
Ghani memasuki bangsal tempatnya bekerja dengan langkai gontai. Usai mengantar Aurora pulang ke rumah, pria itu bergegas bersiap mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah sakit. Ia sengaja datang lebih awal padahal masih tersisa waktu kurang lebih dua jam lamanya hingga pergantian shift. Itu semua dilakukan karena kepalanya sudah terlalu pening memikirkan Queensha yang tubuhnya disentuh pria lain.
"Shiit! Kenapa otakku isinya Queensha mulu, sih! Lalu kenapa bayangan saat pinggang ramping Queensha disentuh lelaki lain terus menari indah di benakku. Apa mungkin yang dikatakan Bunda benar, kalau aku cemburu pada atasannya Queensha? Namun, bagaimana bisa aku cemburu sedangkan diriku saja tidak mencintainya? Mungkinkah rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa pernah kusadari sebelumnya?"
Mengacak rambutnya dengan kesal. "Argh, kenapa semuanya jadi ribet begini! Kalau aku sungguh mencintai Queensha, lalu bagaimana dengan gadis itu? Bagaimana jika dia hamil hasil perbuatanku lima tahun lalu? Bukankah itu justru membuatku terkesan seperti lelaki berengsek yang mau enaknya sendiri tanpa ada niatan untuk bertanggung jawab? Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku memilih mereka berdua. Aku ... tidak siap berpoligami," cicitnya.
"Walaupun dalam agama diperbolehkan mempunyai istri lebih dari satu, dari segi finansial pun aku mampu, tapi aku bukan pria serakah ingin mempunyai istri dua dalam waktu bersamaan. Lagi pula aku tipe pria setia, hanya mau mempunyai satu orang wanita yang dicintai."
Ghani benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi dia tidak mau mengingkari janji yang pernah diucapkan, tetapi di sisi lain hatinya tampak tak begitu baik-baik saja saat melihat sang mantan istri berdekatan dengan pria lain. Sekujur tubuh seakan dibakar hidup-hidup kala melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tangan kokoh itu merengkuh pinggang Queensha.
Sebelum mulai operasi, Ghani lebih dulu mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang sering dokter kenakan saat melakukan tindakan operasi. Ia menggantung kemeja panjang yang membalut tubuhnya yang kekar, kemudian memasukan semua barang bawaannya di dalam loker.
Pria yang dalam hitungan hari akan menjabat sebagai direktur rumah sakit menggantikan sang ayah, duduk termenung di kursi panjang dengan tatapan mata kosong. Saking sibuknya melamun, ia tidak menyadari bahwa sahabat sejatinya berada di ruangan tersebut.
"Ghan, tumben sekali jam segini lo udah sampai rumah sakit. Ada masalah di rumah?"
Leon berjalan menuju loker untuk meletakkan semua barang bawaan. Waktu menunjukan pukul lima lebih tiga puluh menit dan tersisa satu jam setengah lagi tepat pukul tujuh malam sebelum pergantian shift siang ke shift malam. Hingga pria itu selesai mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik, Ghani masih bergeming dengan menatap lurus ke depan.
Leon berjalan di depan Ghani, mengawasi sahabatnya itu mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Akan tetapi, Ghani hanya termenung, menatap deretan pintu loker yang berjejer rapi di depan sana.
Membungkukan sedikit badan kemudian berbisik, "Sebentar lagi azan maghrib, jangan sampai lo kesambet para dedemit penunggu ruangan ini. Gue enggak mau lo kesurupan, Ghan."
Ghani terlonjak kaget dan refleks menoleh ke samping. "Sialan! Bikin gue kaget aja, lo!" hardiknya kesal. Tangannya mengusap dada secara perlahan.
Alih-alih meminta maaf, Leon justru tersenyum mengejek kepada Ghani. "Salah lo sendiri, ngapain juga melamun di saat azan sebentar lagi berkumandang. Daripada melamun, lebih baik lo pergi ke masjid, bermunajat kepada Tuhan agar sifat buruk yang ada pada diri lo hilang."
