
Hari pertama di kampung halaman Lulu, Leon begitu bahagia, terlihat dari senyum yang terus mengembang di sudut bibirnya. Di sana dia membantu ayah Lulu bekerja di kebun, memetik sayuran dan buah-buahan milik juragan tersohor di kampung tersebut. Sikapnya humble dan mudah bergaul, membuat pria itu dapat diterima oleh para tetangga sekitaran rumah Lulu.
"Pak Idris beruntung ya punya calon mantu ganteng, baik, dan juga kaya raya. Masa depannya Neng Lulu terjamin karena nikah dengan dokter," cetus salah satu rekan sesama buruh di perkebunan Pak Haji Kasman. Mereka baru saja selesai menyerahkan hasil petikannya pada saudagar kaya yang terkenal akan kemurahan hatinya itu.
"Betul banget, Bu. Gede miliknya si Neng Lulu, nih, sampai mau dinikahi Pak Dokter ganteng. Pasti pas nikahan nanti, acaranya digelar secara meriah mirip artis-artis ibukota itu, loh."
"Duh, tidak sabar rasanya kepingin cepat-cepat kondangan. Siapa tau souvenir yang dikasihkan ke kita berupa ANTAM atau minigold. Kan lumayan bisa dijual lagi kalau lagi butuh uang."
"Ah, Bu Yayah mah kalau mimpi ketinggian. Mana ada souvenir nikah berupa mas ANTAM atau minigold."
"Dih, Bu Imas kurang up to date. Zaman sekarang souvenir nikahan banyak macamnya, Bu, bukan melulu berupa perabotan rumah tangga. Banyak kok artis Indonesia jadikan emas ANTAM ataupun minigold sebagai souvenir pernikahan," sahut Bu Yayah. Tidak terima jika dirinya dianggap tukang halu karena terlalu banyak bermimpi, padahal trend menjadikan emas sebagai souvenir pernikahan telah dilakukan beberapa selebritis tanah air.
"Serius, Bu Yayah? Wah, kalau begitu saya juga mau dapat emas gratis hadiah nikahan dari Neng Lulu." Mata berbinar bahagia kala membayangkan dirinya membawa pulang emas ANTAM pemberian Lulu. Lumayan, bisa dijual lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Begitu pikirnya.
"Makanya, kita doain semoga rezekinya Neng Lulu dan Pak Dokter semakin lancar biar kita semua ikut kecipratan," ujar Bu Imas. Lantas keduanya meninggalkan area perkebunan milik Pak Haji Kasman.
Tugas mereka telah selesai dan kini waktunya kembali ke rumah, menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak yang baru saja pulang sekolah.
Di tempat yang sama, tampak Leon sedang sibuk membantu calon ayah mertuanya. Siang ini sengaja ikut pak Idris ke kebun guna meringankan sedikit beban pria yang sebentar lagi dia panggil dengan sebutan 'bapak mertua'.
"Nak Leon seharusnya kamu tunggu saja di rumah. Di kebun ini panas sekali. Kalau di rumah, Nak Leon bisa rebahan sambil kipasan, tanpa perlu panas-panasan," ucap Idris yang kasihan dengan calon menantunya itu. Melihat tangan sesekali mengusap peluh di kening membuat dia semakin iba.
"Tidak apa-apa. Lagian saya senang bisa bantuin Bapak. Di sini saya banyak bergerak dan itu membuat badan berkeringat. Jadi lebih sehat, Pak. Biasanya saya kalau kerja di ruangan AC terus jadi jarang keringetan," jawab Leon. Jari tangan yang biasa digunakan memegang alat-alat bedah kini digunakan untuk memetik sayuran segar.
"Iya, tapi nanti kamu jadi hitam kayak bapak, gimana? Kulit bapak ini dulu putih karena keseringan kena sinar matahari jadi ireng begini," ucap Idris berseloroh. Leon hanya tertawa mendengar ucapan calon mertuanya.
"Hahaha ... ya tidak apa-apa, Pak. Biar pun hitam, tapi Bu Fatimah tetap cinta, 'kan?" Leon mengerlingkan sebelah matanya kepada Pak Idris, yang mana tingkah calon menantunya itu sukses membuat dirinya tersipu malu. Ternyata Leon bisa bergurau juga rupanya.
