
“Mbak Queensha, ini bekalnya sudah Bibik masukan kotak makan. Mbak Queensha yakin mau ke rumah sakit sendirian? Ndak mau Bibi temani? Saya bisa temani kalau Mbak mau, kebetulan pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan semua." Bik Anah bertanya sekali lagi untuk memastikan keputusan majikan perempuannya itu.
Jari tangan bik Anah menaruh tas berisikan makanan dan minuman untuk Ghani yang telah disediakan oleh Queensha sejak tadi ke atas meja makan. Dia hanya membantu Queensha saja, menyiapkan bahan masakan selebihnya ibunda Auroralah yang mengeksekusinya sendiri.
Queensha telah begitu cantik dan anggun saat ini dengan memakai blazer dan bawahan celana panjang yang membungkus kakinya yang jenjang. Membuatnya seperti wanita kantoran.
Berjalan menghampiri bik Anah dengan senyuman lebar. “Aku hargai niat baik Bibik. Namun, aku bisa sendiri ke sana tanpa ditemani siapa pun. Kebetulan aku mau sekalian jemput Rora di rumah temannya, tidak enak kalau terlalu lama bermain di rumah orang." Dengan kepala menggeleng pelan, Queensha menolak perkataan bibi sembari berjalan ke luar apartemen sambil membawa bekal tersebut juga menjinjing tasnya. “Bibik jaga apartemen saja, aku sampai rumah sebelum ashar."
"Ya sudah. Mbak Queensha hati-hati di jalan. Oh ya, tadi Mang Aceng telepon, ngasih tau kalau udah nunggu di basement, tempat biasa. Mbak Queensha langsung ke sana saja, sudah ditunggu si Mamang."
Queensha mengangguk. "Baik. Aku pamit dulu. Assalamu a'alaikum."
"Wa'alaikum salam," sahut Bik Anah lalu melepas kepergian Queensha dengan banyaknya doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berharap, semoga keselamatan selalu menyertai majikan perempuannya itu.
Lalu Queensha menaiki lift yang membawanya turun ke lantai paling dasar. Di mana, sopir pribadi sang mertua yaitu mang Aceng sudah menunggu Queensha dan siap mengantarkan ke mana saja menantu sang majikan inginkan.
Dengan perasaan yang menggebu-gebu, kini mobil yang Queensha tumpangi telah melaju dengan kecepatan sedikit di atas batas normal setelah dia meminta mang Aceng mempercepat agar mereka segera sampai dan tetap masih dalam batas aman.
"Mbak Queensha, kecepatannya jangan ditambah lagi, ya, mamang takut kena marah Pak Rayyan kalau ditambah jadi 70 KM/jam. Mbak Queensha tau sendiri, bagaimana Pak Rayyan kalau sedang marah. Belum lagi kalau Den Ghani ikutan tau, bisa dua kali kena omel mamang," ujar Mang Aceng. Pria paruh baya yang setia kepada majikannya begitu fokus dengan jalanan di depan sana. Ia sangat berhati-hati dalam berkendara, jangan sampai terjadi kecelakaan yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain.
"Iya, Mang. Kecepatan segini sudah lebih dari cukup. Saya pun tidak berani kalau ditambah jadi ke 70 KM/jam, berasa melayang di angkasa." Wanita cantik berambut panjang terkekeh pelan. Lalu ia kembali memandangi pemandangan di luar sana dari jendela mobil.
Jarak tempuh yang harusnya ditempuh selama tiga puluh menit, kini terpangkas hingga dia telah sampai di lobby rumah sakit dalam kurun waktu sekitar dua puluh menit saja tanpa terjebak macet. Para tenaga medis serta pegawai rumah sakit yang mengenal siapa Queensha pun menyapa begitu hormat.
"Selamat siang, Bu Queensha." Kalimat sapaan terus menggaung di telinga Queensha saat ia memasuki gedung rumah sakit yang merupakan warisan turun temurun dari mendiang nenek Ghani, Mei Ling.
Mempunyai sifat ramah, tentu saja Queensha membalas sapaan tersebut dengan sebuah senyuman manis yang mampu membuat siapa saja yang melihatkan akan terpana detik itu juga.
