Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Putri Kita Belum Meninggal"


__ADS_3

"Lu, sebenarnya siapa yang ingin bertemu denganku? Kenapa sejak tadi kamu tak menjawab pertanyaanku?"


Masih menyentuh pundak Queensha, Lulu berkata, "Nanti juga lo tahu. Sudah diam, jangan banyak bicara nanti ketahuan orang lain. Karena orang itu ingin membahas masalah penting jadi jangan sampai ada orang memergoki kalian."


Queensha hendak menyampaikan protesnya kembali, tapi saat melihat ekspresi serius di wajah sahabatnya membuat wanita itu menyadari bahwa masalah ini memang serius dan dia tidak boleh membantah lagi.


Langkah kaki terhenti ketika melihat sesosok pria jangkung sedang berdiri di depan sana. Walaupun posisi pria itu membelakanginya, dia yakin kalau orang itu adalah mantan suaminya, Ghani.


"Kenapa kamu mengajakku bertemu dia? Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah tak mau lagi berurusan dengan lelaki itu. Aku muak dengan dia, Lu!" ucap Queensha dengan napas terengah. Tubuh lelah karena seharian bekerja, mendapat tekanan dari Puji dan kini bertemu Ghani semakin membuat wanita itu lepas kendali.


Dengan penuh perasaan Lulu mengusap punggung Queensha, dapat mengerti kenapa sahabatnya itu menjadi lebih emosional semenjak kembali dari Sumedang. Seandainya Ghani tak mengatakan jika pertemuannya dengan Queensha akan membahas soal anak mereka tentu dia tidak sudi mempertemukan Queensha dengan Ghani.


"Gue ngerti gimana perasaan lo, tapi please untuk kali ini saja temui dia. Gue yakin lo pasti penasaran dengan apa yang ingin disampaikan mantan suamimu itu," lembut berkata agar Queensha tidak semakin emosi.


Menoleh sekilas dengan mengernyitkan kedua alis. "Memang apa yang ingin disampaikan lelaki itu?"


Lulu memberi senyuman termanis yang dimiliki. "Biarkan mantan suami lo aja yang ngasih tahu, gue enggak mau ikut campur ranah pribadi kalian." Mendorong pelan hingga tubuh Queensha maju satu langkah ke depan. "Samperin gih biar rasa penasaran lo terbayarkan."


Namun, tubuh Queensha tetap mematung seolah ada paku berukuran besar menancap hingga ke dasar bumi yang terdalam.


"Tenang, gue akan tungguin lo di sini. Udah sana, samperin Pak Ghani sebelum ada orang yang mengetahui keberadaan kalian."


Dengan sangat terpaksa Queensha menuruti permintaan Lulu. Melangkah gontai menghampiri Ghani.


Queensha berkata dengan nada sinis, sorot matanya memancarkan kemarahan. "Masih punya nyali menemuiku di sini? Tidak takut Pak Rama menghajarmu jika tanpa sengaja kalian bertemu?"

__ADS_1


Mendengar suara bernada sinis membuat hati Ghani terasa seperti ditusuk sebilah pisau tajam, menembus hingga ke sumsum tulang belakang. Queensha yang dikenalnya lemah lembut kini berubah menjadi sosok berbeda dan itu semua karena kesalahannya. Dia menyesal karena sedikit banyak andil di dalamnya.


"Untuk apa takut, toh saya punya alasan kenapa sampai menghajar atasanmu yang lemah itu. Saya hanya ingin melindungimu dari jamahan lelaki berengsek seperti-"


"Pak Rama bukan lelaki berengsek. Yang berengsek itu kamu karena tega merenggut kesucianku tanpa berniat mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat kepadaku!" kata Queensha ketus. Membuat Ghani menghela napas panjang dan berat.


"Sudahlah, jangan membahasnya lagi! Saya datang ke sini bukan hanya ingin melepas rindu, tapi juga mau membahas suatu hal penting denganmu, Sha. Ini soal ... putri kita."


Sepasang mata sipit terbelalak sempurna karena terkejut dengan ucapan yang dikatakan Ghani barusan. Refleks dia menyentuh pergelangan tangan sang mantan suami, membawa pria itu menuju kursi taman di dekat mereka.


Duduk bersebelaha kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar karen takut ada orang lain menguping percakapan mereka. Setelah dirasa aman barulah Queensha membuka suara.


Jari telunjuk Queensha diarahkan ke bibirnya yang merah muda. "Jangan keras-keras, nanti didengar orang lain, bagaimana? Aku tidak mau dipecat Bos karena dituduh berbohong telah menyembunyikan identitasku yang pernah melahirkan di luar nikah."