"Jujur, terkadang gue kasihan pada kedua orang tua lo harus sering makan hati karena punya anak seperti lo. Padahal, terlalu banyak makan hati bisa menyebabkan kolesterol." Leon terus saja berbicara tanpa memedulikan perubahan raut wajah Ghani yang tampak sedang menahan emosi.
__ADS_1
Wajah kemerahan sangat kontras dengan warna kulit putih. Rahang Ghani menonjol keluar karena untuk kesekian kali Leon berhasil menampar dirinya lewat sebuah ucapan.
Ghani mengatur napasnya seraya memejamkan matanya singkat. Entah kenapa setiap perkataan yang terucap di bibir Leon terdengar begitu pedas di telinga.
"Berisik banget sih lo, mirip emak-emak arisan yang sedang ngerumpi." Ghani mendorong tubuh jangkung Leon hingga pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Leon mendudukan bokongnya di sebelah tempat Ghani. Matanya yang tajam memicing, memperhatikan gerak gerik sahabatnya.
"Muka lo kelihatan bete sekali, ada masalah apa? Apa ini ada kaitannya dengan istri lo?" cecar Leon to the point, tidak melewatkan kesempatan yang ada di depan mata.
Sejujurnya ia begitu penasaran dengan kehidupan Ghani sebab pasca lulus kuliah, sikap pria itu berubah drastis hingga Leon sendiri tak mengenal siapa lelaki yang ada di sisinya. Ghani terkesan lebih menutup diri, membangun benteng tinggi di antara mereka.
Refleks Ghani mengalihkan perhatiannya pada sosok pria di belakangnya. "Bagaimana lo bisa menebak kalau semua ini ada hubungannya dengan Queensha? Apa dia menceritakan sesuatu sama lo?" tanyanya penasaran.
"Oh, jadi namanya Queensha. Bagus, sesuai dengan wajah dan prilakunya yang mencerminkan bahwa dia the real queen dari sebuah kerajaan ternama di suatu negeri di luar sana." Ucapan itu bersumber dari lubuk hati Leon yang terdalam. Walaupun hanya melihat sekilas, tetapi ia dapat menilai bagaimana kepribadian Queensha. Lemah lembut, baik dan mempunyai hati yang lembut seperti kapas.
"Oke, oke, akan gue jawab." Leon menyilangkan kaki kanan ke paha kiri dan kembali berucap, "Istri lo sama sekali enggak menceritakan apa pun kepada gue. Lah wong kita aja enggak saling mengenal satu sama lain, jadi gimana dia mau curhat ke gue."
"Gue bilang begitu karena satu minggu yang lalu tanpa sengaja melihatnya keluar dari pintu lift dengan mata sembab. Tampaknya dia baru saja menangis karena gue bisa melihat buliran air mata terus jatuh bercucuran di wajahnya yang cantik. Saat itu gue langsung menebak jika lo dan dia baru saja bertengkar. Emangnya ada apaan sih sampai lo membuatnya menangis?"
"Dosa loh kalau sering menyakiti perasaan Queensha. Tuhan bisa murka karena lo terus menerus melukai hatinya. Bisa-bisa, rezeki lo yang mengalir deras seperti air terhambat karena banyak air mata yang sudah Queensha keluarkan hanya untuk menangisi lo. Perempuan itu dinikahi untuk disayang, dimanjakan seperti seorang ratu bukan malah dibuat menderita."
"Coba lo bayangkan, gimana kalau posisi Queensha ditukar Zahira. Lo enggak akan rela melihat dia hidup menderita dengan lelaki berengsek yang terus melukai perasaannya, 'kan? Lo pasti melayangkan bogem mentah di wajah dan perut Shaka karena berani menyakiti adik kembar lo. Hal serupa akan dilakukan ayah maupun saudara laki-laki Queensha saat mengetahui perempuan yang mereka sayangi hidup menderita."
