Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Tawaran Kerjasama


__ADS_3

Sepuluh tahun lamanya menuntut ilmu di negeri sakura, akhirnya Ghani dapat menyelesaikan kuliah spesialis bedah tanpa hambatan apa pun. Ia, Leon serta beberapa teman satu gengnya bahagia sebab dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu hingga tak banyak waktu terbuang hanya untuk menyandang gelar Sp.B.


Setelah mendapat ijazah kelulusan dan surat keterangan yang menyatakan bahwa Ghani beserta teman lainnya sudah diperbolehkan kerja di lapangan, Leon berencana mengajak sahabat sejatinya itu nongkrong di salah satu club terkenal di kota tersebut. Pria jangkung yang acap kali disebut mirip aktor Mandarin bernama Jhonny Huang ingin merayakan pesta kelulusannya bersama orang terdekat.


"Ghan, lo jadi ikut gue pergi ke club, 'kan?" Leon secara khusus datang ke apartemen sang sahabat untuk memastikan kembali jika putera tertua keluarga Wijaya Kusuma tak berubah pikiran sebab biasanya kakak pertama Zahira memang tidak pernah datang ke tempat hiburan malam. Setiap kali Leon beserta teman satu gengnya nongkrong, Ghani selalu absen dan lebih memilih bekerja part time daripada menghabiskan waktu hang out dengan teman-temannya.


Ghani mengusut peluh yang jatuh membanjiri kening dan leher menggunakan handuk kecil. "Jadi, pagi buta begini lo datang ke apartemen gue cuma mau nanyain masalah ini? Enggak jelas banget sih hidup lo!" gerutunya kesal sebab merasa aktivitasnya diganggu seseorang.


Leon berjalan ke arah dapur, menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya perlahan. "Hu'um, soalnya gue masih belum percaya kalau lo nerima ajakan gue untuk kumpul bareng, merayakan kelulusan kita. Aneh aja sih sebab lo tuh paling anti gabung di tempat begituan."


Berdecak kesal seraya menghempaskan bokong di atas sofa. "Ya sesekali sih enggak apa-apa juga kali. Asalkan lo dan yang lain enggak maksa gue minum, enggak masalah sih. Gue terima ajakan lo dengan suka cita."


Gelas panjang terbuat dari kaca terangkat ke udara. Dengan sorot mata serius, Leon berucap, "Tenang aja, Bro. Gue enggak bakal paksa lo minum kok. Gue juga bakal pesenin minuman soda khusus buat lo sebagai pengganti sake ataupun wine. Jadi, lo tetep bisa ngerayain kelulusan kita tanpa harus menegak minuman beralkohol," pungkas Leon menyakinkan sahabatnya itu.


"Hmm," jawab Ghani datar dan mulai meneguk air putih dari botol minum yang tersedia di atas meja persegi panjang terbuat dari kayu.


Cukup lama Leon berada di apartemen Ghani, kini saatnya ia pergi dari tempat tinggal sahabatnya yang dulu pernah ditempati pula oleh Zahira.


"Gue mau ke perpustakaan ngembaliin buku. Lo ikut enggak?" tawar Leon sebelum meninggalkan apartemen sang sahabat. Sekadar basa basi karena ia tahu kalau Ghani tidak mungkin ke kampus sebab enggan bertemu dengan Cassandra, adik tingkat mereka yang sama-sama berasal dari Indonesia.


Telapak tangan melambai ke udara. "Enggak! Gue mau di sini aja. Badan gue capek habis olahraga. Kalau lo mau ke kampus, silakan. Enggak usah ajak-ajak gue. Ngerti!" tandas Ghani tegas.


***


Berjalan kaki sekitar lima ratus meter dari stasiun, akhirnya Leon tiba di kampus. Pria tampan itu mengayunkan kakinya menuju salah satu bangunan penting bagi seluruh mahasiswa. Bagaimana tidak penting, di gedung itu terdapat aneka ragam buku dari berbagai kategori sehingga mahasiswa bisa memilih sesuai kebutuhan. Segala macam sumber ilmu ada di dalam sana.


Leon berdiri di depan rak buku yang menjulang tinggi ke atas. Deretan buku dengan aneka judul dan kategori berjejer rapi di sana.


