
"Zavier, makasih banyak karena sudah membantuku tadi. Aku tidak tahu harus dengan cara apa meminta maaf kepada Ayah dan Bunda karena udah mengecewakan mereka. Akibat kebodohanku di masa lalu semua jadi berantakan," ujar Ghani. Merasa beruntung karena pada saat berbicara dengan kedua orang tuanya, Zavier memutuskan untuk tetap berada di ruang keluarga, jika tidak mungkin saat ini ia mengalami kesulitan untuk mengembalikan kepercayaan Rayyan dan Arumi.
"Nope. Kebetulan saja aku bisa bantu jadi semua masalah dapat diselesaikan." Zavier merangkul pundak Ghani dan berkata, "Lain kali, jangan karena merasa tidak enak hati, Kak Ghani menuruti apa yang teman-teman perintahkan. Kalau sudah berprinsip maka harus dipegang teguh."
"Aku tidak mau di kemudian hari Ayah dan Bunda kecewa untuk kedua kalinya. Kalau sampai itu terjadi, Kakak berurusan denganku. Mengerti?" sambung Zavier sedikit mengancam kakak kembarnya.
Kalau untuk urusan orang tua, Zavier tidak pernah takut bila berhadapan dengan Ghani. Sekalipun kepribadian Ghani hampir mirip dengan ayahnya, jika memang sang kakak menyakiti maupun melukai hati kedua orang tuanya maka ia siap membela mereka.
Ghani tersenyum samar. "Iya, aku mengerti. Sekali lagi, terima kasih, Vier. Kebaikanmu tidak akan aku lupakan sampai kapan pun." Lantas ia membalas rangkulan sang adik, kemudian berjalan bersisian menuju teras rumah.
Queensha yang berjalan di belakang kedua pria tampan itu terpana mendengar ucapan Ghani. Ia pandangi punggung calon suaminya dengan sorot penuh kekaguman dan memuja. Ia tak menyangka Ghani mau mengucap terima kasih kepada saudara kembarnya yang jelas lebih muda dari dia.
Ketika tiba di teras rumah, Zavier berpamitan kepada kakak dan calon kakak iparnya. "Kak, kamu 'kan sudah kubantuin nih sampai Ayah dan Bunda memberi lampu hijau kepadamu untuk menikah lagi dengan Queensha. Aku harap, mulutmu yang pedas seperti seblak level 10 tidak sembarangan dalam berucap. Jangan sampai menjatuhkan talak hanya karena masalah sepele!"
"Kalaupun memang ada masalah rumah tangga, bicarakan dengan kepala dingin dan pertimbangkan dampak negatif dari keputusan yang kamu ambil. Jangan karena emosi dengan mudahnya menceraikan Queensha. Ingat, bagaimanapun, dia adalah perempuan yang udah kamu perkosa. Kamu wajib bertanggung jawab kepadanya."
Ghani mendengkus kesal merasa Zavier seperti mendiang Nyimas yang selalu menasihatinya sebelum ia pulang ke rumah orang tuanya. Ah, omong-omong tentang Nyimas, ia jadi merindukan ibu angkat dari sang bunda yang telah lama meninggal dunia.
"Iya bawel. Sudah, sana pulang! Semakin lama berada di sini semakin membuat telingaku panas." Ghani mendorong tubuh Zavier membuat pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Zavier mengangkat tangan ke atas, menginterupsi sang kakak untuk tidak mengusirnya terlebih dulu.
"Tunggu! Aku mau bicara sebentar dengan Queensha." Lalu ia berdiri di sebelah calon kakak iparnya dan berbisik, "Jika suatu hari Kak Ghani semena-mena terhadapmu, jangan sungkan cerita kepadaku. Aku pasti membantumu membalaskan dendam kepadanya. Ingat, kamu tidak sendirian, Sha. Ada aku dan Zahira yang siap berdiri di belakangmu." Zavier bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Ketika pernikahan Ghani dan Queensha dilanda masalah, tidak seorang pun memberitahunya sehingga ia tak mengerti bagaimana kemelut rumah tangga kakak kembarnya itu. Dan saat semua terungkap maka ia tak akan membiarkan Ghani maupun Queensha menjadi duda dan janda untuk kedua kali.
__ADS_1
"Tenang saja, Mas Ghani tidak mungkin berbuat kasar kepadaku. Sekarang dia sudah jinak, Kak." Berkata seraya melirik ke arah Ghani. Queensha tersenyum dan menatap Zavier hangat. Dilindungi seperti itu membuatnya merasa seolah mempunyai keluarga utuh terdiri dari ayah, bunda serta saudara yang begitu perhatian kepadanya.
