Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Bumbu Penyedap dalam Rumah Tangga


__ADS_3

Ghani benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Queensha selalu membahas tentang Lita dan Mia yang sudah jelas-jelas mencelakakan anak mereka. Sejak awal perbincangan Ghani menunjukkan rasa tidak sukanya, tetapi Queensha sama sekali tidak peka.


“Jangan bilang kamu akan membebaskannya,” selidik Ghani sambil menatap tajam ke arah istrinya. Queensha awalnya ragu-ragu tapi pada akhirnya dia mengakui kalau sebetulnya dia memang ingin agar Lita dibebaskan.


Ghani menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. "Dengar Queensha, kamu harus memikirkannya dengan matang. Apa kamu sudah lupa dengan apa yang dilakukan Lita kepada anak kita? Putri kita sampai harus menjalankan beberapa terapi untuk menghilangkan rasa traumanya akibat insiden penculikan itu. Namun, kamu malah ingin membebaskan Lita. Benar-benar aneh!" Ghani masih mencoba bersikap sabar.


"Kalau dengan sikap kamu yang seperti ini, jelas-jelas kamu tidak mencintai Rora dan lebih memilih memikirkan perasaan orang lain." Dengan tatapan tajam, Ghani menatap lekat paras cantik jelita sang istri.


Queensha meraih telapak tangan Ghani. "Tolong, Mas, aku benar-benar tidak tega dengan nasib Lita, cuma itu saja." Sepasang mata indah mulai berkaca-kaca.


Ghani melepaskan genggaman tangan Queensha secara perlahan. Sebisa mungkin untuk tidak menyakiti istrinya. "Mereka yang berbuat kejahatan, tapi kamu yang merasa tidak tega. Apa kamu tidak waras, Sha?Sudah sewajarnya mereka dipenjara, mempertanggung jawabkan kesalahan yang diperbuat di masa lalu. Penjara, itulah tempat yang pantas bagi mereka." Nada suara Ghani meninggi, tetapi Queensha tetap saja berpegang teguh pada pendiriannya.


Perempuan itu teringat dulu, sebelum Papanya meninggal, sempat menitipkan Lita kepadanya. "Papa harap bisa mempercayai kamu untuk berteman dengan Lita. Meskipun kalian bukan saudara kandung, tapi papa mencintai Mia. Anggaplah Lita seperti saudara kandung yang tidak pernah kamu punya, Queensha."


Pesan dari papanya dulu masih terngiang-ngiang di telinga Queensha. Dia berharap saat dipenjara seperti ini, Lita dan Mia sudah bisa kembali tersadar dan akan kembali kepadanya setelah menyesali perbuatannya.


"Aku tahu kamu punya niat baik, tapi untuk para penjahat itu sebaiknya kamu urungkan niat baik itu." Ghani masih berpegang teguh kepada prinsipnya. Sekuat tenaga dia berusaha melindungi keluarga kecil yang telah ia bangun. Dia tidak mau lagi melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


"Mas, dia itu cuma gadis kecil yang tersesat dan salah arah. Tugas kita mengarahkannya untuk kembali ke jalan yang benar, bukan menolaknya seperti ini."


"Tempatnya sekarang yang terbaik memang di penjara. Ayolah, Queensha, kamu jangan naif. Kita baru saja pindah ke rumah ini dan mendapatkan ketenangan sebagai suami istri, membangun keluarga kecil yang selama ini kita impikan. Kenapa sekarang dengan egoisnya, kamu ingin kembali membahas tentang adik tiri kamu yang jahat itu?" Kalimat Ghani meninggi, membuat Queensha segera menatap ke arahnya.


"Kenapa? Apa ucapanku salah? Dia memang penjahat ‘kan? Mau dibenarkan dari sisi mana pun, tidak bisa. Mereka itu memang bersekongkol dan sudah sangat jelas di sini kita yang dirugikan, pikirkan tentang kondisi Aurora. Rasa trauma yang mungkin akan terbawa hingga dia besar nanti."

__ADS_1


Queensha terdiam. Lidahnya terasa kelu. Dia memang tidak berpikir sejauh itu. Dia pikir Aurora sudah baik-baik saja sebab melihat betapa energiknya si kecil membuat wanita bermata sipit itu berpikir jika trauma yang dialami sudah pulih berkat terapi.


"Penjara mungkin bisa membuat seseorang tersadar dan lebih baik, tapi kalau dia harus dipenjara dalam waktu yang lama, aku tidak yakin. Jangan-jangan di dalam nanti dia bertemu dengan orang-orang yang tidak benar. Kamu tidak pernah memikirkan itu, bukan?" Queensha mengurai kekhawatirannya.


