
"Kamu serius, Lu? Tidak sedang bercanda, 'ka?" kata Queensha memastikan kembali ucapannya. Khawatir indera pendengarannya terganggu sehingga mengulangi apa yang diucapkan sahabatnya itu.
Lulu menghempaskkan tubuhnya di kasur dengan kasar. Setelah berpikir selama dua hari, akhirnya ia setuju akan usulan Queensha untuk mengenal Leon lebih jauh lagi. Bukan karena ia menyukai pria mesum itu melainkan karena tak mau melukai perasaan Queensha yang telah susah payah mencarikan jodoh untuknya.
"Iya, gue serius. Namun, pertemuan ini cuma untuk saling mengenal aja bukan berarti gue bersedia jadi pacarnya. Oke?" tandas Lulu mengingatkan.
Queensha tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih. "He'em, aku mengerti. Aku akan minta Mas Ghani menghubungi Mas Leon untuk menentukan hari, jam, dan di mana akan mengadakan pertemuan. Setelah itu aku hubungi kamu lagi untuk informasi lebih lanjut."
"Lo atur aja, deh. Gue ngikut apa yang menurut lo baik. Tapi kalau misalkan gue enggak cocok, jangan marah, loh. Jangan sampai masalah ini justru ngehancurkan persahabatan kita."
Jemari lentik Queensha melambai di udara. "Tenang saja. Penolakanmu terhadap Mas Leon tidak akan pernah merubah apa pun dari hubungan kita. Kamu dan aku selalu bersahabat sampai kapa pun."
Usai mendapat jawaban Lulu, Queensha bergegas menghubungi suami tercinta. Ghani turut senang mendengar istrinya bahagia. Tanpa membuang waktu terlalu lama, Ghani segera menelepon Leon yang saat itu sedang me time di Puncak.
"Bro, Lulu udah bersedia untuk mengenal lo lebih jauh lagi. Saran gue, ajak dia makan malam romantis di restoran bintang lima, untuk tempatnya lo sendiri yang pilih. Buat kencan buta kalian berkesan dan sukar dilupakan Lulu. Gue yakin hubungan kalian berlanjut ke step selanjutnya," ujar Ghani bersemangat.
Leon terdiam. Jauh di dalam lubuk hatinya ia mulai merasa Lulu memang perempuan yang baik, meskipun sedikit mengesalkan karena pertemuan mereka selalu diwarnai pertengkaran. Sikap keibuan yang ditunjukan Lulu kepada Aurora adalah bukti bahwa perempuan itu punya welas asih terhadap anak kecil.
"Oke deh, Bro. Seperti yang pernah gue bilang tempo hari, kalau gue percaya sama pilihan kalian. Tapi inget, ini cuma makan malam biasa, enggak ngejamin gue bawa hubungan ini ke step selanjutnya."
"Iya, iya. Ini cuma makan malam aja. Queensha udah ngebujuk Lulu, dan dia udah mau. Kami angkat tangan jika seandainya kalian mundur karena ngerasa enggak cocok satu sama lain. Namun, gue berharap, sih, makan malam ini membuahkan hasil. Di mana lo dan Lulu bersanding di pelaminan, melepas masa lajang setelah sekian purnama terlewati." Ghani tergelak membayangkan dua anak manusia yang awalnya saling membenci melangkah bersama ke pelaminan, duduk bersanding sambil melempar senyum bahagia. Oh, sungguh indahnya.
"Kampret! Makan malam diadakan malam minggu ini, tepat pukul tujuh malam. Nanti gue jemput dia di indekosnya." Tanpa disadari, Leon tersenyum samar merasa senang karena Lulu mau makan malam atas desakan Queensha.
"Oke. Urusan dana, biar gue yang nanggung. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena lo mau nurutin saran gue dan Queensha. Ya udah, lo prepare yang bener, jadikan kesan pertama ini begitu menggoda. Selanjutnya gue serahkan ke lo dan Lulu." Ghani menutup telepon.
