
Wajah Cassandra berubah pucat. Hawa sekitar terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak biasanya saat berdekatan dengan Ghani, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan penjahat berdarah dingin yang siap menghabisi nyawa korbannya detik itu juga. Begitu menakutkan.
'Kenapa ekspresi wajah Ghani seolah dia sedang menyembunyikan suatu hal dariku? Apa mungkin dia tahu kalau gue adalah orang yang memasukan obat perangsang ke dalam minumannya?' batin Cassandra.
Detik berikutnya ia menggelengkan kepala. 'Enggak! Kejadian itu udah berlalu begitu lama jadi mana mungkin Ghani tahu. Lagi pula gue udah membungkam mulut Alvin dan manager club itu sehingga enggak ada satu orang pun yang tahu kebusukan gue.'
"Kenapa diam? Terkejut ya kenapa aku bicara demikian kepadamu?" ucap Ghani seraya memandang remeh ke arah Cassandra.
Ghani menggeser kursi ke samping hingga berjarak satu meter dari posisi Cassandra. Jangan sampai aroma parfum Cassandra menempel di tubuhnya, jika Queensha sampai tahu maka rencana pernikahan mereka bisa gagal dan pria itu tidak mau kehilangan wanita yang amat dicintainya itu. Ghani terlanjur cinta pada perempuan yang telah memberikannya surga dunia untuk pertama kali.
"A-apa? T-tidak .... A-aku ... tidak terkejut sama sekali kok. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," kilah Cassandra dengan tergagap.
"Sekali lagi aku peringatkan padamu untuk tidak mengusik hidup calon istriku. Jika tidak maka aku akan memberitahu orang tua serta Pamanmu bagaimana busuknya kamu saat masih kuliah dulu." Ghani mulai mencoba mengancam Cassandra agar wanita itu berhenti mengganggu Queensha.
Mata Cassandra membulat dengan rahang terbuka lebar. "M-maksudmu, apa? Kebusukan apa yang telah kuperbuat di masa lalu?" Semakin gelisahlah Cassandra dibuatnya. Telapak tangan wanita itu berkeringat dan degup jantungnya naik beberapa ketukan.
Bibir wanita itu terus membaca mantra, semoga apa yang ia takutkan tidak terjadi. Ghani tidak mengetahui rahasia yang disimpan selama lima tahun lamanya.
Ghani berdecak kesal. "Aah, kamu betulan lupa atau pura-pura lupa? Apa perlu aku ceritakan kronologinya dari awal sampai akhir?" Kedua alis pria itu bergerak turun dan naik. Melihat Cassandra gugup memberi kesenangan tersendiri kepadanya.
Ya, Ghani menikmati bagaimana dirinya saat sedang mengintimidasi Cassandra. Kegiatan ini ternyata lebih mengasyikan dibandingkan duduk di kursi dengan memegang satu set alat operasi dan membedah organ tubuh pasiennya.
Cassandra hanya mampu menelan saliva susah payah ketika dirinya menangkap sinyal berbahaya di sekitarnya. Untuk beberapa saat ia seolah sedang duduk di kursi terdakwa yang tengah menunggu hakim membacakan putusan kepadanya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan tega melakukan perbuatan hina seperti itu, San, padahal selama ini aku menganggapmu satu-satunya teman wanita terbaik yang pernah kumiliki. Aku mempercayaimu, tapi kamu malah mengkhianatiku. Kamu ... tega memerintahkan Alvin mencampur minumanku dengan obat perangsang," desis Ghani. Terpancar jelas raut penuh kekecewaan di sorot mata pria itu.
Ghani tidak mudah dekat dengan seseorang sehingga tak banyak teman yang miliki. Oleh karena itu, ia amat sangat kecewa kepada Cassandra karena sudah menusuknya dari belakang.
"Apa kamu tahu, akibat perbuatanmu itu aku telah merusak masa depan seseorang. Hidupnya menderita semenjak kunodai kesuciannya dan itu semua karena kamu, Cassandra. Karena kamu! Andai saja kamu tidak bekerjasama dengan Alvin dan manager club mungkin aku tak akan menjadi seorang pendosa karena melakukan hubungan intim dengan wanita asing tanpa adanya ikatan pernikahan."
"Lalu, saat aku meminta bantuan Alvin untuk mencari keberadaan wanita itu, dia justru menipuku karena merasa takut jika kebenaran tersebut terungkap kamu akan mencelakainya dan juga keluarganya. Kamu ... benar-benar jahat, Sandra!"
Ghani mengutarakan kesakitan yang selama ini ia alami di depan Cassandra, tak peduli bagaimana perasaan teman wanitanya itu. Apakah Cassandra akan sakit hati ataupun tidak, ia tak mau tahu. Terpenting ia mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.
"Namun, aku juga mau mengucapkan terima kasih karena berkat bantuanmu diriku bisa melepas keperjakaanku kepada wanita yang tepat bukan wanita jahat berhati busuk sepertimu. Tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya jika malam itu kamu tidak pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan dosenmu mungkin seumur hidup aku akan terjebak dengan perempuan iblis macam kamu!"