"Berasa jadi selebritis. Berjalan ke setiap sudut, disapa dengan ramah." Terkekeh sendiri oleh ucapannya. Kendati kini kehidupannya jauh lebih baik dari sebelumnya, Queensha tak pernah sekalipun bersikap sombong, menganggap remeh status rakyat biasa karena di mata Tuhan setiap manusia itu sama saja. Yang membedakan hanya amal perbuatannya saja.
__ADS_1
Berjalan begitu percaya diri, menaiki lift khusus yang diperuntukan bagi pemilik serta petinggi rumah sakit. Masuk ke dalam kotak berbentuk persegi, Queensha menaruh ibu jarinya disensor pemindai sidik jari supaya mengenalinya. Sistem berbunyi benar dan pintu otomatis tertutup, barulah dia menekan tombol angka lantai di mana ruangan Ghani berada.
Pantulan diri Queensha tergambar jelas di pintu lift, dia merapikan sesaat pakaiannya dengan perasaan tidak sabar. Dia ingin sekali memeluk tubuh Ghani dan juga bermesraan berduaan tanpa adanya pengganggu.
Saat pintu lift berdenting dan terbuka, senyuman lebar Queensha mengembang begitu lebar ketika dia berpapasan dengan salah satu rekan sejawat Ghani yang baru saja keluar dari ruangan suaminya.
“Siang, Bu Queensha. Cari Pak Ghani, ya? Beliau ada di dalam. Masuk saja,” kata dokter perempuan dalam balutan snelli putih sembari membukakan pintu bagi Queensha yang ingin memasuki ruangan sang direktur.
“Terima kasih.” Senyuman Queensha berkali-kali lipat kian manis saat melihat sosok Ghani sedang berkutat di depan komputer sambil kedua tangan dipenuhi oleh berkas-berkas. Belum lagi kacamata yang bertengger di wajahnya, begitu cocok dengan kemeja abu-abu sedikit basah akan keringat. Pada bagian tangan digulung ke atas membuat Queensha terpanah sesaat.
'Suamiku tampan sekali!' batin Queensha berseru. Mata berbinar bahagia karena dapat bertemu suami pujaan hati.
“Koko sayang?” Setelah menaruh tas berisi bekal makanan di atas meja, Queensha berjalan mendekat ke meja kerja Ghani sambil berseru bersemangat.
Ghani mendongak, membuat kedua mata sayunya beradu pandang dengan Queensha yang antusias. “Kenapa tidak memberiku kabar dulu kalau mau datang ke sini? Biar aku yang jemput ke rumah. Tadi, ke sini diantar siapa? Mang Aceng ... atau pakai taxi online?” tanyanya mencerocos sembari membukakan kacamata lalu memundurkan kursinya. Tangan kekar Ghani menarik pinggang Queensha agar duduk di atas pangkuannya.
Mata Ghani mengikuti arah tunjuk Queensha. Mimik wajahnya kian lembut menatap istrinya lalu mendekatkan wajah dan meninggalkan satu kecupan hangat di dahi wanita itu. “Terima kasih, Sayang. Pasti kamu kelelahan karena membuatkan makanan untukku," bisiknya begitu perhatian.
“Tidak apa, itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri. Semua ini aku lakukan demi kamu, Mas." Kedua mata Queensha memandang dengan tatapan mendamba. Melihat keadaan Ghani saat ini membuat sebuah perasaan yang terpendam di dalam diri Queensha langsung muncul begitu saja.
Perasaan ingin disentuh oleh suaminya. Queensha tidak mengerti, mengapa akhir-akhir ini dia ingin sekali disentuh dan bercinta dengan suaminya itu.
'Sadar, Sha. Kenapa kamu berubah cab*l begini, sih?' raung Queensha memarahi dirinya sendiri. Hasrat bercinta semakin berada di level tertinggi ketika Ghani menatapnya dengan tatapan sayu dan amat lelah. Bukannya perasaan itu redup, yang ada kini kian membara.
“Sayang, kamu—“
Perkataan Ghani terhenti ketika Queensha membungkam mulut yang tengah berbicara itu dengan bibirnya sendiri. Kedua mata wanita itu terpejam sambil memiringkan kepala, dia menggerakkan bibirnya tanpa menunggu Ghani yang bertindak lebih dulu. Tak menyia-nyiakan waktu, tangan Queensha merayap menuju tengkuk leher Ghani.
