
Queensha berdiri dengan Ghani di sampingnya. Keduanya masih membeku di tempat karena masih syok atas kejadian beberapa saat lalu. Semua ini terjadi begitu cepat sehingga otak mereka masih belum mampu mencerna dengan baik.
Lulu yang sudah tersadar dari keterkejutannya melangkah mendekati Queensha. Kemudian menepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan. "Sha, ajak Pak Ghani keluar dan selesaikan masalah kalian berdua. Untuk urusan Pak Rama, biar aku yang handle."
Usai mengucap kalimat tersebut, Lulu membantu Rama yang masih terkapar tak berdaya di atas lantai. Tubuh gagah nan kekar itu terbaring lemah dengan posisi punggung menempel di dinding. Rama tidak menduga sama sekali jika siang ini akan mendapat hadiah istimewa dari pria asing yang tak lain adalah mantan suami dari wanita yang dicintainya.
"Ikuti aku! Kita perlu berbicara secara empat mata." Queensha melirik sekali dan berucap dengan teramat sinis. Setelah itu ia melangkah pergi.
Ghani tidak menjawab. Menghela napas panjang, barulah mengikuti langkah penuh emosi sang mantan istri. Dalam hati berkata mungkin inilah memang saatnya dia menjelaskan tujuan kedatangannya ke sini dan alasan kenapa bisa sampai hilang kendali, memukul orang tak bersalah hingga babak belur.
Queensha berjalan menuju taman belakang dekat gedung restoran. Tempat itu cukup sepi dan jarang sekali orang lalu lalang sehingga membuatnya leluasa berbincang dengan Ghani tanpa merasa takut ditegur oleh Puji ataupun rekan sesama karyawan.
Ghani berjalan dengan perasaan gamang mengikuti langkah kaki sang wanita. Gemuruh kencang bertalu-talu kala melihat punggung mantan istrinya itu. Ada perasaan rindu membuncah bersemayam di relung hati yang terdalam. Ingin sekali dia peluk wanita itu, mendekap erat hingga Tuhan tak lagi mampu memisahkan mereka.
Berhenti melangkah, Queensha duduk di kursi panjang terbuat dari kayu yang muat diisi dua orang dewasa. Pandangan mata menatap lurus ke depan tanpa ada niatan sama sekali menoleh ke samping.
"Ada keperluan apa Pak Ghani datang ke sini? Bukannya Bapak memintaku untuk menjauh selamanya, lalu kenapa sekarang Anda datang menemuiku? Apa Pak Ghani ingin aku pergi dari kota ini agar kita tak berjumpa selamanya?" ucap Queensha memulai percakapan.
"Kamu benar, saya memang pernah memintamu pergi. Namun, saya melakukan itu semua demi kebaikan Rora. Saya tidak mau nasib malang terus menimpa putri kecilku," jawab Ghani lirih.
__ADS_1
Dada terasa sesak bagai dihimpit batu besar kala mengingat betapa kejamnya dia dulu memperlakukan mantan istrinya itu dengan tidak adil. Tak pernah sekalipun membahagiakan Queensha, padahal dia pernah berjanji akan memberikan seisi dunia apabila menemukan wanita yang pernah ditidurinya dulu. Namun, janji tinggalah janji sampai mereka bercerai pria itu tidak pernah memberi kebahagiaan seperti yang diucapkan sebelumnya.
Queensha tersenyum getir mendengar penuturan Ghani. "Jika memang Pak Ghani menganggapku sebagai pembawa sial, lalu kenapa Bapak menemuiku lagi? Tidakkah Bapak takut nasib sial kembali datang menghadang apabila tetap berada di dekatku?"
Menggeleng kepala cepat. "Kamu bukan pembawa sial, Sha. Justru dirimu adalah sumber kebahagiaan bagi Rora, putriku. Semua kesialan yang menimpa keluargaku bukanlah kesalahanmu melainkan musibah dari Tuhan. Saya yang salah karena telah menuduhmu yang bukan-bukan. Jadi, tolong maafkan saya."