Mendengar suara kekehan, beberapa pasang mata yang ada di dekat pak Idris dan Leon jadi tertarik untuk ikutan nimbrung. Lantas salah satu dari mereka mulai membuka suara.
"Walah, Pak Idris ini beruntung ya dapet calon mantu Dokter. Humble dan mau bantuin calon mertuanya bekerja di kebun. Padahal, jarang loh orang kota yang mau panas-panasan di kebun kayak gini," celetuk wanita itu.
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Dia jadi malu dipuji rekan kerja calon ayah mertuanya itu. "Tidak juga kok, Bu. Buktinya saya senang ikut kerja di kebun gini. Kalau humble itu penting, Pak, Bu. Kalau saya tidak humble pasien saya tidak akan ada yang mau di periksa karena Dokternya galak," ucapnya. Sontak perkataan Leon membuat semua orang tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi benar juga sih. Sifat humble dan mudah bergaul sangat dibutuhkan kalau mau jadi dokter. Di puskesmas sebelah, dokternya judesss banget sampai males kalau mau berobat di sana. Tapi terpaksa, datang lagi ke sana karena cuma itu doang yang gratis. Syukur-syukur Pak Dokter ganteng ini buka praktek di sini, pasti bakalan laris manis."
"Betul banget itu. Mendingan Pak Dokter pindah saja di sini, saya jamin akan banyak pasien berdatangan demi bisa berobat ke Dokter ganteng ini," timpal yang lainnya.
Leon menatap pria berpakaian kemeja batik lengkap dengan caping atau topi terbuat dari anyaman bambu. "Loh, kenapa bisa begitu? Bukannya sehat jauh lebih enak daripada sakit. Kalau sakit, segala aktivitas terhambat dan mau makan pun tak enak."
"Ya, kalau dokternya ganteng, lucu, humoris kayak Pak Dokter maka kami rela sakit agar dapat ketemu dengan cowok ganteng macam Nak Leon ini. Betul tidak, Ibu-Ibu? ucap ibu-ibu yang berdiri di sebelah Leon. Leon yang mendengar hal tersebut hanya tertawa. Berinteraksi dengan warga kampung memang menyenangkan. Semua warganya ramah, dan interaksi seperti ini jarang terjadi padanya di kota.
Pak Idris geleng-geleng kepala. "Kalian ini aneh-aneh aja. Yang sakit saja pada mau sembuh, lah kalian yang dikasih sembuh malah pengen sakit. Dasar aneh."
Bu Diah, janda genit yang terkenal ceplas ceplos menyahuti perkataan Pak Idris. "Haduh Pak Idris ini, serius banget sih. Kita cuma bercanda saja kok. Ehm, tapi kalau betulan Dokter Leon pindah ke desa ini, saya bakalan jadi pasien tetapnya kamu, loh."
Pak Idris semakin dibuat pening akan kelakuan tetangga belakang rumahnya itu, sedangkan Leon hanya tersenyum terhibur dengan kelucuan warga desa.
Guna mengakhiri percakapan yang dirasa semakin tak jelas, pak Idris mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Bapak, Ibu, sekalian, sayuran saya sudah penuh terisi dan matahari juga semakin tinggi jadi saya dan Nak Leon permisi duluan. Istri dan anak saya pasti sedang menunggu di rumah. Mari semua. Assalamu a'laikum," ucapnya sopan.
"Wa'alaikum salam."
Pak Idris segera merapikan sayuran segar yang barusan dia petik. Setelah itu berkata, "Saya memang sudah tua, tapi tenaga saya masih seperti yang muda," ucap Idris sambil menunjukkan lengannya yang masih kuat.
"Yeh, Pak Idris mah tidak peka jadu orang. Kalau Pak Dokter bantuin Bapak, kami punya peluang besar untuk bertemu dan mengobrol lagi dengan calon mantu Pak Idris yang super ganteng ini. Masa sih gitu saja Pak Idris tidak tau," sahut Bu Diah dengan nada suaranya dibuat-buat.
"Halah kalian ini. Yaudahlah ya saya duluan pulang. Assalamu a'alaikum." Lantas Pak Idris menarik tangan Leon, meninggalkan lokasi itu. Jika tidak segera pergi maka mereka tertahan lebih lama di tempat tersebut.
