
"Apa yang membuat lo tertarik sama gue? Gue yakin, di luaran sana ada banyak perempuan cantik yang lebih segalanya dibandingin gue. Apalagi dengan pekerjaan lo sebagai seorang dokter, enggak menutup kemungkinan salah satu dari rekan sejawat lo tertarik ke lo. Lo ganteng, baik, dan juga mapan. Pasti banyak cewek ngantri untuk bisa jadi pendamping hidup lo, tapi kenapa lo justru memilih gue. Perempuan miskin, berpendidikan rendah, dan berasal dari kampung," ucap Lulu seraya menatap lamat manik coklat Leon.
Leon menaikkan bahunya ke atas. Dengan santai menjawab, "Gue juga enggak tau kenapa bisa jatuh cinta sama cewek barbar macam lo. Namun yang pasti, gue selalu ngerasa nyaman saat berada di sisi lo. Senyuman dan wajah lo yang menggemaskan bikin gue insomnia. Sehari aja enggak ketemu bikin hidup gue enggak tenang. Enggak napsu makan, enggak fokus kerja, pokoknya mau ngapa-ngapain enggak semangat deh. Lo tuh seperti mood booster gue, Lu."
Lulu mencibir karena ucapan Leon terkesan berlebihan. Tidak mungkin dirinya punya pengaruh besar terhadap kehidupan pribadi Leon.
"Lebay. Jadi orang jangan suka bohong, dosa tauk!" Lulu mengalihkan pandangan dari wajah tampan di sebelahnya.
"Dih, kagak percaya. Sumpah demi Alloh, gue berkata jujur. Lo tuh penyemangat hidup gue, Lu, makanya hampir setiap hari gue datang nemenuin lo. Kalaupun emang enggak bisa ketemu karena sibuk kerja, gue selalu kirim pesan ataupun video call-an biar energi yang terkuras kembali terisi dan bikin gue semangat kerja lagi."
Leon meraih tangan Lulu, mengangkat jemari lentik itu ke depan dada. "Kalau lo enggak percaya, coba rasain gimana degup jantung gue saat berada di deket lo. Dengan begitu lo akan tau kalau gue betulan serius. Gue bersungguh-sungguh atas semua ucapan yang keluar dari bibir ini."
"Aluna Humairah, gue bukan cuma kepingin jadiin lo pacar, tapi juga sebagai istri dan ibu bagi anak-anak gue. Gue kepingin membangun keluarga bahagia yang ada kita dan buah cinta kita kelak. Lo mau, 'kan, nerima gue?" Leon menahan deburan ombak kencang menghantam dada saat mengutarakan niatan baiknya itu kepada Lulu.
Lulu memang bukan wanita pertama yang berhasil menarik perhatian Leon, tetapi dia yakin kalau gadis itu akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Kapal yang selama ini berlayar di tengah samudera luas, berakhir pada sebuah dermaga, di mana di ujung sana seseorang tengah menunggunya dengan setia.
"Sebelum gue jawab pertanyaan lo, ada satu rahasia yang gue simpan selama ini. Dan ini bisa lo jadikan bahan pertimbangan." Lulu melepaskan genggaman tangan Leon, lalu bangkit berdiri membelakangi sang lelaki.
__ADS_1
Embusan angin malam menerpa permukaan kulit, menjadikan Lulu kedinginan karena memakai dress tanpa lengan. Memeluk dirinya sendiri sambil sesekali menggosok pundak.
"Dulu, sekitar empat atau lima tahun lalu gue sempat pacaran dengan seseorang. Hubungan kami semakin hari semakin dekat bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama. Gue sempet berpikir kalau dia cowok baik yang benar-benar tulus mencintai gue, tapi ternyata dia-"
"Cowok berengsek yang ingin merenggut kesucian lo. Dia pura-pura baik cuma ingin mencicipi manisnya madu pada diri lo. Benar begitu?" sambar Leon cepat, tanpa memberi kesempatan kepada Lulu untuk menyelesaikan ucapannya.
Mata Lulu terbelalak luar biasa. Bagai disambar petir menggelegar, memekakkan gendang telinga. Secepat kilat Lulu membalikan badan, menatap penuh tanda tanya pada sosok pria yang tengah duduk di kursi taman.
