Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Nasihat Bijak


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Baik Queensha maupun Ghani masih tetap perang dingin. Silent treatment yang berlangsung cukup lama. Mereka tidak bertegur sapa, tetapi Queensha masih melayani suaminya karena itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Dua-duanya sama-sama mempertahankan pendapat masing-masing. Akan tetapi, dipertengahan jalan, Queensha nyaris menyerah dan ingin meminta maaf kepada Ghani, tapi rasa gengsi yang bertengger di kepala membuat dia mengurungkan niatannya tersebut. Dia tak akan meminta maaf terlebih dahulu, apalagi Ghani sekarang lebih suka tidur di sofa ketimbang di kamar mereka.


"Mas Ghani jahat! Katanya tidak akan membiarkanku sendirian, tapi sekarang dia justru tidur di sofa daripada satu ranjang denganku," gerutu Queensha di malam kedua mereka tidur terpisah.


Lama-lama Queensha merasa jengah dan kesepian karena tiap malam tidur sendirian. Ghani juga tidak pernah menegurnya, dan selalu membeli makanan dari luar. Laki-laki itu tidak mau menyentuh masakan yang dibuat olehnya dan hal ini sangat melukai harga diri Queensha sebagai seorang istri. Karena tidak tahan, Queensha memutuskan menemui Lulu dan minta saran sahabatnya itu. 


"Lu, aku ke indekosmu sekarang, ya? Aku bosan di rumah terus." Kalimat pertama saat sambungan telepon terhubung. Sebelumnya dia menelepon Lulu terlebih dahulu untuk memastikan apakah sahabatnya itu ada di indekos atau tidak.


Di seberang sana Lulu menjawab, "Ke sini aja, Sha. Gue lagi libur kerja, kok. Jadi kita bisa ngobrol sambil nunggu Rora pulang sekolah."


Mendapat persetujuan sahabatnya, Queensha langsung memesan taxi online menuju indekos sang sahabat.


"Ada apa, sih, muka lo kenapa ditekuk gitu? Pindah di rumah baru bukanya happy dan wajah cerah ceria, malah sekarang bermuram durja kayak banyak cicilan," sapa Lulu saat Queensha tiba di indekos. Tangan kanan wanita itu membawa segelas jus mangga yang dipesan di warung seberang indekosnya.


"Jangan ngeledekin dong. Aku benar-benar mau ketemu sama kamu karena ada satu hal penting yang mau aku kasih tahu. Lulu, aku butuh saran kamu."


"Oke oke, sorry, soalnya wajah lo enggak enak banget dilihatnya. Mirip pakaian yang bertahun-tahun enggak disetrika." Queensha memutar bola matanya, Lulu tersenyum lagi.


"Nah gitu dong senyum dikit. Oke, sekarang cerita ada apa, pasti ini tentang Ghani 'kan?" tebak Lulu. Dia sudah hafal dengan sikap sahabatnya itu, yang setiap kali ada masalah dengan suaminya, lebih suka menghindar dan tidak menyelesaikannya secara langsung.


"Iyalah, Mas Ghani, kamu pikir siapa? Sikapnya tuh ngeselin banget tahu. Kemarin aku bercerita soal Lita yang sudah dihukum dan masuk penjara. Aku pikir kalau sekarang Lita dibebaskan, tentu tidak masalah, tapi dia tidak setuju dengan ideku."


Refleks Lulu memukul pundak Queensha. "Kamu juga, sih. Kenapa juga harus minta supaya Lita dibebaskan? Biarkan aja dulu. Lita memang pantas menghabiskan sisa hukumannya di penjara. Kali ini aku setuju dengan pendapat suamimu," ucap Lulu. 

__ADS_1


"Hah? Kok bisa? Kamu bukannya ngebelain aku? Mas Ghani itu tidak punya rasa belas kasihan, tega banget dia sama Lita." Wajah Queensha semakin cemberut.


"Nah ini, nih, yang salah. Jangan dibolak-balik, dong. Yang enggak punya rasa kasihan itu nyokap dan adik tiri lo. Kalau mereka punya rasa kasihan, nggak akan mungkin mereka menculik dan menyekap Aurora." Lulu menatap intens Queensha. "Tunggu! Kenapa lo bersikeras ingin membebaskan Lulu dari penjara? Kok tiba-tiba lo jadi aneh begini, sih?"


Aneh kedua, komentar yang didapatkan Queesha.


Perempuan itu mengerutkan kening. Kata-kata Lulu nyaris sama dengan apa yang diucapkan Ghani. Sekarang ia jadi berpikir, apakah benar yang dia lakukan ini salah, karena tujuan utamanya adalah supaya Lulu tidak merasakan kesedihan yang berlarut-larut.


