
Lulu mematung di tempat saat sepasang matanya memandangi pria jangkung di seberangnya. 'Kayak pernah ketemu, tapi di mana?' batinnya seraya memperhatikan sosok pria di hadapannya. Otak wanita itu berpikir keras, mencoba memanggil kembali ingatannya yang terkubur dalam-dalam. Begitu banyak kejadian membuat wanita itu tak ingat persis kapan dan di mana mereka bertemu.
Cukup lama berpikir akhirnya usaha Lulu membuahkan hasil, kini ia tahu di mana pernah bertemu dengan pria tersebut.
Mata melotot seperti mau terlepas dari tempatnya. Kedua tangan berada di pinggang dan dengan ketus Lulu berkata, "Lo itu lelaki berengsek yang pernah mencium gue, 'kan? Mau ngapain lo di sini, hah? Lo pasti mau berbuat nakal dengan cara mengendap-endap ke toilet cewek demi menuntaskan hasrat lo. Ayo ngaku!" Lulu menuduh Leon tanpa pernah tahu jika kedatangan pria itu ke mall hanya untuk refreshing.
Suara lengkingan membuat beberapa pengunjung yang kebetulan hendak ke toilet menoleh ke arah mereka, bahkan secara terang-terangan dari mereka mulai menggunjingkan Leon. Dikiranya Leon benar-benar hendak melakukan perbuatan asusila terhadap kaum wanita.
"Bisa diam, enggak? Suara cempreng lo bikin telinga gue budeg, tau!" sembur Leon, tidak terima jika ia dituduh yang bukan-bukan. "Heh, Betina! Gue udah pernah jelasin kalau kejadian di restoran merupakan sebuah ketidaksengajaan. Saat itu gue cuma mau nolongin, tanpa pernah berpikir mengambil kesempatan dalam kesempitan. Insiden yang terjadi di antara kita kemarin di luar kendali gue. Paham?"
"Tadi lo bilang gue cowok nakal, pura-pura ke toilet untuk melakukan perbuatan terlarang? Mana buktinya kalau gue ke toilet mau berbuat mesum terhadap pengunjung perempuan? Jangan asal ngomong kalau enggak punya bukti! Gue bisa lapor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik," ujar Leon sedikit mengancam. Dengan begitu, ia berharap mulut Lulu bungkam detik itu juga dan tak lagi menuduhnya yang bukan-bukan.
Kalau sampai salah satu pengunjung mall merupakan rekan sejawat atau bahkan petinggi rumah sakit dan melaporkan kejadian ini kepada Ghani ataupun Rayyan, lalu bagaimana dengan masa depannya? Bisa saja reputasi, jabatan, serta nama baiknya sebagai seorang dokter bedah hancur akibat fitnah seseorang.
Ancaman Leon nyatanya berhasil membungkam mulut Lulu detik itu juga. Mendengar kata polisi, membuat ia teringat sebuah sel tahanan tanpa alas kasur dan dihuni oleh banyaknya para tahanan dalam satu ruangan kecil. Ia merinding saat membayangkan dirinya berdesak-desak dengan para tahanan yang lain.
"G-gue ..." Lulu tak dapat menyelesaikan kalimatnya. "Kalau emang lo ke sini bukan untuk melakukan perbuatan asusila, lalu apa? Enggak mungkin cuma nongkrong doang di sini, 'kan? Kayak enggak punya kerjaan aja," cibir Lulu.
Leon yang sudah kepalang kesal, tak mau memberitahu Lulu. Lagi pula untuk apa berkata jujur kepada wanita sinting itu toh mereka tak punya ikatan apa pun. Begitu yang dipikirkan sahabat Ghani saat ini.
Melangkah maju perlahan. Tatapan mata menatap nyalang pada wanita di hadapannya. "Bukan urusan lo!" sahut Leon menekan setiap kalimat yang terucap di bibirnya.
Kedua tangan yang semula berada di pinggang, seketika luruh ke bawah. Tangan mengepal hingga memperlihatkan buku-buku putih. Rahang mengeras, dada kembang kempis, dan deru napas memburu seolah ia baru saja lari maraton sejauh 10 KM.
__ADS_1
"Lo?" Baru saja mengucap sepatah kata, perut Lulu kembali berbunyi. Ia kembali teringat akan tujuannya datang ke sini.
'Sial. Saking asyiknya ngomel, gue sampai lupa mau ke toilet. Lebih baik gue pergi sekarang daripada terus meladeni cowok mesum macam dia.'
Lulu menghempaskan jemari tangannya dengan kencang. Ia menghentakkan kedua kaki di lantai dan berlalu dari hadapan Leon sesegera mungkin.
