
Mata Queensha melotot menandakan bahwa dia tidak suka akan gurauan yang baru saja dilontarkan sang mantan suami. Akan tetapi, si tersangka justru bersikap santai seolah tak menyadari bahwa tatapan itu ditujukan kepadanya.
Melangkah dengan santai mendekati dua wanita yang teramat dia sayangi. "Rora mau punya dedek bayi kembar, iya?" Pertanyaan Ghani dijawab anggukan kepala Aurora. "Tenang saja, nanti papa dan Mama berikan adik bayi yang sangat lucu bahkan lebih menggemaskan daripada adiknya teman sekelasmu, Tiara."
Bola mata bundar itu berbinar tak percaya. "Sungguh? Papa enggak bohong, 'kan? Papa akan kasih Rora dedek bayi kembar."
Ghani mengulurkan tangan ke depan kemudian mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh cinta. "Tentu saja, mana mungkin papa bohong. Papa akan mengabulkan permintaanmu. Tapi Rora harus rajin berdoa kepada Tuhan, minta kepada-Nya untuk membantu papa membujuk Mama agar kita bertiga hidup bersama lagi seperti dulu. Kalau kita tinggal satu rumah lagi, Rora juga berdoa agar dedek bayinya segera hadir di perut Mama."
Ketika mengucap kalimat terakhir, Ghani menaik turunkan kedua alis sengaja menggoda Queensha. Ucapan nakal berasal dari bibir Ghani sukses menimbulkan semburat rona merah muda di pipi, wajah wanita itu memerah bagai buah tomat segar yang baru saja dipetik dari kebun.
"Oke, Papa. Rora pasti rajin berdoa agar Tuhan mengabulkan permintaan Rora." Lantas gadis itu turun dari pangkuan dan berdiri di hadapan kedua orang tuanya. "Kalau gitu Rora mandi dulu deh, kan sebentar lagi mau sekolah TPA. Kalau udah di sekolah, Rora akan minta teman sekelas dan juga Bu Guru untuk bantu doa agar di perut Mama segera ada dedek bayi."
Wajah si kecil maju ke depan kemudian mencium pipi Ghani dan Queensha. "Rora sayang Papa dan Mama." Setelah itu dia meminta Ijah menemaninya ke kamar, membantunya bersiap supaya tidak terlambat pergi ke sekolah.
Saat ini tersisa Queensha dan Ghani di ruang keluarga. Ghani duduk tenang sambil melirik sesekali ke arah sang wanita sedangkan wanita muda berusia dua puluh lima tahun tampak gelisah duduk bersebelahan dengan mantan suaminya itu. Entahlah kenapa jantung wanita itu selalu berdegup kencang setiap kali berada di dekat Ghani padahal pria tampan yang bekerja sebagai dokter spesialis bedah pernah menyakiti hatinya, tetapi debaran halus itu masih ada hingga detik ini.
"Kenapa wajahmu memerah? Tidak mungkin 'kan disebabkan alergi makanan karena setahuku Mbak Tina tidak menghidangkan makanan yang mengandung bahan dasar kacang-kacangan penyebab kamu alergi. Atau ... jangan-jangan kamu tersimpu malu karena putri kita meminta adik bayi." Ghani kembali menggoda wanita yang telah memberinya seorang putri cantik yang diberi nama Aurora Syafiatunnisa.
Saat pertama kali melihat wajah sang putri, hati Ghani langsung tertambat pada sosok mungil di depannya. Wajah bayi mungil itu begitu bersinar bagai sinar mentari di pagi hari. Pipinya yang merah merona, kulitnya yang putih bersih seperti kapas membuat pria itu jatuh hati pada pandangan pertama. Untuk itulah Ghani memberi nama Aurora karena kehadiran bayi itu bagaikan lentera menyinari hidupnya yang gelap.
__ADS_1
Refleks Queensha menepuk paha Ghani yang berada di sampingnya. "Omong kosong, mana mungkin aku malu hanya karena mendengar permintaan Aurora. A-aku ... wajahku tadi ...."
