
Kebun bunga menghampar sejauh mata memandang. Beberapa pasang kupu-kupu berterbangan kemudian hinggap di atas kuncup bunga yang sedang bermekaran. Langit cerah berpayung awan putih, semilir angin menerbangkan dahan pohon, menimbulkan gesekan merdu bak alunan melodi indah.
Seorang wanita tengah duduk di atas batu besar di tepian danau, memandang lurus ke depan dengan menumpangkan kakinya yang jenjang ke kaki lainnya. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang cantik jelita.
Suara langkah kaki mendekat, membuat wanita muda itu menoleh lalu senyuman di bibirnya yang ranum semakin lebar kala melihat seseorang berjalan ke arahnya. Dengan sangat hati-hati wanita itu turun kemudian berhambur dalam pelukan.
"Mama, Shasha kangen banget sama Mama. Kenapa Mama tidak pernah menemuiku dalam mimpi akhir-akhir ini? Apa Mama sudah tak sayang lagi kepadaku?" Wanita muda yang menyebut dirinya dengan sebutan Shasha berkata manja sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang mama. Dia mencurahkan kerinduannya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa berkata begitu pada mamamu sendiri." Daniah, mendiang ibunda Queensha menempelkan keningnya di kening sang putri sambil menggesek-gesekkan ujung hidung mereka. "Mama adalah orang melahirkanmu dengan susah payah, mempertaruhkan nyawa agar kamu bisa terlahir ke dunia jadi mana mungkin mama tidak merindukan darah dagingku sendiri."
Queensha mendusel-duselkan tubuh di tubuh sang mama. "Shasha pikir Mama tidak lagi sayang padaku, makanya tidak pernah menemuiku lagi."
"Ma, pemandangan di sini indah sekali. Udaranya sejuk dan begitu menenangkan. Shasha betah tinggal di sini. Coba Mama dengar, kicauan burung di dahan pohon itu terdengar begitu merdu."
Daniah mengikuti ke mana putrinya memandang. Ketika bola matanya melihat segerombol burung gereja hinggap di dahan pohon, dia menganggukan kepala, sependapat dengan Queensha bahwa kicauan burung di atas sana sangat merdu.
"Di dalam sana lebih indah, Nak. Mama yakin jika kamu melihatnya, kamu akan terkagum-kagum. Di sana ada banyak aneka ragam bunga dengan berbagai warna, rusa yang berlarian ke sana kemari, dan kamu bisa mandi di bawah air terjun sampai puas," kata Daniah memandang sendu.
"Sungguh? Bisa tolong bawa aku ke sana? Aku ingin sekali melihatnya." Queensha berkata dengan mata berbinar terang.
Daniah menuntun putrinya duduk di batu besar di tepian danau. Mengambil tempat di samping Queensha. "Maaf, tapi kamu tidak bisa pergi ke sana, Sayang. Tempat itu tidak diperuntukkan buat kamu. Tempat itu hanya dikhususkan untuk mama dan Papa saja."
Queensha terdiam. Otaknya berpikir keras mengapa Daniah tidak mengajaknya pergi, melihat pemandangan alam yang indah di dalam sana. Bukankah Daniah tahu kalau dia menyukai suasana alam bebas sedari kecil.
"Mama ingin sekali menunjukannya kepadamu, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat bagi kamu pergi bersama mama. Di luar sana ada banyak orang yang sedang menunggumu pulang. Ghani dan juga Aurora, mereka berdua sedang menunggumu, Nak."
"Ghani? Aurora? Siapa mereka, Ma?" tanya Queensha.
__ADS_1
Kedua nama itu terdengar familiar, tetapi Queensha tak dapat mengingat siapakah dua nama yang disebutkan mamanya barusan.
"Suami dan anak pertamamu. Lihat di ujung sana, lelaki berwajah oriental itu adalah suamimu, Ghani. Dialah lelaki yang kamu cintai dan juga mencintaimu dengan tulus. Lelaki yang rela memberikan segalanya demi kebahagiaanmu," jawab Daniah. Jari tangan menunjuk ke arah ujung tepian danau. Penampakan Ghani yang duduk di kursi samping ranjang pasien terlihat jelas oleh Queensha.
Ketika melihat air mata membasahi pipi, hati Queensha terasa seperti dicubit ribuan tangan tak kasat mata. Sakit hingga membuat dadanya terasa sesak. Dia dapat merasakan kesedihan mendalam dari sepasang mata indah yang kini berubah warna merah.
"Jadi ... dia pangeran yang sering Mama ceritakan kepadaku saat masih kecil? Pangeran berkuda putih yang akan mencintai, menjagaku, dan melindungiku dengan segenap jiwa dan raganya?" tandas Queensha memastikan kembali kisah dongeng yang sering dibacakan Daniah sebelum dia tidur.
Daniah mencubit kedua pipi Queensha dengan gemas. "Benar. Namun sayang, Ghani tidak punya kuda putih, tapi dia punya snelli putih yang sering dipakai setiap kali bekerja."