Pada malam yang telah ditentukan, Lulu sedang memilih pakaian di lemari. Dia tampak sedang kebingungan hendak mengenakan gaun mana yang pantas untuk dikenakan untuk makan malam pertamanya dengan Leon. Ada sekitar enam gaun yang dibelikan Queensha sebagai tanda ucapan terima kasih karena dirinya bersedia makan malam bersama Leon.
Baru kali ini akan jalan bareng cowok yang disebut kencan buta, atau setidaknya ini pertemuan pertama yang disepakati untuk makan malam dengan seorang pria.
Pilihan pertamanya jatuh pada satu dress selutut warna navy. Dress dengan motif off shoulder memperlihatkan leher dan bahunya yang bersih tanpa cela sedikit pun.
Setelah menimbang-nimbang, Lulu lemparkan benda tersebut ke atas kasur dengan kasar. "Dress ini enggak cocok untuk dipakai makan malam bersama Leon. Nanti dia kira gue sedang menggodanya karena mengenakan dress terbuka di bagian pundak dan leher."
__ADS_1
Pilihan berikutnya gaun model panjang warna merah maroon. Lulu suka warnanya, merah menunjukkan keberanian, seperti karakternya yang tak pernah gentar membela kebenaran.
Setelah dilihat dan dicoba, kali ini Lulu merasa tidak terlalu suka dengan warna yang mencolok. Akhirnya, gaun merah pun kembali gugur, terjatuh di atas lantai. "Terlalu mencolok, yang ada perhatian si Berengsek tertuju ke gue mulu."
Pilihan ketiga jatuh pada dress di bawah lutut berwarna hitam dengan leher model V neck dan di bagian pinggang terdapat belt berbentuk pita yang dapat disesuaikan dengan lingkar pinggangnya. Cukup lama berdiri, memutar tubuh di depan cermin akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan dress tersebut.
"Pakai yang ini aja, deh, simpel dan elegan. Pundak dan leher gue enggak terekspose sehingga Leon enggak bisa liat bagian tubuh gue yang enggak tertutup kain."
Sebenarnya, Lulu masih sedikit gondok dengan kejadian tempo hari. Namun, demi Queensha yang selalu berusaha memilihkan yang terbaik untuknya, Lulu tidak bisa menolak. Bagaimana dia bisa mematahkan senyum di wajah Queensha sebelum mencoba bertemu dan berkencan dengan Leon.
***
"Lo yakin mau makan di restoran ini?" tanya Lulu sesaat setelah ia dan Leon tiba di tempat tujuan. Restoran tersebut terdapat di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Lulu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Restoran dua lantai di depan sana tampak terlihat mewah, terlihat dari dekorasi bangunan yang menjulang tinggi ke angkasa.
Leon mengunci mobil miliknya dan berjalan mendekati Lulu. "Kalau gue enggak yakin, ngapain ngajak lo makan di sini? Tenang aja duit yang dipake bukan duit gue, kok, tapi punya sohib gue--Ghani. Kalau pake duit gue, gue ajak lo makan di pinggir jalan."
Lulu mencebikkan bibir mendengar sahutan Leon. Baru empat puluh menit mereka akur, kini pria itu kembali membuat masalah dengannya.
Leon mengeram pelan. Kedua tangan mengepal di samping kanan dan kiri. "Sabar, Yon, demi Ghani dan Queensha, lo mesti banyakin sabar ngehadapi cewek sialan ini."
Lulu dan Leon duduk di meja yang sudah disediakan. Leon sudah terlebih dahulu mereservasi, karena restoran ini sering kehabisan kursi. Restoran bergaya Amerika dengan bangunan kokoh, kursi-kursi dan meja kayu panjang membuat suasana malam semakin temaram dan teduh.
Di halaman belakang juga ada konsep garden party, di mana beberapa pasangan sudah duduk dengan tenang, diiringi live music yang mengalun indah. Sungguh suasana romantis bagi mereka yang sedang menjalin hubungan percintaan.