Perlakuan itu membuat kesadaran Ghani kembali lagi dan menjauhkan kepala Queensha. “Sha, jangan. Ini masih di rumah sakit. Aku khawatir ada orang yang mengadu ke Ayah dan Bunda.” Ghani melarang Queensha agar tidak bertindak lebih jauh. Selain karena masih berada di lingkungan kerja, tubuhnya pun masih teramat lelah karena sejak tadi malam hingga detik ini matanya terus terjaga karena banyaknya pekerjaan.
__ADS_1
Queensha memasang wajah cemberut guna mengalihkan perhatian Ghani supaya tidak sadar jika kedua tangannya tengah membuka kancing kemeja bagian atas pria itu. “Koko sayang, aku merindukanmu. Aku ... ingin bercinta denganmu sekarang. Tidakkah kamu ingin menyentuh tubuhku ini?” godanya dengan suara sesensual mungkin. Dia membisikan kata-kata manis di telinga sang suami.
Mata Ghani terpejam, menikmati setiap sentuhan lembut jemari tangan Queensha. Akan tetapi, otaknya masih dapat berpikir dengan jernih.
Menggenggam kedua tangan Queensha supaya tidak melanjutkan perlakuannya. “Di rumah saja, bagaimana? Di sini banyak orang, kamu pasti tidak akan bisa menikmati percintaan kita kali ini, Sayang."
Penolakan itu membuat gairah yang awalnya membara di dalam diri Queensha secara tiba-tiba langsung lenyap begitu saja. Dia turun dari pangkuan Ghani sambil melayangkan tatapan tajam. “Oh, jadi kamu menolakku? Kenapa? Apa tubuhku sudah tak menarik lagi di matamu, Mas? Atau di luar sana kamu punya Wanita Idaman Lain yang menarik perhatianmu?” tunding wanita itu tanpa pikir panjang.
“Bukan begitu maksudku. Hanya saja aku betulan tidak bisa melayanimu di sini, Sayang.”
Sebetulnya Ghani kesal karena dituduh yang bukan-bukan oleh Queensha. Namun, ia teringat nasihat sang bunda untuk bersabar dalam menghadapi persoalan rumah tangga yang datang menghampiri.
"Alasan. Bilang saja kalau aku sudah tak menarik lagi di matamu. Badanku sudah seperti gajah. Pipiku pun semakin chubby karena terlalu banyak makan. Iya, 'kan? Jawab saja dengan jujur, jangan berbelit-belit segala!" Raut wajah kecewa Queensha terpancar jelas di paras jelit itu.
"Keterlaluan kamu, Mas! Aku benci kamu!"
Belum sempat Ghani menarik lengan sang istri supaya mendekatinya, Queensha lebih dulu pergi dari ruangan tersebut.
“Sayang, tunggu!" panggil Ghani dari belakang sambil mengejar Queensha. Sesaat lagi dia bisa meraih wanita itu supaya berhenti berjalan, tetapi gagal karena Queensha lebih dulu menutup pintu begitu kuat hingga terdapat getaran halus pada dindingnya.
“Argh! Stres gue lama-lama!” Kedua tangan Ghani mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi melihat kelakuan Queensha yang amat beda. Dia memang sudah dipusingkan oleh urusan rumah sakit, harus ditambah lagi meladeni sikap Queensha. “Gue harus sabar karena sesalah apa pun wanita ... yang tetap salah adalah kaum pria."
Kemudian, setelah mengatakan itu, Ghani kembali masuk ke dalam ruangan untuk menyantap makanan yang dimasak oleh Queensha. Lantas setelah semua makanan itu sudah habis, dia memotretnya dan mengirimkan kepada sang istri.
“Istriku tercinta, makanan yang kamu masak lezat sekali. Perut aku sudah kenyang karena kamu. Terima kasih, Sayang.” Pesan singkat tersebut berhasil dikirim dan telah dibaca pula oleh Queensha.
Senyuman Ghani mengembang begitu lebar, tetapi selang dua detik kemudian senyuman itu meredup kala foto profil milik Queensha menghilang. Yang mana artinya nomor dia telah ... diblokir.
...***...
__ADS_1