
"Mbak Queensha, ayam yang sudah diungkep mau langsung dimasak sekarang?" Bik Anah bertanya sambil membawa baskom berukuran besar berisi potongan ayam negeri yang sudah diberi bumbu kuning agar aroma amisnya menghilang.
Queensha yang sedang menyetrika pakaian kerja suaminya menoleh sebentar ke sumber suara. Lalu tatapan mata beralih pada potongan daging ayam di depan sana.
"Langsung digoreng saja, Bik. Kebetulan sebentar lagi Mas Ghani pulang. Kalau digoreng mendadak, takutnya tidak keburu karena aku khawatir papanya Rora sudah lapar, tapi lauk pauknya belum matang, 'kan kasihan kalau mesti nunggu lagi. Biasanya pulang kerja perut kosong, eh malah mesti nunggu. Pasti nanti mood-nya berantakan karena tidak buru-buru terisi perutnya."
Bik Anah mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban majikan perempuannya. Queensha memang begitu perhatian terhadap Ghani walau pria itu pernah melakukan kesalahan besar, tetapi wanita itu begitu tulus melayani suaminya dengan sepenuh hati.
"Ya sudah, bibik goreng sekarang."
Wanita paruh baya itu membalikan badan hendak kembali ke dapur. Akan tetapi, langkah kakinya terhenti saat mendengar Queensha menginterupsi.
"Bik, tunggu! Potongan paha bawahnya digoreng semua, ya. Rora paling suka paha goreng daripada bagian yang lain. Aku tidak mau dia merajuk karena tak dapat menikmati salah satu makanan kesukaannya."
Lagi dan lagi bik Anah tersenyum. Selain perhatian terhadap Ghani, rupanya Queensha juga perhatian terhadap anak angkat dari sang suami. Bik Anah, para pekerja di kediaman Wijaya Kusuma ataupun orang di luaran sana mengira bahwa Aurora hanyalah anak angkatnya Ghani. Mereka tidak tahu jika sebenarnya si gadis kecil bermata bundar merupakan anak kandung Ghani yang terlahir akibat cinta satu malam bersama wanita yang kini menjadi menantu kedua dari pasangan Arumi dan Rayyan.
Sementara itu, Aurora tengah bermain masak-masakan di ruangan yang sama dengan sang mama. Gadis yang kini menginjak usia enam tahun dan mau masuk Sekolah Dasar (SD) begitu asyik dengan mainanannya.
"Mama mau Rora buatkan apa? Telur ceplok atau ikan goreng," seru Aurora sambil menunjukan telur utuh serta ikan mainan ke hadapan Queensha. Bola matanya yang jernih berpendar, menanti jawaban mama tercinta dengan begitu sabar.
Queensha memberi senyuman termanisnya untuk anak manis macam Aurora. "Boleh mama minta buatkan telur mata sapinya, Sayang? Kebetulan mama sedang ingin makan telur."
Si gadis kecil mengangguk cepat dan berkata dengan sangat antusias. "Tentu. Tunggu sebentar, Rora buatin telurnya dulu buat Mama dan Dedek bayi."
Senyuman semakin lebar mengembang di bibir Queensha. Merasa bersyukur karena dia bisa melihat tumbuh kembang Aurora dan merawat putrinya sendiri usai penderitaan yang dialaminya selama ini.
Di sisi lain, Ghani baru saja memarkirkan mobil mewahnya di parkiran basement. Dia turun dari mobil, kemudian membuka bagasi mobil mengambil dua kantong paper bag serta satu bungkus kantong belanja berisi buah-buahan segar untuk Queensha. Dia tidak mau istri serta ketiga calon anak dalam kandungan Queensha kurang nutrisi.
"Dengan begini, aku masih bisa bersikap adil terhadap Rora, Queensha serta calon anak-anakku yang masih dalam kandungan istriku. Rora dapat hadiah, begitu pun dengan istri dan ketiga jagoanku." Entah kenapa, Ghani begitu yakin jika anak dalam kandungan Queensha berjenis kelamin laki-laki. Padahal jenis kelamin bayi di rahim seorang wanita baru akan terlihat di usia kandungan memasuki minggu ke-18 sampai 20.
