Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kenyataan yang Terjadi


__ADS_3

Tubuh Tania membeku saat menyadari pemilik suara itu adalah orang terdekat dalam hidupnya. Jantung berdetak lebih kencang seperti genderam yang ditabuh seseorang. Keringat dingin pun mulai muncul ke permukaan pori-pori kulitnya.


'Ya Tuhan, kenapa Engkau pertemukan aku dengannya sekarang? Kenapa tidak nanti saja, di saat aku sudah memiliki keberanian bertemu dengannya.' Saat ini Queensha memang benar-benar belum siap bertemu dengan siapa pun. Entah itu mertua, adik ipar ataupun ... suaminya sendiri.


Akan tetapi, rupanya takdir berkehendak lain. Walaupun Queensha memohon agar Tuhan tak mempertemukannya dengan mereka, tapi buktinya saat ini dia dipertemukan lagi dengan seorang lelaki yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Masih teringat jelas berapa digit rupiah yang digasak Queensha dari tabungan miliknya membuat pria itu tak lagi mampu membendung amarah dalam diri. Dengan nada tinggi dia kembali berkata, "Queensha, saya tanya sama kamu. Sedang apa di sini?"


Suara berat itu kembali terdengar di indera pendengaran Queensha yang mana semakin membuat wajah wanita itu terlihat semakin pucat. Seketika udara dingin menyentuh permukaan kulit wanita itu.


Bibirnya yang ranum terbuka, bersiap memberi penjelasan pada Ghani. Akan tetapi, wanita yang bekerja di balik meja kerja telah lebih dulu membuka suara.


"Bu Queensha, ini bukti salinan pembayaran atas pasien Anak Aurora Shafiyatunnisa. Tolong disimpan baik-baik sebagai bukti pembayaran." Wanita dalam balutan kemeja batik lengan panjang motif bunga-bunga putih menyodorkan dua lembar kertas ke hadapan Queensha.


Ghani terkejut nama putrinya disebut. Belum usai keterkejutannya akibat ulah Queensha yang mengambil uang tabungan dengan nominal cukup besar, kini dia dikejutkan kembali oleh berita tentang putrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, tadi pagi kondisi Aurora baik-baik saja.


Bahkan gadis kecil penyuka boneka taddy bear masih sempat berlari tatkala Ijah hendak memakaikan kaos kaki kepadanya. Lalu, kenapa dia mendapati kabar bahwa Aurora sedang sakit? Sebenarnya apa yang terjadi pada Aurora? Dan Queensha gunakan untuk apa uang sebesar 100 juta rupiah itu?

__ADS_1


Dalam satu gerakan, Ghani mencengkeram pergelangan tangan Queensha kemudian menarik wanita itu menuju tempat sepi. Dia sudah tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menginterogasi sang istri.


Menghempaskan tangan Queensha saat mereka tiba di lorong sepi menuju toilet khusus bagi pengunjung rumah sakit. "Cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rora bisa dirawat di rumah sakit? Lalu uang sebanyak seratus juta rupiah kamu gunakan untuk apa, Queensha? Apa kamu gunakan uang itu untuk berfoya-foya karena merasa kini dirimu mempunyai kebebasan finansial, iya?" tanya pria itu lantang. Matanya memberikan tatapan membunuh pada istrinya.


"Atau ... kamu gunakan uang itu untuk memperkaya dirimu sendiri karena setelah kita bercerai maka kamu akan kembali miskin seperti sebelumnya."


Menggelengkan kepala, tidak terima atas semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. "Jangan menuduhku seperti ini, Pak Ghani! Aku bukan perempuan serakah seperti yang kamu pikirkan!" Kedua tangan mengepal di samping kanan dan kiri. Napas terengah hebat menahan amarah yang terus bergejolak bagaikan air mendidih di atas kompor.


"Kalau bukan untuk memperkaya dirimu sendiri, lalu untuk apa kamu gunakan uang sebanyak itu? Seratus juta rupiah bukanlah nominal sedikit. Mengerti kamu?"