Leon menyempatkan diri berpamitan terlebih dulu sebelum meninggalkan area perkebunan. Walaupun sejak tadi dirinya terus digoda oleh kebanyakan ibu-ibu di sana, tetapi ungah ungguhnya, dia mesti menghormati orang yang lebih tua darinya. Itulah pesan bu Ayu dan pak Imran padanya saat masih kecil dulu.
"Maaf ya, Nak Leon kalau tetangga tadi seneng godain kamu. Maklum jarang ada orang kota yang mau ikut ke kebun panas-panasan kayak tadi," ucap Pak Idris kepada Leon.
"Enggak papa, Pak. Saya malah seneng bisa berinteraksi langsung sama mereka. Mereka ramah-ramah ya, Pak," sahut Leon. Dia sama sekali tidak keberatan harus berinteraksi dengan orang asing.
"Ya begitulah namanya warga desa, Nak Leon. Ada yang baru langsung dikerumunin, seperti semut saja."
__ADS_1
Setelah itu, mereka sudah sampai di rumah. Leon dan pak Idris membersihkan tangan dan kaki mereka di kran air dekat pohon mangga sebelum masuk ke rumah.
Di rumah, bu Fatimah dan Lulu sudah membuatkan makan siang untuk semua orang. Lagi dan lagi, menu masakannya tak jauh dari 3T alias tahu, tempe, dan lalapan terung kecil berwarna hijau. Tak lupa sambal tomat terasi segar yang membuat mata meles seketika.
"Assalamualaikum," ucap Pak Idris Dan Leon bersamaan.
"Wa'alaikum salam," sahut keduanya.
Bu Fatimah maju, menyodorkan tangan lalu mencium punggung tangan suaminya itu. "Makan dulu, Pak, ibu sudah siapkan makanan untuk Bapak."
"Kebetulan sekali. Perut bapak pun sudah keroncongan, kepingin cepat-cepat makan." Pak Idris menoleh ke arah Leon dan berkata, "Nak Leon, makan! Calon ibu mertuamu sudah masak makanan lezat tuh."
Ibu jari Leon terangkat ke udara. "Siap, Pak. Segera saya habiskan makanannya." Lalu semua orang tertawa bersama.
Sebelum makan siang, pak Idris menukar pakaiannya terlebih dulu sebab pakaian yang dia kenakan tadi penuh dengan keringat. Lalu, bu Fatimah ikut menyusul suaminya itu ke kamar, meninggalkan Lulu dan Leon berduaan di ruang tamu dengan posisi pintu dan jendela terbuka lebar.
Leon menyodorkan tangan kanannya ke depan Lulu. Lulu yang tak mengerti maksud calon suaminya itu hanya bisa memandangi punggung tangan Leon.
Mendesah pelan dan berkata, "Kamu enggak mau cium tangan aku, Lu? Tadi Ibumu cium tangannya Bapak, tapi kenapa kamu enggak. Kan harusnya kamu ngikutin apa yang dilakukan Ibu terhadap Bapakmu."
Kini otaknya terkoneksi, Lulu segera menepuk pundak Leon pelan. "Belum mahrom, jangan bermain peran layaknya suami istri. Aku enggak mau salim sama kamu sebelum akad nikad, ya. Ingat itu."
"Yaah, kok gitu sih. Sekali doang loh, masa enggak mau." Leon merengek seperti anak kecil yang tidak diizinkan membeli mainan baru oleh ibunya.
"Ayolah, sekali aja." Pria yang menjadi idola warga desa Cibening mendusel-dusel lengan Lulu. Namun, Lulu menjauh dari kekasihnya itu.
"Enggak! Orang yang boleh kucium tangannya hanya Ayah Ibu, Papa Mama serta mertuanya Queensha aja. Aku, baru akan salim ke kamu kalau kita udah resmi jadi suami istri. Titik!" kata Lulu tegas.
"Ya udah deh, enggak apa. Meski harus nunggu 3 bulan dari sekarang, aku setia menunggu." Pasrah. Daripada Leon memaksa Lulu, justru menimbulkan celah perselisihan di antara mereka.
Lulu menepuk-nepuk pundak Leon dan berucap, "Nah, gitu dong. Ini baru namanya pacar aku."
...***...
__ADS_1