Jari telunjuk diketuk-ketuk di dagu. Kedua alis saling tertaut satu sama lain. Tampaknya Leon sedang berpikir keras, mencari referensi buku bacaan yang menarik sebagai obat pengusir rasa bosan saat dalam perjalanan nanti menuju tanah air.


"Kayaknya buku ini bagus. Gue baca dulu deh beberapa lembar. Kalau sekiranya emang bagus, baru dibeli. Kalau enggak, ngapain juga dibeli menghambur-hamburkan uang aja." Lantas Leon membawa buku tersebut kemudian meletakkannya di atas meja. Jari tangan mulai membuka lembar halaman pertama. Membaca isi buku bacaan tersebut.


Di saat Leon sedang fokus membaca buku, seorang gadis cantik dengan lesung pipi di sudut bibir baru saja tiba di perpustakaan. Ia terus tersenyum dan tertawa bersama dua orang sahabatnya.

__ADS_1


"Kalian lihat enggak gimana reaksinya cowok tadi waktu gue tolak? Bener-bener bikin gue mual. Dia pikir dengan penampilannya yang cupu bisa menarik perhatian gue? Cih, jangan harap deh bisa mendapatkan primadona seperti gue!" ujar gadis cantik bernama Cassandra.


Kedua sahabat Cassandra terkekeh pelan. "Enggak sadar diri banget sih tuh cowok. Culun bin cupu mau mendapatkan Bidadari, ngimpi kali ye!" timpal Leni, sahabat Cassandra.


"Bagai pungguk merindukan bulan." Freya ikut membenarkan ucapan Leni.


Suasana perpustakaan pagi itu cukup ramai. Meja dan kursi yang disediakan hampir terisi penuh membuat Cassandra mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari meja serta kursi kosong agar dapat membaca buku dengan tenang.


Cassandra menatap lurus ke belakang. Pada sosok pria tampan yang sedang membolak balikan lembaran kertas buku bacaan yang diletakan di atas meja. "Girl, gue duduk di sana. Lo berdua cari aja tempat sendiri." Ia menunjuk ke arah Leon.


Leni dan Freya mengikuti ke mana arah jari telunjuk Cassandra mengarah. Detik berikutnya mereka tersenyum lebar dan mengangguk hampir bersamaan. "Good luck, Sandra!" ucap keduanya bersamaan.


Kursi berderit saat Cassandra menariknya ke belakang, membuat Leon mendongakan kepala. "Sorry, kalau gue ganggu. Oh ya, tumben lo sendirian. Ghani mana?" tanya gadis itu to the point.


Leon memutar bola mata malas. Jengah juga bila setiap kali bertemu Cassandra selalu menanyakan keberadaan Ghani. "Dia lagi istirahat di apartemen, mengumpulkan energi untuk nanti malam," sahutnya santai.


"Emang ntar malam mau ngapain?" tanya Cassandra penasaran.


Tubuh Cassandra maju hingga mentok di tepian meja. "Party? Gue ikutan dong. Udah lama banget nih enggak hang out bareng kalian."


Leon mengatupkan bibir detik itu juga. Sadar bahwa telah melakukan satu kesalahan. 'Bego! Ngapain gue cerita ke dia kalau ntar malam mau party. Kalau Ghani marah gara-gara kecerobohan gue, gimana? Leon ... Leon, kok bisa ceroboh gini sih!' Pria jangkung itu merutuki kebodohannya karena tak bisa menjaga lisan.


Tak mendapat respon apa pun dari Leon, Cassandra menggoyang lengan sahabat dari pria yang ia cintai. "Boleh ya gabung kalian semua? Gue janji deh enggak bakal bikin onar di sana."


Leon menarik napas panjang dan tersenyum masam. Ingin menolak, tetapi tak tega. Mengiyakan permintaan Cassandra, maka bersiap menerima amukan Ghani. Benar-benar dilema.


"Oke, lo boleh gabung. Tapi ingat, jangan buat Ghani marah! Gue enggak mau dia ngamuk di saat kita sedang have fun."


"Siap!" Ibu jari Cassandra terangkat ke udara.


