Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kejutan untuk Ghani


__ADS_3

Sementara itu, di tempat yang berbeda, tampak Ghani tengah berdiri di depan meja kerja perawat. Pria jangkung itu sedang membaca rekam medis milik pasien baru yang dalam waktu dekat ini akan melakukan pembedahan dengan diagnosa tumor otak. Ia serta tim tengah mempersiapkan segala kebutuhan agar kelak operasi berjalan lancar, tanpa ada kesalahan sedikit pun.


"Selama beberapa hari ke depan, pantau terus kondisi pasien. Sampaikan kepada keluarga pasien untuk mengantarkan pasien melakukan pemeriksaan MRI dan CT scan satu atau dua hari sebelum tindakan operasi dilakukan, kemudian tolong berikan resep obat ini agar segera ditebus di apotik," tutur Ghani mencoba menjelaskan. Sebagai ketua tim dan juga dokter penanggung jawab, ia berusaha keras memberi pengobatan terbaik bagi pasien tersebut. Walaupun tingkat keberhasilan hanya beberapa persen saja akibat terlambat ditangani, tetapi ia akan berjuang sekuat tenaga dengan mengerahkan seluruh kemampuannya saat di meja operasi nanti.


Dua orang perawat serta satu orang rekan sejawat Ghani mengangguk hampir bersamaan. "Baik, Dokter. Kami akan mulai mempersiapkan segala kebutuhan pasien sebelum dioperasi nanti."


"Bagus. Jangan lupa, pantau terus tanda-tanda vitalnya. Kalau kondisi pasien semakin menurun sebelum operasi dilakukan, mau tidak mau kita tunda terlebih dulu sambil mendiskusikan masalah ini dengan dokter senior yang lain karena bagaimanapun ini menyangkut nyawa seseorang sehingga kita tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan. Saran dari para senior sangat berarti bagi kita semua."


Sebagai dokter muda, Ghani masih sangat membutuhkan saran serta masukan dari para senior jadi jangan heran kalau tadi ia sempat menyebut para dokter senior saat berbicara di depan anggota timnya. Sehebat dan sepintar apa pun dia, nyatanya pria itu masih membutuhkan masukan para dokter senior yang telah lebih dulu berkecimpung di dunia medis.


Usai melakukan rapat dadakan bersama anggota timnya, ponsel milik Ghani bergetar. Karena penasaran, akhirnya ia mengeluarkan benda pilih tersebut dari dalam saku celana. Ia membuka kunci ponsel dan membaca notifikasi yang muncul di layar.


Deretan kalimat tersebut membuat Ghani tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Hati pria itu berbunga-bunga bagai bunga sakura yang bermekaran di musim semi. Ghani begitu bahagia sebab black card pemberiannya benar-benar digunakan Queensha untuk memenuhi kebutuhan wanitanya.

__ADS_1


Segera saja Ghani mengirim pesan singkat untuk istri tercinta. [Tampaknya istriku sedang bersenang-senang hari ini. Bagaimana, apa kamu puas menggunakan kartu pemberianku untuk membeli semua barang yang kamu inginkan? Belilah apa pun yang kamu mau dan jangan pernah menengok harganya. Semahal apa pun kalau kamu suka, beli saja, aku tak akan pernah memarahamimu.]


Pesan singkat itu diakhiri sebuah emot tersenyum, menandakan bahwa Ghani turut bahagia bila istrinya sedang bersenang-senang di luaran sana. Dulu Ghani pernah memberi penderitaan kepada Queensha dan kini setelah diberi kesempatan kedua, ia ingin terus membahagiakan istrinya itu dengan gelimangan cinta, kasih sayang, dan harta kekayaan yang dimilikinya sebagai penebus semua kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu.


Teringat akan banyaknya pekerjaan yang menunggu, Ghani memasukkan kembali smartphone miliknya ke dalam saku celana. Lalu berkata, "Rena dan Aji, kalian berdua ikut denganku ke ruangan. Kita lakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien sambil mencaritahu keluhan mereka."


