Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
It's Wedding Day (Lulu dan Leon)


__ADS_3

Selama seminggu ini Lulu tak boleh kemana-mana. Katanya pamali kalau orang yang mau menikah masih suka keluyuran. Alhasil, Lulu dipingit di rumah sampai hari pernikahannya tiba.


Selepas azan subuh berkumandang, Lulu sudah deg-degan. Jantung gadis itu berdegup kencang saking kencangnya seakan mau meledak detik itu juga.


"Duh, kok deg-degan begini ya. Coba ada Queensha di sini, pasti grogiku sedikit berkurang. Tapi sayang, dia enggak bisa pergi ke mana-mana karena sedang hamil tua." Guna menyingkirkan rasa gugup, Lulu mondar mandir mengelilingi kamarnya yang telah dihias sedemikian rupa. Semerbak harum bunga mawar merah menguar di mana-mana membuat siapa saja yang ada di sana terbuai akan keharumannya.


Akan tetapi, usaha Lulu tak berhasil. Dia malah semakin gugup hingga membuatnya jadi tak berselera makan. Takut acara hari ini tak berlangsung sesuai rencana, makanya dia jadi overthingking berat.


“Nanti kamu pingsan kalau enggak makan. Ayo makan dulu barang satu atau dua sendok biar enggak masuk angin. Enggak lucu, 'kan, pas di tengah acara mantennya malah sakit-sakitan.” Salah satu saudara Lulu datang untuk menyuguhkan makanan dalam porsi kecil lalu meletakkannya ke meja nakas sebelah ranjang gadis itu.


"Tapi Ua, Lulu enggak lapar. Perut Lulu kenyang banget," tolaknya halus. Sebetulnya sedari tadi perutnya keroncongan, tetapi dia abaikan suara-suara aneh tersebut sebab kini fokusnya tertuju pada acara penting hari ini.


Kakak sepupu bu Fatimah yang tinggal di Bandung duduk di sebelah Lulu, mengusap puncak kepala gadis itu penuh cinta. "Walaupun enggak lapar, tapi mesti dipaksain, Lu. Jam 9 nanti ijab kabul, lalu disusul resepsi pernikahan sampe jam 9 malem, terus kamu mau makan jam berapa? Belum tentu bisa makan di tengah-tengah acara. Apalagi tamu yang diundang cukup banyak, mustahil bisa nyomot snack atau makan makanan berat saat acara sedang berlangsung."


"Udah, makan aja sedikit daripada jatuh sakit. Kasihan Nak Leon kalau lihat mukamu pucat, dia pasti khawatir banget sama kamu."


Akhirnya Lulu mengangguk dan mulai menyendokkan dua suap nasi ke mulut. Setelah itu kembali memandangi penampilannya dari pantulan cermin yang ada di depannya.


Lulu tak menyangka setelah dirias, ternyata dia bisa kelihatan cantik juga. Atau istilahnya manglingi alias kelihatan berbeda dari biasanya.


“Semoga hari ini berjalan lancar.” Lulu berdiri. Diperhatikannya kebaya warna gading yang dia pakai hari ini. Kebaya itu membalut tubuhnya yang semampai. Lulu tersenyum, lalu menarik napas pendek. Ya, dia sudah siap untuk acara ijab kabul yang akan dilaksanakan satu jam lagi.


***


Leon tak diperbolehkan untuk bertemu Lulu bahkan untuk melakukan video call pun tak boleh. Hal itu membuatnya uring-uringan selama satu minggu belakangan ini.


"Pamali kalau calon manten ketemuan sebelum prosesi ijab kabul digelar."


Begitulah yang dikatakan bu Ayu serta beberapa sanak saudara Leon yang tinggal di Yogyakarta. Mau tak mau, akhirnya Leon hanya bisa pasrah daripada menimbulkan masalah di kemudian hari.


Seperti sekarang ini, Leon kembali memandangi foto calon istrinya ketika mereka melakukan sesi foto pre wedding. "Neko chan, gue kangen banget. Seminggu enggak lihat muka dan denger suara lo, bikin gue rindu berat." Dia menyapu layar ponsel dengan rasa rindu yang membuncah.


Kegiatan Leon terhenti tatkala suara Ghani terdengar nyaring dari ambang pintu. “Yon, ayo! Satu jam lagi ijab kabul dilangsungkan, kita harus berada di sana sebelum penghulu tiba."


