
Di tempat yang sama, tampak Leon sedang menemani sang mama berbelanja ke mall sebab bu Ayu berencana membeli seragam batik couple yang akan dikenakan saat menghadiri acara perayaan ulang tahun pernikahan rektor tempat suami tercinta bekerja.
Leon sendiri hanya duduk diam menunggu bu Ayu yang sedang memilah dan memilih koleksi batik dari butik ternama di mall tersebut. Sesekali Leon mengusap wajahnya kasar sebab sudah hampir dua jam keluar masuk butik hanya untuk mencari seragam couple yang cocok untuk bu ayu dan pak Imran, tetapi belum juga menemukan yang sesuai keinginan mama tercinta.
"Kenapa Mama lama sekali? Apa Mama enggak tau kalau gue benar-benar bosan sekarang," ucap Leon pelan. Memperhatikan bu Ayu yang tengah membolak balikan koleksi baju batik yang dipajang di standing hanger. Hanya melihatnya saja sudah membuat Leon lelah apalagi kalau harus terlibat di dalamnya.
Sejak tadi Leon memang hanya duduk berdiam diri di sofa, duduk manis sambil memainkan telepon genggam miliknya. Namun, itu cukup membuat Leon bosan setengah mati.
Jika saja Leon bisa menolak, maka sudah pasti dirinya tidak akan pernah berada di tempat itu sekarang ini. Namun, Leon sama sekali tidak bisa menolak permintaan sang ibu karena teringat pesan pak Imran untuk menemani bu Ayu pergi berbelanja dan di sinilah dirinya berada. Terdampar di sebuah sofa tunggu hanya untuk menunggu bu Ayu mengelilingi butik pakaian.
Leon menghentakkan kakinya di atas lantai hingga terdengar bunyi sepatu beradu dengan ubin. "Kenapa cewek kalau belanja tuh pasti lama. Dulu saat gue nemenin Kak Leony belanja perlengkapan bayi lama dan sekarang nemenin Mama juga sama. Apa emang kebiasaan semua cewek tuh sama? Lama dalam berbelanja dan berdandan?" sungutnya dengan nada lirih. Tak berani berbicara dengan nada tinggi karena takut bu Ayu laporkan kepada sang papa.
"Sepertinya gue memang harus keluar dari sini untuk mencari angin supaya enggak stres. Semua ini benar-benar bikin gue bosan. Entah bagaimana bisa para wanita itu menghabiskan waktunya di tempat ini selama berjam-jam. Padahal menurut gue ini sangat menyiksa," gerutu Leon.
Netranya menatap malas pada segerombolan wanita yang sedari tadi lalu lalang di depannya untuk melihat-lihat baju yang ada di butik sambil sesekali melirik ke arahnya. Leon merasa risih diperhatikan sedemikian lekat oleh para wanita itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka, tetapi Leon merasa tak nyaman berada di tempat tersebut.
"Gue emang keren, tapi enggak gitu juga kali mandangin gue. Kayak enggak pernah lihat cowok ganteng aja," keluh Leon mulai jengah.
Tanpa menunggu lebih lama, Leon segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri bu Ayu untuk berpamitan.
"Ma, aku mau ke toilet sebentar. Mama puas-puasin pilih baju di sini, nanti kalau udah selesai, telepon aku aja," ujar Leon saat sudah berada di depan sang mama. Bu Ayu yang sedang asyik memilih pun hanya mengangguk, hal itu membuat Leon semakin kesal.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Leon bergegas pergi dari hadapan ibunya. Dia sungguh sudah tidak betah dan menurutnya sedikit membasuh wajah di toilet akan membuatnya lebih segar dan bisa meredam kekesalan yang hampir mencapai batas maksimal.
Udara kebebasan mulai terasa saat Leon keluar dari butik pakaian. Menghirup udara segara sebanyak mungkin guna menyingkirkan rasa kesal yang bersemayam di dada.
Bersiul sambil melihat deretan pertokoan yang ada di mall. "Lumayan, bisa cuci mata. Sepet juga mata gue dari tadi nungguin Mama belanja."
Terus berjalan lurus melewati toko buku, kemudian berbelok ke arah kiri. Saat baru saja sepatu casual miliknya masuk ke dalam toilet, netra Leon secara tidak sengaja menangkap sosok wanita yang cukup dia kenal.
"Lulu?" Leon menggumam pelan. Netranya pun masih fokus menatap pada wanita itu.
Sebenarnya Leon cukup terkejut karena tak menduga dapat bertemu Lulu di sini. Namun, keterkejutannya teralihkan kala melihat seorang pria berjalan mendekat ke arah Lulu. Dari gerak geriknya menunjukan kalau pria itu punya niat buruk kepada Lulu.
