
"Kenapa datang ke sini tidak memberitahu saya terlebih dulu? Bagaimana jika tadi mereka menyakitimu? Apa yang harus saya katakan pada Bunda jika dia tahu menantu kesayangannya celaka," kata Ghani sambil merapikan tumpukan buku di atas meja.
Ruangan itu terlihat berantakan karena semalam dia tidak sempat merapikannya. Sehabis melakukan tindakan operasi dia tertidur hingga mentari kembali bersinar. Usai terbangun dari tidurnya, dia bergegas mengerjakan pekerjaannya yang lain sehingga tak mempunyai waktu untuk meminta OB merapikan ruangannya itu.
Queensha memutar bola mata malas. Ada perasaan kesal karena Ghani seolah menganggap status mereka masih suami istri, padahal sudah beberapa waktu lalu pria berwajah oriental itu menjatuhkan talak padanya.
"Awalnya aku ingin memberitahumu, tapi dicegah Rora. Katanya ingin memberi kejutan kepada papanya. Benar begitu, Nak?" jawab Queensha. Menoleh ke samping di mana putrinya duduk.
Dengan sedikit ragu Aurora menjawab, "Benar. Rora yang meminta Mama untuk tidak memberitahu Papa." Tubuh gadis itu masih gemetaran akibat kejadian beberapa menit yang lalu. Ini kali pertama Aurora melihat papanya marah besar jadi sangat wajar jika dia ketakutan setengah mati.
Ghani yang sadar akan perubahan sikap Aurora segera mendekati putrinya itu, meletakkan kedua lutut di lantai mencoba menyentuh pucuk kepala anak tercinta. Akan tetapi, gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh Queensha.
Sontak Ghani membelalakan mata, cukup terkejut ketika Aurora menjauhinya, padahal biasanya gadis kecil bermata bulat itu selalu ingin berada di dekatnya. Namun, kenapa kali ini berbeda? Mungkinkah kejadian tadi menimbulkan trauma tersendiri bagi anak tercinta?
Ghani beradu pandang dengan Queensha. Keduanya seakan tengah berkomunikasi lewat tatapan mata.
Queensha menyelipkan anak rambut di belakang telinga lalu mengelus pipi chubby anak tersayang. "Rora kenapa, Sayang, kok menghindar saat mau disentuh Papa? Apa Papa melakukan kesalahan sehingga Rora menjauhi Papa?" katanya dengan lemah lembut.
Di balik tubuh Queensha, tubuhnya gemetar. Aurora khawatir jika Ghani akan memarahinya sama seperti yang dilakukan sang papa kepada keenam perawat tadi.
"Mama ... Rora ... takut dimarahi Papa."
__ADS_1
"Jangan takut, Sayang. Papa tidak mungkin memarahimu. Papa 'kan sayang sekali sama kamu."
"Apa yang dikatakan Mama benar, Nak. Rora anak papa, jadi mana mungkin papa tega memarahimu." Ghani ikut membuka suara karena tidak mau jika Aurora menghindarinya selamanya. Bisa mati penasaran kalau sampai itu terjadi.
"Tapi tadi buktinya Papa marahin Tante Perawat. Kalau sudah marahin Tante Perawat, Papa pasti marahin Rora seperti Nenek Mia dan Tante Lita, iya 'kan? Setelah marah, Papa akan mencubit Rora sampai Rora menangis kesakitan." Saking ketakutannya, suaranya terdengar gemetar dan sangat memilukan.
Queensha menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan, mendekapnya dengan erat. "Tidak, Sayang. Papa Ghani tidak mungkin memarahimu apalagi mencubitmu seperti kedua wanita jahat itu. Papa dan mama sayang sekali sama kamu. Jadi, jangan takut lagi, oke?"
Aurora melingkarkan lengan di tubuh Queensha. Dia percaya akan ucapan sang mama. Selama ini, Ghani memang selalu bersikap lembut kepadnya. Jangankan mencubit, meninggikan suaranya saja di depan Aurora tidak pernah.
Queensha mencium puncak kepala Aurora yang menguarkan aroma shampo bayi. Rasa sayangnya kepada Aurora melebihi apa pun di dunia ini, bahkan sebelum mengetahui jika Aurora adalah putrinya, dia tulus menyayangi dan mencintai gadis kecil itu.
