Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pergi Menemui Queensha


__ADS_3

Menendang kaki Ghani dengan kesal. "Sialan lo, Ghan. Bisa-bisanya merahasiakan masalah besar ini dari gue. Jadi dua hari lalu lo tuh izin karena ingin menyelidiki apakah anak kalian sudah meninggal atau belum? Oh astaga, kenapa masalah sebesar ini lo enggak cerita ke gue, sih!" Menyugar rambut dengan frustasi. Leon benar-benar tidak habis pikir kenapa Ghani tidak melibatkannya sedikit pun dalam penyelidikan ini. Andai saja dia tahu sudah pasti ikut terlibat di dalamnya.


Dengan penuh penyesalan Ghani berkata, "Sorry, bukannya gue enggak mau cerita, tapi gue cuma merasa tak enak hati kalau harus merepotkan lo. Kita semua tahu bagaimana sibuknya bekerja di bangsal bedah, banyak melakukan tindakan operasi yang terkadang memakan waktu sampai lima enam jam lamanya."


"Apalagi lo baru aja dipilih menjadi kepala bangsal menggantikan gue maka tugas dan tanggung jawab lo semakin besar, enggak bisa seenaknya cuti begitu aja. Banyak pekerjaan terbengkalai kalau lo meninggalkan rumah sakit ini. Oleh sebab itu, gue memutuskan untuk pergi seorang diri," papar Ghani panjang lebar.


Menghela napas panjang dan berat, Leon menjawab, "Ghani, Ghani. Bukannya kita udah sepakat akan saling tolong menolong dalam kondisi apa pun? Kita sahabatan tuh udah lama banget sejak masih SMA dulu. Walaupun enggak satu sekolah, tapi kita tetap temanan. Namun, kenapa lo masih merasa enggak enak hati sih sama gue?"


"Sesibuk apa pun, kalau lo minta bantuan maka gue pasti bantuin. Ya kali gue bersikap masa bodo dan membiarkan lo mengurusi semuanya sendirian. Bukan tipe gue banget, tahu!"


"Ya, gue tahu. Sekali lagi, sorry."


Melihat raut penuh penyesalan terpancar jelas di sorot mata Ghani, Leon jadi melunak, tidak sampai hati kalau harus terus mengutarakan kekesalannya kepada sang sahabat.


"Baiklah, tapi lain kali lo jangan sungkan cerita ke gue. Entah nanti gue akan membantu atau enggak, itu urusan belakangan. Terpenting lo cerita, paham?"


Leon menuangkan air ke dalam gelas. Tenggorokan terasa kering usai menceramahi sahabat karibnya itu.


"Lalu, apa yang akan lo lakukan dengan dua hasil tes DNA itu? Enggak mungkin 'kan lo berdiam diri di sini dan membiarkan Queensha meratapi nasib karena merasa telah kehilangan permata hati yang dinanti selama sembilan bulan lamanya."


Ghani melonggarkan dasi yang melilit di kerah. Setiap kali membahas Queensha, tubuhnya terasa seperti tengah terbakar api membara. Kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir dokter Aminah kembali terngiang di telinganya.


"Tentu saja tidak! Gue pasti memberitahu Queensha tentang kebenaran ini. Queensha sudah lama menderita karena dipisahkan dari Aurora dan kini saatnya dia mendapatkan kebahagiaannya kembali. Lo tahu, Leon, bagaimana perasaan gue ketika mendengar cerita yang disampaikan Dokter Aminah? Ada perasaan sedih, kecewa dan juga marah dalam waktu bersamaan."

__ADS_1


"Perasaan gue campur aduk dan ingin rasanya detik itu juga berlari mencari keberadaan Mia, Sarman dan juga Lita. Ingin kuhabisi nyawa mereka karena telah membuat Queensha menderita," cicit Ghani. Rahang pria itu menonjol keluar menahan amarah yang siap meledak.


"Gue bisa mengerti perasaan lo, Ghan. Wanita sialan itu emang keterlaluan, bukannya memberi kebahagiaan kepada Queensha, dia justru memberikan neraka bagi anak tirinya sendiri. Gue enggak habis pikir bagaimana bisa bokapnya Queensha tertarik pada wanita iblis itu. Pasti wanita sialan itu menggunakan trik licik untuk mendapatkan mendiang Pak Gunawan."


Terdengar helaan napas berasal dari Ghani. "Entahlah, gue enggak tahu apa yang dilakukan Nenek Lampir itu di masa lalu. Dan gue juga enggak mau tahu karena enggak ada manfaatnya sama sekali untuk gue."