Sang wanita terdiam sesaat. Memikirkan jawaban tepat agar terhindar dari masalah besar yang ada di depannya. Haruskah mengatakan bahwa uang itu dia gunakan untuk menebus Aurora yang disandera Mia, mama tirinya? Atau dia harus bersilat lidah untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan?


"Saya ... paling tidak suka dibohongi. Jadi, sebaiknya kamu berkata jujur sebelum saya mencari tahu sendiri apa yang terjadi padamu hari ini." Berbisik lirih sambil menghunus tatapan tajam pada wanita di depannya.


Queensha sontak terlihat semakin pucat dan langsung menunduk begitu mendengar suara bernada ancaman. Bagi Ghani, mencari kebenaran tentang apa yang terjadi padanya tadi siang tidaklah sulit. Hanya memerintahkan seseorang maka informasi itu akan datang dengan sendirinya.


"Katakan Queensha, apa yang sebenarnya terjadi!" bentak Ghani dengan suara tinggi. Saking tingginya membuat jendela di ujung lorong rumah sakit bergetar hebat seakan mau pecah karena mendengar suara lengkingan bersumber dari Ghani.

__ADS_1


"Aku gunakan uang itu untuk menebus Aurora, Pak. Tadi siang Rora diculik orang dan mereka meminta uang tebusan sebanyak seratus juta rupiah!" sahut Queensha cepat. Sepasang mata indah itu terpejam dengan kedua tangan mengepal di samping tubuh.


Mendengar ini, sontak mata Ghani terbelalak dan rahang pria itu terbuka sempurna. Ekspresi itu sukses membuat Queensha menundukan pandangan, tak berani beradu tatap dengan sang suami.


"J-jadi ... maksudmu, putriku baru saja diculik? Begitu?" Queensha mengangguk tanpa berani mengangkat kepala. Hal ini semakin membuat dada Ghani kembang kempis. "Bagaimana bisa? Bukankah kamu dan Mang Aceng menjemputnya di sekolah? Lantas kenapa putriku bisa berada dalam sekapan orang jahat?" seru Ghani meninggikan suaranya.


Queensha terdiam melihat amarah Ghani. Ini merupakan pertama kali baginya melihat sosok lain dari seorang Muhammad Ghani Hanan. Pria dingin dan tak banyak bicara berubah menjadi sosok menakutkan di saat tengah marah.


"Sebenarnya tadi ada sedikit insiden di jalan, Pak. Mobil yang dilajukan Mang Aceng mogok di tengah jalan. Berhubung bengkel dalam keadan ramai, kami terpaksa menunggu. Namun, hingga hampir setengah jam lamanya, antrian kami belum dipanggil. Oleh sebab itu, aku telat menjemput Rora di sekolah. Saat aku tiba di sekolah, Rora sudah tidak ada lagi di sana. Dia berada di tangan para penculik," imbuh Queensha menjelaskan kronologi kejadian penculikan Aurora.


"Lalu kenapa penculik itu bisa tahu nomormu? Seingatku Rora tidak hapal nomor teleponmu." Ghani semakin memicingkan mata dan terlihat bingung.


Queensha semakin dibuat bingung sendiri, bagaimana menjelaskan pada Ghani bahwa penculik itu adalah ibu dan adik tirinya.


"Queensha Azura Gunawan! Saya membutuhkan jawaban segera!" tandas Ghani tegas.


"Karena penculik itu adalah ibu dan adik tiriku, Pak. Makanya mereka bisa dengan mudah meminta uang tebusan kepadaku," jawab Queensha cepat dan meremas telapak tangan hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.

__ADS_1


Ghani mundur beberapa langkah kebalakang. Mengangkat tangan ke atas kemudian menyugar rambut dengan frustasi. "Sial! Bagaimana ini bisa menimpa putriku? Dia pasti ketakutan sekali berada di tangan orang asing. Tubuh mungil itu pasti gemetar hebat, tak kuasa menahan rasa takut karena diculik oleh dua manusia iblis seperti ibu dan adik tirimu!"


...***...


__ADS_2