
Mendengar suara teriakan Leon, refleks Andri yang tengah menarik paksa tangan Lulu menghentikan langkahnya lalu mendongakkan dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati Leon berdiri dari jarak tak begitu jauh darinya.
'Dari mana dia tau gue ada di sini? Argh, dasar pengganggu.'
Lalu Andri mengalihkan perhatiannya ke arah Queensha. Lagi dan lagi dia terkejut melihat hama pengganggu itu tersungkur ke tanah dengan kondisi memprihatinkan, darah segar mengalir deras di antara kedua kaki. Namun, karena iblis telah menguasai hati pria itu, dia justru tersenyum sinis dan merasa bahagia melihat penderitaan Queensha.
'Sukurin. Itulah balasan karena lo berani halangin gue. Gue enggak akan segan untuk menyingkirkan hama pengganggu macam lo, Wanita Sialan! Mampus aja lo sekalian!' Andri menaikkan sudut bibirnya sebelah.
Sementara itu, Lulu yang masih syok akan kehadiran Andri secara tiba-tiba, dibuat khawatir kala darah segar terus mengalir tanpa henti. Dress bunga-bunga yang dikenakan Queensha berubah warna, dari tosca menjadi merah pekat.
"Lepasin gue! Mas Leon, tolongin aku." Lulu berteriak kencang, meminta pertolongan Leon. Dia ingin sesegera mungkin terlepas dari cengkeraman Andri agar dapat menolong Queensha. Jangan sampai sahabatnya keguguran.
Suara teriakan Lulu berhasil mengembalikan Leon dari keterkejutannya. Jantung berdegup kencang, wajah berubah pias disusul bayangan wajah Ghani melintas di benak membuat perasaannya tak menentu. Sadar akan ada bahaya besar melanda karena dianggap lalai menjalankan tugas penting dari sang sahabat.
Sepersekian detik Leon telah berada di depan Andri. Rahang gemetar merasakan emosi bercampur ketakutan. Dia begitu murka pada Andri, selain mengusik hidup kekasihnya, pria berengsek itu pun melukai istri dari sahabatnya.
"Dasar Bajingan! Berani-beraninya lo ganggu cewek gue. Lepasin dia sebelum bogem mentah ini bersarang di perut dan muka mesum lo!"
Andri tersenyum smirk. "Oh, jadi lo cowoknya Lulu. Pantesan aja lo begitu marah saat gue deketin dia, rupanya kalian pacaran."
"Tadi lo bilang lepasin, cuih jangan mimpi karena gue enggak akan pernah lepasin Lulu. Selamanya dia jadi milik gue. Ngerti!"
Andri menarik paksa tangan Lulu, hendak mendorong tubuh sintal itu masuk ke dalam mobil sebelum dirinya berduel dengan Leon, memberi pelajaran kepada kekasihnya Lulu demi membalas dendamnya tempo hari. Belum juga niatan itu terlaksana, Lulu telah lebih dulu menggigit punggung tangan Andri, menancapkan giginya di permukaan kulit sang mantan kekasih.
"Argh, Perempuan Sialan! Dasar Wanita Murahan!" maki Andri merasa kesakitan. Cengkeraman tangan tak lagi seerat sebelumnya, dan itu dimanfaatkan Lulu untuk menjauh dari Andri.
Lulu berlari sekuat tenang, mengerahkan kemampuan yang ada untuk menyelamatkan Queensha. Sementara itu Leon melihat peluang besar di depan mata segera melayangkan pukulan keras ke wajah Andri hingga pria itu terjajar ke belakang.
"Mampus! Itu balasan karena lo berniat nyulik Lulu."
Belum hilang rasa sakit akibat digigit Lulu, kini Andri merasa kesakitan luar biasa di bagian perut. Memegangu perutnya dengan kedua tangan. "Bangsat! Enggak akan gue biarin lo menang lagi. Terakhir kali gue kalah, kali ini gue bakalan bales."
Belum sempat Andri menegakkan badan, Leon kembali menghajar teman duel-nya itu. Kali ini wajah Andrilah menjadi sasarannya.
__ADS_1
"Dan ini balasan karena lo udah dorong Queensha, istri sahabat gue. Gue kirim lo ke neraka karena berani-beraninya celakain Kakak Ipar gue!"
Andri tertawa sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. "Yang ada gue duluan ngirim lo ke neraka. Andri yang sekarang udah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sini, hajar gue sekarang."
Merasa tertantang, Leon menggulung kemeja panjang hingga sebatas siku. Menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, bersiap menghajar Andri sampai babak belur.
Perkelahian tak dapat dihindarkan. Leon dan Andri saling adu kekuatan. Keadaan sekitar cukup sepi sehingga mereka leluasa adu kekuatan di depan rival masing-masing.
Leon mencengkeram bagian atas kaos Andri, lalu menarik tangan ke belakang kemudian menonjok kuat wajah lelaki mesum di depannya. Seketika tubuh Andri terjatuh ke aspal karena kekuatannya tak mampu menandingi Leon yang saat itu seperti orang kesurupan.
Pria yang berprofesi sebagai dokter bedah di rumah sakit milik orang tua sahabatnya, menduduki tubuh Andri dan menghajar pria itu habis-habisan.
"Cowok mesum! Cowok mata keranjang! Rasakan ini. Lo pantes mendapat hukuman karena udah nyikiti perempuan!"
Sementara Leon memberi pelajaran pada Andri, Lulu mengangkat kepala Queensha sempat membentur aspal. Meletakkan kepala sahabatnya di atas pangkuan.