"Siapa laki-laki itu sebenarnya? Kenapa dia ingin mendekati Lulu? Atau mungkin cowok itu adalah mantan pacarnya Lulu? Enggak, semua ini enggak bisa dibiarin gitu aja. Gue harus menghentikan si Berengsek itu." Leon bergumam. Leon semakin yakin jika apa yang dirinya pikirkan memang benar terlebih saat melihat bagaimana raut wajah Lulu terlihat pucat dan tubuh gemetar hebat membuat pria itu begitu yakin kalau pria asing tersebut adalah mantan pacar Lulu.
Dengan langkah lebar dan tangan yang mengepal, Leon segera menghampiri laki-laki yang ada di depan Lulu. Leon menepuk pundak pria tersebut membuat orang itu menoleh ke arahnya dan tanpa membuang waktu, dia segera melayangkan kepalan tangan di perut pria asing itu hingga tersungkur ke belakang.
__ADS_1
"Berengsek! Mau lo apain Lulu, hah? Mau melecehkannya lagi? Langkahi dulu mayat gue. Bajingan! Lelaki biadab!" hardik Leon sambil terus menghajar wajah serta perut Andri secara membabi-buta.
Leon mengajar Andri tanpa ampun. Hal itu membuat mereka berdua menjadi bahan tontonan semua orang. Akan tetapi, Leon sama sekali tidak peduli karena yang terpenting baginya adalah memastikan Andri menerima ganjaran atas perbuatannya yang telah melecahkan dan hendak kembali melecehkan Lulu untuk kedua kali.
"Mampus lo!" kata Leon seraya meludah ke samping badannya.
Tak lama kemudian tiga orang petugas keamanan datang mendekat. Dua orang menghampiri Andri yang sudah babak belur akibat perbuatan Leon sementara satu lagi mendatangi Leon.
"Ada apa ini, Pak? Kenapa Bapak berbuat anarkis di tempat umum? Tidakkah Bapak takut kami tahan atas tuduhan melakukan pengeroyokan terhadap pengunjung lain?"
"Cowok berengsek dan bajingan kayak dia emang pantas dihajar. Dia berniat melecehkan teman saya, Pak, masa iya saya diam saja melihat teman saya ketakutan setengah mati. Coba Bapak bayangkan, gimana kalau hal ini menimpa anak gadis atau istrimu? Apa Bapak akan diam saja melihat ketidakadilan terjadi di depan mata?" skak Leon dengan napas tersengal. Dia benar-benar marah karena perbuatan Andri.
Petugas keamanan itu melirik ke arah Andri dan bertanya, "Apa itu benar?"
Namun, Andri justru mengatakan sebuah kebohongan. "Heh, jangan fitnah! Mana mau gue sama cewek jelek macam dia!"
Tangan Leon mengepal di samping kanan dan kiri. Dia marah karena Lulu dihina di depan umum. "Jadi lo nuduh gue fitnah lo? Oke, kita buktikan dengan melihat rekaman CCTV. Gue yakin dengan rekaman itu security akan tau mana yang pembohong dan tidak."
Leon menyeringai saat melihat perubahan raut wajah Andri. Dia berani berkata demikian sebab tak jauh dari mereka terdapat CCTV yang diletakkan di atas langit-langit.
Tak mau dipersalahkan, akhirnya Andri mencoba menghentikan keributan ini. "Masalah ini tidak usah diperpanjang lagi, Pak. Saya yang salah karena tidak sengaja menabraknya dan dia berpikir kalau saya mau melecehkannya. Padahal saya hanya ingin minta maaf saja."
"Pak, bisa tolong bantu obati luka saya? Saya takut terjadi infeksi kalau tidak segera diobati."
"Dasar, tukang drama!" ejek Leon.
Urusan dengan Andri serta ketiga petugas keamanan telah selesai. Kini saatnya Leon mendekati Lulu yang tengah duduk di kursi. Beruntungnya ada orang baik yang mencoba membantu menenangkan Lulu.
"Lu, lo enggak apa-apa? Yuk, gue anterin lo pulang." Leon memapah tubuh Lulu yang tengah menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tak lupa dia mengucap terima kasih pada orang yang telah membantu Lulu.
Sementara itu, Queensha terlihat begitu khawatir akan keselamatan Lulu sebab sudah hampir tiga puluh menit sahabatnya tidak juga kembali. Dia memutuskan mencari keberadaan Lulu setelah membayar semua pesanan di meja kasir.
"Duh, sebenarnya Lulu pergi ke mana? Kenapa tidak juga kembali ke restoran."
Queensha dibuat terkejut saat melihat Lulu yang sedang dipapah oleh Leon dari arah yang berlawanan. Dengan cepat Queensha menghampiri keduanya.
"Mas Leon, apa yang terjadi? Kenapa Lulu bisa begini?" tanya Queensha cemas.