"Dari mana lo tau kisah tentang gue? Apa diam-diam lo minta orang untuk nyelidikin latar belakang dan masa lalu gue, iya?" Berdiri membeku bagai sebuah patung. Pikiran Lulu dipenuhi sejuta pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.
Leon mengulurkan tangan ke depan, merengkuh jemari lentik sang wanita. "Sorry, kalau gue lancang cari informasi tentang lo ke Queensha. Otak gue saat itu isinya cuma ingin tau kenapa lo bisa ketakutan begitu setelah ketemu Andri. Ngelihat tubuh lo gemetaran dengan wajah pucat, membuat gue enggak tega. Gue bener-bener takut lo kenapa-napa, Lu. Jadi please, jangan salahin Queensha."
Tanpa melepas genggaman tangan, Leon ikut berdiri. Dia berdiri berhadapan dengan Lulu. "Gue udah tau semuanya tentang lo, termasuk bagaimana kasarnya Andri saat ingin menodai lo. Dan kalau lo berpikir gue akan mundur setelah tau apa yang sebenarnya terjadi, lo salah besar sebab gue sama sekali enggak terganggu sedikit pun dengan kisah kelam yang pernah lo alami di masa lalu. Gue tetep dengan keputusan awal, ingin pacaran dan membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi."
"Tapi ... gimana dengan nyokap dan bokap lo. Apa mereka akan setuju saat tau kalau gue pernah dilecehkan seseorang? Bokap lo dosen, orang terpandang di kampus dan tetangga sekitar. Gimana kalau tetangga tau kalau calon mantu Bu Ayu dan Pak Imran pernah dijamah seseorang? Harga diri dan nama baik keluarga lo hancur karena gue," desis Lulu seraya memejamkan mata, membiarkan lelehan air mata jatuh membasahi pipi.
Leon segera mengusut buliran air mata menggunakan kedua ibu jari. Setelah itu, mendekap tubuh Lulu dengan tubuhnya yang tegap dan berotot. "Justru Mama kepingin banget gue buru-buru halalin lo. Mama udah enggak sabar pingin punya cucu dari kita, Lu. Makanya gue putusin buat nembak lo malem ini biar kita bisa langsung ke KUA."
__ADS_1
Kepala mendongak ke atas. Genangan air mata masih tersisa di sepasang mata bulat bagai bola pingpong. "Tante Ayu bilang begitu ke lo?"
Leon mengangguk. Padahal sang mama sama sekali tidak mendesaknya untuk segera menikahi Lulu. Itu hanya akal-akalan Leon saja agar bisa secepatnya menjadikan Lulu sebagai pendamping hidupnya.
"Jadi gimana, lo mau terima gue atau enggak?" Leon kembali bertanya. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin mendengar jawaban gadis incarannya.
Lulu menangkup wajah Leon. Lalu seulas senyuman manis dia berikan kepada Leon. "Iya, gue mau jadi pacar, istri, dan ibu bagi anak-anak kita nanti. Gue sayang sama lo jadi tolong jangan rusak kepercayaan yang udah kasih ke lo."
Leon tersenyum tak kalah manis dari Lulu. "Iya. Gue janji enggak akan pernah kecewain lo. Kalau ternyata gue ingkar, lo bisa aduin kelakuan gue ke Ghani ataupun Mama, biar mereka yang bales perbuatan gue ke lo. Gimana, tawaran gue bagus, bukan?"
Bukannya menjawab, Lulu malah menenggelamkan kepalanya di dada bidang Leon. Dia mendekap tubuh kekasihnya dengan sangat erat seakan takut pria itu menghilang dari muka bumi ini.
"Udah, jangan nangis. Di malam indah ini, seharusnya lo bahagia karena gue akan selalu ada di sisi lo. Menghapus semua kenangan buruk yang diciptakan si Andri sialan itu." Leon mengecup puncak kepala Lulu dengan penuh cinta. "I love you, Neko-chan."
"Love you too, Kareshi," jawab Lulu malu-malu.
...***...
__ADS_1