
"Yon, mama dan Papa berangkat dulu. Kamu di rumah hati-hati, jangan lupa periksa pintu sebelum dan sesudah dari luar. Si Mbok tetep mama minta datang ke sini untuk masakin kamu makanan dan bersih-bersih rumah jadi kamu bisa fokus bekerja tanpa perlu memikirkan urusan pekerjaan rumah," ucap Bu Ayu pada Leon.
"Iya, Mama dan Papa hati-hati di jalan. Kalau urusan di Yogyakarta sudah selesai, kabarin aku biar bisa luangkan waktu untuk jemput Mama dan Papa di bandara."
Sedetik kemudian, asisten rumah tangga kediaman orang tua Leon memberitahu bahwa taxi yang dipesan sudah menunggu di depan rumah. Maka pasangan suami istri yang telah dikaruniai dua orang cucu melangkah bersama menuju teras rumah. Namun, sebelum bu Ayu masuk ke dalam mobil, Leon berseru hingga menghentikan langkah kaki wanita paruh baya itu.
"Ma, aku titip bakpia pathok dan salak pondoh untuk Lulu. Biar aku ada alasan untuk berkunjung ke indekosnya." Leon berkata sambil tersimpu malu. Tangan menggaruk kulit kepala yang tidak terasa gatal. Dia sudah memutuskan untuk mendekati Lulu karena tidak mau sampai ada pria lain dekat dengan gadis itu.
Bu Ayu tersenyum lebar mendengarnya. "Tenang saja, akan mama bawakan bakpia pathok terenak khusus untuk calon mantu mama. Sudah ya, mama dan Papa jalan dulu, takut ketinggalan pesawat."
Leon melambaikan tangan ke udara, melepas kepergian orang tuanya dengan iringan do'a, bermunajat kepada Tuhan semoga mama dan papanya dilindungi hingga mereka selamat sampai tujuan.
Duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Kedua tangan terbentang di kanan dan kiri sandaran sofa dengan menyilangkan kaki. Leon kembali menonton anime kesukaannya di salah satu aplikasi streaming online.
Merasa bosan, Leon mematikan layar televisi menggunakan remote yang ada di atas meja panjang. "Bete banget gue. Daripada ngelamun apa sebaiknya gue ke indekos Lulu aja, ya? Seinget gue hari ini dia libur, pasti dia juga ngerasa bosen karena waktu liburnya cuma di kamar doang."
Tanpa pikir panjang, Leon segera berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Mengganti pakaian rumahan dengan pakaian casual serta tak lupa membawa dompet, kunci mobil, dan telepon genggam, memasukan semua barang tersebut ke dalam tas kecil.
"Mbok, aku keluar dulu. Misalkan habis maghrib aku belum pulang, Mbok langsung pulang saja. Jangan lupa periksa jendela dan pintu, pastikan semuanya terkunci rapat." Leon berpesan sebelum meninggalkan rumah.
"Baik, Den Leon."
***
Tepat pukul sepuluh pagi, Leon tiba di indekos Lulu. Rumah dua lantai dengan halaman yang asri dan cukup luas terlihat ramai. Maklum, hari ini bertepatan dengan hari libur sehingga para penghuni indekos yang didominasi kaum wanita menghabiskan waktu libur mereka dengan bersantai bersama orang terdekat.
__ADS_1
Leon mengamati teras rumah indekos Lulu dengan seksama. Tampak ragu haruskah dia mendekati sekelompok para gadis itu dan menyanyakan keberadaan Lulu.
"Masuk, enggak. Masuk, enggak." Leon menghitung manik kemeja casual yang dia kenakan. Sekitar dua menit berlalu, akhirnya dia memutuskan untuk tetap pergi menemui Lulu. "Lo mesti maju Yon, sebelum Ghani betulan ngenalin Lulu ke adik sepupunya. Kalau sampai terjadi maka lo enggak ada lagi kesempatan untuk ngedeketin Lulu."
Berjalan dengan langkah panjang, Leon mendekati kerumunan gadis yang tengah bersenda gurau di teras rumah. "Permisi, Mbak. Saya Leon, temannya Lulu. Apa Lulu-nya ada di dalam?"
Kumpulan gadis itu sontak menghentikan percakapan mereka kala mendengar suara bariton pria di antara mereka. Hasna yang saat itu berada paling dekat dengan Leon menoleh ke sumber suara.
Memindai penampilan Leon dari atas rambut sampai ke ujung kaki. 'Gila, ganteng banget. Gue baru tau Lulu punya temen secakep ini.'
"Cari Lulu, ya? Dia ada di kamar, barusan kelar mandi. Mau aku panggilin?" tawar Hasna dengan suara yang dibuat semerdu mungkin. Menebarkan pesona yang dimiliki, siapa tahu Leon tertarik kepadanya.