Queensha juga tidak ingin adiknya bergaul dengan orang-orang yang tidak benar dipenjara. Tentu hal ini akan menimbulkan efek besar nantinya, ketika Lita keluar dari penjara .


"Kamu sama aja seperti Mas Ghani. Enggak asik, enggak bisa diajak ngobrol."


"Hei bukan gitu. Beda juga kali," kilah Lulu, tidak mau disamakan dengan pria dingin macam suami Queensha.


Queensha memutar bola matanya dengan malas, karena dia sebenarnya ingin dukungan dari Lulu. Akan tetapi, Lulu malah memarahinya.


"Penculikan dan penyekapan itu bukan kasus main-main, bayangkan kalau saat itu Aurora tidak bisa dibebaskan. Apa kamu sudah siap menanggung risiko terburuk kejahatan yang dilakukan adik dirimu itu?"


Ucapan Lulu benar-benar menghujam jantung Queensha Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. 


"Lo berdua sudah menikah dan sudah sama-sama tahu karakter masing-masing, menurut gue, sih, lebih penting kalau kalian fokus sama pernikahan ini. Bukan fokus sama virus yang sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Lo paham, 'kan maksud gue?"


Lagi-lagi ucapan Lulu langsung membuat Queensha tersadar akan tindakannya. 


"Sekarang waktunya lo minta maaf sama Dokter Ghani, cobalah mengalah demi kebaikan bersama, dan karena kita udah tahu tentang Lita ini masalah sensitif, nanti ke depannya harus lihat situasi dulu kalau mau membahasnya dengan Dokter Ghani. Gue pikir, Dokter Ghani masih trauma, deh, kayak gue juga masih enggak percaya kalau nyokap dan adik tiri lo nekad melakukan penculikan terhadap Aurora." Lulu kembali melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin sahabatnya itu salah jalan yang pada akhirnya nanti bisa mengambil keputusan yang justru merugikan mereka berdua.

__ADS_1


"Jadi aku yang harus minta maaf duluan ?" tanya Queensha masih dengan raut wajahnya yang cemberut. Dengan ekspresi yang sangat lucu, antara merasa bersalah dan pasrah membuat Lulu tertawa terbahak-bahak. 


"Ya iyalah, lo yang mulai duluan kasih topik obrolan sensitif. Udah tahu Dokter Ghani itu enggak mau bahas tentang Lita lagi, eh lo sengaja mancing-mancing. Berarti ini salah lo dan harus minta maaf sama dia sebelum masalah ini semakin berlarut-larut. Lo enggak mau, 'kan, rumah tangga yang baru dibina selama hampir satu bulan berakhir berantakan?" tandas Lulu.


Sedikit ancaman diberikan Lulu untuk menasehati sahabatnya. Dan benar saja, Queesha akhirnya terdiam mendengar kata-kata Lulu. 


Tiba-tiba muncul ide di kepalanya Setelah mendapat pencerahan dari Lulu, Queesha akhirnya pulang. "Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Ada hal penting yang harus kukerjakan. Thanks atas nasihat kamu, Lu. Bye-bye!"


Sebelum sampai apartemen, Queensha mampir ke supermarket yang menjual bahan makanan. Hari ini dia berencana untuk memasak dan memberikan menu makan siang langsung ke kantor Ghani. 


Perempuan cantik itu sengaja tidak memberitahu kedatangannya kepada Ghani, karena dia ingin memberikan kejutan dan ingin meminta maaf secara langsung. Belum tentu kalau dia memberitahu Ghani bahwa dia akan datang ke rumah sakit Ghani akan menerimanya. 


Setelah makanannya siap, Queensha berganti baju. Dress bunga di bawah lutut dengan sepatu warna senada menjadi pilihannya. Kali ini ia ingin berpenampilan berbeda dari biasanya. Lulu benar, jika dia tidak meletakkan egonya dan terus merasa benar, hubungannya dengan Ghani bisa terancam. Bisa saja hal itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memancing di air keruh.


Queesha tiba di rumah sakit tempat Ghani bekerja. Dengan sigap perempuan itu memencet tombol lift angka lima, dan tak lama kemudian ia tiba di depan ruangan Ghani.


Saat itu Ghani sedang sibuk di depan layar laptopnya. Saat mendengar pintunya diketuk, Ghani segera memberi jawaban. "Masuk saja!"


Tidak ada respon. Ghani mengerutkan kening karena pintu tak kunjung dibuka. Biasanya ada staff rumah sakit yang datang menemuinya untuk menanyakan beberapa hal. Ghani berpikir orang itu adalah staff kantor.


"Iya masuk saja, tidak dikunci," jawabnya kemudian.


Alangkah terkejutnya Ghani saat melihat ke arah pintu dan mendapati sosok perempuan cantik sedang memandang ke arahnya dengan tatapan menggoda. 


...***...

__ADS_1


__ADS_2