"Untuk apa Bapak meminta maaf pada wanita hina, rendahan dan tidak berpendidikan sepertiku? Apa Bapak tidak malu jika ada orang yang mengenalimu kemudian mengolok-olokmu lalu nama baik keluarga besar Wijaya Kusuma hancur begitu saja?"
"Persetan dengan omongan orang lain, Sha! Aku tidak peduli dengan ocehan mereka. Yang kupedulikan saat ini cuma satu yaitu ... kamu. Aku mau kamu kembali padaku, membina rumah tangga yang sempat kandas di tengah jalan. Aku ingin kita berdua bersama-sama membesarkan Rora dengan cinta dan kasih sayang seperti keluarga lain pada umumnya."
Queensha tertegun mendengar kalimat demi kalimat. Ia tidak menyangka bahwa Ghani akan memintanya kembali setelah kata cerai yang pernah diucapkan beberapa waktu lalu.
"Apa Bapak sadar dengan apa yang baru saja diucap? Jauh-jauh datang ke sini hanya untuk meminta mantan istrimu ini rujuk denganmu, begitu?" tandas Queensha menekan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.
"Saya sadar betul, Queensha. Saya mau kita hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang sah."
"Hidup bersama? Lalu, bagaimana dengan Cassandra? Apa Bapak berniat menikahi dua wanita dalam waktu bersamaan? Atau jangan-jangan, Bapak menggunakan alasan ini hanya untuk mengikatku agar lebih leluasa membalas dendam atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan Ibu tiriku? Bapak masih belum puas menyiksaku hingga menggunakan segala macam cara untuk menjeratku lagi. Benar-benar jahat!" tandas Queensha dengan napas memburu.
Tertegun, dua pasang mata sipit saling melirik. Ghani kebingungan bagaimana Queensha bisa beranggapan bahwa Cassandra adalah kekasihnya padahal tak ada hubungan spesial di antara mereka. Ghani menganggap Cassandra sebagai teman, tidak lebih.
__ADS_1
"S-saya ...." Ghani tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Lidah pria itu terasa kelu, bibir terkunci rapat tak sanggup berkata. Ingin sekali menjelaskan keadaan yang sebenarnya, tapi mengapa bibir dan otaknya tidak mau bekerja sama.
"Aku memang orang miskin, kampungan dan tidak pantas bersanding dengan lelaki kaya dan berpendidikan tinggi seperti Bapak. Namun, aku masih punya harga diri. Jangan mentang-mentang punya harta kekayaan kalian bisa menindasku sesuka hati."
"Jika Pak Ghani membutuhkan ibu sambung agar dapat merawat Aurora, kenapa tidak menikahi Cassandra saja. Bukankah kalian sedang berpacaran sekarang? Rasanya aneh sekali bila Bapak menikahiku sementara cinta dan ragamu untuk wanita lain. Lebih baik Pak Ghani nikahi saja kekasih Bapak daripada repot-repot membujukku rujuk denganmu."
"Lagi pula, jika diperhatikan dengan seksama kalian itu memang serasi. Aku yakin rumah tangga kalian akan harmonis hingga maut memisahkan."
Lalu, sosok wanita bertubuh seksi bak gitar Spanyol itu berlalu. Tak ada lagi kata yang harus diucap dari bibirnya yang ranum. Semuanya sudah selesai dan Queensha ingin segera menghilang dari hadapan sang mantan suami.
"Queensha, tunggu! Kita belum selesai berbicara!" kejar Ghani mencekal pergelangan tangan Queensha.
Membalikam badan dengan cepat, kedua pundak Queensha dicengkeram oleh Ghani. "Biarkan saya bertanggung jawab atas perbuatan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Bebaskan saya dari rasa bersalah yang membelengguku selama lima tahun ini, Sha. Saya lelah ... lelah sekali." Berucap lirih dengan tatapan nanar.
Kedua alis tertaut petanda bingung. "Tanggung jawab? Tanggung jawab apa, Pak? Memangnya Bapak pernah melakukan kesalahan apa di masa lalu hingga membuatmu harus bertanggung jawab kepadaku?"
"Tanggung jawab karena saya ...."
...***...
__ADS_1