"Assalamu a'laikum," ucap Ghani saat memasuki istananya. Sebuah tempat ternyaman kedua setelah rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," jawab Bik Anah yang saat itu sedang berada di dapur. Kebetulan dapur di unit apartemen Ghani tak ada sekat pemisah, dibiarkan terbuka begitu saja sehingga orang yang ada di dapur dapat melihat jelas siapakah gerangan yang tengah memasuki istana indah tersebut.
"Bik, istri dan anakku ke mana? Kenapa mereka tidak ada di ruang tamu. Apa mereka sedang ke mini market di bawah?" tanya Ghani.
Bik Anah berjalan mendekati Ghani, lalu mengulurkan tangan dan mengambil satu buah plastik berisi buah-buahan segar. "Tidak, Den. Mbak Queensha dan Neng Rora ada di ruang laundry. Mereka-"
"Kenapa Bibik biarkan istriku mengurusi pekerjaan rumah tangga! Bibik, 'kan, tau kalau Queensha saat ini sedang mengandung, tapi kenapa malah dibiarkan melakukan pekerjaan berat. Seharusnya Bibik cegah, bukan malah dibiarkan begitu saja. Kalau Queensha kelelahan dan bayi dalam kandungannya kenapa-napa, bagaimana? Apa Bibik mau tanggung jawab?"
"Apa pun alasannya, Bibik tidak boleh biarkan istriku bekerja keras! Ini peringatan pertama dan terakhir kali. Jika di kemudian hari aku dengar Queensha melakukan pekerjaan rumah tangga, dengan berat hati aku akhiri kontrak kerja kita!" ucap Ghani tegas. Untuk urusan Queensha ataupun Aurora, dia tidak pernah main-main. Apa yang terucap maka akan dia lakukan detik itu juga.
Bik Anah hanya tertunduk, mengakui kesalahannya. Dia memang bersalah karena tak mencegah Queensha melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Queensha!" panggil Ghani. Raut wajahnya menunjukan jelas betapa kesalnya dia, melihat sang istri sedang melipat pakaian yang baru saja selesai disetrika.
"Papa sudah pulang? Rora kangen banget sama Papa." Aurora bangkit, lalu merentangkan kedua tangannya dan berhambur memeluk kaki jenjang sang papa. Gadis kecil berambut panjang meluapkan kerinduannya kepada papa tersayang.
Refleks Queensha menoleh ke belakang kala mendengar namanya dipanggil, disusul Aurora yang berlari kencang menghampiri Ghani.
Ghani mengusap puncak kepala Aurora menggunakan tangan yang sebelumnya sudah dia beri sanitaizer sebelum masuk ke dalam apartemen. Dengan lemah lembut walau sorot mata menahan kekesalannya terhadap Queensha, dia tak mau menunjukan kekesalannya itu kepada Aurora.
"Sayang, bisa tinggalkan papa dan Mama berdua? Papa mau bicara dengan Mama tanpa mau diganggu siapa pun."
Kepala mendongak ke atas. Ditatapkan Ghani dengan tatapan bingung. Akan tetapi, dia langsung mengangguk meski tak tahu permasalahan orang dewasa.
Setelah memastikan Aurora tak ada di sekitar mereka, Ghani segera menutup daun pintu agar suara keributan di ruangan tersebut tidak didengar putri pertamanya.
"Mas, kamu kenapa? Kamu terlihat kesal sekali. Ada apa?" Queensha menangkup wajah Ghani, mengelus rahang pria itu sambil memainkan bulu-bulu halus di area sekitar pipi.
"Bagaimana tidak kesal, kamu tidak pernah mau mendengar apa kataku. Aku tanya padamu, kenapa kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga di saat ada Bik Anah di rumah ini. Kita meng-hire beliau untuk mengurusi semua urusan rumah tangga, Sha. Kalau kamu tetap mengerjakan, lalu tugasnya beliau apa di sini?"