Mata Ghani melotot, memandang sinis kepada Zavier. "Jangan coba memprovokasi calon istriku, Vier! Awas saja, kalau sampai dia tak bersedia menikahiku, kuhajar kamu!" ancamnya sambil menyembunyikan Queensha di belakang tubuhnya.
Zavier terkikik melihat sikap Ghani yang terkesan posesif kepada Queensha. Baru kali ini Ghani mencemaskan wanita selain ibu dan kedua adik-adiknya.
Menepuk pundak Ghani pelan. "Santai Mas Bro, aku tidak mungkin memprovokasi Queensha. Aku justru ingin segera kalian menikah agar lekas memberiku keponakan baru."
Ghani berdecih kesal. "Keponakan? Seharusnya kamu mencari istri kalau memang ingin bermain dengan anak kecil, bukan malah memintaku memberimu keponakan baru. Ada-ada saja!"
Disindir sedemikian rupa membuat Zavier menutup telinga menggunakan telapak tangan. Malas jika sudah menyinggung soal rumah tangga.
"Sudah malam, aku sebaiknya pulang sekarang. Tidak mau mengganggu pasangan yang sedang kasmaran. Bye-bye semua!"
Queensha mengernyit. "Mas, memangnya Zavier belum punya calon istri? Kok tadi kamu memintanya untuk mencari pacar." Ia belum percaya jika pria tampan seperti calon adik iparnya belum mempunyai calon istri.
Ghani menghela napas. "Kami sekeluarga sampai bingung sendiri oleh kelakuan anak itu. Di saat aku dan Zahira telah menikah hanya dia yang belum merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga."
Paras tampan Ghani berubah menjadi sendu. Jauh di lubuk hati yang terdalam sebetulnya ia mencemaskan masa depan adik kembarnya itu. Khawatir jika Zavier selamanya hidup melajang.
"Sudahlah, jangan terlalu mencemaskan adikmu, Mas. Aku yakin, cepat atau lambat Tuhan akan mempertemukan Zavier dengan jodohnya." Queensha mencoba menghibur Ghani, walau dalam hati ia pun ikut mencemaskan masa depan lelaki yang ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
***
Ghani tampak serius memperhatikan jalanan di depan sana, sementara Queensha tengah sibuk mengirim pesan dengan sahabatnya, Lulu. Konsentrasi keduanya teralihkan ketika dering ponsel Ghani berbunyi.
__ADS_1
"Halo! Apa kamu sudah mendapat informasi yang kuminta beberapa waktu lalu?" tanya Ghani saat sambungan telepon terhubung.
"Sudah, Dokter. Mia, Sarman dan Lita saat ini berada di Makasar. Ketiga orang itu mengganti identitas diri sehingga saya dan tim sulit melacak keberadaannya."
"Jika Dokter Ghani tidak keberatan, bisakah malam ini terbang ke Makasar? Rencananya besok pagi kami akan melakukan penyergapan kepada mereka."
Tanpa berpikir dua kali, Ghani menyetujui permintaan Yogi. "Baik, aku segera mencari penerbangan malam ini juga. Oh ya, tolong siapkan penginapan untukku selama berada di sana."
"Apa yang disampaikan Yogi, Mas?" tanya Queensha penasaran. Samar terdengar di seberang sana membicarakan ibu tiri dan adik tirinya, yakin jika Yogi mendapat informasi terbaru tentang Mia.
"Yogi berhasil menemukan posisi Mia saat ini. Besok mereka hendak menyergap Mia serta mantan suami dan putrinya. Oleh sebab itu, aku diminta segera terbang ke sana untuk memberi sedikit pelajaran kepada mereka sebelum polisi menjebloskan ke penjara," tutur Ghani menjelaskan.
Terdengar helaan napas lega bersumber dari Queensha. "Sukurlah kalau sudah ketemu. Aku bisa lega mendengarnya."
"Kamu tidak masalah jika rencana makan malam besok di-cancel?"
Queensha mengulum senyum. Berbicara dengan lembut kepada calon suaminya. "Tidak sama sekali. Kamu fokus saja dengan urusan Mama Mia. Urusan makan malam, bisa diganti di lain waktu. Namun, kesempatan untuk memberi pelajaran pada Mia tidak bisa ditunda."
"Mas Ghani, jika kamu bertemu dengannya, beri Mama Mia, Sarman dan Lita pelajaran yang tak akan mereka lupakan seumur hidup. Balaskan dendamku kepada mereka yang tega memisahkan aku dengan putri kita."
Ghani menjawab dengan mantap. "Tenang saja! Aku pasti melakukannya, Sha!
...***...
Pak Dosen Zavier lagi cari jodoh nih. Ada yang mau daftar? 😁
__ADS_1