
Matahari bersinar dengan sangat terik sekali di luaran sana. Dari dalam mobil taksi yang membawa Queensha, wanita itu menatap ke luar jendela sambil sesekali mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.
Suara isakan terdengar jelas oleh sopir yang membawanya. Dia melirik dari kaca spion, melihat Queensha yang terus menerus mengusap pipinya yang basah dengan telapak tangan.
“Ini, Mbak.” Sopir tersebut memberikan kotak tisu yang ada di dashboard mobil untuk Queensha.
"Makasih, Pak."
Queensha mengambil beberapa lembar tisu itu dan mengusap air mata yang sulit sekali untuk dia tahan lagi. Namun, hati sedikit lega karena masih ada orang yang perhatian dan memberinya tisu.
"Kita mau kemana, Mbak?" tanya sopir tersebut sambil memperhatikan jalanan di depan sana.
Queensha lupa, dia belum menyebutkan ke mana arah tujuannya. Dia berpikir sebentar, indekos yang pernah dia tempati dulu pasti sudah ditempati oleh orang lain. Sekarang ini dia bingung akan pergi ke mana karena dia tidak mempunyai uang sama sekali untuk menyewa kamar indekos yang baru. Saat meninggalkan rumah mertuanya, ia hanya membawa uang pemberian terakhir yang Ghani berikan kepadanya dan itu pun sebelum mereka bercerai.
Queensha mengeluarkan uang di dompet yang hanya tinggal sedikit, entah apakah cukup untuk membayar taksi atau tidak. Dia melihat angka yang ada pada argo taksi tersebut dan berharap jika uang yang dimilikinya saat ini cukup untuk membayar.
"Sepertinya aku harus pergi ke menemui Lulu," gumam Queensha. Walaupun sedikit ragu karena ini kali pertama dalam hidupnya menumpang di tempat tinggal orang lain dengan sangat terpaksa ia harus melakukan itu sebab tidak ada cara lain selain pergi ke indekos sang sahabat.
Queensha menyebutkan sebuah alamat di mana tempat temannya itu tinggal. Sopir segera melajukan kendaraannya ke alamat yang tadi disebutkan oleh penumpangnya.
Taksi tersebut telah sampai di depan indekos Lulu, Queensha bisa bernapas dengan lega saat uang yang dimilikinya cukup untuk membayar ongkos taksi tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak." Tak lupa Queensha berikan senyuman manis karena sopir taksi tersebut karena telah mengantarkannya dengan selamat sampai tujuan.
"Sama-sama," ucap sopir tersebut seraya menerima uang dari Queensha. Koper telah dia turunkan dan pria itu kembali ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya lagi untuk pergi dari sana.
Queensha menatap bangunan yang ada di depannya. Dia menghela napas panjang sebelum mulai melangkahkan kaki ke dalam tempat tersebut.
__ADS_1
"Astaga, aku melupakan sesuatu, aku belum menghubungi Lulu," ucapnya kemudian dia mencoba menghubungi Lulu lewat sambungan telepon. Beruntung perempuan itu ada di sana. Seandainya Lulu tidak ada di rumah entah bagaimana nasib dirinya yang mungkin akan luntang-lantung di jalanan.
Queensha menunggu beberapa menit sehingga akhirnya gadis berpenampilan seperti anak lelaki keluar dari kamar dan setengah berlari memeluk Queensha. Dia dibuat heran karena Queensha membawa koper dan tas besar di punggungnya.
"Sha, lo kenapa bawa koper segala? Kayak lagi mau kabur aja," seru wanita itu melepaskan pelukannya dari Queensha.
Dengan sedikit ragu Queensha menjawab, "Aku memang pergi dari rumah. Rencana mau nginep di sini, boleh enggak?" tanyanya dengan mengerjapkan mata penih pengharapan.
Lulu yang mendengar pernyataan sahabatnya itu terkejut. Bola mata gadis itu terbelalak dengan rahang terbuka lebar. "Lo kabur dari rumah? Kenapa? Apa karena Bumer lo resek mirip ibu mertua yang ada di sinetron itu? Kalau iya, lo ajak gue ketemu sama dia. Ntar gue omelin karena berani-beraninya nyiksa teman terbaik gue," ujarnya berapi-api.
Refleks tangan Queensha terangkat ke udara, melambai cepat di depan Lulu. "Mertuaku bukan tipe orang seperti itu. Dia memperlakukanku dengan baik seperti anaknya sendiri. Hanya saja ... aku ada sedikit masalah dengan Pak Ghani. Namun, aku enggak bisa cerita di sini, takut ada orang yang nguping." Wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling memastikan tidak ada siapa pun mendengar percakapan mereka.
"Ya udah kalau gitu lo masuk dulu, ntar ceritanya di dalam aja," ujar Lulu membantu membawa koper milik Queensha. Queensha mengangguk patuh dan mengikuti langkah Lulu, masuk ke dalam kamar dengan ukuran yang tidak terlalu besar itu.
"Duduk dulu, biar gue bawain minum buat lo." Lulu mengambil air minum yang terletak di sudut kamar dan segera memberikannya kepada Queensha. Dari raut wajah sahabatnya itu dia memang terlihat tidak sedang baik-baik saja. Lulu menunggu Queensha hingga selesai minum dia duduk menatap sang sahabat.
Queensha menundukkan kepala dan memainkan bibir gelas dengan ujung telunjuk. "Aku baru saja diceraikan oleh Pak Ghani," ucap wanita itu.
