
Ghani melempar bathrobe ke keranjang kotor lalu memakai pakaian yang menggantung di lemari. Hari ini dia berencana menemui orang yang hampir merenggut nyawa istri serta ketiga janin dalam kandungan Queensha.
Tersenyum smirk seraya menyisir rambut di depan cermin. "Gue enggak bakal biarin lo lolos begitu aja, Ndri. Sekalipun nyokap lo ngeluarin seluruh harta kekayaan punya bokap lo, gue tetep menang karena kartu AS lo ada di tangan gue. Kali ini, lo udah salah cari lawan, Bajingan!"
Rahang Ghani mengeras lantas dia melempar sisir tersebut dengan kencang hingga membuat Queensha menggeliat, mendengar bunyi dentuman benda membentur cermin rias di kamar tersebut.
"Eugh!" kata Queensha masih dengan mata terpejam.
Ghani tersentak saat menyadari jika dirinya hampir saja membangun sang istri.
Pria tampan berwajah datar dan bersikap dingin berjalan cepat mendekati ranjang. Dia mendudukkan bokongnya di pinggiran tempat tidur lalu mengulurkan tangan, mengelus-elur helaian rambut panjang istri tercinta.
"Sst, tidurlah. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Maaf sudah membuatmu hampir terbangun," kata Ghani lembut. Kemudian mencondongkan tubuh dan mencium kening Queensha cukup lama.
Embusan napas bersumber dari hidung Ghani menerpa permukaan kulit, membuat kelopak mata Queensha bergerak perlahan. Mencium aroma parfum kesukaan, wanita berambut panjang sepunggung membuka mata dan ketika sepasang mata sipitnya menangkap sosok suami tersayang di depannya, dia memicingkan mata tajam. Penampilan Ghani terlihat rapi dengan kemeja lengan panjang yang digulung sebatas siku.
"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini? Berangkat kerja? Bukannya semalam bilang padaku kalau hari ini kamu libur, Mas? Lalu, kenapa sekarang kenapa kamu malah berpakaian rapi begini. Apa ... kamu ada janji temu dengan perempuan, iya?" tanya Queensha penuh selidik. Semenjak hamil, bukan hanya hasrat bercinta saja yang meningkat, tetapi juga rasa curiga terhadap suaminya itu meningkat dua kali lipat. Dia selalu curiga, Ghani bermain api di belakangnya.
Ghani *****4* bibir Queensha tanpa merasa jijik sedikit pun. Padahal saat itu aroma tak sedap menguar dari mulut Queensha, tetapi pria itu tak terganggu sedikit pun.
"Jangan berpikiran negatif tentangku, Sayang. Mana mungkin aku bertemu perempuan lain tanpa sepengetahuanmu. Jika aku ada janji temu dengan seorang wanita maka aku akan memberitahumu terlebih dulu. Mengerti?" tandas Ghani.
__ADS_1
Kemudian mengelap sisa saliva di pinggiran bibir istrinya. Lalu Ghani menangkup wajah Queensha seraya memandang lamat wajah istrinya itu. "Aku mau menemui Andri di rumah sakit. Melihat gelagat aneh keluarga Andri, aku punya firasat kalau ibu dari pria berengsek itu akan melakukan segala macam cara untuk membebaskan puteranya dari penjara. Oleh karena itu, aku ingin bertemu Andri terlebih dulu, memberi penawaran kepada lelaki itu sebelum kukeluarkan kartu AS yang ada di tanganku."
"Kartu AS? Memangnya kamu punya rahasia apa tentang Andri, Mas? Apa ini berkaitan dengan perbuatan bejatnya itu?"
Lagi dan lagi Ghani *****4* bibir Queensha hingga membuat mata sang wanita terbelalak.
"Mas Ghani, lepaskan!" kata Queensha sambil memukul-mukul pelan dada bidang suaminya.
"Untuk urusan ini, kamu tidak perlu tau. Kamu fokus saja pada kesembuhanmu. Ingat, kondisimu masih belum fit sepenuhnya. Kamu masih harus bed rest total dan jangan banyak berpikir yang macam-macam. Aku tidak mau kamu masuk rumah sakit lagi."