"Ah, sudahlah lupakan saja. Aku sedang tidak mau membahasnya." Memalingkan wajah menyembunyikan rona merah muda di wajah. Semakin lama semburat merah muda semakin jelas terlihat di wajahnya yang putih.
Queensha merutuki dirinya sendiri karena sempat membayangkan kilasan kejadian saat dirinya tengah bercinta dengan Ghani. Suara desahaan, erangan dan lengkuhan bersumber dari keduanya masih terekam jelas di telinga membuat wajahnya memanas.
Ghani tertawa kecil. "Baiklah, jika itu maumu saya tidak membahasnya lagi." Pria itu melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang keluarga, waktu menunjukan pukul empat sore dan satu jam lagi dia harus kembali ke rumah sakit karena ada jadwal operasi.
"Oh iya, Sha. Kalau kamu tidak keberatan bisakah dirimu menginap semalam di sini? Ayah dan Bunda sedang menginap di rumah Zahira dan baru pulang besok siang sedangkan saya kebagian shift malam dan ada jadwal tindakan operasi. Saya khawatir Rora terbangun di tengah malam karena bermimpi buruk dan menangis histeris tanpa ada satu orang pun yang menenangkannya."
"Bapak betulan dinas malam di rumah sakit, 'kan? Tidak pulang saat tengah malam?" tandas Queensha memastikan terlebih dulu.
"Ya, kecuali kamu ingin saya pulang ke rumah agar bisa berduaan seperti sekarang. Selagi rumah sepi kita bisa leluasan melakukan apa pun tanpa takut dipergoki Ayah dan Bunda," gurau Ghani semakin pandai menggoda Queensha.
Ghani tertawa melihat betapa menggemaskannya Queensha saat ini. Sikap wanita itu seperti anak remaja yang tengah kesal kepada kekasih hati.
Menangkap kedua tangan Queensha yang masih sibuk memukul lengannya. "Ini memang diri saya yang sebenarnya, Sha. Saya akan bersikap manis bila di depan orang yang kucintai, tapi jika di depan orang lain maka berubah menjadi pria dingin yang punya tampang menyeramkan."
Dalam satu gerakan Ghani menarik tangan Queensha hingga tubuh mereka bersentuhan. Pandangan mata saling memandang, menyelami keindahan ciptaan Tuhan di depan sana. Jantung keduanya berdebar tak karuan.
__ADS_1
"Queensha, saya sayang kamu," ucap Ghani sambil menempelkan kening Queensha di keningnya. Mata terpejam menikmati detak jantungnya yang berdegup seirama detak jantung sang wanita. Bumi terasa berhenti berputar ketika dia dapat menyentuh kembali wanita yang begitu berarti dalam hidupnya setelah Arumi, bunda tercinta.
"T-tapi, Pak-"
"Sst, jangan panggil saya dengan sebutan itu. Terdengar formal sekali, Sha. Nanti orang pikir saya bos kamu, padahal sebetulnya saya adalah ... calon suamimu."
Queensha terpaku dan membeku di tempat. Lidahnya kelu seakan tak sanggup mengucap sepatah kata pun.
"Neng Rora, kita per-"
Jari telunjuk si kecil menempel di bibir, memberi kode kepada Ijah untuk tidak bersuara. Ijah segera mengatupkan bibir dan melangkah perlahan mendekati cucu dari sang majikan.
"Bibik jangan berisik nanti didengar Mama dan Papa!" ucap Aurora lirih.
Menjawab dengan suara tak kalah lirih. "Memangnya kenapa enggak boleh berisik, Neng?"
"Nanti gangguin Mama dan Papa, Bik. Rora tuh kepingin banget lihat Mama dan Papa bersama lagi seperti dulu. Nah, makanya kita enggak boleh gangguin Mama dan Papa."
"Lalu, gimana Neng Rora berangkat sekolah nanti kesiangan loh."
__ADS_1
Alih-alih menjawab pertanyaan Ijah, Aurora menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. Detik itu juga Ijah mengulum senyum di wajah mengerti makna dari senyuman itu.
...***...