Leon terkekeh pelan. "Iya, gue tahu. Isi kepala lo saat cuma ada Queensha, Queensha dan Queensha jadi enggak peduli dengan Nenek Lampir bin sialan itu."


Suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit mencair, tak ada lagi hawa panas dirasakan kedua pria tampan itu. Kekehan pelan masih nyaring terdengar memenuhi penjuru ruangan.


"By the way, lo udah tahu nih kalau Queensha adalah gadis yang pernah lo perkosa dan Aurora adalah putri kalian lalu apa yang akan lo sampaikan kepada Dokter Rayyan dan Dokter Arumi? Semakin lama menyimpan bangkai maka akan tercium pula. Gue rasa rahasia ini enggak bisa lo sembunyikan selamanya karena bagaimanapun orang tua lo wajib tahu jika Aurora itu adalah cucu kandung mereka."


Ghani melempar pandangannya keluar jendela, memandangi birunya langit di siang hari. "Gue pasti memberitahu mereka, tapi enggak tahu harus memulainya dari mana. Ayah dan Bunda pasti kecewa setelah mengetahui betapa bejadnya gue dulu karena sudah memperkosa Queensha."


Memasukan dua amplop ke dalam saku celana lalu bangkit berdiri dari kursi. "Gue ingin menemui Queensha di restoran. Kalau lo mau tetap di sini, silakan. Tapi ingat jangan sampai lo tertidur di kasur gue karena enggak mau air liur lo yang bau itu mengotori bantal gue!" ujarnya sambil melangkah menuju daun pintu.


Dengan gerakan cepat Leon meraih bantal kecil di sebelahnya kemudian melemparkan benda tersebut ke arah Ghani.


"Dasar sahabat tak punya akhlak, gemar sekali menghina gue!" seru Leon dengan suara lantang. Akan tetapi, Ghani tak menoleh sedikit pun. Lelaki itu terus melangkah meninggalkan ruangan.


Selepas kepergian Ghani, Leon menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit. "Tuhan, bantulah sahabatku agar segera terlepas dari masalah ini dan berikanlah kebahagiaan bagi Ghani, Queensha dan juga keponakanku tersayang, Aurora."


***

__ADS_1


Turun dari mobil, Ghani bergegas masuk ke dalam restoran. Melangkah cepat karena takut Queensha segera pergi karena sudah waktunya pergantian shift.


Ketika bisa di depan pintu, Lulu sudah menyambut hangat kedatangan Ghani. Senyumnya yang ramah memudar kala melihat siapakah pengunjung yang datang.


'Mau apa lagi sih tuh orang datang ke sini. Mengganggu pekerjaan gue aja!' gerutu Lulu dalam hati.


Khawatir kena tegur Puji karena tak dapat melayani pembeli dengan baik maka dia paksakan diri untuk tersenyum di hadapan Ghani.


"Selamat siang, Bapak. Apa ada yang bisa saya bantu?" Lalu menoleh ke samping kanan lalu bertingkah seperti orang mau muntah. Entah kenapa dia menjadi kesal sekali setiap kali teringat betapa menderitanya Queensha saat masih berstatuskan istri dari seorang Muhammad Ghani Hanan.


Mengedarkan pandangan ke sekeliling kemudian Ghani menjawab, "Saya ingin ketemu Queensha. Tolong beritahu dia ada hal penting ingin saya sampaikan padanya."


Lulu mengernyit petanda bingung. "Hal penting apa?"


Ghani membeku beberapa saat. Kedua tangan mengepal di samping badan. Merasa jika Lulu telah lancang karena terkesan ikut campur dalam urusan pribadinya. Namun, otaknya masih dapat berpikir jernih hingga dia tak dapat menahan diri untuk tidak membentak Lulu maupun memarahinya.


Membalikan badan dengan tatapan mata terus tertuju kepada Lulu. Melihat sepasang mata tajam bagaikan binatang buas, secara refleks Lulu mundur beberapa langkah ke belakang. Seketika ruangan tersebut menjadi lebih dingin seperti sedang berada di daerah pegunungan.


'Sial, kenapa nyali gue menciut begini sih! Aah, mulut gue juga ikutan kelu.'


Dengan nada suara datar Ghani menjawab, "Ini soal putri kami. Kamu pasti pernah diberitahu Queensha sebelumnya, 'kan?" tanyanya dengan mata memicing tajam.


...***...

__ADS_1


__ADS_2