__ADS_1
Leon pun segera menceritakan kejadian yang baru saja menimpa Lulu pada Queensha. Napas Leon yang memburu membuat Queensha yakin jika laki-laki yang merupakan sahabat dari sang suami pasti sudah menghajar habis-habisan laki-laki yang sudah mengganggu Lulu tadi.
"Dasar bajingan! Rupanya dia sudah kembali dari luar negeri. Pantas saja Lulu ketakutan begini." Queensha pun ikut geram mendengar cerita Leon. Seandainya dia ada di lokasi kejadian, pasti akan melakukan hal yang sama. Namun, bedanya dia akan menggunakan telapak tangan dan kakinya untuk menghajar inti tubuh pria sialan itu.
"Jangan diam saja! Ayo kita pulang sekarang. Aku antar kalian pulang ke indekos Lulu," putus Leon.
Queensha pun hanya bisa mengangguk setuju dengan keputusan Leon. Mengingat kondisi Lulu yang sedang tidak baik, sangat tidak mungkin bila dirinya harus kembali seorang diri hanya bersama Lulu. Karenanya lebih baik jika dia menerima tawaran Leon.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Leon, Lulu serta Queensha pun sudah sampai di indekos milik Lulu. Setelah membantu Lulu untuk masuk ke kamarnya, Leon serta Queensha pun segera keluar. Membiarkan Lulu untuk beristirahat di kamar.
"Untung saja kondiri Lulu baik-baik saja. Dia cuma butuh istirahat. Sementara waktu, biarkan dia tidur sampai kondisinya membaik," kata Leon. Dia melepas stetoskop dari telinga kemudian memasukannya ke dalam kotak medis. Untung saja dia selalu membawa kotak P3K sehingga dapat memeriksa kondisi tubuh Lulu walau dengan banyak drama yang terjadi, akhirnya dia bisa mengetahui keadaan Lulu sekarang.
Beberapa saat kemudian, ponsel Leon tiba-tiba berdering. Dengan malas Leon menerima panggilan itu. Namun, seketika netra Leon membulat sempurna saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo, Ma. Ada apa?" tanya Leon saat sambungan telepon itu sudah tersambung.
"Ada apa kamu bilang? Hei, dasar anak kurang ajar. Kamu ada di mana? Mama sudah selesai dan akan pulang, tapi kamu tidak ada di sini," omel Bu Ayu di seberang sana.
Leon hanya memejamkan mata saat mendengar omelan mamanya itu. Dia baru sadar telah meninggalkan sang mama di mall karena terlalu mengkhawatirkan keadaan Lulu.
'Bodoh, kenapa gue bisa ngelupain Mama, sih. Leon, Leon, sampe rumah habis lo diomelin Mama,' batin Leon dalam hati. Leon tidak henti merutuki dirinya sendiri yang entah bagaimana bisa melupakan bu Ayu.
"Maaf, Ma. Aku ada urusan penting sekarang jadi aku pergi duluan. Mama pulang naik taksi saja, ya?" ucap Leon pelan. Tanpa menunggu jawaban sang ibu, Leon segera memutus sambungan telepon itu. Sungguh, telinganya sudah terasa panas karena omelan dari sang ibu.
Di tempat lain, bu Ayu tidak henti-hentinya mengomel karena putranya yang terus saja membuatnya kesal.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya dia pergi meninggalakanku sendirian. Awas, nanti aku laporkan dia kepada Mas Imran." Bu Ayu memasukan telepon genggam itu ke dalam hand bag miliknya. Kemudian turun ke lantai ground menggunakan lift.
Sepanjang perjalanan pulang, bu Ayu tetap saja mengomel. Wanita paruh baya itu bahkan tidak memedulikan tatapan penuh pertanyaan dari supir taksi yang ditumpanginya. Bagi dia, yang penting untuk sekarang ini adalah bisa meluapkan kekesalannya akibat kelakuan Leon.
"Anak nakal! Kamu keterlalu, Yon!" Bu Ayu meremas telapak tangannya dengan erat.
Di indekos Lulu sendiri, sesekali Leon masih meringis saat mengingat bagaimana suara sang mama yang sepertinya sudah sangat kesal padanya. Sungguh, dia sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkan bu Ayu di mall. Dia benar-benar lupa jika sedang pergi bersama sang mama.
"Ya Tuhan, Leon. Gimana bisa lo ngelupain nyokap lo sendiri, heh? Astaga, goblok banget, sih, lo, sampe enggak sadar kalau nyokap lo masih di mall." Leon memukul kepalanya pelan. Dia bisa bayangkan bagaimana amarah ibunya nanti saat berada di rumah. Oleh sebab itu, dia harus mulai menyiapkan diri menerima ocehan bu Ayu yang membuat kepalanya pening mendadak.
...***...
__ADS_1