Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kabar Tentang Andri


__ADS_3

Sudah satu hari berlalu sejak Andri meninggalkan rumah, tetapi bu Tania belum juga mendapatkan berita dari sang putera. Biasanya Andri akan segera mengirim pesan kepadanya sesaat setelah pesawat tiba di bandara John F. Kennedy, New York. Namun, pada kepergiannya kali ini Andri belum juga menghubunginya, membuat wanita paruh baya itu begitu mencemaskan anak lelakinya itu.


"Kamu ke mana, sih, Ndri? Katanya mau mengirim pesan pada mama kalau sudah sampai Amerika. Tapi kenapa sampai sekarang belum juga ada pesan apa pun dari kamu. Mama coba telepon, nomormu pun tidak aktif." Entah sudah berapa kali Bu Tania mondar mandir di kamar, menunggu kabar dari anak kesayangan.


Pintu kamar dibuka lebar, lalu tak lama kemudian muncul sosok pak Hardi berjalan masuk ke kamar. Mengendurkan dasi yang melilit di leher, kemudian melemparkan benda tersebut ke atas kursi meja rias. Pria paruh baya itu menghempaskan tubuh ke atas kasur dengan kasar.


Melihat wajah suram sang suami, bu Tania mendekat dan bertanya pada suaminya itu. "Kamu kenapa, Mas? Apa ada masalah di kantor?" tanyanya penasaran. Tidak biasanya Pak Hardi pulang ke rumah di saat jam makan siang berlangsung.


Memijit pangkal hidung dengan mata terpejam. "Aku kalah tender, Ma. Padahal sudah banyak yang kukorbankan untuk mendapatkan proyek tersebut."


Bu Tania ikut menghempaskan tubuh di sebelah pak Hardi. "Kok bisa begitu, Pa. Apa alasannya sampai perusahaanmu kalah tender? Bukannya dari zaman dulu perusahaanku selalu dipercaya oleh klien."


"Alasannya tidak masuk akal, Ma. Papa sendiri bingung kenapa kali ini kita kalah dari perusahaan kecil yang baru 2 tahun merintis."


"Papa sudah berharap banyak mendapat proyek tersebut, tapi ternyata angan-anganku musnah begitu saja." Pak Hardi mendesah pelan, mengeluarkan beban berat yang dia rasakan.


Sebagai seorang istri tentu saja bu Tania prihatin akan musibah yang datang pada suaminya. Memijit pelan kaki pak Hardi yang masih dibalut celana kain.


"Kalau boleh tau, memang proyek apa yang Papa rebutkan bersama sainganmu yang lain? Kok sepertinya penting sekali sampai Papa terlihat frustrasi begitu."


Pak Hardi melirik beberapa detik, lalu kembali memandangi langit-langit kamar. "Rumah sakit, Ma. Lebih tepat lagi rumah sakit cabang dari rumah sakit internasional yang terkenal di kota ini. Banyak perusahaan mengincar proyek ini bahkan mereka berlomba-lomba mencaritahu siapa pemilik rumah sakit terkenal itu. Biasa, mereka mau melakukan cara licik untuk bisa mendapatkannya. Namun siapa sangka, pemilik rumah sakit itu bukanlah orang sembarangan. Dia tipe orang tegas, pantang menerima sogokan dalam bentuk apa pun. Kalau mau mendapat proyek itu, ya mesti kerja keras. Begitu katanya."


Bu Tania berdecih. "Cih, manusia sok suci. Sekaya apa sih dia sampai tidak tergoda oleh apa pun. Baru punya rumah sakit saja sombong, apalagi kalau punya pulau pribadi seperti kita ya, Pa. Bisa kejang-kejang dia dibuatnya."


Pak Hardi duduk di atas kasur. Dia melihat raut wajah istrinya terlihat murung, berbeda sekali dari biasanya.


"Kamu sendiri kenapa? Tumben banget mukamu ditekuk begitu."

__ADS_1


"Andri, Pa. Dia bilang mau ngasih kabar pada mama kalau sampai di Amerika, tapi sampai sekarang belum ada kabar berita darinya. Mama mencemaskan dia, Pa."


Kembali pak Hardi menghela napas berat. Selalu saja mencemaskan anak lelakinya yang badug itu.


"Mungkin saja batrenya low, Ma. Sudah ditunggu saja, siapa tau sebentar lagi dia menghubungimu." Pak Hardi mencoba menenangkan sang istri.


"Tapi aku takut terjadi hal buruk menimpanya, Pa. Perasaan mama tidak tenang sejak malam sebelum kepergian dia," ucap Bu Tania, berharap dapat solusi dari beban yang membelenggunya.


