
Siang yang cukup terik saat Lulu menyelesaikan shift-nya hari ini. Wajah cantik itu terlihat lelah sekali. Bekerja di restoran memang tidak bisa diprediksi. Terkadang ia punya banyak waktu untuk bersantai saat sepi pengunjung, tetapi tak jarang jika sedang ramai, untuk duduk saja ia tak sempat.
Entah bisa disebut beruntung atau justru sebaliknya, tetapi karena restoran ini sudah punya nama, setiap jam makan tiba pengunjung selalu membludak. Belum lagi deretan ojek online yang memesan aneka menu sesuai keinginan pelanggan.
Ketika Lulu keluar restoran, suasana di parkiran sangat ramai. Banyak driver ojek online sedang mengantri guna mendapat pesanan dari pelanggan mereka. Ia berusaha mencari jalan yang tidak ramai dan tak perlu membuatnya melewati driver ojol tersebut yang kebanyakan adalah kaum Adam.
"Rasanya kayak habis buang hajat setelah melewati mereka." Lulu menghela napas lega. Akibat trauma masa lalunya membuat ia sedikit waswas setiap kali berada di dekat pria asing. Itulah mengapa ia memutuskan membeli sepeda motor agar dapat bepergian ke mana-mana tanpa harus diboncengi pria yang tak dikenalnya.
Dengan langkah panjang, Lulu menuju parkiran khusus pegawai restoran. Akan tetapi, baru saja hendak melangkah dari arah belakang terdengar seseorang meneriaki namanya.
“Lulu!” seru seseorang yang suaranya cukup familiar.
Lulu menoleh ke arah sumber suara dan terkejut karena mendapati Leon berada di sana. Ia berpikir Leon sudah pulang usai makan di restoran tadi.
“Loh, kok, masih di sini? Bukannya lo udah cabut dari satu jam lalu," kata Lulu. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang tipis.
'Mampus, gue mesti jawab apa, nih? Gengsi banget kalau gue sengaja nungguin dia di sini.'
Lulu melambaikan tangan di depan Leon. "Yaelah, malah ngelamu. Gue lagi nanya, lo ngapain di sini? Apa ada barang bawaan lo ketinggalan di restoran?"
Leon mengusap tengkuknya. “Awalnya gue emang mau langsung pulang, tapi ada hal penting mau dibahas sama lo akhirnya gue nungguin lo di sini. Ehm, gue mau tanya gimana keadaan lo?”
Lulu terdiam sesaat, sudah dua kali Leon menanyakan keadaannya, seolah ia memang harus dikhawatirkan sampai segitunya.
“Maksud gue setelah kita makan malam kemarin, 'kan, belum ketemu lagi. Tadi ketemu, tapi cuma sebentar doang. Banyak yang mau gue obrolin, eh lo malah pergi gitu aja. Kenapa lo ngindarin gue? Apa gue ada ngelakuin kesalahan lagi?"
“Ngaco! Jangan main tuduh seenaknya aja. Saat jam kerja, gue dan teman-teman yang lain emang enggak boleh berinteraksi dengan pelanggan makanya tadi gue langsung pergi setelah nganterin pesanan. Gue dan yang lain digaji untuk bekerja, bukan untuk ngobrol apalagi bergosip dengan pelanggan," tandas Lulu menjelaskan.
Leon senang Lulu sudah mulai bisa lebih bersahabat, tidak seperti ketika mereka bertemu di dalam tadi. Suasana sedikit kikuk dan tegang.
Sikap Lulu sudah benar memposisikan diri sebagai pelayan restoran yang melayani tamu dengan pelayanan terbaik. Tidak berbincang saat jam kerja berlangsung dan itu membuat Leon salut kepada gadis itu.
"Gue customer berhak dapat pelayanan terbaik, termasuk ngobrol ama lo, kali."
"Wani piro?" Lulu menatap jengah dengan tangan berkacak pinggang.
"Ehm, tapi emang enakan nungguin gini, sih, ngobrolnya gratisan. Gue enggak perlu beli makanan ataupun minuman yang bisa bikin perut gue penuh karena kekenyangan."
Leon tergelak sementara Lulu pura-pura menekuk wajahnya.
