
“Bunda, tadi aku dihubungi tukang yang bertanggung jawab akan pengerjaan unit apartemen milikku. Katanya sudah bisa ditempati,” ujar Ghani pada Arumi.
Arumi mendesah. Dia tahu cepat atau lambat, Ghani dan keluarganya akan keluar dari rumah ini. Hanya saja Arumi tak menduga waktunya akan secepat ini.
“Jadi, kalian akan pindah hari ini juga?”
“Iya, Bunda. Queensha sudah berkemas. Kami hanya perlu mengemasi barang-barang Rora saja.”
Meskipun berat, Arumi tetap menawarkan diri untuk membantu anak dan menantunya. "Butuh bantuan? Bunda bisa membantu sedikit mengemasi mainan Rora yang tersebar di mana-mana."
Ghani buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Bun. Aku tidak mau merepotkan Bunda. Biar aku minta Mbak Tina dan Ijah membantu Queensha. Bunda duduk saja di sini, menemani Rora bermain."
Arumi meremas kedua telapak tangan yang ada di pangkuan. Dengan ragu dia berkata, "Kalau memang tidak boleh membantu, apa bunda boleh mengantarkan kalian pindahan?" Mata Arumi terlihat penuh harap.
Ghani tersenyum. “Tentu saja boleh. Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit menggunakan mobil. Kalau pakai motor cukup sepuluh sampai lima belas menit saja. Aku sengaja cari yang tidak terlalu jauh supaya Queensha bisa sering mengajak Rora main ke sini."
“Syukurlah kalau begitu.” Arumi menghela napas lega. Walau tahu akan berpisah dengan cucunya, tapi dia tak terlalu merasa sedih karena Aurora masih akan sering dia temui.
***
Semua barang Ghani, Queensha, dan Aurora sudah selesai dikemasi. Ghani menyeret koper-koper besar mereka ke mobil. Rayyan ikut membantu agar Ghani tak keberatan membawa koper-koper itu.
“Nah, sudah selesai.” Ghani ngos-ngosan sambil mengusap keringat di dahinya.
“Kita berangkat sekarang?” Rayyan menatap Ghani.
“Siap, Ayah.” Ghani mengacungkan jempol dan masuk ke dalam mobil.
Rayyan segera mengajak Arumi masuk ke mobil mereka sendiri. Iring-iringan dua mobil pun keluar dari rumah, menuju unit apartemen Ghani dan Queensha.
Di dalam mobil, Arumi banyak termenung. Matanya tak lepas dari mobil Ghani yang ada di depannya. Melihat Arumi yang tak kunjung bicara sedari tadi, Rayyan tahu kalau ada sesuatu yang dipikirkan istrinya.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Rayyan ingin tahu. Bagaimanapun, Arumi adalah istrinya. Dia tak ingin Arumi merasa tak nyaman atas kepindahan putra mereka.
“Yah, aku hanya takut akan masa depan.”
“Apa yang kamu takutkan?”
__ADS_1
“Kamu tahu sendiri mempertahankan rumah tangga ada tantangannya sendiri. Pasti ada saja ujiannya. Aku takut Ghani tidak mau mengalah atau Queensha yang enggan memahami Ghani. Bisa-bisa mereka terus-terusan cek-cok. Kasihan Aurora nantinya.”
“Ghani sudah dewasa. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Arumi menghela napas. “Karena Ghani tak lagi tinggal dengan kita, kita tidak bisa menasihati dia kalau dia berbuat salah. Begitu pun dengan Queensha. Inilah yang membuatku khawatir.”
Rayyan tersenyum kecil. “Aku tahu kamu adalah ibu yang baik. Kamu pasti cemas dengan putramu. Tapi jangan terus-terusan overthinking. Berilah kebebasan bagi Ghani dan Queensha untuk menyelesaikan masalah mereka. Kalaupun memang tidak ada jalan keluar maka kita bantu mereka semampunya."
"Menengok ke belakang, aku yakin Ghani akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Dia pasti tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Ghani pernah menceraikan Queensha dan aku yakin, anak kita tak mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Walaupun tempramentalnya tinggi, tetapi dia dapat berpikir dengan logis. Percayalah kepadaku, Babe."
“Hmm, baiklah. Aku akan mencoba mengikhlaskan mereka.” Mata Arumi menerawang. Yang sekarang bisa dia lakukan hanya berdoa semoga kehidupan rumah tangga Ghani dan Quensha rukun selalu.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit, akhirnya iring-iringan mobil Ghani dan Rayyan berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang berada di kawasan elit. Gedung pencakar langit tersebut lokasinya cukup stategis karena berada di pusat kota dan dekat dengan rumah sakit, mall, mini market, dan juga sekolah berbasis internasional sehingga memudahkan para penghuninya untuk mobilitas ke mana-mana.
"Bangunannya bagus. Aksesnya juga dekat dengan sekolah, rumah sakit, dan mall. Ayah menyukainya." Komentar Rayyan. Tadi saat mengendarai mobil, ia memperhatikan keadaan di sekitar gedung apartemen, kediaman anak serta menantunya.
“Inilah alasanku memilih apartemen di sini, Yah. Yuk, semua masuk ke dalam. Aku mau menurunkan koper ini dulu sambil minta tolong para penjaga di depan sana untuk memarkirkan mobil di basement,” kata Ghani.
Queensha, Aurora, dan Arumi pun mengikuti ke mana langkah kaki Ghani melangkah. Menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai sepuluh di mana unit apartemen tersebut merupakan tempat tinggal pasangan pengantin baru yang kini sedang berbahagia.