Cassandra tidak berkutik sedikit pun saat Ghani mengetahui rahasia yang disimpannya selama ini. Tubuh wanita itu gemetar hebat, keringat dingin semakin deras mengalir hingga membuat dress yang dikenakan basah oleh penuh. Mulutnya pun seakan terkunci rapat, tak mampu berkata.
Ghani menatap sinis ke arah Cassandra. "Aku tahu, sebetulnya kamu sudah mengetahui siapa wanita yang kutiduri malam ini. Karena alasan inilah kamu datang menemui wanita itu dan memintanya menjauhiku. Benar-benar tidak tahu malu!"
"Jika kamu ingin terlihat buruk di mata orang, silakan, tapi jangan menyeretku ke dalamnya. Kedua orang tuaku mendidikku dengan baik jadi aku tak mau mengecewakan mereka berdua," kata Ghani tegas.
Suasana tiba-tiba hening. Membicarakan kedua orang tuanya, Ghani merasa sedih karena telah melakukan kesalahan di masa lalu. Walaupun itu semua murni bukan kesalahannya, tetap saja ia bersalah karena melanggar aturan yang ditetapkan Rayyan dan Arumi untuk tidak bercinta sebelum ikrar suci pernikahan dilakukan.
Batin Cassandra kebingungan. Kini Ghani telah mengetahui semuanya, lalu sekarang ia harus berbuat apa? Meminta maaf dan mengakui kesalahannya?
Mengumpulkan keberanian di dalam dada. Mengepalkan kedua tangan di samping badan dan berkata, "Jadi karena wanita sialan itu kamu sengaja datang menemuiku? Ck, hebat juga ya dia karena berhasil mencuci otakmu."
__ADS_1
"Jangan pernah menghina calon istriku, Cassandra!" bentak Ghani dengan suara lantang sehingga tanpa sengaja menggebrak meja, menimbulkan suara bising di sekitar. "Dia bukan wanita sialan, yang sialan itu kamu. Mengerti?"
Cassandra tersentak kaget. "K-kamu ... berani membentakku, Ghani?" tandasnya tak percaya.
"Tentu saja! Aku tidak hanya berani membentakmu, tapi juga mampu menghancurkan nama baikmu di mata semua orang."
Ghani bangkit berdiri lalu membungkukan sedikit badannya di sebelah telinga Cassandra. "Kamu tahu 'kan bagaimana terkenalnya Ayahku di dunia kedokteran? Ayahku punya akses untuk bertemu langsung dan berbicara secara empat mata dengan ketua IDI dan ketua PDSI. Aku tinggal meminta Ayah menemui mereka dan mengatakan betapa jahatnya kamu."
"Aku yakin, tak lama setelah itu nama baikmu tercoreng, karirmu sebagai dokter pun hancur bahkan bisa jadi kamu diusir dari rumah sakit dan kartu keluarga jika mereka tahu bagaimana sifatmu yang sebenarnya."
Ghani menegakkan tubuhnya kembali dan duduk di kursi. Perutnya terasa mual terlalu lama mencium aroma parfum berasal dari Cassandra.
"Namun, kamu tenang saja aku tak akan meminta Ayah menemui ketua IDI dan ketua PDSI asalkan dirimu menjauhi Queensha. Berhenti menemuinya dan mengancam calon istriku. Jika kamu menerima tawaran ini maka kupastikan perbuatanmu tidak akan diketahui oleh siapa pun."
"Jika tidak, memangnya kamu melakukan apa kepadaku? Mereka tidak mungkin percaya begitu saja tanpa punya bukti yang kuat."
Ghani tertawa terbahak hingga mengeluarkan air mata saking lucunya mendengar perkataan Cassandra. "Bodoh! Kamu pikir aku bego, hem? Aku tidak akan mungkin berani mengancam tanpa mempunyai bukti."
"Aku ... punya bukti untuk bisa menghancurkan kamu, Cassandra. Jadi jangan pernah bermain-main denganku! Kamu menjauh dari Queensha maka aku akan menyimpan rahasiamu dengan baik. Simple, bukan?"
"Kalau kamu tidak setuju, tak masalah. Semua keputusan ada di tanganmu." Ghani bangkit berdiri dan mengayunkan kaki menuju pintu utama restoran. Sudah puas menyampaikan maksudnya meminta Cassandra datang ke restoran dan kini saatnya ia pergi menjemput Queensha di restoran.
Namun, sebelum menyalakan mesin mobil, Ghani terlebih dulu melepas kemeja yang dikenakan hingga memperlihatkan otot perutnya yang begitu menggoda iman menggantinya dengan kemeja yang baru.
__ADS_1
"Sampai di restoran gue bakal membuang kemeja ini. Enggak sudi pakaian gue terkontaminasi parfum wanita sialan itu." Setelahnya Ghani melajukan kendaraan roda empatnya, memecah jalanan ibu kota.
...***...