
Satu unit mobil mewah keluaran terbaru terparkir rapi di depan pintu masuk sebuah rumah mewah dua lantai. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik yang tengah berbadan dua ditemani seorang pria jangkung berwajah Timur Tengah turun dari kendaraan roda empat tersebut. Lalu keduanya melangkah menaiki anak tangga yang membawa mereka menuju teras rumah.
"Mbak Tina, apa Ayah dan Bunda ada di rumah?" Suara lembut itu berhasil menghentikan kegiatan Tina yang sedang menyiram tanaman gantung milik majikan perempuannya.
Menoleh ke belakang dan berkata, "Oalah, Mbak Zahira, toh. Saya pikir siapa. Ada, Mbak. Kebetulan Bu Arumi dan Pak Rayyan sudah menunggu di dalam. Masuk saja, mereka semua ada di ruang keluarga."
"Ya sudah, kalau begitu kami masuk dulu. Mari, Mbak Tina." Lantas Zahira, Shaka serta kedua anak-anaknya masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di ruang keluarga, tampak Arumi tengah menemani Aurora bermain. Si cantik bermata bundar sibuk memainkan boneka kesayangan pemberian sang papa.
"Nenek, nanti Rora boleh, 'kan, ikut ke bandara? Rora udah enggak sabar ingin ketemu Papa dan Mama," ujar Aurora di tengah kegiatannya memainkan boneka beruang yang diberi nama Teddy.
"Boleh, dong. Setelah Aunty Zahira dan Uncle Shaka datang, kita semua berangkat bersama-sama," sahut Arumi. Jemari tangan yang dulu sering ia gunakan untuk menolong pasien, mengusap penuh cinta helaian rambut panjang milik cucu ketiganya. Walaupun kehadiran Aurora di muka bumi akibat sebuah kesalahan, tetapi rasa sayangnya kepada Aurora tak pernah pudar sedikit pun. Ia tetap menyayangi dan mencintai Aurora sama seperti sebelum kebenaran itu terungkap.
Aurora meletakkan boneka kesayangannya ke atas pangkuan, kemudian kedua tangannya yang mungil terangkat ke udara. Dengan gembira ia berseru, "Hore! Sebentar lagi Rora ketemu Mama dan Papa. Asik! Asik! Bisa main lagi dengan Mama dan Papa." Bocah kecil yang sebentar lagi berusia lima tahun begitu antusias saat permintaannya dikabulkan sang nenek.
"Wah, sepertinya keponakan aunty tersayang terlihat bahagia sekali. Ada apa, nih?"
Satu pertanyaan berhasil menghentikan seruan Aurora. Anak perempuan itu menoleh ke sumber suara dan binar bahagia terpancar jelas dari sepasang mata bundar saat melihat siapakah yang datang berkunjung ke rumah nenek tersayang.
__ADS_1
Bangkit berdiri lalu berhambur dalam pelukan Zahira. "Aunty Rora, aku kangen," ucap Aurora seraya melingkarkan kedua tangannya yang mungil di pinggang adik kembar sang papa.
Teriakan bocah perempuan itu membuat bibir Zahira mengulas senyuman amat lebar. Ia merendahkan tubuh dan mengelus kedua pipi chubby keponakan kesayangan. "Aunty juga, Sayang. Rora sedang main apa sama Nenek dan Kakek?"
"Main boneka, Aunty. Oh iya, tadi kata Nenek kita akan pergi ke bandara setelah Aunty datang. Apa kita akan berangkat sekarang untuk menjemput Mama dan Papanya Rora?"
"Tentu saja, Sayang. Rora juga ikut jemput Mama dan Papa, 'kan?" Aurora mengangguk sebagai jawaban. "Ya sudah, Rora main sebentar dengan Uncle Shaka, ya? Aunty mau menyapa Nenek dan Kakek dulu."
Zahira menyerahkan Aurora kepada Shaka yang telah lebih dulu menyapa kedua orang tuanya.