Leon bergidik sendiri melihat sikap aneh Lulu. "Dasar perempuan sinting. Udah nuduh gue yang macam-macam, dia malah pergi gitu aja tanpa minta maaf. Dia yang nabrak, dia juga yang ngomel-ngomel."
Tak mau ambil pusing, Leon pun memutuskan meninggalkan tempat tersebut. Ia berjalan maju ke depan, ke tempat di mana teman-teman satu gengnya menunggu.
Sambil berjalan, Leon memandangi deretan toko yang ada di kanan dan kirinya. Kebanyakan dari toko tersebut merupakan toko pakaian, baik pakaian untuk wanita, pria maupun anak-anak terdapat di sana.
Leon berbelok ke sisi kanan, kemudian terus melangkah hingga tiba di depan sebuah toko buku, ia tanpa sengaja melihat Queensha serta si kecil Aurora sedang duduk di kursi. Ia mempercepat langkahnya demi menyapa istri serta anak dari sang sahabat.
"Mas Leon?" Queensha bangkit berdiri disusul si kecil Aurora yang langsung melingkarkan jemari mungil di paha Leon.
"Uncle Leon lagi apa di sini? Apa Uncle sedang jalan-jalan bersama Papanya Rora?"
Leon menggeleng kepala seraya mengulum senyuman manis di bibir. "Uncle sedang jalan-jalan, Sayang. Rora juga, ya?" Tangan kekar itu mengelus pipi chubby Aurora dengan lembut. "Kebetulan hari ini uncle libur kerja sedangkan Papanya Rora kerja di rumah sakit jadi uncle enggak pergi bersama papa."
Aurora terlihat murung. Sedikit kecewa karena tidak dapat bertemu dengan papa tercinta. Rupanya ia sangat merindukan Ghani meski hanya beberapa jam tak bertemu, nyatanya gadis kecil bermata bulat ingin segera bertemu dengan sang papa.
Mengerti akan kesedihan Aurora, Queensha menggendong tubuh kecil itu. Mengusap puncak kepala anak kesayangan sambil berkata, "Jangan bersedih, sebentar lagi Rora ketemu Papa, kok. Papa akan pulang ke rumah tepat waktu."
__ADS_1
"Mas Leon apa kabar? Tidak disangka akan bertemu di sini."
Leon menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Perasaan malu tiba-tiba berggelayut dalam diri pria itu saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Siang itu ia menjadi bahan bully-an Ghani hanya karena dirinya yang masih menjomlo hingga sekarang.
"Kabarku baik. Kamu benar, dunia ini ternyata begitu sempit sampai kita dapat bertemu di sini," jawab Leon. "Oh ya, kalian ke sini cuma berdua saja?"
"Tidak, Mas. Aku ke sini bersama sahabatku, tapi tadi izin ke toilet sebentar."
Leon manggut-manggut. "Baguslah, soalnya aku takut suamimu berubah jadi Hulk kalau tau istrinya pergi berduaan saja dengan putrinya." Terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
Sepasang mata tanpa sengaja melirik arloji di pergelangan tangan. Sudah lebih dari sepuluh menit meninggalkan teman-temannya. "Sha, aku duluan. Teman-teman sudah menungguku sejak tadi. Bye, Sha!" Lalu ia mengalihkan perhatian kepada Aurora. "Rora, uncle tinggal dulu. Kapan-kapan kita berjumpa lagi." Tangan Leon melambai di udara, sebagai tanda perpisahan.
"Bye, Uncle Leon. Hati-hati di jalan." Aurora ikut melambaikan tangan di udara sementara Queensha hanya tersenyum sambil menatap tubuh Leon yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.
Tepukan pelan mendarat di pundak Queensha, disusul suara lembut seorang perempuan. "Lo ngelihatin apaan? Lalu, Rora dadah-dadah sama siapa?" tanya Lulu penasaran.
"Astaga, Lulu. Kamu ngagetin aku saja."
"Sorry, enggak maksud bikin lo kaget. Gue cuma heran kenapa lo terus menatap ke depan sana. Emang habis ketemu sama siapa?"
Dengan antusias Aurora menjawab, "Ketemu Uncle Leon, Aunty. Makanya tadi Rora dadah-dadah sebelum Uncle Leon pergi. Benar, 'kan, Ma?"
"Benar. Tadi aku tidak sengaja bertemu sahabat Mas Ghani. Namanya Leon, sama-sama dokter bedah di rumah sakit milik Ayah mertua. Dia juga masih jomlo, loh." Queensha senyum-senyum sambil menatap lekat wajah sahabatnya. Ada motif tersendiri dari jawaban yang ia berikan kepada Lulu.
__ADS_1
...***...