"Andri itu sudah besar, jangan terus memikirkannya. Dia bisa jaga diri, Ma. Kalau tidak, untuk apa dia minta pindah ke Amerika. Kamu harus membiasakan diri untuk tidak terlalu mencemaskan anak lelakimu yang nakal itu. Papa yakin, dia bisa melindungi dirinya sendiri."


Bu Tania melirik tajam mendengar jawaban sang suami. Pria yang menikahinya itu terkesan cuek dan acuh tak acuh pada anak lelaki mereka. Entah salah apa Andri sampai pak Hardi tidak menyukainya.


***


"Permisi, apa benar ini kediaman Saudara Andri Dinata?" Salah satu dari dua orang pria berseragam polisi berdiri di depan pintu gerbang kediaman orang tua Andri. Wajah sangar, suara berat mencerminkan betapa mengerikannya pria tersebut.


Dua pria bertubuh tinggi saling memandang lalu tak lama kemudian salah satu dari mereka menggendikkan bahu.


"Ke Amerika? Sebentar, sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Lalu pria yang berkomunikasi dengan petugas keamanan itu menyodorkan telepon genggamnya ke hadapan sang security. "Saudara Andri yang Anda maksud orangnya ini bukan, Pak?"


Sontak security kediaman Dinata membulatkan mata saat melihat anak majikannya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya lembam, terdapat banyak luka di sekujur tubuh dan yang sangat memprihatinkan adalah kaki dan tangannya di gips karena didiagnosa mengalami patah tulang.


"Ya Allah, ini kan Den Andri, anaknya majikan saya, Pak. Kenapa bisa ada di rumah sakit. Bukannya kemarin si Aden pamit mau pergi ke bandara," cerocos bapak security.


"Mohon maaf, kami tidak bisa menjelaskannya pada Anda. Kami ingin bertemu dengan orang tua dari Saudara Andri, apakah bisa? Saya mendapat laporan bahwa Saudara Andri dituduh mencelakakan seorang wanita hamil hingga mengalami kritis."


Semakin dibuat terkejutlah sang security oleh berita yang disampaikan pak polisi. Benar-benar tak menduga jika ternyata Andri akan berlaku kasar terhadap kaum lemah.

__ADS_1


"Bisa, Pak. Tapi sebelum saya bukakan pintunya, bisa saya lihat dulu surat kerja dari atasan Bapak. Bukan apa-apa, hanya sebagai formalitas saja, agar saya tidak disalahkan oleh kedua majikan saya."


***


"Nyonya! Nyonya Tania!" Asisten rumah tangga kediaman Dinata berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Wajah wanita itu terlihat begitu cemas sekali.


Bu Tania dan pak Hardi yang saat itu hendak menyantap makan siang mereka menoleh bersamaan. Keduanya terlihat kebingungan melihat wajah pucat ART mereka.


"Kamu kenapa, Mbok? Lari-larian begitu seperti dikejar setan saja." Bu Tania mendengkus kesal akan tingkah salah satu asisten rumah tangganya itu.


"Usiamu sudah tak lagi muda, rawat mengalami patah tulang jika tidak hati-hati," timpal Pak Hardi.


Wajah asisten rumah tangga berusia sekitar 50 tahunan terlihat pucat sekali. Keringat dingin bermunculan di permukaan kulit, mengalir deras dari kening lalu terjatuh ke pelipis.


"Ada apa kamu berteriak macam di hutan belantara? Awas saja kalau bukan masalah penting, saya pecat kamu tanpa pesangon!" Bu Tania kembali berkata. Namun, kali ini nada suaranya terdengar sinis.


"A-anu, Nyonya. D-di luar ... a-ada polisi. Katanya mereka ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya. Mereka mau bicara soal Den Andri," ucap asisten rumah tangga itu dengan suara terbata. Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya.


Dua pasang mata terbelalak dengan rahang terbuka sedikit. Hampir bersamaan bu Tania dan Pak Hardi berkata, "Apa? Polisi? Kenapa mereka ingin bertemu dengan kami? Lalu, apa hubungannya dengan Andri? Bukannya Andri ada di Amerika?" cecar Bu Tania.


"Tidak, Nyonya. Den Andri tidak ada di Amerika. Dia ... sedang dirawat di rumah sakit. Sekujur tubuhnya luka, kaki, tangannya di gips, Nyonya."


Rasanya bumi tempat bu Tania berhenti berputar. Matanya terasa berkunang-kunang. Semakin lama kunang-kunang itu semakin banyak, membuat ibu dua orang anak itu jatuh pingsan.


"Mama!" teriak Pak Hardi. Dengan sigap menahan tubuh istrinya agar tidak ambruk ke lantai.


Berita yang disampaikan ART cukup mengagetkan bu Tania.

__ADS_1


...***...


__ADS_2