Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Positif?


__ADS_3

“Queensha mana, Bik?” Tepat pintu terbuka, bukan sang istri yang menyambutnya seperti biasa, melainkan bik Anah, asisten rumah tangga. Membuat Ghani bertanya-tanya dengan kening mengerut dalam sebab dia pikir jika istrinya sudah melupakan kejadian tadi siang.


“Baru saja masuk kamar. Tadi habis ngelonin Neng Rora, Mbak Queensha ke kamar utama. Apa Pak Ghani butuh sesuatu sebelum saya pulang ke rumah?” tanya Bik Anah. Wanita setengah baya itu akan datang tepat pukul delapan pagi dan pulang pukul delapan malam. Berhubung tempat tinggalnya tidak jauh dari lokasi apartemen Queensha, dia minta pulang pergi saja demi kenyamanan kedua belah pihak.


"Tidak ada, Bik. Bibik bisa pulang sekarang. Untuk uang transport, nanti saya transfer sekaligus selama satu bulan mendatang."


Bik Anah tersenyum lebar. Dia amat bahagia karena punya majikan loyal, tidak pelit dan perhitungan seperti Ghani, yang selalu memberi rezeki lebih kepadanya. Meskipun baru hitungan hari, tetapi dia diperlakukan baik oleh Ghani dan Queensha.


"Baik, Pak. Terima kasih sudah mau transfer ongkos transport ke rekening saya. Kalau memang Pak Ghani tidak butuh apa-apa, saya pamit undur diri dari hadapan Bapak. Mari." Kepala menunduk hormat, kemudian berlalu dari hadapan Ghani.


Ghani menarik napas dalam-dalam setelah melepaskan sepatu dan menaruh tas kerjanya di meja. Dia berjalan menuju kamar utama, di mana Queensha berada. Akan tetapi, ketika membuka kenop pintu, dia mendapati jika penghubung tersebut terkunci dari dalam.


“Sayang, ini aku. Buka pintunya, dong. Aku mau mandi dan ganti baju. Badanku lengket sekali rasanya,” kata Ghani sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar beberapa kali. Namun, tak ada respon apa pun dari Queensha. Knop pintu masih dalam keadaan terkunci.


Ghani tak pantang menyerah, dia kembali mengetuk pintu dan meninggikan nada suaranya. “Sayang, apa kamu mendengarku? Ayo, buka pintunya.” Dengan tangan mengetuk pintu tanpa lelah, Ghani tetap memanggil nama istrinya.


Beberapa detik berusaha, tidak ada jawaban pula. Membuatnya menghela napas panjang dan kembali menuju ke ruang tamu. Ghani melepas kemeja yang melekat pada tubuhnya lalu berjalan menuju ke ruangan sebelah dapur, di mana tempat pakaian kering yang habis dicuci berada. Ghani mengambil kaos putih polos serta celana olahraga panjang dan masuk ke dalam kamar mandi dapur.


Diam-diam, Queensha keluar dari kamar, dia mengendap-endap dan menguping ke arah kamar mandi dapur untuk mendengar suara Ghani. Wajahnya masih tersirat kekesalan bercampur dengan gairah yang tak juga padam.


“Aih, aku kenapa sih? Lihat Mas Ghani langsung membuat napsuku bertambah. Seperti binatang buas saja, kamu, Sha!” gumam Queensha heran sambil mengacak-acak rambutnya kesal. Dia berdiam diri depan pintu kamar mandi membuat ia tidak sadar jika keran air sudah berhenti.


"Gawat, Mas Ghani sudah selesai mandi. Aku harus kabur dari sini sebelum ketahuan!" Dengan berlari cepat, Queensha kembali masuk ke dalam kamar.


Ghani keluar kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap. Dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. “Sayang, sudah malam, buka dong pintunya,” teriak Ghani sambil berjalan menuju pintu kamar. Dia mengetuk-ngetuk beberapa kali.


Suara pintu diputar membuatnya bersemangat. Perlahan-lahan, daun pintu tersebut terbuka. Ghani berharap besar jika dia diperbolehkan masuk, tetapi lagi-lagi angannya diputuskan begitu saja ketika wajah tampan itu tertutupi bantal dan juga selimut.


“Mas Ghani tidak perlu masuk kamar, ke kamar tamu saja sana! Malam ini, aku tidak mau tidur satu ranjang dengan kamu!" Berkata dengan ketus membuat Ghani tercengang dibuatnya.


