
Pukul sembilan pagi, Queensha sudah berpakaian rapi dengan dandanan natural apa adanya sebab tanpa perlu menggunakan make up tebal, dia sudah terlihat cantik. Wajahnya yang oriental serta bibirnya yang merah muda alami membuat wanita itu semakin cantik memesona. Apalagi semenjak hamil, kecantikan ibu satu orang anak itu bertambah kali lipat dibanding sebelumnya.
"Hmm, penampilanku sudah rapi dan siap untuk berangkat," ujar Queensha seraya meletakkan parfum yang sempat dia semprotkan di leher dan urat nadi di pergelangan tangannya. Tidak banyak yang dia semprotkan, cukup untuk menambah kepercayaandirinya saja.
"Kamu mau ke mana, Sayang? Kenapa rapi sekali?" tanya Ghani pada sang istri. Laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi itu menatap heran ke arah sang istri. Pasalnya, hari ini mereka sama sekali tidak memiliki rencana untuk pergi ke mana pun.
Queensha segera menoleh dan menatap lurus pada sang suami. Dengan sedikit memutar bola matanya malas, Queensha tetap menjawab pertanyaan suami tercinta. "Aku mau bertemu Lulu, Mas. Kamu lupa, ya? Padahal kemarin aku udah izin ke kamu, lho. Jangan membuat drama seolah-olah aku istri tidak tau aturan, pergi begitu saja tanpa minta izin dari suami."
Seketika cengiran khas terletak jelas di wajah Ghani. Suami Queensha itu pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Dia sungguh lupa dengan izin yang Queensha katakan kemarin. Di mana sang wanita akan bertemu dengan Lulu, sahabat karib Queensha untuk memberitahukan berita gembira tentang kehadiran triplet di dunia ini.
"Maaf, aku lupa. Maklum, terlalu banyak hal yang kuurusi jadi lupa kalau kamu sudah minta izin kepadaku sebelumnya." Memeluk Queensha dari belakang. Dia meletakkan kedua tangan kekar itu di atas perut. Mengusap perlahan guna mencoba menenangkan ketiga janin dalam kandungan sang istri agar mereka tidak ikutan marah kepadanya. "Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau aku yang anterin kamu?" tawarnya, berharap kekesalan Queensha perlahan memudar.
Queensha menggeleng. "Tidak perlu, Mas. Biar aku diantar Mang Aceng saja. Bukannya hari ini kamu mesti ke rumah sakit? Katanya ada rapat dengan direksi rumah sakit. Kalau kamu nganterin aku dulu, kamu pasti datang terlambat."
Jemari lentik mengusap pipi suaminya dengan penuh cinta. Queensha yang tadinya kesal kini berubah jadi lembut kepada suaminya. "Lagi pula aku mau quality time sama Lulu. Jadi, kamu jangan ganggu aku, ya?" jawab Queensha. Tidak mau merepotkan suaminya meski dia tahu Ghani akan melakukan apa pun demi dirinya dan si buah hati. Sebegitu besarnya cinta Ghani kepada Queensha sampai dia rela menunda maupun membatalkan rapat asalkan istrinya bahagia.
Menyampirkan helaian rambut panjang ke samping kiri. Ghani bubuhkan kecupan di leher jenjang sang istri. "Iya, hari ini aku tidak akan ganggu kamu dan Lulu. Kalian bisa menghabiskan waktu berdua bersama. Namun ingat, jangan sampai pulang terlalu sore, ya, karena aku tidak mau kamu sampai terlalu lelah. Di sini, ada buah cinta kita yang sedang tumbuh," katanya sambil mengelus perut sang istri, yang diangguki langsung oleh Queensha.
Queensha membalikan badan. Dia mengecup pipi kanan dan pipi Ghani. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Assalamu a'laikum." Wanita itu mengakhiri percakapannya dengan mencium punggung tangan Ghani dengan takzim.
"Wa'alaikum salam. Minta Mang Aceng untuk berhati-hati dalam berkendara. Jangan asal salip tanpa menyalakan rating dan melihat keadaan sekitar dari kaca spion." Queensha menjawab dengan anggukan kepala. Sangat mengerti kenapa Ghani jadi super protective kepadanya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat, kini Queensha sudah sampai di restoran yang ada di mall. Tempat di mana dia dan Lulu janjian. Saat tiba di restoran, dia melihat Lulu sudah menunggu di sebuah kursi dekat jendela yang menampikan pemandangan kota Jakarta dari lantai tiga.
Queensha tersenyum lebar saat melihat Lulu yang menoleh ke arahnya. "Maaf aku terlambat," ujar Queensha saat baru saja mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan langsung dengan Lulu.