Alih-alih tertarik, Leon justru bergidik melihat sikap salah satu teman indekos Lulu yang seperti cacing kepanasan. 'Mimpi apa gue semalam ketemu cewek modelan begini. Kalau bukan karena Lulu, udah gue tinggalin tempat ini dari tadi,' raungnya dalam hati.
Hasna menggoyangkan badan layaknya anak kucing kepada majikannya. Dengan suara yang dibuat-buat dia berkata, "Ish, merepotkan bagaimana. Aku tidak keberatan sama sekali. Ya sudah, kamu tunggu di sini. Aku segera kembali sambil membawa Lulu kemari."
Teman indekos Lulu yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Hasna. Gadis satu itu memang tak pernah bisa tahan bila bertemu dengan pria tampan, bawaannya pasti ingin berdekatan terus dengan pria tersebut.
Tak berselang lama, Hasna muncul dengan Lulu mengekori di belakang. Kedua gadis itu mendekat ke arah Leon.
"Mas Leon, aku udah bawain Lulu, nih. Sebagai imbalannya, minta nomor telepon kamu dong. Siapa tau kita bisa jadi teman dekat."
Ketika benda pipih berada di depan mata, Leon tersentak beberapa saat tak pernah menduga jika Hasna akan seagresif ini kepadanya.
Leon menatap Lulu seakan meminta pendapat gadis itu. Lulu mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa dia tak keberatan jika Leon memberi nomor teleponnya kepada Hasna.
__ADS_1
"Thanks Mas Leon. Nanti aku telepon kamu, ya?" Hasna meninggalkan Leon dan Lulu setelah mendapat apa yang diinginkan.
"Temen lo yang satu itu agresif banget, sih, Lu. Semakin lama di dekat dia, bisa kena sawan gue." Leon merinding saat membayangkan bagaimana sikap Hasna kepadanya. Seumur hidup baru bertemu gadis macam begitu.
Lulu terkikik geli melihat ekspresi aneh yang ditunjukan Leon kepadanya. "Si Hasna emang terkenal centil dibanding teman gue yang lain. Dia enggak bisa hidup menjomlo dalam jangka waktu lama. Seminggu putus, selang dua atau tiga hari langsung dapet pengganti."
"Wah, parah banget temen lo, tuh. Enggak cocok dijadiin calon makmum cewek modelan dia mah." Leon menimpali ucapan Lulu.
Lulu menautkan kedua alis petanda bingung. "Calon makmum. Emang lo mau jadian sama dia?" Ada perasaan nyeri di hati ketika mengajukan pertanyaan tersebut. Tubuh terasa seperti dibakar hidup-hidup, membayangkan pria di sebelahnya bersanding dengan perempuan lain.
Tangan melambai di depan wajah Lulu. "Enggak, lo salah paham sama gue. Temen lo itu bukan tipe gue, Lu. Ya kali gue suka sama ulet bulu modelan Hasna. Ngelihatnya aja bulu kudu gue langsung merinding."
"Emang tipe cewek lo seperti apa? Pasti cewek elegan, berkelas, dan pastinya sederajat dengan keluarga lo, ya?" Bagai diremat tangan tak kasat, hati Lulu terasa sakit sekali mengucap kalimat tersebut. Entah kenapa dia merasa tidak rela jika ternyata Leon dimiliki wanita lain.
Leon melirik sekilas kepada Lulu. Terlihat segurat kesedihan dari paras jelita di sebelahnya. Dia ikut bersedih meski tak tahu apa yang membuat gadis itu bermuram durja. Mungkinkah kesedihan Lulu ada kaitannya dengan topik pembicaraan mereka?
"Tipe cewek gue ... mandiri, pekerja keras, tapi juga baik hati dan menyayangi anak kecil. Enggak masalah kalau dia bukan dari golongan menengah ke atas seperti keluarga gue, yang penting hatinya lembut dan gue nyaman ada di dekatnya."
Tubuh Lulu sedikit menegang karena ucapan Leon. Kenapa perkataan pria itu seakan ditujukan kepadanya.
"Eh, dia malah bengong. Yuk masuk, gue mau ajakin lo naik MRT. Kebetulan ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi dengan menaiki alat trasportasi tersebut." Leon menarik pergelangan tangan Lulu lalu membukakan pintu untuk gadis itu. Setelah itu, barulah dia memutar tubuh dan duduk di balik kemudi.
Hari ini Leon akan mengajak Lulu berkeliling, pergi ke tempat wisata yang belum pernah mereka datangi. Bukan mall, bioskop apalagi restoran mahal menjadi destinasi liburan mereka kali ini karena bagi Leon, tempat seperti itu sudah sering dikunjungi sehingga membuatnya bosan. Dia ingin memberi pengalaman baru pada kencan mereka yang kesekian kali.
...***...
__ADS_1