
Queensha baru saja keluar dari kamar mandi. Niat hati ingin membersihkan diri dari sisa percintaan semalam, tapi nyatanya saat berada di kamar mandi, lagi dan lagi Ghani menggempurnya sampai dirinya kewalahan sendiri menghadapi hasrat suaminya tersebut.
"Lama kelamaan badanku bisa rontok kalau Mas Ghani setiap malam meminta haknya sebagai seorang suami," gumam Queensha seraya mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair dryer.
"Aku kadang heran, dapat stamina dari mana sampai Mas Ghani punya banyak tenaga untuk bercinta denganku sampai berkali-kali dalam satu waktu. Jika mengukur dari segi makanan, perasaan makanan yang kami konsumsi tidak ada bedanya, tapi mengapa Mas Ghani punya banyak tenaga untuk mengerjaiku? Huu, apa mungkin diam-diam Mas Ghani minum suplemen di belakangku agar tetap bugar meski tubuhnya terasa lelah sehabis bekerja di rumah sakit?"
Bibir ranum itu terus berucap seraya jemari tangannya terus bergerak, memindahkan pengering rambut dalam genggaman tangan dari tempat yang satu ke tempat yang lain sampai helaian rambut Queensha kering semua.
Ketika dirinya sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi menandakan ada seseorang yang sedang menghubunginya. Tanpa membuang waktu lama, Queensha mematikan hair dryer tersebut sebelum menggeser tombol hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo, Sha. Sorry, pagi-pagi gue udah telepon lo. Gue cuma mau nanya, nanti siang kita jadi, 'kan, nge-mall bareng? Gue baru aja gajian, nih, jadi kita bisa shooping sepuasnya."
Suara Lulu terdengar nyaring di telinga Queensha. Nada suara sahabatnya itu terdengar girang mungkin karena baru mendapat transferan sehingga hatinya berbunga-bunga bak bunga sakura bermekaran di musim semi.
Queensha mengulum senyum, ikut merasakan kebahagiaan Lulu sebab dulu ia pun pernah mengalaminya. Setiap kali mendapat notifikasi m-banking yang memberitahukan bahwa ada penambahan saldo akun bank, wajahnya terlihat sumringah. Walaupun gaji yang diterima tidaklah besar, tetapi ia sangat bersyukur karena masih dapat bekerja dengan cara yang halal, tanpa menyusahkan orang lain.
"Jadi, Lu. Sehabis jemput Rora di rumah Ibu mertua, aku langsung ke mall biar kita bisa ajak Rora sekalian. Sejak aku kembali dari bulan madu, belum pernah ngajakin dia main di arena permainan," sahut Queensha.
__ADS_1
"Ide bagus, tuh. Semakin rame malah semakin seru. Ntar gue traktir kalian es krim, deh, tapi sebagai gantinya, lo mesti traktir gue makan di restoran Jepang. Gimana, deal?" Di seberang sana, Lulu menaik turunkan kedua alisnya, menggoda sang sahabat. Andai saja mereka bertatap muka, Lulu dapat memastikan kalau saat ini Queensha sedang mencibir dirinya.
Dan benar saja, tak lama usai mengucap kalimat tersebut, Queensha mencibir dan memutar bola matanya dengan malas. "Ck, sama aja boong kalau pada akhirnya aku yang bayarin."
Sontak Lulu terkekeh dibuatnya. "Lo traktir gue makan enggak bakal bikin hidup lo kismin, Sha, malah semakin membuat hidup lo makmur. Udah, pokoknya kita ketemuan di mall aja, ya jam satu siang. Ntar gue chat lo kalau sampai duluan."
Bersamaan dengan sambungan telepon yang terputus, terdengar derit bunyi pintu yang didorong seseorang. Tak lama kemudian menampakan sosok Ghani yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk menutupi area pusar dan inti tubuhnya saja. Pria jangkung itu berjalan sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Telepon dari siapa, Sayang?" Ghani berjalan mendekati walk in closet yang posisinya tak jauh dari meja rias Queensha.
"Dari Lulu, Mas. Dia menghubungiku untuk memastikan apakah kami jadi ketemuan di mall atau tidak. Jauh-jauh hari kami sudah janjian mau hang out bareng, tapi baru terlaksanakan sekarang sebab kemarin aku sibuk banget ngurusin persiapan pernikahan kita." Queensha membantu Ghani memilihkan pakaian kerja yang hendak dikenakan suaminya itu. "Boleh tidak, Mas, kalau aku pergi ketemuan dengan Lulu sambil ajak Rora? Aku tidak sampai hati menolak ajak Lulu apalagi kami sudah lama sekali tidak kumpul bersama karena disibukkan oleh urusan masing-masing."
"Kemungkinan kami mau pergi menemani Rora bermain di arena permainan yang ada di mall, Mas. Setelah itu barulah kita makan siang bersama dan katanya sih Lulu mau traktir aku dan Rora makan es krim."
"Lulu traktir kamu? Tidak salah, tuh?" Ghani memicingkan mata sehingga membuat mata yang sipit semakin mengecil.
