
"Cassandra? Sedang apa kamu di sini?" Suara Ghani tercekat di tenggorokan saat menyadari kehadiran salah satu adik tingkatnya yang dulu pernah sama-sama kuliah di negeri sakura.
Gadis cantik pemilik lesung pipi tersenyum lebar mendengar pertanyaan Ghani. "Tentu saja menemuimu. Bukankah kamu sendiri pernah bilang padaku saat kita sudah kembali ke Indonesia, aku boleh menemuimu kapan pun aku mau. Lalu kenapa sekarang kamu masih bertanya begitu padaku. Ehm ... apa kamu benar-benar melupakannya ucapanmu sendiri, Ghani?"
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Ghani. Ya, memang dulu ia pernah berkata begitu sesaat sebelum kembali ke Indonesia. Namun, ia tidak pernah menduga jika Cassandra akan benar-benar menemuinya di rumah sakit.
"Maaf." Hanya satu kalimat itu yang mampu Ghani ucapkan. Pikiran pria itu sedang tidak fokus sekarang. Beban pekerjaan serta masalah rumah tangga yang datang bertubi-tubi membuat kacau pikirannya hingga tidak tahu harus berkata apa selain mengucap permintaan maaf kepada gadis di seberang sana.
Cassandra berdecak kesal. "Sudah kuduga. Kamu pasti lupa akan kata-katamu sendiri." Pandangan mata gadis itu beralih pada sosok gadis kecil yang sedang terbaring di atas pembaringan. "Gadis cantik ini pasti Aurora. Benar 'kan tebakanku?"
"Benar. Dia putriku," sahut Ghani singkat. Sejak dulu hingga sekarang ia memang irit sekali berbicara. Walaupun Ghani dan Cassandra telah banyak menghabiskan waktu bersama, tidak menjamin akan membuat seorang Muhammad Ghani Hanan berubah menjadi sosok pria hangat dan banyak bicara.
Derap langkah sepatu heels menggema di penjuru ruangan. Satu buah parcel buah-buahan sengaja Cassandra beli khusus untuk Aurora. Selain ingin menemui Ghani, ia pun ingin membesuk anak angkat dari pria yang begitu ia cintai.
Beberapa menit setelah pesawat landing di bandara Soekarno Hatta, Cassandra mengirim pesan kepada Leon, sahabat Ghani.
[Leon, bisa kirimin gue alamat rumah sakit tempat Ghani praktek sekarang? Gue baru aja tiba di Indonesia dan ingin ketemu dia. Buruan. Enggak pake lama!]
Tak perlu menunggu lama, Cassandra mendapatkan apa yang ia inginkan. [Rumah Sakit Persada International Hospital. Jalan Xxx, No. 74, Jakarta Pusat.]
[Oh ya, gue cuma mau ngasih tahu jangan sampai buat Ghani marah-marah. Dia lagi banyak masalah. Anaknya lagi sakit dan beban pekerjaan pun menumpuk hingga membuatnya jadi labil. Jadi gue harap lo bisa lihat sikon dan enggak buat dia semakin emosi.]
Bukan tanpa alasan Leon mengirim pesan begitu kepada Cassandra sebab saat mereka masih di Jepang, gadis itu acap kali membuat tensi darah Ghani tinggi akan sikapnya yang terkesan manja dan selalu mencari celah agar bisa berdekatan dengan kakak pertama Zahira.
__ADS_1
Cassandra mendengkus kesal membaca pesan yang dikirimkan Leon. "Berengsek! Dia pikir siapa berani-beraninya nasihatin gue. Kalau bukan sahabat baiknya Ghani, enggak mungkin gue nge-WA dia."
Kendati demikian, Cassandra tetap bersikap manis dan pura-pura baik di depan Leon. Karena di kemudian hari, ia akan banyak membutuhkan bantuan Leon untuk bisa mendapatkan Ghani.
[Oke. Gue pasti inget nasihat lo. Thanks.]
Setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat Ghani bekerja, Cassandra meminta sopir yang diutus kedua orang tuanya menjemput gadis pemilik lesung pipi melajukan kendaraan mewah itu menuju salah satu rumah sakit terkenal di kota Jakarta.
Dari tempat tidur, Aurora dapat melihat Cassandra sedang berjalan ke arahnya. Gadis kecil itu bergegas menutup kelopak mata menggunakan telapak tangan yang mana perbuatannya itu justru membuat selang infus yang menancap punggung tangan tertarik dan membuat ia merintih kesakitan. Bukan hanya itu saja, tubuh mungilnya pun gemetaran karena ia pikir Cassandra adalah orang suruhan Mia yang ingin menculiknya lagi.
"Pergi! Rora enggak mau ikut Nenek lagi. Rora mau sama Mama aja." Kepala Aurora bergerak gelisah, ke sana kemari tak tentu arah. Keringat dingin pun mulai muncul ke permukaan kulit.