__ADS_1
Lulu memutar bola matanya dengan malas. "Bilang aja pelit, sok-sokan bilang kenyang segala. Dasar, cowok enggak jelas!"
Leon menghentikan tawanya. “Dih, gitu aja marah. Gue cuma bercanda, kali. Oh ya, gue sengaja nunggu di sini karena mau ngajakin lo jalan. Gimana, mau enggak?" ajaknya to the point.
“Hah? Sekarang? Mendadak banget, Yon. Gue mau pulang, mandi terus tidur. Capek banget rasanya badan gue seharian kerja.”
Leon mencibir Lulu. “Siapa juga yang mau ngajaki jalan lo sekarang, hah. Maksud gue, lain waktu kita jalan berduaan. Kebetulan, Sabtu nanti gue libur jadi kita bisa jalan berduaan. Gue bisa anterin ke mana lo pergi. Gratis!"
Leon menatap ke samping, setiap berbicara dengan Lulu ia selalu merasa gugup. Apalagi saat tanpa sengaja mata mereka saling beradu pandang, membuat ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
“Oh, bukan sekarang toh. Kalau akhir pekan, gue bisa. Omong-omong emangnya kita mau jalan ke mana?” tanya Lulu lagi sambil menundukkan wajahnya, menatap sepatu sportnya yang mulai usang, tetapi ia suka karena nyaman saat dipakai.
Tidak. Bukan soal tentang sepatu usang, tetapi tentang mengalihkan pandangan dari wajah tampan yang sedikit mengganggunya karena menimbulkan desir halus tak beraturan di dalam sana.
“Ya ke mana aja, bisa makan, ke mall, atau nonton bioskop. Hmmm … Ghani sama Qeensha sih yang ngasih ide ini, jadi gue cuma ngikut aja.”
Lulu sedikit membulatkan mata mendengar nama Ghani dan Queensha disebut-sebut Leon. Padahal Leon hanya bicara reflek saja. "Serius? Mereka yang minta lo datang ke sini untuk nanyain apa gue malam minggu ini ada acara atau enggak?"
'Mati gue. Kenapa mesti nyebutin dua nama itu, sih. Alamak, gimana kalau Queensha atau Ghani tau kalau gue pake nama mereka untuk ngajak Lulu nge-date.' Kini Leon merutuki kebodohannya karena dengan lancangnya mengajak Lulu jalan hanya karena pikirannya tidak tenang, memikirkan gadis di sebelahnya ini.
Sejujurnya, Leon berada di sini sekarang atas inisiatifnya sendiri, tidak ada hubungannya dengan Ghani dan Queensha. Namun, entah mengapa dua nama itu terlintas di benaknya begitu saja.
“Iyalah, masa gue bohong, sih. Mungkin Queensha lupa kenapa enggak kasih tahu kalau gue mau ngajakin lo jalan," elak Leon.
“Oh gitu. Bisa jadi, sih.” Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman ketika bukan Leon-lah yang berinisiatif mengajaknya hang out saat malam minggu nanti.
'Kenapa gue kecewa, ya? Seharusnya gue seneng dong kalau ternyata ide jalan saat malam minggu bukan dari dia. Tapi kenapa hati gue sakit?' tanya Lulu dalam hati. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
“Jadi gimana kalau malam minggu nanti kita ke bioskop aja? Kayaknya lagi banyak film seru,” imbuh Leon tak ingin membuang-buang waktu.
Lulu memandang beberapa detik lalu berkata, “Lo beneran lagi butuh teman nonton? Gue enggak mau jadi baby sitter lo karena mesti nungguin Bujang Lapuk macam lo tidur di bioskop. Mendingan gue di rumah, streaming drama Cina di HP mumpung ada drama baru tuh di salah satu aplikasi kesayangan gue."
"Wah, ini anak kalau ngomong suka bener. Bukan lagi tidur, ngorok juga kali," celetuk Leon menimbulkan kekehan pelan di antara keduanya.
Kini dua orang dewasa itu terlihat lebih akrab dibanding sebelumnya. Mungkinkah ini petanda kalau mereka sudah mulai merasa nyaman satu sama lain?
Perut terasa geli mendengar celetukan Leon yang terdengar garing. "Kalau gitu, nanti gue bawain lo bantal sekalian biar bisa gelar tikar di bioskop."