Belum sempat Ghani menjawab, pintu sudah kembali ditutup. “Astaga, Sayang. Kamu benar mau aku tidur di kamar tamu? Tidak mau aku peluk dulu sebelum tidur, hem?” tanya Ghani benar-benar meyakinkan.


Sejenak, tidak ada jawaban membuatnya memilih mengalah dan berjalan ke kamar tamu. Ghani berpikir jika Queensha butuh waktu sendiri dan dia akan membujuk besok pagi saja.


"Udahlah, mungkin dia betulan kepingin sendiri. Lagian ini emang salah gue. Seharusnya tadi nerima aja ajakan dia untuk bercinta di rumah sakit. Lagi pula, kalau dia yang ngajak paling cuma sebentar, enggak sampai 20 menit, udah kelar. Bodoh, lo, Ghan!" omelnya pada diri sendiri. Kini menyesal karena telah menolak ajakan istri tercinta. Kalau tahu begini, dia pasti menuruti apa yang diinginkan sang istri.

__ADS_1


Tanpa tahu, jika di dalam kamar utama, di mana Queensha berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah.


“Dasar laki-laki tidak peka! Bujuk kek! Atau, alah. Mas Ghani malah pasrah dan benar-benar tidur di kamar tamu.” Sembari berjalan mondar-mandir, Queensha menggerutu dengan kesal. Dia memang sengaja memerintah Ghani supaya pergi dari kamar bertujuan supaya pria itu membujuk dia dan meminta maaf. Tapi ... kini dia tinggal seorang diri di kamar luas tersebut.


Membuat otaknya memikirkan hal lain, sehingga Queensha hanya bisa berpikir negatif akan dugaan-dugaan dari Ghani yang tidak membujuknya. Kedua mata Queensha berkaca-kaca. “Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan.”


Kemudian, Queensha bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar tamu. Tanpa mengetuk ataupun memanggil, Queensha segera masuk. Perilakunya membuat Ghani yang baru memejamkan mata pun berjingkat terkejut.


“Sayang!" Wajah lelah Ghani berubah menjadi berseri-seri melihat kehadiran Queensha. Dia bergegas mendekat dan semakin heran karena kenyataannya, wanita itu tengah menangis saat ini.


“Jangan tinggalin aku!” Dengan air mata terus menetes, Queensha berkata lirih.


Kedua alis Ghani terangkat dengan kening berkerut. “Maksudmu apa? Siapa yang mau ninggalin kamu, hem?” sahutnya bingung.


Bukannya menjawab, Queensha memeluk tubuh Ghani erat. Tak hanya itu, tangan dia meraba-raba punggung pria di dalam pelukannya begitu ringan. “Kamulah, memangnya siapa lagi. Aku tidak mau kamu pergi dari aku, Mas," ucap Queensha di sela isak tangis.


Ghani tersenyum samar melihat tingkah Queensha seperti Aurora yang jika dimarahi akan merajuk. "Bodoh! Mana mungkin aku meninggalkan istriku yang cantik dan baik hati ini. Rugi kalau aku melepaskan bidadari macam kamu, Sayang. Sudah, jangan menangis lagi, ya?" bujuk pria itu.


Pundak yang bergerak turun naik dan suara isakan tak lagi terdengar, menandakan bahwa usaha Ghani tidak sia-sia. Queensha mengurai pelukan, dia menatap wajah suaminya dengan tatapan mendamba.


“Ya. K-kenapa, Sayang?” Kepala Ghani sedikit menjauh dari Queensha ketika merasakan dirinya merinding mendengar bisikan itu.


“Aku mau minta sesuatu padamu. Bisa tokong kabulkan?” Sembari mendekatkan wajahnya ke arah leher Ghani, suara bisikan Queensha kembali menggema.


Saat kepala Ghani baru saja mengangguk setuju, tangan Queensha segera meraih wajah pria itu supaya menghadapnya. Lantas, dia menempelkan bibir mereka dengan begitu agresif memulai pergulatan panas tersebut. Keduanya saling berbelit lidah selama beberapa menit, sampai merasa kekurangan pasokan oksigen, barulah ciuman itu terhenti.


“Kamu lagi mau, ya?” bisik Ghani dengan napas terengah-engah.


Queensha mengangguk dengan tatapan sayu. Melihat ekspresi sang istri, menyulut gairah di dalam tubuh Ghani. Dia kembali mengecup bibir Queensha kembali sembari membawa tubuhnya ke atas kasur.


