Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Full Time Mommy


__ADS_3

Duduk bersebelahan di atas karpet berbahan bulu rasfur, kedua wanita yang jarak usianya tak begitu jauh sedang asyik menonton drama Cina berjudul A Date With The Future. Satu kotak berisikan martabak manis dan dua gelas jus mangga berada di atas meja bundar terbuat dari kayu. Tampak keduanya menikmati momen kebersamaan mereka yang kelak akan sangat dirindukan oleh dua wanita tersebut.


"Jadi lo udah yakin menerima lamaran mantan suamimu itu, Sha? Enggak mau pikir-pikir dulu gitu sebelum janji suci kembali diucapkan?" tanya Lulu seraya menyesap minuman dingin kesukaannya. Matanya yang bulat menatap lurus ke layar laptop miliknya.


"Sangat yakin 100%, Lu. Awalnya memang sempat ragu mengingat bagaimana sikapnya Mas Ghani saat kami menikah dulu. Namun, melihat perubahan sikap serta kesungguhan hatinya untuk memulai kembali mahligai rumah tangga kami yang sempat kandas di tengah jalan, aku luluh dan mencoba memberi kesempatan kepadanya untuk kedua kali," jawab Queensha.


"Aku tidak bisa egois, Lu, sebab ada Aurora di antara kami. Sejak kecil dia tumbuh tanpa belaian kasih sayang seorang ibu. Meskipun Bunda Rumi, kedua adik perempuan Mas Ghani memberi kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya sendiri, tetap saja putriku membutuhkan sosok ibu yang kelak merawat, menjaga dan mendampinginya melewati fase tumbuh kembang sampai dia dewasa."


"Karena aku tak mau Rora kekurangan kasih sayang dari seorang ibu maka dari itu aku bersedia menerima pinangan Mas Ghani. Kami berdua mencoba membuka lembara baru, mengubur kenangan buruk di masa lalu dan mengganti kenangan itu dengan kenangan indah yang kan dikenang seumur hidup," papar Queensha panjang lebar. Tak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari sahabatnya itu.


Lulu manggut-manggut mendengar penjelasan Queensha. Walaupun ada rasa khawatir dalam diri wanita itu, tetapi melihat kemantapan hati sahabatnya tersebut, ia tak lagi banyak berkomentar. Biarlah Queensha menentukan sendiri jalan hidupnya toh mereka sama-sama telah dewasa, dapat memilih mana yang terbaik bagi diri masing-masing.


"Ya udah, kalau emang lo yakin dengan pilihan sendiri maka gue enggak bisa menghalanginya lagi. Gue cuma bisa berdoa semoga rumah tangga lo kali ini bisa langgeng sampai akhir hayat."


Lulu meletakkan gelas panjang ke atas meja. Tangannya menekan tombol pause agar serial drama yang sedang ditonton berhenti sementara. Ia memutar tubuhnya ke samping sehingga posisinya saat ini berhadapan dengan Queensha.


Memandangi wajah wanita bermata sipit yang telah menemaninya selama lima tahun belakangan. Bersama Queensha, ia membagi segala keluh kesah dan kesedihan yang tiba-tiba datang menghampiri. Matanya yang indah mulai berkaca-kaca saat membayangkan kebersamaan mereka.


"Sha, walaupun lo udah nikah dengan Pak Ghani, please, jangan pernah lupakan kebersamaan kita berdua. Kalau nanti lo mulai sibuk mengurusi suami dan anak-anak, tolong sempatkan memberi kabar kepada gue walau cuma say hello, setidaknya gue tau kalau lo baik-baik aja." Lulu mulai menangis sesegukan di hadapan Queensha. Entahlah, mengapa malam ini suasananya terasa begitu syahdu membuat ia ingin menangis padahal ia bukanlah tipe wanita lemah yang mudah menangis hanya karena hal sepele. Malam ini ia lebih emosional dari sebelumnya.


Queensha membawa tubuh Lulu yang bergerak turun dan naik. Suara tangisan wanita itu nyaring terdengar di telinga Queensha, di antara gemericik air hujan yang jatuh membasahi bumi.

__ADS_1


Tangan kanan Queensha mengusap pelan punggung Lulu, sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh sahabat itu. Dengan suara gemetar ia berkata, "Mana mungkin aku melupakan kenangan kita berdua yang telah terpatri indah dalam memori ingatanku. Seumur hidup, kenangan itu ada kekal abadi dan selalu kuingat sampai kapan pun."


"Kamu bukan hanya sahabat, tetapi sudah kuanggap keluarga sendiri. Tatkala semua orang menjauhiku karena alasan yang tidak jelas, kamu justru mengulurkan tangan, mendekatiku dan bersedia menjadi teman terbaikku lalu atas dasar apa aku harus melupakanmu, Lu? Aku bukan tipe manusia yang mudah melupakan sahabatku sendiri. Kamu ... akan tetap menjadi sahabat terbaikku selamanya."


