
'Gila, calon bini gue cantik bener kagak kalah cantik dari artis sinetron tanah air yang sering wara wiri di TV. Duh, kalau begini ceritanya rencana pernikahan mesti diadakan sesegera mungkin. Kalau perlu satu minggu dari sekarang biar gue bisa miliki Lulu secepatnya. Sumpah, gue udah kagak sabar kepingin sayang-sayangan sama Lulu tanpa ada rasa takut kena tegur orang sekampung,' batin Leon. Matanya tak berkedip sama sekali dari sosok gadis yang baru saja duduk di seberangnya.
Malam ini, Lulu mengenakan kebaya biru navy dengan payet swarovski putih dipadu kain batik motif persis seperti yang dikenakan batik lengan panjang milik Leon. Wajahnya yang cantik dipoles make up flawless. Blush on dan warna lisptik merah muda membuat sang calon pengantin terkesan begitu feminim.
Gerak gerik Leon tertangkap ekor mata Ghani. Mengetahui ada peluang untuk membalas perbuatan sahabatnya, ayah satu orang anak mengeluarkan sapu tangan dari saku celana kemudian menempelkannya di pinggiran bibir Leon seolah tengah mengusut sesuatu yang keluar dari bibir sahabatnya itu.
"Mingkem, Yon. Lihat nih, air liur lo banyak banget yang keluar."
Refleks Leon mengangkat tangannya ke atas, menempelkannya di pinggir bibir dan mengusut air saliva yang konon katanya mengalir di sudut bibir. Berkali-kali melakukan gerakan yang sama, tetapi tak ada cairan apa pun di sana hingga dia suara kekehan pelan terdengar membuat dokter tampan sadar bahwa dirinya tengah dikerjai Ghani.
"Sialan! Lo ngerjain gue mulu, Ghan. Kayaknya hidup lo enggak tenang kalau enggak ngerjain gue!" sungut Leon sambil menyenggol lengan Ghani menggunakan ujung siku. Dia kesal karena Ghani selalu saja mengerjainnya, padahal dirinya tengah gugup dan jantungnya pun deg-degan tidak menentu.
Bu Ayu dan pak Imran menggelengkan kepala, melihat tingkah absurd kedua lelaki dewasa di sebelahnya. Sudah berumur kepala tiga, tetapi kelakuan seperti anak-anak.
"Lagian, ngapain lo ngelihatin Lulu sedemikian rupa. Enggak baik kalau terlalu memandangi lawan jenis, bisa zina mata loh. Boleh kagum, asal jangan sampe otak lo berpikiran macam-macam. Karena bagaimanapun, lo dan Lulu belum halal, masih harus jaga diri jangan sampe terjerumus godaan setan."
"Kalau udah sampe termakan bujuk rayu setan, lo bakalan nyesel seumur hidup, Yon. Nih, gue buktinya. Selama bertahun-tahun nanggung beban di pundak karena udah ngelanggar larangan yang ditetapkan Tuhan. Surga dunia emang enak, tapi ada pertanggung jawaban yang mesti dilakuin di hadapan Tuhan."
Tanpa ragu Ghani menasihati Leon. Dia menceritakan bagaimana rasa bersalah itu hadir dalam dirinya. Zina, menegak minuman beralkohol merupakan larangan dalam agama yang dianutnya sejak kecil dan dia justru melakukan itu semua.
Kilatan emosi yang tadi sempat terpancar dari bola mata Leon, perlahan meredup seiring raut wajah penuh penyesalan terlukis di wajah Ghani. Dia dapat memaklumi mengapa Ghani selalu saja menasihatinya.
"Iya, gue enggak akan ngelakuin kesalahan yang pernah lo perbuat."
__ADS_1
MC membuka acara diawali dengan pembacaan doa, agar acara malam hari ini dapat berjalan lancar sesuai harapan semua orang. Lalu disusul sambutan dari pak Idris selaku pemangku hajat kemudian penyampaian tujuan kedatangan pihak Leon dan keluarga datang ke kediaman orang tua Lulu.
"Assalamu a'laikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam semua. Sebelumnya, perkenalkan saya Ali Imran--ayah dari Leon, pacarnya Nak Lulu. Kedatangan saya beserta keluarga ke sini karena ingin meminang Nak Lulu untuk jadi istrinya putera lelaki kami, Leon. Apa ... kedua orang tuanya Nak Lulu bersedia menerima pinangan putera kami?" kata Pak Imran menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya. Tak ada keraguan ataupun rasa gugup dalam diri pria itu sebab sudah terbiasa berbicara di depan umum ketika sedang mengajar para mahasiswanya di kampus.
Setiap kata yang terucap terdengar jelas di indera pendengaran semua orang membuat gemuruh kencang di dada Lulu semakin menjadi-jadi. Gadis muda itu mencengkeram erat telapak tangan yang diletakkan di atas pangkuan.