Queensha merengek seperti anak kecil. Bisa-bisanya Daniah bercanda di saat dirinya sedang serius.
"Iih, Mama. Kenapa malah menggodaku."
"He he he, iya maaf. Tadi mama cuma bercanda. Tapi untuk omongan mama yang mengatakan bahwa Ghani pria yang mencintaimu adalah benar. Selain mama dan Papa, dia ada orang yang sayang padamu. Kalau mama ajak kamu masuk ke dalam, lalu bagaimana dengan Ghani dan Aurora. Apa kamu tega meninggalkan mereka berdua? Kamu tega berpisah dari orang-orang yang sangat menyayangimu?"
"Sha, mama memang sangat merindukanmu dan ingin selalu berada di dekatmu, tapi mama tidak mau kamu tinggal di sini. Di sini bukanlah tempat yang cocok buat kamu, Nak. Tempat yang cocok untukmu adalah di sisi Ghani, bukan di sisi mama ataupun Papa. Untuk itu, kembalilah, Nak. Kembalilah ke sisi suamimu."
"Kalau aku kembali ke sisi pria itu, lalu bagaimana dengan Mama? Mama pasti kesepian tinggal di sini." Hati kecil ingin kembali ke sisi Ghani, tapi di satu sisi, dia pun tak tega meninggalkan mamanya sendirian. Dia terlalu nyaman berada di dekat Daniah.
Tangan Daniah membelai pipi Queensha. Suara lembut terdengar merdu di telinga Queensha. "Mama memang kesepian, tapi rasanya mama terlalu egois jika memintamu tinggal di sini bersama mama sementara di sana ada seseorang yang lebih membutuhkanmu. Ghani dan Aurora lebih membutuhkanmu ketimbang mama."
"Tapi, Ma, aku-"
"Tidak ada tapi, kamu harus segera kembali ke sisi suamimu. Jika kamu memang merindukan mama, kamu bisa menziarahi makam mama, memanjatkan doa kepada Tuhan setiap kali selesai beribadah. Dengan doa yang kamu panjatkan bisa jadi obat rindu bagimu sendiri."
Daniah mengalihkan pandangan pada tiga sosok mungil di ujung danau. Tangan ketiganya melambai, seakan meminta Queensha untuk datang mendekat.
__ADS_1
Wajah ketiganya ditutupi tabir, tetapi Queensha dapat melihat jelas kalau ketiga sosok itu berjenis kelamin laki-laki. Paras ketiganya rupawan, mirip sekali dengan Ghani.
"Ketiga jagoanmu sudah menjemput. Bergegaslah pulang karena di sanalah kamu seharusnya berada. Di sini mama akan selalu menunggu, sampai tiba di mana Tuhan mentakdirkan kita berdua hidup bersama."
Daniah mendekatkan kepala Queensha ke arah bibir. Dia mencium kening putri kesayangan dengan takzim. "Mama always loves you, Shasha."
Salah satu dari si kembar datang mendekat. Si bungsu pemilik bibir mungil seperti mamanya mengulurkan tangan ke depan sambil berkata, "Ayo, Mama, kita pergi dari cini. Papa dan Kakak Rora nungguin kita di cana." Suara cadel terdengar nyaring di telinga Queensha.
Seperti dihipnotis, Queensha menerima uluran tangan itu. Menggenggam jemari mungil sang putera lalu turun dari batu dan menjejakkan kaki tak beralas apa pun di atas rerumputan hijau. Queensha menoleh ke arah mamanya sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Kedua mata bersitatap. Lalu Daniah mengangguk pelan, melepas kepergian Queensha dengan lapang dada.
"Kembalilah, karena di sana duniamu. Mama akan selalu mendoakan semoga Tuhan memberi kebahagiaan padamu dan keluarga kecilmu."
Si bungsu beserta kedua kakaknya melambai tangan ke arah Daniah. Tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang ompong.
"Dadah Nenek Daniah. Telima kacih udah jagain Mama," kata ketiganya hampir bersamaan.
Queensha bersama ketiga puteranya berjalan berdampingan. Tiga jagoan kecilnya Ghani terlihat bahagia, sesekali meloncat-loncat kecil sambil berdendang lirih menyanyikan sebuah lagu yang sering Queensha nyanyikan saat sedang bersantai, duduk di kursi goyang seraya mengusap perutnya yang buncit.
Semakin mendekati ujung taman bunga, sepasang mata Queensha semakin silau akan cahaya terang yang menyilaukan mata, membuat dia refleks memejamkan matanya detik itu juga. Namun, cahaya terang itu tak menghentikan ayunan kakinya yang terus melangkah hingga mendekati tirai perak.
Mata Queensha terus terpejam hingga dia dan ketiga anak kembarnya menembus tirai tersebut.
"Mas Ghani, aku pulang."
...***...
__ADS_1