"Lu, sakit. Perutku sakit sekali," rintih Queensha seraya meneteskan air mata. Wajah kedua orang tuanya menyeruak perlahan. Senyuman papa dan mamanya membuat Queensha menangis di tengah rintih kesakitan. "Lu, aku tidak mau kehilangan anak-anakku. Tolong selamatkan kami. Tolong bawa aku ke rumah sakit. Tolong, Lu."
Lulu tak sanggup melihat penderitaan Queensha ikut meneteskan air mata. Dada terasa sesak seperti ada batu besar menimpanya. "Iya, Sha, gue pasti tolongin lo. Lo mesti bertahan demi Rora dan ketiga bayi lo."
Tak berselang lama, dua orang bodyguard yang ditugaskan menjaga Queensha berlari mendekat. Mereka baru saja selesai minum es cendol, menghilangkan rasa dahaga akibat cuaca panas melanda kota Jakarta.
"Mas, tolong bantu aku bawa dia ke mobil putih itu." Lulu menunjuk mobil Leon yang terparkir tak jauh dari arahnya.
Dua anak buah Yogi menelan saliva susah payah kala melihat kedua paha Queensha dibanjiri darah segar. Dalam hati merutuki kebodohannya karena lalai akan tugas yang diberikan atasan mereka.
'Tamat riwayat gue.'
Pria berambut gondrong dan berambut plontos bekerja sama, bahu membahu menggotong tubuh Queensha. Memindahkan wanita hamil itu ke dalam mobil.
"Mas Leon, hentikan! Bantu aku bawa Queensha ke rumah sakit sekarang! Dia mengalami pendarahan hebat!" kata Lulu seraya menyentuh bahu Leon. Jika tidak dihentikan, nyawa Andri bisa lenyap di tangan kekasihnya dan rencana pernikahan mereka batal akibat insiden perkelahian ini.
Tangan Leon mengepal di udara, menahan diri agar tidak menghajar Andri secara membabi buta. Rahang mengeras hebat, dada bergerak turun dan naik.
__ADS_1
"Setelah ini lo akan berurusan dengan Ghani. Siapin mental karena sahabat gue bakal ngirim lo ke neraka!" Leon bangkit berdiri, tetapi dia tak langsung pergi. Pria yang terkenal selengean menendang perut Andri sebelum meninggalkan tempat itu.
Leon melirik tajam pada dua pria bertubuh kekar. Hanya dari penampilan mereka saja dapat mengetahui kalau mereka adalah orang suruhan Yogi, yang ditugaskan menjaga Queensha.
"Berdoa aja, moga Ghani enggak minta Yogi untuk melenyapkan kalian berdua," ucap Leon sinis. Seandainya dua bodyguard itu sigap, pasti Queensha tidak mungkin mengalami pendarahan.
***
"Mas Leon, lebih cepet lagi. Kasihan Queensha kesakitan." Lulu menepuk kursi kemudi, meminta Leon menaikkan kecepatan laju kendaraan mereka. Sesekali mengusap peluh yang membanjiri kening Queensha dengan bagian ujung kaos lengan panjangnya.
"Lu, pastikan Queensha tetap terjaga. Jangan biarkan matanya terpejam!" titah Leon. Kemudia menginjak pedal gas hingga speedometer menunjuk ke arah 80 KM/jam. Dia menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya bahkan menerobos lampu rambu lalu lintas saat telah menunjukan warna kuning. Beruntungnya tak terjadi kecelakaan meski beberapa kali melanggar rambu lalu lintas.
Leon mematikan mesin mobil tepat di depan IGD. Dia turun terlebih dulu, berlari ke arah brankar yang diletakkan tak jauh dari pintu masuk IGD.
"Mas, bantu saya menurunkan pasien di dalam mobil. Dia sedang hamil 20 minggu, mengalami pendarahan akibat didorong seseorang." Leon menjelaskan kondisi Queensha pada tenaga medis yang bertugas.
Dua orang perawat pria dan satu orang security mendekati mobil Leon, memindahkan tubuh Queensha ke atas brankar. Lalu mereka mendorong brankar tersebut masuk ke ruang IGD.
Sepanjang jalan, Lulu terus menggenggam tangan Queensha. Lelehan air mata terus membasahi pipi. Dia benar-benar takut kehilangan sahabat terbaiknya itu.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk ke dalam." Seorang perawat mencekal Lulu saat hendak mengikuti brankar Queensha.
"Tapi Sus, saya-"
Leon menyentuh bahu Lulu. "Biarin mereka ngobatin Queensha. Kita tunggu aja di sini sambil mendoakan keselamatan untuk Queensha."
Bagai terkena mantra sihir, Lulu menuruti yang dikatakan Leon. Duduk di kursi panjang terbuat dari stainless sambil menatap nanar pada pintu ruang IGD yang tertutup rapat.
"Tenanglah, semua pasti baik-baik aja. Aku yakin, Queensha beserta ketiga anaknya akan selamat. Sahabatmu itu kuat, dia bisa melewati ini semua." Leon mencoba menghibur kekasihnya agar Lulu tidak terlalu mencemaskan Queensha.
"Ini semua salahku. Aku yang salah. Seharusnya aku enggak ajak Queensha makan bakso." Lulu menangis sesegukan di sebelah Leon.
Dengan penuh perhatian Leon mengusap rambut Lulu perlahan. "Sst, jangan nyalain dirimu sendiri. Ini adalah musibah dari Tuhan, kita enggak pernah tau kapan bencana datang melanda. Sebaiknya kita berdoa bersama, memohon pada Tuhan semoga Dia membantu dokter dan perawat di dalam sana untuk menyelamatkan Queensha."
__ADS_1
Lulu mengangguk lemah. Kemudian mata mulai terpejam, memanjatkan doa kepada Tuhan demi kesembuhan sahabatnya.
...***...