umum hebat di Rumah Sakit Citra Kasih.
"Dokter Bayu, deretan rak ini adalah rekam medis pasien pada tahun 2018. Namun, saya tidak tahu apakah berkas yang Dokter butuhkan masih tersimpan di sini atau tidak. Mengingat rumah sakit ini sempat terendam banjir tiga tahun lalu hingga membuat beberapa berkas penting hanyut terendam banjir."
Bayu mencodongkan tubuhnya di samping Ghani kemudian membisikan sesuatu kepada temannya itu. "Gimana, kamu yakin tetap ingin mencari berkas tersebut?"
Dengan mantap dan penuh keyakinan Ghani menjawab, "Yakin! Lagi pula aku sudah jauh-jauh datang ke sini masa iya mesti pulang dengan tangan kosong. Selagi berada di sini, aku ingin mencaritahu masalah ini hingga ke akarnya. Jika memang ada unsur kesengajaan, aku tak akan pernah membiarkan orang-orang itu hidup damai setelah memisahkan istri dan putriku selama lima tahun ini."
Maka dimulailah pencarian mereka. Petugas rumah sakit yang usianya sudah tak lagi muda turut membantu kedua pria itu, mencari berkas penting milik Queensha di antara tumpukan berkas yang ada.
"Ghan, kemari sebentar!" titah Bayu sambil menyentuh salah satu rekam medis milik seseorang. Mendengar teriakan itu, Ghani bergegas mendekati temannya. "Coba kamu lihat, apakah benar nama lengkap istrimu ini."
Ghani mengeluarkan berkas itu. Dia membaca nama pasien yang tertera di bagian depan rekam medis tersebut. Memang benar nama itu adalah nama lengkap sang mantan istri.
Meletakan tumpukan berkas di atas meja kemudian membuka lembaran kertas tersebut. Napas berhenti sampai sekian detik lamanya. Sebuah foto kecil berwarna hitam terdapat titik kecil mencolok mata membuat dunia pria itu seakan berhenti berputar.
Tangan kokoh yang biasa digunakan membantu pasien mengusap foto itu. "Ya Tuhan, i-ini ... ini hasil USG putriku? Ghani tergagap tidak percaya dengan apa yang dilihat sekarang. Sungguh, Ghani tak dapat menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Satu per satu buliran itu meluncur di sudut matanya yang sipit.
__ADS_1
Bayu ikut terharu sebab dapat merasakan bagaimana rasanya saat pertama kali melihat benih yang sempat ditabur dapat tumbuh dan berkembang di rahim sang istri. Kebahagiaan itu sulit diungkapkan dengan kata, tetapi hanya dapat dirasakan.
Menepuk pundak Ghani pelan dan berkata, "Ghan!" panggilnya singkat. Ghani yang mengerti isyarat Bayu dengan secepat kilat menghapus sudut matanya lalu mulai membaca setiap catatan yang tertulis di sana.
"Bay, kalau melihat dari semua catatan ini tak ada tanda-tanda bahwa putriku mengalami penyakit ataupun kelainan saat dia masih dalam kandungan. Lihat, semuanya dalam keadaan normal. Janin beserta ibu sehat wal afiat. Dan aku yakin pasti ada seseorang di balik ini semua."
"Ghan, kenapa kamu tidak coba melakukan tes DNA untuk memastikan apakah Rora betulan anakmu atau tidak. Bukankah itu lebih menghemat waktu ketimbang melakukan penyelidikan seperti ini."
"Betul, tapi aku masih ingin mencari tahu apa motif orang itu memisahkan putriku dari Queensha jika memang ada seseorang di balik ini semua. Aku ingin membuat perhitungan dengan orang itu karena telah membuat istriku menderita, Bay. Kamu ngerti 'kan alasanku?"
Bayu manggut-manggut mendengar penjelasan Ghani. Alasan pria itu bisa diterima nalar.
"Kalau begitu kita temui dokter yang membantu persalinan Queensha. Aku yakin dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu," kata Bayu. "Dokter Aminah sudah pensiun dua tahun lalu, tapi kamu tidak perlu khawatir aku akan bertanya kepada temanku di mana alamat tempat tinggal beliau."
Sebelum meninggalkan ruangan, Ghani lebih dulu meletakkan kembali catatan medis milik Queensha ke tempat semula. Setelah itu barulah dia dan Bayu keluar, berjalan bersama menuju salah satu poli yang ada di rumah sakit untuk menanyakan di mana keberadaan dokter Aminah saat ini.
'Tuhan, kumohon permudahkanlah jalanku menemukan biang keladi dari semua kesedihan yang datang menghampiri Queensha,' pinta Ghani dalam hati. Berharap semoga ada titik terang dari penyelidikan ini.
...***...
__ADS_1