Alih-alih menjawab pertanyaan Ghani, Queensha justru mengajukan pertanyaan kepada suaminya. "Loh, memangnya ada yang salah kalau Lulu mentraktirku makan es krim?" Kening wanita itu mengerut petanda bingung.
__ADS_1
Ghani mengambil celana kain yang disodorkan Queensha kepadanya lalu memakainya dengan sangat hati-hati, berusaha untuk tidak menyenggol tubuh sang istri yang berdiri tepat di sebelahnya. "Tidak ada yang salah, kok. Hanya saja, aku heran kenapa mesti sahabatmu yang traktir, kenapa tidak kamu saja yang traktir dia. Kebutuhan Lulu pasti sangat banyak, sedangkan gaji yang didapat sebagai seorang pelayan hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja. Bayar indekos, makan, dan mengirim uang ke kampung pasti persediaan uangnya menipis, Sayang. Aku cuma khawatir, sahabatmu akan kekurangan uang sebelum tanggal gajian berikutnya tiba.
Ghani menyentuh pundak Queensha, kemudian menatap lekat manik coklat milik istri tercinta. "Sayang, sekarang kan kamu adalah tanggung jawabku. Setiap bulan pun aku memberi nafkah kepadamu, bukan hanya nafkah lahir, tetapi juga nafkah batin. Nah, kenapa tidak kamu saja yang traktir Lulu biar uangnya sahabatmu itu disimpan untuk kebutuhan lain. Palingan berapa sih harga es krim dan makan di restoran, itu tidak akan membuat suamimu ini jatuh miskin. Malah bisa jadi rezekiku semakin bertambah karena sudah membuat orang lain bahagia."
Queensha tercengang. Sepasang matanya yang sipit membulat kala mendengar penuturan sang suami. Ia pikir Ghani akan melarangnya dan Aurora makan es krim karena dalam makanan tersebut banyak mengandung gula yang dapat menyebabkan bahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Tapi ternyata Ghani justru memerintahkannya untuk mentraktir Lulu. Sikap Ghani benar-benar di luar nalar.
Jari tangan kokoh Ghani membuka lemari pakaian. Ia mengeluarkan black card dari brankas yang tersimpan di lemari tersebut. "Gunakan kartu ini untuk memenuhi kebutuhan pribadimu, dan kebutuhan rumah tangga. Kartumu yang dulu sudah aku nonaktifkan dan kuganti dengan kartu ini. Untuk PIN-nya juga sudah kuganti dengan tanggal pernikahan kita. Kalau kamu ingin membeli sesuatu, pakai saja, aku tidak akan melarangmu," katanya seraya menyodorkan kartu sakti yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai macam transaksi. Tidak tanggung-tanggung, Ghani menyerahkan black card yang tidak sembarang orang dapat mempunyainya.
Dengan gugup Queensha menjawab, "K-kamu ... s-serius memberi kartu ini kepadaku? Tidak takut uangnya kusalahgunakan untuk hal lain?"
Ghani terkekeh. Tubuhnya bergerak turun dan naik. "Memangnya kamu pikir aku sedang bergurau? Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Sayang." Tangan pria itu melingkar di pinggang Queensha, menarik tubuh wanitanya hingga kini mereka saling berhadapan. "Untuk pertanyaanmu selanjutnya, apakah aku tidak takut uang di ATM tersebut disalahgunakan. Jawabannya adalah tidak. Aku sama sekali tidak takut, tuh, kalau kamu menggunakannya untuk suatu hal tidak penting."
"Sha, saat aku memutuskan memberi kartu ini kepadamu, itu artinya aku sudah siap dengan segala resikonya. Mau kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu atau apa pun itu, terserah kamu, aku tidak akan pernah melarangnya. Dulu, aku pernah melakukan kesalahan dan dari situ aku belajar untuk mempercayaimu sepenuhnya."
Queensha mendaratkan kepalanya di dada bidang Ghani. Jari tangan lentik mengusap dada suaminya secara perlahan-lahan. "Terima kasih sudah mempercayaiku, Mas. Tidak ada yang bisa membuatku lebih bahagia selain sikap percayamu terhadapku. Sekali lagi, terima kasih, Koko Ghani."
Ghani mengecup pucuk kepala Queensha, menyalurkan rasa kasih sayangnya kepada satu-satunya wanita yang ia cintai di dunia ini selain Arumi serta Arora, putri kesayangan. "Manjakan dirimu dengan uang pemberianku, Sha. Belilah apa pun yang kamu mau tanpa perlu mencemaskan nominal harganya. Kamu juga tidak perlu takut aku akan bangkut karena uang yang kumiliki selama bekerja di rumah sakit cukup menafkahi kamu dan tujuh keturunan kita."
__ADS_1
Perkataan Ghani memang terkesan sombong, tetapi memang itulah kenyataannya. Ia mampu memberi nafkah kepada Queensha serta anak keturunan mereka sampai tujuh genersi atau bahkan ... lebih.
...***...