
Berkali-kali Lulu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah lima menit berlalu sejak Queensha undur diri dari hadapannya untuk pergi ke toilet. Naomi serta kedua asistennya pun tak jua menampakkan batang hidungnya, padahal ia berharap salah satu dari mereka muncul untuk menanyakan keberadaan sahabat terbaiknya, Queensha.
"Gue enggak bisa berdiam diri di sini sambil nunggu dia datang." Lantas Lulu bangkit berdiri dari kursi, kemudian meletakkan tas kecil berisi telepon genggam milik Queensha ke atas meja bundar terbuat dari kaca.
Shakeela yang sedang berselancar di dunia maya segera menoleh ke arah Lulu, tatkala mendengar ketukan sepatu heels menggema di penjuru ruangan. "Kak Lulu mau pergi ke mana?" tanyanya penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Lulu membalikan badan menghadap Shakeela. "Gue mau ke toilet, nyusul Queensha. Lihat, udah lebih dari lima menit dia belum juga balik ke sini. Gue takut terjadi hal buruk kepadanya," sahut Lulu dengan suara lantang. Ujung dagu wanita itu menunjuk ke arah jam bundar yang ditempel di dinding.
Shakeela mengikuti ke mana arah pandangan mata Lulu. Memang benar yang dikatakan sahabat dari calon kakak iparnya itu jika Queensha telah meninggalkan ruangan tersebut cukup lama.
"Kak, aku ikut denganmu. Siapa tahu kehadiranku nanti berguna untukmu."
"Ya udah, ayo! Kita susul Queensha sebelum terlambat." Maka kedua wanita itu berjalan setengah berlari menuju toilet yang berada di ruangan paling ujung gedung tersebut. Lulu bahkan harus menaikkan rok kain yang ia kenakan agar dapat berlari sekencang mungkin.
"Astaga, Mbak Naoim!" Lulu berlari kencang menghampiri tiga perempuan yang tergeletak di lantai. Ia membawa kepala Naomi dalam pangkuan, menepuk kedua pipi wanita setengah baya itu dengan perlahan. "Mbak Naomi, bangun! Mbak!" Ia terus menepuknya, tetapi usahanya sia-sia. Mata Naomi tetap terpejam tak sadarkan diri.
Shakeela melihat kejadian itu bergegas berhambur, kemudian menyentuh urat nadi Naomi yang berada di pergelangan tangan lalu memeriksa kondisi tubuh wanita itu. Terdengar helaan napas lega bersumber dari wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Dek? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lulu kepada calon adik ipar sahabatnya. Ia terlihat mencemaskan keadaa Naomi.
Shakeela mengulum senyuman di wajah. "Syukurlah keadaannya baik-baik saja. Dia cuma pingsan, kok, Kak."
Tiba-tiba sebuah palu yang sangat besar menghantam kepala Lulu, ia teringat akan nasib sahabatnya. "Ya Tuhan, Queensha." Refleks ia menurunkan kepala Naomi ke lantai dengan sangat hati-hati. "Dek, temui Kakakmu sekarang dan sampaikan apa yang lo lihat kepada Pak Ghani. Gue mau mengecek Queensha dulu di dalam. Entah kenapa feeling gue mengatakan ada yang enggak beres di sini."
Shakeela mengangguk patuh. Ia pun mempunyai pendapat yang sama dengan Lulu jika Queensha tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu, dari pihak mempelai pria tampak sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Ghani menunggu kedatangan penghulu yang bertugas menikahkan pria itu dengan wanita pujaannya. Sesekali mengetukkan kepalan tangan di atas pangkuan guna mengusir rasa gugup yang datang menyapanya.
"Rileks, Bro. Jangan terlalu tegang, nanti yang ada otak lo malah jadi nge-blank. Emang mau saat ijab kabul lo mesti beberapa kali ngulang karena salah menyebut nama mempelai perempuan? Kalau terus-terusan ngulang mending gue gantiin posisi lo, deh. Gue ikhlas dunia akhirat," celetuk Leon. Mencoba mencarikan suasana yang terkesan menegangkan.
Leon menyemburkan tawa hingga membuat pundaknya bergerak turun dan naik. "Santai, Bro. Gue mana berani merebut Queensha dari sisi lo. Selain karena Queensha bukan tipe gue, gue bukan lelaki yang suka merebut milik orang lain apalagi itu punya sahabat sendiri. Jadi, lebih baik mencari yang lain daripada merampas apa yang bukan milik gue."
Saat Leon menyelesaikan kalimatnya, terdengar seruan kencang dari ambang pintu disusul penampakan seorang gadis cantik dalam balutan kebaya biru muda dengan rambut dicempol ala wanita Korea. Gadis cantik yang tengah menempuh pendidikan S1 di luar negeri berlari mendekati kakaknya, lalu berdiri di hadapan sang kakak.
Napas Shakeela terengah hebat. "Kakak Pertama, gawat! Kak Queensha, d-dia ...."
__ADS_1
Di waktu bersamaan Yogi datang dengan dua orang mengekori di belakangnya. Satu di antaranya adalah anak buahnya.
Kening mengernyit melihat Yogi dikawan dua orang asing. Pun begitu dengan Shakeela serta semua orang dalam ballroom hotel, mereka menatap penuh tanda tanya.
Yogi berbisik di telinga Ghani, memberitahu tentang berita penting yang anak buahnya lihat beberapa waktu lalu. "Maaf, Dok, karena anak buah saya lalai menjaga dan mengawasi Bu Queensha. Saya-"
"Diam! Sekarang kita susul mereka sebelum Queensha dibawa pergi!"
Maka di sinilah mereka berada, menatap penuh kemarahan pada tiga orang pria dan satu wanita di depan sana. Deru napas Ghani memburu kencang seolah baru saja berlari keliling lapangan bola tanpa melepaskan tatapannya pada sosok wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya.
Tangan mencengkeram erat kruk yang diletakkan di bagian ketiak. Rahang mengeras sempurna, geram sekaligus kesal karena di saat seperti ini ia hanya dapat mengandalkan Yogi serta anak buahnya untuk menyelamatkan Queensha.
"Yogi, jika memang kamu ingin kumaafkan maka selamatkan Queensha sekarang juga. Pastikan mereka mendapat balasan karena telah melukai calon istriku," titah Ghani. Sempat melihat noda merah di wajah Queensha membuat ia yakin jika salah satu dari penjahat itu telah menyentuh kulit halus milik wanitanya.
Yogi melirik sebentar kepada anak buahnya, sebelum akhirnya memberi kode untuk segera melakukan perlawanan. "Pastikan nyawa Bu Queensha baik-baik saja." Kemudian ... "Kita serang mereka sekarang juga!"
"Hiyak!" teriak kesepuluh anak buah Yogi dengan penuh semangat.
__ADS_1
...***...