***


Sesaat sebelum berangkat ke club, Cassandra menyempatkan diri menemui Alvin, teman satu geng Ghani. Ia bergegas menemui Alvin setelah mengetahui bahwa pria itu akan turut menghadiri pesta kecil-kecilan yang diadakan Leon.

__ADS_1


"Tumben lo datang ke sini. Ada urusan apa?" tanya Alvin pada Cassandra. Pria itu mengerutkan kening sebab tidak biasanya wanita itu mengunjunginya di apartemen.


Cassandra mendorong tubuh Alvin lalu menutup pintu apartemen sampai tertutup rapat. "Gue denger keadaan ekonomi keluarga lo sedang kritis, sedangkan saat ini lo butuh banget duit banyak untuk bisa balik Indonesia. Gue bisa ngasih duit cuma-cuma asalkan lo bersedia melakukan sesuatu untuk gue."


Ekor mata Alvin terbelalak sempurna. "Lo ... tahu dari mana? Perasaan gue enggak pernah cerita kepada siapa pun."


Cassandra mendengkus kesal. "Lo enggak perlu tahu gue mendapat info itu dari mana. Namun, tawaran gue barusan sungguhan. Gue bakal ngasih duit ke lo sesuai dengan yang dibutuhkan bahkan bisa lebih asalkan-"


"Asalkan apa? Lo mau minta gue ngelakuin apa, hem? Gue enggak mau kalau lo suruh gue untuk melenyapkan nyawa seseorang. Walaupun kepepet, gue enggak mau ambil resiko dengan mengorbankan masa depan demi lembaran uang rupiah."


Gadis cantik dengan tinggi semampai dan berkulit putih bagai pualam berdecak sambil menghunus tatapan ketidaksukaan pada Alvin sebab pria itu telah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Otak gue masih bisa berpikir logis, Vin, jadi mana mungkin minta lo untuk melakukan tindak kriminal. Lagi pula, kalau lo ditangkap, gue juga bakal ikut ditangkap lalu nama baik keluarga tercoreng."


"Lalu, lo mau gue berbuat apa?" desis Alvin berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat ke depan dada.


Cassandra tersenyum smirk. Kemudian mengeluarkan satu kantong berisi serbuk putih ke depan wajah Alvin. "Gue minta lo taruh obat ini ke dalam minuman Ghani. Gimana, mudah bukan?" tanyanya sambil tersenyum culas.


Tangan kokoh Alvin meraih plastik bening di depannya. "Obat? Obat apa yang mau lo taruh ke minuman sohib gue?"


"Obat perangs*ng," sahut Cassandra cepat.


"Lo udah gila, Sand? Gue tahu lo tuh cinta mati sama Ghani, tapi jangan melakukan tindakan bodoh seperti ini. Lo tahu 'kan kalau-"


"Diam! Gue enggak butuh ceramah lo!" bentak Cassandra dengan mata melotot. "Gue cuma butuh jawaban lo. Iya, atau enggak. Kalau lo mau bekerjasama, gue bakal transfer uang detik ini juga sebagai imbalannya. Namun, kalau enggak, gue bakalan cari orang lain untuk melakukan apa yang gue perintahkan."


Alvin tampak sedang berpikir keras. Ia tengah kebingungan antara menerima tawaran Cassandra atau tidak. Sejujurnya ia memang sangat membutuhkan uang itu. Namun, sanggupkah ia mengkhianati temannya sendiri? Walaupun sikap Ghani tak jarang membuat tekanan darahnya tinggi, tetapi pria berwajah oriental itu selalu menolong di saat ia membutuhkan bantuan.


Mengambil napas panjang, Alvin menatap lekat manik coklat Cassandra. "Baiklah, gue bersedia kerjasama dengan lo. Tapi lo betulan bantuin gue, 'kan? Gue enggak mau ngelakuin ini kalau enggak ada timbal balik."


Cassandra tersenyum semringah mendengar kesediaan Alvin yang mau bekerjasama dengannya. "Enggak usah khawatir. Gue akan langsung transfer ke rekening setelah lo menyelesaikan tugas dengan baik."


...***...

__ADS_1


__ADS_2