"Maafin papa, Sayang. Papa janji tidak akan marah lagi di depanmu. Ini pertama dan terakhir kalinya Papa marah-marah di depanmu. Rora ... mau 'kan maafin papa?" tanya Ghani penuh harap-harap cemas.
Ghani tidak langsung menjawab, pria itu justru menyodorkan jari kelingking. Menggerakan ujung dagunya ke arah Aurora, meminta putrinya itu melakukan janji kelingking yang sering mereka ikrarkan bersama.
Aurora mendongakan kepala, meminta persetujuan Queensha terlebih dulu. Queensha menganggukan lemah seraya tersenyum lebar kepada anaknya. Maka detik itu juga sepasang ayah dan anak melakukan janji kelingking di hadapan Queensha sebagai saksinya.
***
"Papa, besok sekolahku libur bagaimana kalau kita liburan ke Bogor? Rora ingin pergi ke Puncak bersama Papa dan Mama. Pasti seru karena bisa berlibur bersama," cetus Aurora di sela kegiatannya menyantap pangsit rebus buatan Tina. Pipinya yang chubby semakin terlihat berisi saat mengunyah makanan olahan berisi daging ayam.
__ADS_1
"Liburan? Tapi mama tidak bisa, Nak. Mama harus bekerja di restoran. Besok malam minggu dan restoran pasti ramai pengunjung. Kalau mama libur lalu siapa yang akan menggantikan? Mama pasti kena marah karena sering ambil cuti."
Mendengar Queensha menolak ajakannya, Aurora menghentikan sejenak kegiatannya. Menaruh sendok di atas kotak makan berbentuk bulat lalu beringsut mendekati Ghani. Tangannya melingkar di lengan papa tercinta.
"Pa, mama tidak mau ikut berlibur bersama Rora. Ayo dong, Pa, bujuk Mama. Rora ingin sekali berlibur bersama Papa dan Mama," merengek sambil menggerakan lengan Ghani. Sendok yang berisi nasi goreng ikutan bergoyang kala tubuh Aurora menggerakan lengannya.
Ghani menarik napas panjang dan berat. Kalau Aurora sudah merengek begini maka dia tak bisa menolak permintaannya. Sejak dulu hingga sekarang dia paling tidak tega bila melihat sepasang iris coklat itu berkaca-kaca.
Disimpannya sendok tersebut ke atas meja lalu menatap lekat ke arah Queensha. "Hanya satu malam dua hari saja, Sha, apa tidak bisa izin kepada atasanmu? Kasihan Rora ingin sekali berlibur bersama kita."
"Tidak bisa, Mas. Aku sudah terlalu banyak mengambil jatah libur. Mbak Puji pasti marah besar jika tahu aku meminta izin lagi. Bagaimana jika kali ini Mbak Puji memarahiku dan memecatku secara tidak hormat?"
"Ya malah bagus kalau kamu dipecat. Dengan begitu kamu tidak perlu berurusan lagi dengan atasanmu yang menyebalkan itu."
"Mas Ghani! Kalau aku dipecat lalu bagaimana caraku mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku? Mencari pekerjaan zaman sekarang tuh sulit, Mas. Apalagi background pendidikanku yang hanya SMA tidak semua perusahaan mau menerimaku bekerja di sana."
Ghani berdecak kesal dibuatnya. "Kalau dipecat maka aku yang bertanggung jawab menafkahimu. Kamu itu ibu dari anakku jadi tidak mungkin aku membiarkanmu hidup menderita."
"Sudah, pokoknya besok kita bertiga liburan ke Puncak. Aku tidak mau tahu besok pukul enam pagi kamu harus sudah siap di depan indekos. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun. Mengerti?" ucap Ghani tegas tanpa mau diganggu gugat.
Queensha sudah membuka mulut, siap membantah perkataan Ghani. Akan tetapi, melihat ekspresi penuh kegembiraan terpancar jelas di wajah Aurora, dia jadi tidak tega. Lagi dan lagi dia mengalah demi kebahagiaan anak tercinta.
__ADS_1
...***...