Semakin kencanglah Lulu menangis. Kedua pundak wanita itu bergerak turun dan naik. Terharu mendengar ucapan Queensha.


Awalnya Lulu berpikir Queensha akan melupakan dirinya setelah menemukan lelaki yang tulus mencintainya. Namun ternyata, sahabat terbaiknya itu tetap mengenang kenangan saat mereka bersama.


"Lo udah berjanji, jadi jangan pernah ingkar, ya? Awas aja kalau lo sampai ingkar janji, gue maki Pak Ghani di depan semua orang karena udah merebut lo dari sisi gue. Gue enggak peduli kalau disebut wanita barbar sebab gue enggak pernah rela sahabat terbaik seperti lo dimiliki orang lain." Lulu kembali berucap, sedikit serak, diiringi air mata yang mengalir deras di pipinya, tak mampu ia cegah.


"Aku tak akan pernah mengingkarinya, Lu. We are best friend forever." Kedua wanita itu larut dalam suasana. Baik Queensha maupun Lulu semakin mengeratkan pelukan, seolah-olah takut salah satu dari mereka pergi dan tak kan pernah kembali lagi.


"Lantas, bagaimana dengan pekerjaanmu, Sha? Apa kamu tetap bekerja di restoran?" Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak Lulu tanpa pernah diniatkan sebelumnya.


Menarik napas panjang, Queensha telah mengambil keputusan atas pertanyaan yang diajukan sahabatnya tersebut. Beberapa hari lalu saat dirinya masih berada di Makassar, ia sempat berdebat dengan Ghani tentang masalah ini, tetapi tak ada jalan keluar sehingga menyisakan rasa kesal dalam diri calon suaminya. Namun, setelah berpikir dengan matang, ia menemukan solusi terbaik bagi semua orang.


"Aku mau resign dan fokus mengurus suami dan anakku. Kalau tetap bekerja maka urusan rumah tangga pasti terbengkalai. Apalagi Mas Ghani berencana pindah rumah, itu artinya hanya ada aku, suamiku serta anak-anak kami nanti."


"Ya walaupun nanti akan ada asisten rumah tangga membantuku mengurus rumah, tetap saja untuk urusan merawat suami dan anak-anak adalah tanggung jawabku. Karena pertimbangan itulah aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku."


Lulu terbelalak. "Serius? Lo bersungguh-sungguh ingin menjadi ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus suami dan anak-anak?" pekiknya tidak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja aku serius. Aku sudah memikirkannya dengan matang, mencoba menimbang baik dan buruknya dari keputusan yang kuambil."


Lulu tertawa singkat saat menyadari sesuatu. "Cie, yang bakalan jadi istri horang kaya. Sekarang udah enggak yakin lagi untuk resign dari kerjaan. Dulu aja ketar ketir mikir bagaimana mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Ia menyenggol bahu Queensha. Senyuman menggoda tak lupa ia berikan kepada sahabatnya itu.


Dengan malu-malu Queensha menjawab, "Iih, apaan sih, kamu. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan status sosial Mas Ghani, ya. Aku cuma berpikir alangkah baiknya fokus terhadap keluarga. Lagi pula Rora masih kecil, dia masih membutuhkan perhatian lebih dariku. Kalau aku dan Mas Ghani sibuk bekerja, siapa yang akan menjaga putri kami?"


Lulu merangkul pundak Queensha hingga tubuh mereka saling bersentuhan. "Gue hargai keputusan lo. Mau menjadi ibu rumah tangga full time 24 jam ataupun ibu rumah tangga disambi bekerja, itu adalah pilihan masing-masing. Gue enggak bisa men-judge seorang wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga full time 24 jam lebih baik daripada wanita karir, atau justru sebaliknya sebab kita enggak pernah tau bagaimana segi ekonomi mereka, bukan?"


"Oleh karena itu, gue tetap menghargai keputusan lo. Mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir, gue akan selalu mendukung lo!" kata Lulu bersungguh-sungguh.


"Kapan lo mengajukan surat resign kepada Pak Rama?"


"Besok pagi. Kamu temani aku bertemu dia, ya?" pinta Queensha dengan wajah memelas.


Kening Lulu mengerut melihat binar penuh pengharapan terpancar dari sorot mata Queensha. Lalu suara kekehan kecil terdengar di telinga Queensha.


"Kenapa? Lo takut Pak Ghani cemburu? Hu ... calon suami lo itu posesif juga ternyata. Dia enggak lo direbut cowok lain, tuh." Lulu berhenti tertawa, kemudian menatap lekat Queensha. "Iya, gue temenin lo ketemu Pak Rama. Gue juga enggak mau kalau sampai karena masalah sepele, lo dan Pak Ghani batal nikah. Bisa gagal dong punya sahabat orang kaya."


Lantas Lulu tertawa terbahak sedangkan Queensha hanya mencebikkan bibir kala melihat mendengar kelakar sahabatnya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2