Ghani tertawa, tetapi di telinga Queensha begitu menakutkan. "Bagus. Bagus sekali perhatianmu itu, bahkan sampai pada penculik anakmu pun kamu memikirkan kondisi psikisnya, tapi kepada Aurora kamu mengabaikannya. Kamu benar-benar tidak adil, Sayang!" bentak Ghani dengan raut wajah memerah. Kedua tangannya mengepal di samping kanan dan kiri. Dadanya pun kembang kempis, menahan amarah yang meledak-ledak.


“Sekarang kamu bahkan memperlakukannya seperti orang asing, lebih hina daripada penjahat di luar sana, padahal dia itu hanya salah langkah, Mas. Aku cuma kasihan saja kepadanya!" tangkis Queensha.


“Salah langkah yang hampir mencelakakan putri kita. Kamu ini kenapa, sih, Queensha! Kemarin-kemarin kamu tidak bersikap begini, sekarang kenapa jadi tiba-tiba aneh,” keluh Ghani.


“Sudah aku bilang, dia sudah ada di penjara selama dua bulan aku pikir itu sudah cukup. Aku tidak tega melihatnya harus menderita di dalam penjara. Ayolah Mas, bersikaplah sedikit lebih manusiawi, kita berusaha membebaskannya, ya?" rengek Queensha seraya melingkarkan kedua tangan di lengan sang suami.


“Maaf, Sayang. Kali ini tidak bisa. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah membebaskan Lita, adik tirimu itu. Kamu sendiri tahu hal itu tidak mungkin. Vonisnya memang sudah dijatuhkan nanti juga akan ada potongan, remisi jadi stop-lah merengek seperti ini aku nggak suka.” Ghani menegaskan kalimatnya.


Baru kali ini Queensha merasa sangat tersinggung dengan ucapan Ghani. Niatnya baik tapi suaminya tidak mendukungnya. Menurut Queensha, semua bisa dimaafkan termasuk kesalahan Lita yang terang-terangan hanya menuruti perintah Mia dan Sarman. Kenapa Ghani tidak bisa mengerti sedikit saja.


“Dan kamu, Sayang, kenapa tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Kamu lebih menyayangi orang lain ketimbang darah dagingmu sendiri. Dalam hal ini sudah terbukti kamu tidak mencintai Aurora.” Ghani menekan setiap kalimat yang terucap dari mulutnya itu.


 


"Mas, jangan memojokkan aku! Rora baik-baik saja sekarang, aku tahu itu, aku mamanya!" Queensha mematahkan kata-kata Ghani.


"Kalau kamu benar-benar menyayanginya, kamu pasti tidak akan mengusulkan seorang penjahat untuk dibebaskan sebelum waktunya. Kamu sadar tidak, jika permintaanmu ini tidak masuk akal."

__ADS_1


Queensha melepaskan tangannya dari lengan Ghani dengan kasar. Dia bangkit dari sofa dan menatap kesal pada suaminya. "Kamu keterlaluan, Mas. Kamu jahat!"


"Dengar aku baik-baik, ya, Queensha. Aku sudah capek membahas ini berulang-ulang kali. Sekarang dia ada di penjara saja bisa bikin kita berantem, bagaimana kalau dia dibebaskan?" kata Ghani frustasi. "Ah, sudahlah, aku pusing, tidak mau lagi membahas masalah ini."


Dengan cepat, Ghani membereskan laptopnya, lalu ia segera mandi dan berangkat ke rumah sakit. Tidak ada kata sapaan atau berpamitan kepada istrinya. Queensha sudah menyiapkan makanan, tetapi Ghani tidak mau memakannya.


Ghani sangat kesal dengan kelakuan istrinya yang dia rasa sudah sangat berlebihan. Mau dibela dari sisi mana pun Lita dan Mia jelas-jelas melakukan kesalahan. Apalagi pengadilan sudah menjatuhinya dengan hukuman yang pantas, lalu kenapa tiba-tiba sekarang istrinya menjadi lunak dan jatuh kasihan?


“Dasar tidak berpikir panjang, enak saja sudah dipenjara mau dibebaskan sebelum waktunya. Tidak akan semudah itu,” gumam Ghani saat berangkat ke rumah sakit. Ia benar-benar tidak bisa menoleransi sikap istrinya yang berat sebelah dan lebih membela adik tirinya.


Saat sore tiba Ghani pulang dari rumah sakit, dia juga enggan menyapa istrinya. Queensha sudah menyiapkan makanan, tetapi Ghani tidak mau memakannya. Hingga dua hari mereka tetap saling diam dan tidak menyapa.


Queensha sangat kesal begitu juga dengan Ghani. Akan tetapi, kali ini Ghani harus bersikap tegas untuk mendidik istrinya, supaya lebih mengerti tentang apa yang ia mau untuk kebaikan keluarganya.


...***...


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2