Di antara banyaknya pengunjung, dua di antaranya adalah Leon dan Lulu. Mereka duduk berhadapan, menikmati suasana restoran yang terlihat begitu indah.
"Gimana kerjaan lo akhir-akhir ini?" tanya Leon, ingin memecah suasana.
Lulu menoleh ke arah Leon yang saat itu sedang menikmati alunan musik dari band di depan sana. "Biasa aja. Namanya juga kerja sebagai pelayan, ada suka dan dukanya selama bekerja. Namun, gue tetep bersyukur karena enggak jadi pengangguran yang kerjaannya ngintipin orang di toilet."
Desahaan kasar lolos dari bibir Leon. 'Lama-lama makin ngelunjak nih anak.'
__ADS_1
Namun, lagi dan lagi Leon mencoba bersabar menghadapi sikap Lulu yang sejak tadi selalu ketus kepadanya. "Kalau malam minggu, lo biasanya suka hangout di mana?" tanya Leon lagi.
"Gue nggak terlalu suka hang out paling nongkrong sama Queensha karena teman-teman yang lain pada sibuk sama pasangannya masing-masing. Jadi gue di rumah aja, nonton, makan, ngemil kalau lagi enggak kumpul bareng Queensha," jawab Lulu dengan mata menerawang. Leon membaca tatapan yang terlihat seperti seorang gadis yang sedang kesepian.
"Kasihan banget, masa muda lo dihabiskan untuk sesuatu yang enggak berguna," celetuk Leon sengaja menyindir Lulu.
"Bodo amat. Daripada masa muda gue digunakan untuk berbuat mesum," balas Lulu sengit.
Menu pembuka datang, dua mangkok sup dihidangkan beserta minuman. Leon dan Lulu segera menikmati kuah sup yang hangat membuat wajah keduanya semringah.
"Eum, enak. Pantas aja harganya mahal ternyata rasanya sangat mantap," gumam Lulu sambil terus menyeruput sup kuah tersebut.
'Gadis bodoh, baru makan sup udah semringah gitu mukanya,' batin Leon tanpa mengedipkan mata. Ia tersenyum melihat kekonyolan yang sedang terpampang nyata di depan mata.
Acara makan malam telah usai. Semua hidangan yang dipesan sudah habis tak bersisa. Leon segera mengeluarkan kartunya untuk membayar semua hidangan.
Saat sedang menunggu Leon, Lulu pamit ke toilet untuk touch up make up-nya. Sesekali gadis itu berdiri cukup lama di depan wastafel yang tergantung cermin besar, melihat dirinya sendiri. Ia bertanya dalam hati. 'Kalau gue dandan, ternyata cantik juga, ya? Kira-kira, Leon tertarik enggak sama gue?'
"Bego, ngapain gue mikirin itu. Dih, najis!"
Setelah dirasa cukup, Lulu kembali keluar, dan Leon sudah menunggunya di depan meja kasir.
"Kita pulang sekarang atau mau mampir ke tempat lain?" Leon menawarkan diri mengantarkan Lulu. Selagi di luar mengapa tidak sekalian saja.
"Gue anak baik, enggak biasa bepergian dengan orang asing. Jadi, kita pulang aja ke rumah sekarang," sahut Lulu seraya melangkah meninggalkan Leon.
Rahang Leon mengeras dengan sorot mata tajam mengarah pada Lulu. "Lama-lama gue tinggalin juga dia di sini."
Saat hendak pulang, Leon dan Lulu berjalan bersama ke depan pintu masuk restoran. Tanpa sengaja, Lulu melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil. Meskipun posisi orang itu membelakanginya, tetapi ia sangat mengenal pemilik punggung tersebut.
"Lulu, lo kenapa? Kok badan lo gemetaran gini? Lalu, kenapa muka lo bisa pucat. Lu ada apa, hem?" Leon sangat panik melihat keadaan Lulu berubah dalam hitungan detik. Padahal beberapa saat lalu wanita itu baik-baik saja, tetapi kenapa sekarang tubuhnya gemetar hebat.
...***...
__ADS_1