Lulu mengangguk dan menjawab, "Enggak apa. Santai aja. Lagi pula gue juga baru sampai, kok."
Seorang pelayan wanita datang mendekat sambil membawa buku menu. Queensha dan Lulu sibuk memilih makanan mana yang mau mereka santap selama berada di sini.
"Saya mau tenderloin steak dua porsi, french friesnya dua porsi, dan air putih biasa satu." Queensha menyebutkan satu per satu hidangan yang diinginkannya.
"Kalau saya sirloin steak, french fries satu, dan ice lemon tea." Kini giliran Lulu menyebutkan pesanannya.
__ADS_1
Pelayan wanita itu menyebutkan ulang pesanan dua pelanggannya tersebut. Setelah memastikan tidak ada kekeliuran, barulah dia beranjak dari tempat tersebut dan menyerahkan kertas orderan kepada koki di dapur.
"Oh ya, omong-omong ada apa sampai lo ajakin gue ketemu begini?"
"Aku ada kabar baik buat kamu," jawab Queensha seraya tersenyum misterius.
"Apa? Lo punya rahasia yang enggak gue tau ya? Ck, main rahasia-rahasiaan mulu lo sekarang." Lulu berdecak kesal karena Queensha semakin banyak menyembunyikan sesuatu darinya semenjak sahabatnya itu menikah.
Queensha hanya menggeleng sambil terbahak. Sungguh, raut wajah Lulu saat sedang kesal membuat dirinya terhibur. "Jangan berburuk sangka dulu sama aku. Tak banyak rahasia yang aku sembunyikan dari kamu, kok." Wanita itu memasang wajah serius. "Lu ... aku mau kasih tau kalau aku ... hamil. Dokter kasih tau aku kalau ternyata dalam perutku tidak hanya ada satu kantung embrio melainkan tiga sekaligus. Aku ... mau punya anak kembar tiga."
"Apa? Lo serius, Sha? Berarti dugaan gue kemarin enggak salah, dong, kalau lo betulan hamil? Astaga, gue ikutan bahagia dengernya." Lulu sampai berkata histeris sampai beberapa pengunjung menoleh kepadanya. Namun, dia sama sekali tak menggubris tatapan aneh tersebut. Biarkan saja mereka menatapnya kesal toh dia hanya ingin meluapkan kebahagiaannya karena sahabat sejatinya tengah mengandung.
"Gue doain, semoga lo dan anak-anak lo sehat selalu dan semua berjalan lancar sampai proses persalinan nanti. Dan ... semoga anak-anak lo jadi anak soleh dan solehah." Lulu memanjatkan doa terbaik bagi Queensha serta si kembar, yang di-aamini Queensha.
Keduanya pun mulai berbincang mengenai masalah lain. Hingga Lulu tiba-tiba teringat akan Leon.
"Oh iya, malam minggu kemarin gue jalan sama Leon. Lo kenapa enggak kasih tahu gue kalau Leon mau ngajakin gue jalan? Biasanya kalau ada apa-apa lo selalu bilang ke gue. Apa karena sibuk ngurusin ayang mbeb sampai lupa ngelupain gue?" tanya Lulu tiba-tiba.
"Maksud kamu? Aku tidak paham, Lu," balas Queensha. Lulu pun menatap Queensha dengan tatapan penuh selidik. Dia mencoba mencari kebenaran dari tatapan Queensha.
Dalam hati Lulu memekik karena dirinya baru sadar jika mungkin saja semua itu hanya akal-akalan Leon yang mengajak dirinya pergi. Sementara itu, Queensha segera memasang wajah imutnya. Kini dia punya celah untuk menggoda sang sahabat.
"Ooh, jadi malam mingguan kemarin kalian pergi berkencan. Katanya enggak suka, kok, terima ajakannya begitu saja. Apa jangan-jangan di belakangku dan Mas Ghani kalian sudah resmi pacaran. Iya? Ehm, sepertinya aku mesti menyiapkan kado spesial nih untuk sahabat terbaikku ini." Kedua alis Queensha turun dan naik. Kapan lagi punya kesempatan untuk menggoda sahabatnya itu.
"Tampaknya Mas Leon suka tuh sama kamu, Lu. Buktinya dia mengobral namaku dan Mas Ghani demi ngajak kamu hang out," sambung Queensha.
Queensha semakin semangat untuk menggoda Lulu saat melihat wajah Lulu yang memerah menahan malu. Meski begitu, Lulu tetap mencoba untuk bersikap biasa saja. "Iih, apaan, sih. Enggaklah, mana mungkin kita jadian. Leon bukan tipe gue, Sha. Ditambah tentang masa lalu gue, gue jadi mikir seribu kali untuk serius sama seseorang."