Melalui pengeras suara pak Idris menjawab, "Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih saya ucapkan kepada Pak Imran beserta keluarga yang bersedia datang berkunjung ke gubuk reyot kami. Saya dan keluarga merasa tersanjung." Melirik sebentar kepada sang istri. Bu Ayu memberi senyuman manis kepada calon besannya itu.
"Untuk masalah pinangan yang ditujukan kepada Lulu, saya sebagai orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada putri semata wayang kami, apakah bersedia atau tidak sebab dialah yang kelak menjalankan pernikahan tersebut. Saya hanya memberi restu saja pada putri kami ini."
Lalu pak Idris mengalihkan perhatian pada anak gadisnya yang tengah duduk di sebelahnya. Kepala gadis itu tertunduk ke bawah. Kedua tangan saling mencengkeram satu sama lain, keringat dingin pun kembali bermunculan di keningnya.
"Lu, bagaimana apa kamu bersedia menerima pinangan Nak Leon?" Suara bariton pak Idris terdengar bergetar, menahan gejolak asa dalam dada. Sebagai seorang ayah, tentu dia bahagia akhirnya anak yang dibesarkan dengan susah payah dapat menemukan kebahagiaannya. Namun, di satu sisi pak Idris bersedih karena sebentar lagi dia berpisah dengan anak satu-satunya itu.
Bu Fatimah menggenggam erat telapak tangan suaminya tercinta, mencoba menguatkan pak Idris untuk tidak menangis di malam bahagia ini.
Lulu mendongakkan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajahnya yang cantik terlihat oleh semua orang.
Ada rasa sedih ketika matanya yang bundar tanpa sengaja melihat bola mata sang bapak yang mulai memerah. Bibir Lulu bergetar, dia pun merasakan kesedihan yang teramat mendalam menghantam jiwanya yang terdalam. Sejak kecil dia mendapat limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, lalu saat dewasa dia malah meninggalkan mereka.
Suasana tiba-tiba hening. Tak ada yang berani berkata-kata. Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas.
Tak mendapat respon dari pihak perempuan, sang MC berkata, "Neng Lulu, bagaimana. Apa Neng menerima lamarannya Pak Dokter Tampan?"
__ADS_1
Leon jadi tegang, menunggu jawaban apa yang akan disampaikan Lulu. Walaupun tahu perasaan Lulu yang sebenarnya, tetapi bisa saja Neko chan-nya itu berubah pikiran dan menolak pinangannya.
'Please say yes, Lu. Gue mohon, lo bilang 'ya' dan mau jadi bini gue.'
Menelan saliva susah payah, mencoba membasahi kerongkongan yang terasa kering. Kemudian Lulu menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang bapak. "Dengan mengucap bismillah, saya Lulu Humairah bersedia menerima pinangan Mas Leon. Saya mau jadi istri dan ibu bagi anak-anaknya Mas Leon nanti."
Suara lantang Lulu menggema melalui pengeras suara membuat semua orang yang ada di ruangan mengucap syukur alhamdulillah sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. Dua wanita paruh baya ditambah satu orang wanita muda tanpa terasa menitikkan air mata melihat momen bahagia ini. Bu Fatimah, bu Ayu, dan Queensha larut dalam suasana bahagia.
Ya, meskipun Queensha tak bisa hadir pada prosesi lamaran sahabatnya, tetapi Ghani mencari alternatif lain dengan cara melakukan video call agar istrinya melihat langsung bagaimana acara lamaran pada malam hari ini.
"Alhamdulillah, akhirnya sahabatku sebentar lagi menikah. Terima kasih, Tuhan." Queensha berucap, disela tangis bahagianya.
Sama seperti Queensha, bu Fatimah dan bu Ayu pun tak kalah bahagianya. Akhirnya putera putri mereka akan melangkah bersama ke pelaminan. Tinggal menunggu waktu maka keduanya resmi menjadi besan.
"Alhamdulillah. Akhirnya lamaran gue diterima. Terima kasih, Tuhan." Leon menengadahkan telapak tangan ke atas, kemudian menyapukannya ke wajah.
Ghani menyenggol bahu Leon hingga tubuh gagah itu bergerak ke kanan. "Cie, bentar lagi nikah. Congrats, bentar lagi lo sold out sama seperti gue, Shaka, dan Zavier."
Leon hanya tersenyum simpul. Namun, hatinya berbunga-bunga bagai bunga sakura bermekaran di musim semi.
Prosesi lamaran masih berlangsung. Leon dan Lulu saling menyematkan cincin di jemari manis masing-masing. Kemudian berlanjut pada sesi penentuan tanggal pernikahan.
Kedua keluarga sepakat, pernikahan antara Lulu dan Leon diselenggarakan tiga bulan dari sekarang. Resepsi pernikahan akan diadakan di dua tempat. Satu di kampung halaman Lulu di Jawa Barat, dan satu lagi di Jakarta.
__ADS_1
...***...