"Hmm, ya." Leon menarik napas panjang, lalu mengikuti Ghani menuju lobi penginapan. Di sana sudah ada orang tua Leon, termasuk kakak, kakak ipar serta sanak saudara dari pihak pak Imran dan bu Ayu yang bersedia hadir, menyaksikan ikrar suci pernikahan antara Leon dan Lulu.


“Ghan, gimana keadaan Queensha?” tanya Leon sambil mereka berjalan beriringan.

__ADS_1


“Dia baik-baik aja. Oh ya, dia tadi titip salam sama lo dan Lulu. Maaf enggak bisa hadir. Kandungannya udah semakin membesar. Dia enggak sanggup kalau harus duduk dalam waktu cukup lama."


Leon mengibaskan tangannya. “Enggak apa-apa. Gue tahu kondisi Queensha emang enggak memungkinkan buat pergi ke kampung halaman Lulu. Yang penting doa restunya aja, itu udah cukup bagi gue dan Lulu."


Ghani manggut-manggut. “Omong-omong, gue perhatiin keren juga lo sama sekali enggak nerveous. Dari tadi muka lo lempeng-lempeng aja. Padahal ini hari bersejarah yang bikin cowok mana pun nerveous lho.”


“Sebenernya jantung gue deg-degan sih takut salah omong nanti. Muka gue emang lempeng-lempeng mirip jalan tol, tapi jantung gue rasanya mau meledak, Ghan. Lihat deh tangan gue, keringetan parah." Leon menunjukkan telapak tangannya kepada sang sahabat. Dari pantulan cahaya, Ghani dapat melihat peluh membahasi telapak tangan sahabat terbaiknya itu.


Ternyata benar. Meski dari luar Leon tampak normal-normal saja, tapi tangannya gemetaran, pertanda kalau dia grogi setengah mati. Ghani yang mengetahuinya, langsung ketawa kecil kemudian menepuk bahu sahabatnya itu untuk menguatkan Leon.


"Santai, semua pasti baik-baik aja. Kan lo udah latihan sebelumnya jadi pasti bakalan lancar saat ngucapin ijab kabul."


“Ya, semoga aja gue enggak salah sebut nama Lulu. Bisa berabe nanti.”


Ghani ketawa lagi. Dia ingat pengalamannya saat menikah dulu. Dia pun mengkhawatirkan hal yang sama. Bagaimanapun ijab kabul memang prosesi paling penting dalam sebuah pernikahan.


Hampir semua lelaki di belahan dunia pun pasti grogi saat melakukannya, tetapi Ghani tahu laki-laki yang siap mempersunting pasangannya akan berusaha agar proses tersebut berjalan lancar. Karena itu merupakan langkah awal untuk membuat pasangannya menjadi pasangan yang halal dunia akhirat.


***


“Saya terima nikahnya Aluna Himairah binti Idris Saefudin dengan mas kawin seperangkat alat solat, cincan emas seberat 10 gram, dan uang tunai sebesar Rp. 5.200.000 dibayar tunai."


“SAH!”


“Alhamdulillah.”


Meski jantungnya bertalu-talu dan Leon berasa mau pingsan, akhirnya proses ijab kabul pun selesai dilakukan. Semua orang mengucap alhamdulillah, tak terkecuali Lulu yang mendengarnya dari pengeras suara.


“Ayo, Lulu, sekarang kamu temui suamimu,” ucap Bu Fatimah sambil mendorong pelan bahu Lulu.


Lulu mengangguk dan tersenyum pada ibunya. Hari ini bu Fatimah dirias dengan amat cantik di hari pernikahan sang putri. Meski usianya sudah senja, tapi tak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajah ibunya.


Akhirnya, Lulu masuk ke dalam ruangan untuk menyambut Leon. Lulu tersenyum dengan perasaan haru. Sekarang dia sudah sah secara hukum dan agama sebagai istri Leon. Lulu bahagia sekali sampai-sampai dia tak bisa berhenti tersenyum begitu Leon menatapnya dengan wajah penuh damba.


“Halo, Neko chan-ku,” sapa Leon begitu Lulu sudah ada di hadapannya.


“Halo, Mas,” sapa Lulu manis, lalu mencium punggung tangan Leon dengan mafhum.

__ADS_1


Ada perasaan hangat yang menjalar di dada Leon saat Lulu mencium punggung tangannya. Di lubuk hatinya yang terdalam, Leon berjanji akan menjadi suami yang akan membahagiakan sang istri selamanya, sampai maut memisahkan mereka berdua.


Setelah Lulu mencium punggung tangan Leon, kini giliran Leon yang mencium kening Lulu. Leon melakukannya cukup lama demi meresapi perannya saat ini yang telah sah jadi suami Lulu.