Ghani mulai mengatakan apa yang membuatnya kesal setengah mati. Berkali mengingatkan, tetapi ternyata Queensha tak mendengar ucapannya.
__ADS_1
Queensha yang mulai terbiasa akan sikap Ghani yang terkadang tak mampu mengendalikan emosi, hanya bisa tersenyum melihat suaminya itu. Di balik kemarahan Ghani, tersimpan rasa cemas dalam diri pria itu dan dia dapat memakluminya.
"Semua pekerjaan rumah tangga memang tugasnya Bik Anah, Mas. Aku tau itu. Namun, apa aku harus berpangku tangan dan membiarkan beliau melakukannya sendirian sementara aku bisa membantu meringankan pekerjaannya? Lagi pula, aku hanya menyetrika kemeja kerjamu sebanyak lima helai saja dan itu tidak membuatku lelah, kok. Kalau tidak percaya, kamu bisa melihatnya sendiri."
Queensha mengarahkan pandangan pada keranjang pakaian yang ada di atas meja. Di depan sana terlihat lima setel pakaian kerja Ghani yang telah disetrika rapi. Bukan cuma bersih, rapi, tetapi juga wangi.
Ghani mengikuti ke mana arah pandangan istrinya. Hati kecil menyesali perbuatannya karena telah berbicara kasar kepada bik Anah. Akan tetapi, egonya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya.
Sempat berpikir Queensha menyentrika pakaian dalam jumlah banyak, tetapi ternyata hanya lima setel pakaian saja dan itu semua adalah miliknya. Aah, seharusnya Ghani tak langsung memarahi asisten rumah tangganya itu sebelum meng-cross check terlebih dulu.
"Tapi tetap saja, kamu tak boleh kerja terlalu capek, Sha. Walaupun kamu merasa kasihan, tapi sudah bukan kewajibanmu lagi mengurusi rumah ini. Tugasmu sekarang hanya duduk manis, makan makanan sehat dan bergizi, minum susu hamil serta tak lupa bahagia. Hanya tersisa enam bulan lagi, kok, jadi bertahanlah untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga."
"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Sudah, jangan marah lagi. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Mas. Aku lelah, sangat lelah. Bisakah kita berdamai dan melupakan masalah ini?" tanya Queensha. Dia benar-benar sedang tidak mood bertengkar dengan suaminya.
Melihat wajah letih Queensha, Ghani jadi tidak tega terus memarahi istrinya. Akhirnya dia mengalah dan menganggap tak terjadi apa pun antara mereka berdua.
***
Setelah makan malam, Queensha meminta izin pada Ghani untuk menemani putri mereka belajar. Ghani mengizinkan istrinya pergi, sementara dia masih setia duduk manis di depan televisi, menonton serial live action One Piece di salah satu apliksi streaming. Serial ini sangat sayang untuk dilewatkan bagi pecinta anime seperti Ghani.
Namun, saat Ghani menyesap es lemon tes buatan Queensha, bel pintu berbunyi membuat fokusnya terbagi dua. "Siapa yang bertamu malam-malam begini? Apa dia enggak tau kalau gue lagi istirahat?" gerutu Ghani. Akan tetapi, pria itu tetap berjalan mendekat pintu guna mencaritahu siapa orang yang datang berkunjung ke rumahnya di saat dia sedang beristirahat.
Ghani mengintip dari lubang kecil di pintu unit apartemen miliknya, mengecek terlebih dulu sebelum membukakan pintu kediamannya.
Ghani melotot saat sepasang matanya melihat ibu dari sahabatnya berdiri anggun di seberang sana. Bergumam lirih, "Mau ngapain Tante Ayu ke sini? Tumben banget nemuin gue secara personal. Apa terjadi hal buruk menimpa Leon?"
Membayangkan sesuatu menimpa sahabat karibnya, Ghani langsung membuka pintu hingga terbuka lebar, membuat bu Ayu yang sedang memperhatikan keadaan sekitar apartemen segera menoleh saat mendengar derit pintu dibuka seseorang.
"Ghani?" ucap Bu Ayu lirih.
...***...
__ADS_1