"Stop mengatakan putri kita telah meninggal dunia, Sha!" seru Ghani meninggikan satu oktaf nada suaranya. Napas pria itu terengah hebat sebab tak terima jika darah dagingnya dikatakan meninggal dunia padahal sebetulnya putri mereka masih hidup dan tengah berada di rumah, menunggu kepulangan papa dan mamanya.


Queensha terlonjak kaget dibuatnya. Tubuh wanita itu tersentak ke belakang kala mendengar suara menggelegar berasal dari sang mantan suami.


"Memangnya kenapa? Bukankah memang kenyataannya putri kita telah kembali menghadap Sang Pencipta? Dia meninggal sesaat setelah aku melahirkannya ke dunia yang kejam ini. Putriku yang cantik tidak dapat tertolong karena mengalami gagal napas." Menundukan kepala, kedua tangan saling meremas satu sama lain. Mata mulai berkaca-kaca dan dada terasa sesak jika mengingat kembali momen di mana dia menggendong putri tercinta yang tidak bernyawa usai menjalani operasi caesar.


"Kamu salah, Sha. Putri kita ... sebenarnya ... dia ... belum meninggal dunia."


Bagai mendengar gemuruh petir di siang bolong. Jantung Queensha seakan berhenti berdetak selama beberapa saat.


"T-tidak mungkin. B-bagaimana bisa ...." Queensha tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sungguh semua ini tak mampu dicerna akal sehatnya.

__ADS_1


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun membuka suara, baik Ghani maupun Queensha mengunci rapat mulut mereka.


"Kamu ingat ketika saya pergi berdua dengan Bayu? Saat itu saya memintanya menemaniku ke rumah sakit tempatmu memeriksakan kandungan dan melakukan operasi caesar. Mendengar ceritamu, saya merasa banyak kejanggalan terjadi hingga membuatku terpaksa meminta bantuan Bayu."


"Saya memanfaatkan jabatannya sebagai wakil direktur rumah sakit untuk meminta bantuan penjaga gudang tempat menyimpan berkas penting rekam medis pasien. Dari situ saya semakin kuat jika ada yang tidak beres dengan kematian putri kita, Sha. Dan setelah saya bertemu Dokter Aminah, dugaanku terbukti benar karena ada oknum sengaja memisahkanmu dengan putri kita."


Maka Ghani mulai menceritakan semua informasi yang dia dengar bersumber dari dokter Aminah. Perasaan Queensha semakin hancur, dendamnya semakin menggunung kala mengetahui ibu tirinyalah yang menjadi dalang di balik penderitaannya selama ini.


"Jadi selama ini Mama Mia yang telah memisahkanku dengan putriku? Ya Tuhan, kenapa dia tega sekali kepadaku. Kenapa dia sampai melakukan itu. Kenapa?"


"Tidakkah dia sadar bahwa apa yang diperbuat selama ini telah membuatku menderita? Aku harus hidup menderita selama lima tahun, menangisi anakku yang kusangka telah meninggal. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar karena menangisi seorang bayi yang ternyata bukan darah dagingku. Mama Mia ... benar-benar kejam!" raung Queensha dengan mengepal kedua telapak tangan. Buliran air mata terus membasahi pipi hingga membuat matanya yang indah berubah sembab.


Hati Queensha hancur berkeping-keping bagai pecahan kaca yang berserakan di lantai. Tidak menduga jika Mia, ibu tirinya itu tega memisahkannya dengan Aurora.


Terdengar suara isak tangis menyayat kalbu. Hati Ghani ikut teriris kala menyaksikan wanita yang dicintainya menangis tergugu meluapkan kesedihan akibat kenyataan yang baru saja didengar.


Meletakkan lutut di tanah lalu mengulurkan tangan ke depan meraih pundak Queensha. Ghani memeluk tubuh ringkih itu dengan sangat erat. Sang wanita tidak memberontak kala tubuh mereka saling bersentuhan, dia justru menikmati momen kebersamaan mereka.


"Kamu jangan khawatir, Sha! Saya berjanji membalas perbuatan mereka karena telah menyakitimu dan juga Aurora. Saya tidak akan membiarkan mereka hidup tenang setelah semua apa yang dilakukan kepadamu." Ghani mengusap punggung Queensha sambil sesekali mencium puncak kepala wanita itu. "Mia, Lita dan Sarman akan mendapat balasan atas perbuatan mereka. I promise."


Dengan suara terisak Queensha menjawab, "Beri mereka hukuman setimpal karena telah menyakitiku, Pak."


"Tentu! Saya pasti melakukannya demi kamu dan anak kita, Aurora."


...***...

__ADS_1


__ADS_2