Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Penculikan


__ADS_3

Demi berjalannya rencana yang telah disusun rapi oleh Mia, Lita mengerahkan kemampuan yang dimiliki untuk mengelabui security yang sedang bertugas saat itu. Dengan langkah anggun dan seulas senyuman di bibir, dia berjalan mendekati pos keamanan.


"Permisi, Pak. Apa Bapak tahu alamat ini?" Suara merdu yang dibuat semendayu mungkin berhasil mengalihkan perhatian security berseragam navy dari layar monitor yang menampilkan tangkapan kamera CCTV di setiap sudut bangunan sekolah.


Pria yang diketahui bernama Ahmad terdiam beberapa saat. Dia tengah berpikir keras, kenapa di zaman serba canggih ini masih saja ada orang yang menanyakan alamat kepada orang lain. Tidakkah orang itu tahu jika setiap smartphone mempunyai aplikasi google maps yang berguna untuk mencari alamat seseorang. Lantas kenapa gadis cantik di seberang sana tidak memanfaatkan aplikasi itu?


Tak ingin berburuk sangka kepada seseorang, Ahmad menerima secarik kertas yang disodorkan Lita. "Oh, kalau ini lokasinya ada di depan pertigaan sana, Mbak. Yah, sekitar tiga kiloanlah dari sini."


"Bagaimana, Pak? Saya masih kurang jelas. Bisa tidak Bapak tunjukan petunjuk jalannya pada saya? Kebetulan ini merupakan pertama kalinya saya ke Jakarta, jadi masih binggung harus ke arah mana agar bisa sampai tujuan." Lita memasang wajah polosnya demi mengalihkan perhatian Ahmad.

__ADS_1


Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Ahmad keluar dari pos penjagaan. Kemudian menghampiri Lita dan menjelaskan ke mana gadis itu harus melangkah.


Mia, yang sudah bersiaga bergegas memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Aurora dan membawa si kecil pergi dari gedung sekolah tanpa diketahui oleh siapa pun.


"Sayang, lagi nungguin Mama Queensha, ya?" ujar Mia basa basi. Wanita paruh baya itu memasang wajah semanis mungkin di hadapan Aurora.


Atensi Aurora segera teralihkan pada sosok wanita berpenampilan modis di seberang sana. "Tante siapa? Kok bisa tahu nama Mamanya Rora?" tanya gadis itu polos.


Aurora mengamati foto itu dengan seksama. "Nenek? Bukannya Mamanya Mama Queensha udah berada di surga? Kemarin Mama bilang begitu sama Rora. Mama nasihatin Rora, biar rajin solat biar bisa mendoakan Nenek Mei Ling dan Kakek Firdaus di surga sana. Biar disayang Allah juga, Tante."

__ADS_1


'Sialan. Rupanya anak ini enggak mudah ditipu. Sebaiknya aku cari cara lain sebelum ada orang memergokiku membawa bocah sialan ini,' ucap Mia dalam hati.


"Oh itu. Memang benar, Mamanya Mama Queensha udah ada di surga. Nah, waktu Mamanya Mama Queensha meninggal, nenek nikah dengan Kakek Gunawan. Jadi, nenek adalah nenekmu juga."


Mia mengayunkan kakinya yang jenjang mendekati bangku taman terbuat dari kayu. "Yuk ikut nenek! Nenek ajak kamu ketemu Mama. Kebetulan tadi Mama minta nenek untuk jemput kamu. Katanya Mama ada urusan mendadak jadi enggak bisa jemput." Wanita itu menyodorkan tangannya ke hadapan Aurora, berharap gadis kecil bermata bulat menerima uluran tangannya.


"Ikut sama Nenek? Ke mana?" tanya Aurora dengan mengerjapkan mata.


"Iya, ikut nenek. Kita ketemuan sama Mama. Ayo, nenek anterin!" Mia masih menyunggingkan senyuman di bibir.

__ADS_1


Aurora yang belum mengetahui jika Mia berniat jahat padanya langsung menyambut uluran tangan wanita paruh baya itu. "Oke deh, Rora akan ikut dengan Nenek. Rora juga udah bosan nunggu di sini." Lantas, tubuh itu merosot dari kursi dan mendongakan kepala demi melihat wajah Mia. "Ayo, Nek, ajak Rora ketemu Mama."


...***...


__ADS_2