Langkah kaki Cassandra terhenti melihat pergerakan tubuh Aurora yang tak terkendali. Sementara Ghani segera bangkit dan mencoba menenangkan putrinya itu.
"Hei, Sayang. Tenang, Nak. Aunty Cassandra tidak akan membawamu pergi." Ghani mengusap helaian rambut harum yang menguarkan aroma strawberry.
"Jangan takut, ada papa di sini. Kamu tetap aman bersama papa, ya?" Ghani peluk tubuh Aurora yang masih gemetaran. Mendekap seolah takut jika ada seseorang yang berniat mencuri gadis kecil itu dari sisinya.
Cassandra yang tidak tahu menahu soal insiden penculikan yang menimpa Aurora bergeming beberapa saat. Ekor mata gadis itu memperhatikan betapa besarnya kasih sayang Ghani kepada Aurora.
'Sialan, kenapa bocah kecil itu malah ketakutan saat melihat gue? Kalau begini, rencana untuk bisa meluluhkan hati Ghani sia-sia,' batin Cassandra. 'Enggak bisa. Gue enggak boleh menyerah gitu aja. Pokoknya, apa pun yang terjadi gue mesti mendapatkan Ghani. Gimana pun caranya, gue harus bisa menjadi istrinya Ghani.'
Ghani mengelus pipi temben Aurora kemudian mencium kening putri angkatnya itu. "Pejamkan matamu dan tidurlah dengan nyenyak. Papa akan menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
__ADS_1
Mata bulat melirik sekilas ke arah Cassandra, lalu memaksakan diri untuk memejamkan mata karena takut jika sewaktu-waktu wanita di seberang sana menarik dan menyeretkan keluar dari ruangan kemudian menyerahkannya kepada Mia.
"Ikuti aku!" bisik Ghani seraya berlalu dari hadapan Cassandra.
Cassandra terkesiap beberapa detik. Namun, ia bisa dengan mudah menguasai diri dan menyusul Ghani yang telah lebih dulu keluar ruangan.
"Sandra, bisakah kamu tinggalkan rumah sakit ini segera? Putriku mengalami trauma dan dia sangat takut bertemu dengan wanita asing." Ghani mulai berbicara.
Cassandra menggeleng cepat. "Tidak bisa, Ghani! Aku tidak mau pergi dari sini. Aku ingin tetap berada di sisimu, siapa tahu kehadiranku justru membantumu."
"Membantuku? Dengan cara apa, hem? Satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan hanya pergi dari tempat ini segera dan jangan pernah datang lagi menemuiku. Kejiwaan putriku sedang terganggu dan aku tidak mau kalau kondisinya semakin memburuk gara-gara kehadiranmu di tengah-tengah kami. Jadi, tolong tinggalkan aku dan putriku sekarang juga."
Namun, bukan Cassandra namanya jika ia menyerah begitu saja dan menuruti permintaan Ghani. 'Enak aja lo nyuruh gue pergi, setelah perjuangan keras untuk bisa sampai di sini mana mungkin gue mana nurutin permintaan lo. Gue akan tetap berada di sini sampai merasa bosan dan pergi sesuai kemauan gue sendiri.'
Cassandra menyentuh tangan Ghani yang berada di samping tubuh. "Please, jangan minta aku pergi dari sini. Biarin aku tetap berada di sisimu, membantumu menjaga dan merawat anakmu. Aku janji, tidak akan membuat kegaduhan sedikit pun. Please!" Kedua tangan gadis itu mengatup di depan dada. Mengerjapkan mata, memohon penuh pengharapan. Ia kerahkan segala kemampuannya untuk meluluhkan hati Ghani.
Ghani menghela napas kasar. Jika sudah begini, ia pun tak dapat berbuat apa-apa selain memberi izin pada Cassandra. "Baiklah. Namun, kamu janji segera pergi dari tempat ini jika seandainya putriku menjerit histeris seperti tadi."
Cassandra mengangguk cepat dan menjawab, "Oke. Aku janji!" Tanpa diduga, gadis itu melingkarkan tangan di pinggang Ghani lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat. "Terima kasih, kamu memang selalu baik kepadaku."
Dari kejauhan ada sepasang mata sipit memandang nanar ke arah Ghani dan Cassandra. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat betapa mesranya kedua manusia itu.
Tersenyum getir sambil berkata, "Jadi ini alasannya kenapa memintaku menjauhi Rora. Rupanya semua ucapanmu hanya alasan saja agar kamu leluasa menjalin kasih dengan seseorang. Ck, bodohnya aku pernah berharap jika suatu hari nanti kita dapat hidup berumah tangga, saling mencintai satu sama lain."
__ADS_1
"Kamu benar-benar berengsek, Pak Ghani. Kamu sama berengseknya seperti laki-laki sialan yang pernah memperk*saku dulu. Kalian berdua hanya tahu menyakiti perasaan orang lain tanpa pernah berpikir apakah orang tersebut dapat menyembuhkan lukanya atau tidak. Benar-benar keterlaluan."
...***...