"Maaf kalau kami datang terlambat. Tadi Rara mesti ke rumah Mama Rini dulu, menitipkan Allan dan Mayumi. Agak repot kalau membawa mereka," tutur Zahira setelah mencium punggung tangan bunda dan ayahnya.
Semua orang mengangguk, menyetujui saran yang dikatakan Rayyan. Dua pasang suami istri beserta satu orang anak perempuan berjalan beriringan menuju halaman rumah, tempat di mana mobil mahal keluaran terbaru terparkir rapi.
***
Queensha melingkarkan tangan di lengan Ghani yang tengah sibuk mendorong troli berisi dua buah koper berukuran besar dan satu buah koper kecil isi oleh-oleh. Oleh-oleh tersebut rencananya akan diberikan kepada orang tua, keponakan serta teman terdekat mereka berdua.
"Alhamdulillah, ya, Mas, akhirnya kita sampai dengan selamat di tanah air. Tadi tuh aku sempat berpikiran negatif saat pesawat landing. Kupikir kita semua akan meninggal karena aku merasa guncangan hebat saat roda pesawat mengenai landasan pacu," ujar Queensha saat mereka baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.
__ADS_1
"Hush, jangan sembarangan bicara! Aku tidak menyukai perkataanmu barusan, Sha. Kenapa pula membahas soal kematian di saat kita baru saja menikah. Lain kali, kalau berbicara, lebih diperhatikan lagi, jangan sampai membuatku kesal!" tegur Ghani. Sumpah demi apa pun, ia tidak suka saat Queensha berpikiran macam-macam apalagi membahas soal kematian. Mereka baru saja menikmati indahnya waktu bersama, tentu saja Ghani tidak mau kemesraan mereka berakhir begitu cepat.
Sadar jika dirinya melakukan kesalahan, Queensha segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Jangan sampai masalah sepele menjadi besar dan menghancurkan momen romantis di antara mereka.
"Iya, Sayang. Aku minta maaf, ya, karena sudah berkata sembarangan. Tadi aku hanya refleks saja, mengatakan apa yang terlintas di benakku. Suer!" Queensha memasang wajah serius. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tak ada niatan sedikit pun untuk menghancurkan momen bahagia pasca bulan madu mereka.
Akan tetapi, tampaknya usaha Queensha belum berhasil. Terlihat jelas wajah yang ditekuk ke depan menandakan bahwa Ghani masih kesal akan ucapan Queensha beberapa saat lalu.
Menempelkan kepala di lengan sang suami. Queensha juga semakin mengeratkan pegangan tangan di lengan Ghani. "Sayang, jangan marah lagi, dong. Tadi itu aku cuma refleks doang, loh, tak bermaksud sungguh-sungguh. Sudah, ya, jangan marah lagi. Aku janji, lain kali akan lebih pandai menyaring kalimat yang hendak kuucapkan."
Kendati masih kesal, tetapi saat melihat usaha Queensha untuk memperbaiki kesalahannya, Ghani merasa tersentuh dan kekesalannya kepada istri tercinta perlahan memudar. "Baiklah, lain kali jangan diulangi lagi. Cukup sekali dan terakhir kalinya aku mendengar kata-kata itu."
Queensha dan Ghani menghentikan langkah kaki mereka tepat di pintu keluar bandara. Udara panas dan sinar matahari yang sebentar lagi terbenam menjadi sambutan pertama keduanya. Sudut bibir mereka tertarik ke atas saat melihat sosok mungli berjalan ke arahnya. Posisi gadis kecil itu diapit sepasang suami istri yang telah memasuki usia senja.
"Mama! Papa!" seru Aurora dengan mengulum senyum di bibir. Ia lepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Rayyan dan Arumi, kemudian berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Secara naluriah, Ghani dan Queensha merendahkan tubuh mereka, kemudian membentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri demi menyambut tubuh mungil Aurora.
"I miss you, Mama, Papa." Aurora berkata dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
...***...