"Queensha yatim piatu. Dia anak tunggal, tidak punya kakak ataupun adik," cicit Ghani dengan suara lirih bagai desau angin di musim gugur.
Leon cukup terkejut. Bola matanya melebar sempurna. "Jadi, istri lo hidup di dunia ini hanya sebatang kara, tanpa ada sanak saudara?" Ghani menjawab dengan anggukan kepala. "Oh Lord, malang sekali nasib istri lo. Ditinggal pergi kedua orang tua, menikah dengan lelaki kejam macam lo, lengkap sudah penderitaannya."
__ADS_1
Menggelengkan kepala sambil membayangkan wajah jelita Queensha. "Enggak kebayang gimana kerasnya kehidupan istri lo, Ghan. Istri lo tuh wanita hebat, buktinya dia bertahan hidup di tengah terpaan badai yang datang silih berganti."
"Gue kalau jadi lo, enggak akan pernah sekalipun menyakiti dan melukai perasaannya. Gue akan memanjakan, melindungi dan menjadikannya ratu di istana meski rasa cinta itu belum tumbuh di hati. Namun, gue yakin cepat atau lambat perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya."
Ghani diam, menatap Leon dengan tatapam yang sulit diartikan. Mulai mengakui apa yang dikatakan oleh sahabatnya benar juga. Dia tidak memikirkan dampak bagi Queensha setelah mereka bercerai.
Apakah kehidupan Queensha jauh lebih baik pasca perceraian mereka? Apakah Queensha merasa bahagia setelah lepas dari keluarga Wijaya Kusuma? Lalu, bagaimana jika seandainya Queensha tidak bahagia? Bukankah dia akan menyesal seumur hidup karena mendorong wanita itu ke dalam jurang penderitaan?
"Lantas, apa yang harus gue lakukan? Gue benar-benar bingung, Yon."
Leon menarik napas panjang. Ghani memang pandai dalam bidang akademik, tetapi dalam percintaan tak mempunyai pengalaman apa pun sebab fokusnya selama ini hanya ingin belajar, belajar dan belajar tanpa memikirkan urusan percintaan.
"Hanya lo sendiri yang bisa menjawabnya, Ghan. Kalau lo menyimpan perasaan untuk Queensha, katakan padanya. Perlakukan dia dengan baik seperti berlian yang sangat berharga."
"Apa Queensha akan menerima gue meski gue udah menjatuhkan talak padanya?"
Tubuh Leon menegang. Jantung rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Tidak menduga jika sahabat sejatinya kini telah menyandang status duda di usianya yang masih muda.
"Bodoh! Satu kata itu pantas untuk mewakili kejengkelan gue sama lo! Lo menawarkan pernikahan indah pada seorang wanita, tapi dalam waktu bersamaan lo juga menyediakan neraka bagi Queensha. Kalau gue jadi istri lo pasti gue tolak detik itu juga. Tapi untungnya gue bukan Queensha, jadi lo enggak perlu mengalami yang namanya ditolak mentah-mentah."
Leon berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Ghani. "Berdo'a saja, semoga Dewi Fortuna berada di pihak lo dan Queensha mau menerima pria yang telah melukai hatinya." Usai mengatakan itu ia bergegas meninggalkan Ghani seorang diri.
Setelah sahabatnya itu pergi, Ghani mengeluarkan sebuah benda kecil terbuat dari emas putih. Benda berbentuk lingkaran kecil polos dengan nama Queensha terukir di bagian belakang. Ia pandangi benda itu dengan perasaan campur aduk.
Tampaknya malam ini Ghani tidak akan bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan Queensha. Wajah mantan istrinya dan Aurora hadir silih berganti lalu mereka tersenyum manis padanya.
"Maafin aku, Sha. Maafin papa juga, Nak, karena telah merenggut sumber kebahagiaanmu," gumam pria itu seraya memasang kembali cincin pernikahannya.
__ADS_1
...***...