Begitu masuk ke ruang tamu, mereka segera duduk untuk rehat sejenak setelah perjalanan yang lumayan melelahkan gara-gara terjebak macet.
"Tentu saja istriku tercinta, Bun. Bagaimana, bagus bukan? Selera istriku tak kalah berbeda dari para arsitektur terkenal di tanah air." Ada kebangaan tersendiri dalam diri Ghani karena dekorasi rumah serta semua furnitur merupakan pilihan sang istri tercinta.
"Bagus, bunda menyukainya. Istrimu tidak hanya pandai mengurus anak, mencari uang, tetapi juga pandai menghiasi hunian hingga nyaman ditempati. Kamu beruntung punya istri seperti dia, Nak."
"Aah, Bunda bisa saja." Queensha tersenyum simpul mendapat pujian dari ibu mertuanya, padahal ia hanya memilih sesuai seleranya saja. Namun, tidak terduga rupanya pilihannya justru sesuai dengan selera sang bunda. Sungguh merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
***
Aurora kelihatan sekali senang menempati rumah barunya. Apalagi dia punya ruangan bermain sendiri sekarang. Dia mengajak Arumi dan Rayyan untuk bermain di sana.
Sementara ketiga orang itu sibuk sendiri, Ghani dan Queensha sibuk menata pakaian dari koper serta barang-barang dari dalam kardus. Mereka menyusun pakaian dalam lemari juga mengatur benda-benda kepunyaan mereka yang dibawa dari rumah Arumi.
"Omong-omong sudah hampir malam. Aku masak makan malam dulu ya, Mas,” ujar Queensha seraya berdiri.
Ghani melirik jam digital yang diletakkan di atas nakas. "Oke. Olah saja bahan makanan yang kubeli kemarin sore, Sayang. Itu semua merupakan makanan kesukaan Bunda dan juga Ayah. Ada juga makanan kesukaanmu," jawab Ghani.
__ADS_1
Saat pergi ke dapur, Queensha melihat Arumi sudah ada di sana. Mertuanya itu sedang melihat isi kulkas dengan tangan menggenggam pisau.
“Apa Bunda mau masak?” tanya Queensha.
“Aurora bilang sudah lapar, makanya bunda inisiatif membuatkan makan malam. Bagaimana kalau kita masak bareng?” tawar Arumi.
“Boleh, Bunda. Sekalian Bunda bisa mengajariku masak makanan favorit Mas Ghani.”
“Oh, makanan kesukaan Ghani tak jauh berbeda dari makanan kesukaan ayahnya. Bakwan jagung dan pangsit rebus merupakan makanan kesukaannya. Kalau Ayah Rayyan merajuk, bunda buatkan saja dua makanan tersebut, tak lama kemudian marahnya mereda." Arumi terkikik menceritakan pengalaman pribadinya dulu.
Mata Queensha terbelalak lebar. "Seriusan, Bun? Jadi kalau misalkan aku marahan dengan Mas Ghani, berarti bisa dong menggunakan teknik itu untuk membujuknya agar tidak marah lagi kepadaku?"
Arumi spontan tertawa mendengarnya. “Boleh dicoba. Namun, bunda berharap semoga rumah tangga kalian tidak ada masalah berarti yang membuat kalian berpisah seperti di pernikahan sebelumnya."
"Aamiin. Doakan selalu, ya, Bun."
Setelah memasak menu makan malam, Arumi membawa hasil masakannya ke meja makan. Dia suka mengajari Queensha memasak. Menantunya itu mendengar kata-katanya, pun tak suka membantah.
Sebagai mertua, Arumi tak ingin membuat Queensha merasa kecil hati. Sudah cukup dulu Arumi mengalami masa-masa yang tak mengenakkan dengan mertuanya yang sering berkata pedas dan membanding-bandingkan dirinya. Dia tak ingin Queensha mengalami hal serupa. Karena itulah, Arumi berusaha menganggap Queensha sebagai putrinya sendiri.
“Nah, ayo makan semua!” seru Arumi setelah makanan tersaji di meja makan.
Rayyan, Ghani, dan Aurora segera melesat menuju meja makan. Terlihat sekali ketiga orang itu sudah kelaparan. Perut Aurora sampai berbunyi keras gara-gara sudah menahan lapar sedari tadi.
“Hmm… kayaknya ada yang butuh pemadam kelaparan nih,” goda Arumi pada cucunya.
Aurora terkekeh. Dia segera duduk di kursinya, lalu menunjuk ayam goreng buatan sang mama." Rora mau bagian paha, Ma. Sayur kangkungnya yang banyak, tapi jangan pakai cabe. Nanti pedas." Queensha dengan setia menuruti permintaan anak tercinta.
Melihat kelakuan Aurora yang menggemaskan, Rayyan mencubit pipi cucunya itu. "Memang kamu saja yang lapar? Kakek juga kelaparan lho.”
“Yah, kalau Kakek sih emang selalu lapar. Di rumah saja ngemil terus. Makanya perutnya buncit,” celetuk Aurora penuh canda, padahal perut Rayyan tidak sebuncit yang dipikirkan cucu tersayang sebab pria keturunan Tionghoa itu masih rajin berolahraga meski sudah memasuki usia senja.
“Kamu ini, ya!” Rayyan makin gemas gara-gara dicandai cucunya.
Semuanya langsung tertawa melihat Rayyan yang menggelitiki Aurora yang tadi menggodanya.
Suasana di rumah baru Ghani berlangsung meriah. Melihatnya, baik Rayyan dan Arumi tahu bahwa Aurora, Ghani, dan Queensha akan bahagia menjadi bagian dari keluarga Wijaya Kusuma.
__ADS_1
...***...