Merasakan dorongan kuat membuat Lulu bangkit berdiri dari kursi. "Sha, gue kebelet banget, nih. Gue ke toilet sebentar. Kalau misalkan makanan udah datang, lo langsung makan aja enggak apa. Kasihan calon keponakan gue nanti kelaparan."
Namun, bukannya percaya, Queensha malah semakin menggoda Lulu. Ibu hamil itu tersenyum senang saat berhasil membuat sahabatnya malu karena godaan yang diberikannya.
"Alasan. Bilang saja kamu mau menghindar karena takut aku introgasi."
__ADS_1
Lulu sendiri segera pergi meninggalkan mejanya. Dia sama sekali tidak memedulikan suara Queensha yang terus mengejek dirinya. Dia sudah tidak lagi bisa menahan hajatnya sehingga memaksa dia untuk segera ke toilet sekarang juga.
Meski begitu, Lulu tidak dapat memungkiri jika dia merasa apa yang dikatakan Queensha ada benarnya. Karena menurut gadis itu, sangat tidak mungkin bila Leon mengajak dirinya pergi jalan-jalan di malam minggu jika laki-laki itu tidak memiliki perasaan padanya.
"Jangan mikir yang macam-macam, Lu!" Lulu tidak ingin terlalu memikirkan hal lain sebab bagaimanapun keduanya baru saja dekat. Walaupun sudah saling mengenal dan pernah bertemu beberapa kali, tetapi rasanya mustahil jika mereka berpacaran. Terlebih dengan masa lalunya yang kelam, mana ada pria yang mau menjalin kasih dengan wanita yang pernah dijamah seseorang.
"Gue mesti balik sekarang. Queensha pasti nungguin gue, nih."
Keluar dari toilet, Lulu segera berjalan untuk kembali ke mejanya dan Queensha. Namun, secara tidak sengaja dia malah bertemu dengan mantan pacarnya. Laki-laki yang bernama Andri itu berdiri tidak jauh dari tempatnya kini berada.
Netra Lulu membelalak sempurna saat melihat itu. Tubuhnya seketika menegang. Rasa takut menyelimuti diri. Sungguh, Lulu tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan laki-laki berengsek itu sekarang.
Laki-laki berengsek yang sudah melecehkan dirinya empat tahun silam. Semua kepingan kejadian masih terekam jelas seperti film yang berputar berulang kali.
Lulu berulang kali menarik dan mengembuskan napasnya panjang. Sebisa mungkin dia mencoba menahan diri untuk tetap bersikap tenang dan tidak melakukan hal konyol di tempat umum. "Rileks, Lu. Lo pasti bisa!"
Namun, semakin Lulu berusaha bersikap tenang, rasa takut semakin gencar datang menghampiri hingga membuat gadis itu ketakutan setengah mati. Tubuh mendadak gemetar hebat dan wajahnya pun berubah pias.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang? Gue takut jika dia kembali melakukan hal buruk itu ke gue," ujar Lulu sambil menggelengkan kepala ke sana kemari. Air matanya bahkan sudah merebak dan akan mengalir deras bila saja dirinya berkedip sekarang.
Lagi-lagi Lulu tidak ingin terlihat lemah di depan Andri karena laki-laki itu pasti akan semakin berani padanya nanti.
Di sisi lain, Andri tersenyum smirk saat netranya menangkap sosok wanita cantik yang merupakan mantan kekasihnya itu. Dia pun berniat untuk mendekat ke arah Lulu sekarang.
"Gue enggak nyangka akan ketemu lo di sini. Terakhir kali kita ketemu empat tahun lalu. Dan ... penampilan lo semakin seksi dan menggoda iman gue, Lu. Rasanya ... gue pingin menghentakkan adik kecil gue di lorong sempit milik lo." Andri menyeringai sambil menatap penuh napsu ke arah Lulu.
Andri semakin melangkah ke arah tempat Lulu berada. Hal itu semakin menambah ketakutan Lulu. Dalam hati, Lulu tidak henti berdoa meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa.
"Kali ini enggak akan gue biarin lo kabur, Lu," kata Andri sambil tersenyum miring.
Hanya berjarak sekitar dua meter lagi Andri berhasil menjamah tubuhnya. Namun, tiba-tiba suara lolong kesakitan menggema di telinga Lulu. Sontak mata gadis itu terbelalak saat melihat tubuh Andri tersungkur ke lantai dengan tubuh yang terus dihajar dengan cara membabi-buta.
...***...
__ADS_1