Meskipun wajah masih diliputi sebuah tanda tanya besar, tetapi pada akhirnya Queensha patuh, tak lagi bertanya apa-apa pada suaminya. Biarlah Ghani menyelesaikan masalah mereka, dia hanya perlu fokus terhadap kandungannya.
"Sekarang, dengarkan aku. Aku mau keluar dalam beberapa jam ke depan, dan kamu tinggal saja di rumah. Jangan beranjak dari ranjang tanpa dipapah siapa pun. Aku akan minta Mbak Tina atau Mbak Ijah untuk standby di sini, menemanimu selama aku pergi."
Ghani mengangguk. Lantas dia berdiri setelah mengecup kening istrinya lama.
***
"Dokter Ghani?" panggil Yogi saat melihat Ghani memasuki lobby rumah sakit.
Ghani berjalan di depan Yogi. Kedua lelaki itu melangkah dengan langkah panjang menuju pintu lift. Ketika melintas di depan pengunjung rumah sakit, hawa dingin menguar begitu saja, membuat bulu kudu mereka berdiri kala tanpa sengaja berpapasan dengan Ghani.
__ADS_1
"Apa polisi menjaga si Bajingan itu dengan ketat? Jangan sampai dia melarikan diri dan melepas begitu saja tanggung jawab yang seharusnya dia pikul. Aku hajar kamu habis-habisan kalau sampai itu terjadi."
"Dokter Ghani jangan khawatir, selama tuntutan itu belum dicabut Bu Queensha maka dia masih ditetapkan sebagai tersangka," sahut Yogi.
Tiba di lantai lima, Ghani mendekati dua orang petugas kepolisian yang tengah berjaga di depan kamar perawatan. Beruntungnya dua polisi itu tak mempersulit Ghani sehingga pria itu dapat dengan mudah masuk ke dalam ruang perawatan.
Sebelum masuk ke ruangan, Ghani memberi pesan kepada orang kepercayaannya itu. "Gi, awasi gerak gerik kedua polisi itu. Aku mau berbicara secara empat mata dengan Andri tanpa ada satu orang pun yang mengganggu. Jika nanti kedua orang tuanya datang, beri kode kepadaku karena aku malas berurusan dengan mereka."
"Baik, Dokter. Kalau butuh bantuan, segera panggil saya. Saya siap melakukan perintah Anda!" ucap Yogi mantap.
Pintu ruangan terbuka. Andri yang tengah menonton televisi refleks menoleh ke sumber suara. Sontak terbelalak melihat sosok pria asing tersenyum devil ke arahnya.
"S-siapa lo? Dan ... m-mau apa lo datang ke sini?" tanya Andri dengan suara terbata.
Bukannya menjawab, Ghani justru menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Tanpa menjawab pertanyaan Andri, pria yang sebentar lagi dikanuriai bayi kembar sekaligus terus mengayunkan kaki mendekati ranjang pasien.
"Gue enggak tau siapa lo, jadi sebaiknya enyah dari hadapan gue sekarang juga! Kalau enggak, gue-"
"Lo bakal teriak dan manggil kedua polisi yang berjaga di depan kamar, iya?" sambar Ghani sebelum Andri menyelesaikan kalimatnya. "Lo pikir gue takut dengan ancaman lo? Enggak sama sekali! Seumur hidup, gue enggak pernah takut dengan apa pun. Cuma satu kali gue pernah ngerasain ketakutan yaitu saat ... gue nyaris kehilangan istri dan ketiga anak dalam kandungan Queensha dan itu semua gara-gara lo, Bangsat!"
"Queensha hampir aja kehilangan nyawanya gara-gara lo!" sembur Ghani dengan wajah merah padam. Rahangnya gemetar, merasakan emosi yang meledak-ledak. Susah payah dia menjaga Queensha beserta calon anak mereka, Andri justru mau melenyapkan nyawa keempat orang yang begitu dia cintai. Dia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak melupakan kemarahannya pada lelaki berengsek, tukang celup sana sini.
__ADS_1
"Apa? J-jadi ... lo suami dari perempuan itu?" Lemas sudah tubuh Andri detik itu juga. Rasanya bumi tempatnya berpijak tak lagi berputar pada porosnya. Suara tercekat di tenggorokan kala mengetahui pria asing berwajah menyeramkan adalah suami dari wanita yang pernah dia dorong beberapa hari yang lalu.
...***...