Setelah selesai melakukannya, kini giliran Leon dan Lulu yang sungkem pada kedua orang tua masing-masing. Kedua orang tua mereka sama-sama terharu melihat putra dan putri mereka sudah terikat sebagai pasangan suami dan istri.


Perjalanan Lulu dan Leon sebagai suami-istri tentu tak akan berjalan mulus. Pasti ada saja kerikil yang menghadang ke depannya. Tapi mereka berharap bisa melaluinya, sehingga pernikahan tersebut bisa awet sampai mereka tua nantinya.


"Akhirnya anak kita menikah juga, Pa. Mama lega sekarang bisa mengantar Leon ke pelaminan." Bu Ayu mengusut butir air mata yang menetes di pipi. Sempat berpikir jika anak bungsunya itu akan melajang seumur hidup karena pernah dikhianati wanita yang begitu dicintai.


Pak Imran mengusap pelan bahu istrinya lembut. "Papa juga merasa senang melihatnya, Ma. Tugas kita telah selesai, tinggal melihat anak-anak kita hidup bahagia bersama pasangannya."


Hal serupa dilakukan bu Fatimah. Wanita paruh baya itu memandang haru pada pemandangan indah di depan sana.


"Putri kita sudah besar, Pak. Ibu senang akhirnya Lulu menemukan lelaki yang tulus mencintainya."


"Lulu memang pantas mendapatkanya. Selama ini dia telah berjuang keras demi keluarga dan Tuhan membalasnya dengan jutaan kenikmatan yang tak tertandingi," sahut Pak Idris. Ada perasaan lega dalam diri pria itu karena telah melaksakan tugasnya sebagai seorang ayah untuk Lulu, mengantarkan anak semata wayangnya melangkah menuju gerbang pernikahan.


Ghani, Zavier, Rayyan, dan Arumi bertepuk tangan dengan semringah melihat Lulu dan Leon yang kini duduk berdampingan di kursi pengantin. Arumi tak hentinya mengusap air mata karena terharu melihat pernikahan Lulu.


"Lulu cantik sekali. Coba Queensha bisa datang. Dia pasti ikut terharu juga.” Arumi menepuk sudut matanya yang berair menggunakan tisu.


“Aku sudah kirim videonya ke Queensha kok, Bun,” ucap Ghani pada Arumi sambil menunjukkan ponselnya pada Arumi.


Masih dengan mata sembab akibat rasa haru, Arumi berkata, "Lalu, bagaimana reaksi Queensha? Apa dia marah-marah ke kamu?”


Menggeleng cepat. "Tidak, Bun. Dia hanya nangis gara-gara tidak bisa hadir dalam prosesi ijab kabul sahabatnya. Yah, apa boleh buat. Daripada nanti malah kenapa-napa dengan ketiga jagoanku, lebih baik Queensha di rumah saja. Ini demi kebaikannya juga.”


Arumi manggut-manggut. Kandungan Queensha memang sudah memasuki bulan ketujuh. Karena Queensha mengandung bayi kembar, perutnya kelihatan besar sekali. Queensha jadi sering ngos-ngosan kalau berjalan. Dokter menyarankan agar Queensha tak melakukan perjalanan jauh dan berisitirahat di rumah. Itu semua demi mencegah hal buruk yang sekiranya akan terjadi nantinya.


“Aduh, lama banget, sih. Kapan nih tamu undangan dipersilakan makan," celetuk Zavier tiba-tiba.


Rayyan menoleh ke arah anak keduanya dengan tatapan tajam. “Jaga sikapmu, Vier. Apa kamu tidak mau dilihat istrimu, hem? Bagaimana kalau dia ilfeel melihat sikap suaminya yang begini."


Zavier hanya mengusap tengkuknya menggunakan telapak tangan. Cengegesan seperti biasa. "Namanya orang laper, Yah, mana bisa disuruh jaga sikap. Lagi pula, Hanna sudah mulai terbiasa dengan sikapku yang terkadang sedikit nyeleneh. Bukan begitu, Sayang?"


Hanna tersenyum kaku mendapat pertanyaan suaminya. Masih canggung berada di tengah keluarga Zavier.

__ADS_1


"Iya, tapi tetep harus jaga sikap. Sudah, duduk yang tenang dan tunggu aba-aba dari MC. Pemangku hajat pun tak akan membiarkan tamu undangannya kelaparan," ujar Rayyan tegas, membuat Zavier kembali duduk manis di sebelah istrinya.


***


__ADS_2