Kedua perawat yang namanya dipanggil, bergegas mengambil peralatan medis dari dalam laci meja kerja. Mereka juga tak lupa membawa buku catatan yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk mencatat hal penting terkait TTV (tanda-tanda vital) serta tindakan medis lainnya yang akan diambil oleh masing-masing dokter penanggung jawab.


***


"Ternyata mengasyikan juga, ya, melakukan perawatan di salon. Pantas saja para kaum Hawa rela menghabiskan waktu berjam-jam dan menggelontorkan uang banyak agar terlihat cantik di mata orang lain. Rupanya banyak manfaat yang didapatkan dari pergi ke salon. Bukan hanya wajah saja yang terlihat lebih cantik, tetapi juga tubuh terasa jauh lebih rileks usai melakukan perawatan. Kalau begini terus, bisa-bisa aku jadi kecanduan, nih."


Queensha memukul pelan mulutnya menggunakan telapak tangan. "Ngomong apaan, sih, kamu, Sha. Kalau kamu terus menerus datang ke salon, yang ada uang pemberian Mas Ghani habis untuk kebutuhan yang tidak penting. Kalau habis, bagaimana dengan biaya sekolah Aurora? Memangnya kamu bisa membantu suamimu mencari tambahan uang untuk sekolah anak kalian? Kamu saja sudah tak bekerja lagi jadi jangan coba-coba menghambur-hamburkan uang pemberian suamimu."

__ADS_1


"Aku tidak boleh egois. Masih ada Rora yang lebih membutuhkan uang ini. Lebih baik uang ini digunakan untuk biaya sekolah Rora saja daripada dipakai untuk berfoya-foya."


Queensha masih berpikir kalau harta kekayaan suaminya akan habis jika digunakan terus menerus, padahal jika dipikir-pikir mana mungkin uang milik dokter tampan itu habis begitu saja sementara banyak pemasukan dari rumah sakit dan sumber dana lainnya masuk ke rekening Ghani. Ya, begitulah Queensha. Berulang kali Ghani menjelaskan kalau ia tidak mungkin jatuh miskin, tetap saja wanita itu enggan untuk mengeluarkan uang pemberian suami tercinta.


Merasa telah terlalu lama menitipkan Aurora kepada Lulu, Queensha memutuskan untuk menemui anak serta sahabatnya yang sedang bermain di arena permainan anak. Niat hati ingin menemani putrinya bermain, Lulu justru meminta sahabatnya itu melakukan serangkaian perawatan di salon kecantikan. Katanya agar Ghani semakin terpikat dan tak mudah berpaling ke lain hati.


Memang terdengar konyol, tetapi Queensha menerima saran sahabatnya itu karena ia berpikir tidak ada salahnya jika menggunakan sepersekian persen uang tersebut untuk merawat tubuhnya dengan tujuan membahagian suami. Kalau ia semakin glowing, tubuhnya pun semakin harum, bukankah itu semakin menumbuhkan rasa cinta pada diri sang suami? Bukankah rumah tangga mereka semakin harmonis karena masing-masing berusaha keras untuk membahagiakan pasangannya.


Ghani memberi kebebasan kepada Queensha untuk membeli apa pun yang dia mau, sementara sang wanita mempercantik diri agar terlihat semakin memesona di depan sang suami.


Berjalan lurus ke depan, kemudian berbelok ke kiri. Queensha berjalan di depan sebuah toko yang menjual pakaian dal*m khusus perempuan. Dari banyaknya pakaian dal*m yang dipajang di depan, satu di antaranya cukup menarik perhatian wanita itu. Dan entah mengapa hati kecilnya tergerak, memaksa ia masuk ke dalam toko tersebut.


"Ehm, sepertinya tidak masalah, 'kan, ya, kalau aku beli satu set pakaian itu?" gumam Queensha seraya mengayunkan kaki mendekati penjaga toko yang tengah berdiri membelakanginya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2