"What!" Lulu melotot menatap sang sahabat dengan tidak percaya. "Gimana bisa lo diceraikan sama mantan majikan lo itu? Kalian punya masalah apa? Enggak mungkin 'kan mantan majikan lo itu tiba-tiba ceraiin lo tanpa ada sebab akibat. Apalagi akan ada dampaknya jika lelaki itu sembarangan menjatuhkan talak kepada lo."
Queensha menunduk dan melihat isi gelas yang tinggal setengah. Jelas perkataan Ghani tidak main-main mengingat dirinya juga salah karena tidak melibatkan Ghani pada apa yang dia lakukan. Pada akhirnya wanita itu mulai menceritakan apa yang melatarbelakangi Ghani hingga menceraikannya.
"Jadi gitu ceritanya, Lu. Gue bingung mesti ke mana. Rumah warisan kedua orang tuaku udah ditempati orang lain, pindah ke indekos dulu, enggak punya duit. Cuma kamu doang yang kupunya di kota ini. Enggak mungkin dong aku nemuin saudara dari pihak Mama dan Papa lalu meminta bantuan mereka. Yang ada aku diusir lagi karena pernah membuat malu nama keluarga karena ketahuan hamil di luar nikah." Queensha menyentuh sebelah tangan Lulu dan berkata, "Tolong izinin aku untuk tinggal di sini sampai aku dapat kerja. Kalau aku udah dapat pekerjaan, aku pasti pindah dari sini. Janji!"
Lulu merasa lemas mendengar ucapan dari sahabatnya itu, bukan karena Queensha ingin tinggal di sini, tapi karena syok mendengar bahwa saat ini wanita yang duduk di sebelahnya resmi menyandang status janda dalam kurun waktu dua bulan pernikahan dan itu semua disebabkan oleh Mia. Wanita iblis itu menjadi dalang kehancuran rumah tangga sahabatnya.
"Lagi dan lagi wanita jahat itu. Kapan sih dia mati! Udah enggak sabar datang ke pemakamannya dan melemparkan sampah ke atas pusaranya itu. Lama-lama gue geram juga sama tuh Nenek Lampir!" sungut Lulu, ia memukul tepian kasur menggunakan telapak tangan.
__ADS_1
"Jadi gimana, Lu, kamu bisa bantuin aku? Janji deh aku bakal cepat pindah dari sini setelah mendapat pekerjaan baru."
Lulu menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia tidak keberatan jika Queensha berada di sini. "Ya, lo boleh tinggal di sini sama gue. Mau selamanya juga enggak apa-apa," ucap Lulu mencoba menghibur sang sahabat. "Gue turut prihatin dengan apa yang lo lalui. Lo harus kuat, Bestie!" ujar wanita itu mengusap bahu Queensha dengan lembut.
"Terima kasih kamu sudah mau tolong aku. Aku berhutang banget sama kamu."
Lulu mengambil tangan Queensha dan menatap wanita itu sedikit kesal. "Di dalam persahabatan kita enggak ada namanya hutang. Gue tulus bantuin lo. Sekarang lo istirahat, tenangkan hati dan pikiran lo," ujar wanita itu yang membuat Queensha menjadi sedih.
Lulu yang melihat Queensha menangis segera mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat. Semua ini tentu saja dirasakan berat oleh Queensha, apalagi sang sahabat sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dia membiarkan bahunya sebagai sandaran Queensha untuk mengeluarkan segala keluh kesah dan juga kesedihannya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk sahabatnya itu selain menggunakan dirinya untuk menghibur wanita tersebut.
"Udah jangan berlarut-larut dalam kesedihan! Lo masih punya gue. Omong-omong, lo udah makan belum?" tanya Lulu yang mendapatkan gelengan kepala dari Queensha.
Sebagai orang yang hidup sendirian tentu saja Lulu jarang sekali memasak hingga saat ini pun dia tidak memiliki sesuatu untuk mereka makan. Maka dari itu dia memutuskan untuk pergi ke luar mencari makanan untuk mereka berdua.
"Tunggu di sini sebentar aja, gue mau ke warteg depan," ucap Lulu seraya membawa dompetnya.
Saat Lulu akan berjalan keluar, Queensha berkata sehingga dia menghentikan langkahnya. "Makasih banyak ya, Lu. Sorry, udah ngerepotin kamu."
Lulu tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian pergi keluar dari kamar tersebut. Queensha memutuskan untuk berbaring sambil menunggu Lulu kembali. Bayangan-bayangan di dalam ingatannya saling berlarian memikirkan semua hal yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini.
Tiba-tiba saja air mata kembali mengalir saat mengingat Aurora. Entah akan bagaimana jadinya gadis kecil itu, jika dia tidak ada di rumah.
"Maafin mama, Rora," ucap Queensha sambil memejamkan mata yang semakin terasa panas. Queensha sudah tidak tahan lagi menahan sesak di dada. Di sini, di kamar ini dia menumpahkan rasa sakit dan sedihnya.
Tanpa diketahui Queensha, rupanya Lulu masih berdiri di balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari posisinya saat ini dia dapat mendengar jelas keluh kesah sang sahabat.
"Gue yakin, suami lo yang berengsek itu bakalan nyesel karena udah membuang permata yang sangat berharga seperti lo, Sha. Dan saat waktunya tiba, gue bakal jadi orang pertama yang bakalan ngasih pelajaran sama dia karena udah nyakitin lo!"
__ADS_1
...***...