“Let's make love, Baby!" ajak Ghani sambil merebahkan tubuh istrinya di atas pembaringan.


Malam itu, Ghani kembali menjamah Queensha. Entah mengapa pergulatan mereka malam ini terasa begitu berbeda. Queensha semakin mahir dalam memuaskan Ghani hingga membuat pria berhidung mancung dan bermata sipit itu kewalahan melayani napsu istrinya.


Queensha meliuk, memaju mundurkan tubuhnya yang sintal dengan puncak berwarna merah muda bergelantung ke mana-mana di atas tubuh sang suami. Belum lagi suara desahaan, racauan, serta jeritan kenikmatan wanita itu semakin membuat Ghani takjub akan sisi liar istrinya.

__ADS_1


"Go faster, Baby!" seru Ghani memberi semangat saat mengetahui kalau sebentar lagi dia akan segera mencapai kl*maks.


"Tentu saja, Kokoku sayang. Bersiaplah karena aku akan menaikkan kecepatannya." Tanpa menunggu lama, Queensha betulan menaikan tempo permainan mereka. Saking cepatnya hingga Ghani tak dapat menahan diri untuk tidak mengumpat kasar, merasakan inti tubuhnya dicengkeram erat oleh rongga sempit di bawah sana.


"Fucck! Aku ... mau ... Aah!" Suara lolongan Ghani terdengar begitu kencang, menandakan bahwa dia telah mencapai puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan.


***


“Lo benar-benar baru datang, Ghan? Sengaja telat atau apa, sih?” Leon menegur Ghani yang baru memasuki ruangan. Pasalnya, saat ini sudah jam 10 pagi, dan dia telah menunggu pria itu sejak jam 8.


Ghani mendengkus kasar sambil duduk di kursi kebesarannya. “Pusing gue sama Queensha,” keluhnya.


“Lah, kenapa? Kalian berantem, Bro?” tanya Leon dengan heran. Yang dia tahu jika pasangan satu ini selalu adem ayem dan begitu romantis satu sama lain.


“Iya. Semalem Queensha uring-uringan lagi, tapi enggak berlangsung lama karena dia sendiri yang baikin gue. Namun, tetep aja bikin kepala gue pening sendiri” Kemudian, meluncurlah cerita yang telah dia alami kemarin. Di mana perubahan moody Queensha yang dari ceria ke marah sampai berakhir manja dalam beberapa waktu. Tentu saja, dia tidak memberitahukan alasan perubahan suasana hati sang istri juga kegiatan malam mereka.


“Ada satu sih yang ada diotak gue saat ini,” kata Leon sambil berpikir keras.


“Apa itu?” tanya Ghani bersemangat.


“Jangan-jangan bini lo hamil, Ghan. Bumil kalau lagi hamidun, biasanya mood akan berubah-ubah. Dari biasa aja jadi luar biasa sampai lo yang waras jadi sinting seperti sekarang.” Seraya berdiri dari duduknya, Leon menceletuk asal.


“Tapi, coba saja lo tanya dan cek lebih dulu, siapa tahu dugaan gue salah. Dah, ya, gue pamit dulu. Itu berkas yang harus lo lihat ada di atas meja.”


Kepergian Leon membuat banyak pikiran Ghani bercabang. Dia lantas mengingat-ingat kapan terakhir Queensha mendapat tamu bulanan. Namun, dia lupa akan siklus menstruasi sang istri.


“Benar juga, gue tiap hari tidur sama Queensha dan sampai enggak sadar dengan keluhan dia yang selalu bilang mudah capek dan kepala pusing. Tapi, kenapa gue enggak peka kalau dia hamil, ya?” gumam Ghani pada diri sendiri.


Lantas, Ghani mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia segera mengirimkan pesan kepada Queensha. [Sayang, aku mau tanya. Terakhir kali kamu mens, kapan?]


Di apartemen, Queensha menegang setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Ghani. Kedua matanya membeliak saat otaknya berputar mencari jawaban itu.


“Aduh, kapan, ya?” tanyanya panik sendiri. Queensha segera menuju ke kalender, dia biasa membulatkan tanggal di mana dia mendapatkan datang bulan. Tangannya membalik-balik halaman kalender dengan cepat.


Namun, dia tidak melihat coretan apa pun sejak dua bulan lalu. “Kenapa aku sampai tidak sadar kalau sudah telat 2 bulan!” rutuknya pada diri sendiri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2