"Jadi gimana, bisa enggak? Gue takut banget, nih, ditampol Ghani karena enggak berhasil ngajak lo jalan."
__ADS_1
"Boleh, kalau menurut lo itu ide yang bagus.” Lulu menjawab dengan senyum lebar memperlihatkan deretan putih giginya.
Terdengar suara petik jemari tangan berasal dari Leon. Dalam hati bahagia karena niatnya untuk menghibur Lulu berhasil. “Gue ingat waktu lo bilang kesepian di indekos, enggak ada teman buat malmingan. Sebetulnya sama, gue juga tiap malam minggu bingung mau ngapain. Nyokap dan bokap kadang pergi kondangan atau jengukin Kakak gue yang tinggal di Bandung jadi ngerasa kayak orang ilang ditinggal sendirian di rumah."
Lulu mengganggukkan kepalanya. Gadis itu masih ingat pembicaraan mereka saat kencan buta yang kemudian berakhir dengan sesuatu yang tidak diinginkan.
“Nah, makanya sekarang gue nawarin lo. Dari pada gabut di indekos cuman di kamar nonton film, rebahan, dan ngemil doang mending kita jalan. Refreshing otak biar enggak stress. Kita juga butuh hiburan, loh, biar enggak jadi gila."
Lulu tergelak merasa ucapan Leon benar adanya. Jika dipikir-pikir selama ini usai jam kerja, ia hanya pulang ke indekos. Streaming film, nonton televisi atau baca novel online di salah satu platform kesayangannya.
“Jam tujuh malam gue jemput di indekos lo. Inget, gue sampe sana lo udah rapi. Jangan ada drama yang bikin waktu gue terbuang percuma. Oh ya satu lagi. Bawa bantal, selimut , kasur, magicom, termos, pokoknya apa aja yang ada di kamar, angkut semua ke mobil gue."
Leon membukakan pintu penumpang di samping kemudi. "Naik, gue anterin lo pulang."
Bola mata membulat sempurna. Lulu cukup terkejut akan perkataan Leon. "Kesambet setan apaan, sih, lo pake nyuruh gue naek mobil lo segala. Noh lihat, gue bawa sendiri jadi enggak bisa pulang bareng lo." Ia menunjuk salah satu unit motor yang terparkir menggunakan ujung dagu.
“Minta temen lo anterin ke indekos atau tinggal aja di sini. Pasti amanlah, enggak mungkin ilang. Udah buruan, panas banget, nih."
"Tapi-"
Namun, Leon segera menarik tangan Lulu hingga mau tak mau gadis itu menuruti perintah pria tersebut.
Lulu sedikit ragu hendak naik ke mobil Leon. Beberapa temannya yang baru keluar restoran tersenyum sambil berbisik-bisik ke arahnya. Sekali lagi Lulu dibikin salah tingkah karena mereka pasti sedang membicarakan dirinya.
'Aah, sialan. Kenapa mereka keluar restoran di saat gue juga mau pulang, sih. Kenapa enggak nunggu gue jalan dulu baru mereka keluar. Kalau udah begini, pasti akan ada gosip hangat besok pagi di restoran.'
'Duh, mana mereka ngeliatin Leon terus lagi. Gue harus gimana ini?' tanya Lulu dalam hati. "Bodo amatlah dengan mereka. Lagi pula gue sama Leon emang enggak ada apa-apanya, kok.'
Leon segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Ketika melintas di depan teman-teman Lulu, pria itu berkata, “Teman-teman lo enggak disapa? Mereka pada ngeliatin tuh,” ucap pria itu seraya melirik ke arah kaca spion.
"Enggak, ah. Biarin aja. Buruan digas, lelet banget kayak siput. Gue udah kepingin banget sampe indekos. Capek badan gue," kata Lulu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Bawel! Iya, gue naikin kecepatannya. Pastiin seat belt lo terpasang dengan benar, jangan sampe kepala lo kebentur saat gue tancap gas." Lalu Leon menginjak pedal gas hingga kecepatan mobilnya mencapai 60 KM/jam.
Perlahan, kendaraan roda empat itu meninggalkan pelataran restoran, membelah jalanan ibu kota yang terlihat begitu ramai.
...***...
__ADS_1