
Tak salah kalau Maldives menjadi salah satu tempat tujuan pasangan yang baru saja menikah untuk berbulan madu. Tempat ini memang sangat indah apalagi lautnya yang terlihat biru dengan hamparan pasir putih membentang luas nun jauh di sana membuat siapa pun takjub dibuatnya.
Cuaca siang itu amatlah panas, Queensha sengaja memakai gaun terusan tanpa lengan dengan model V neck di bagian leher. Ghani sendiri mengenakan celana pendek selutut dan kaos polo warna hijau tua. Pakaian seperti itu amat lumrah di sini, mengingat cuaca di Maldives yang panas saat siang hari.
Tubuh terasa capek setelah menghabiskan waktu beberapa jam lamanya di pesawat, akhirnya Queensha dan Ghani memutuskan untuk istirahat sejenak di hotel sebelum mereka berkeliling, menikmati tempat wisata di pulau tersebut. Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Maldives, rasanya kurang afdol kalau tidak jalan-jalan, bukan?
Kedatangan Queensha dan Ghani disambut hangat oleh dua orang penjaga hotel. Kedua lelaki berseragam hotel membukakan pintu untuk pengantin baru.
“Wah, hotelnya cantik sekali. Ornamennya serba hijau,” puji Queensha saat mereka masuk area lobi hotel yang sudah mereka booking sebelumnya. Pandangan mata menyapu seisi ruangan. Dinding hotel banyak dihiasi lukisan pemandangan pantai berpasir putih. Sungguh sangat indah sekali.
“Mungkin karena di sekitar sini area pantai, makanya dipilih ornamen warna hijau supaya suasananya sejuk. Berada di dalam hotel rasanya seperti berada di pantai, bukan?”
“Hmm, benar juga.” Queensha mengangguk setuju. Di beberapa sudut, ada pot dengan tanaman entah apa namanya, Queensha tidak tahu. Namun, dia tahu jika tanaman itu termasuk tanaman hias yang biasa ada di lobi-lobi gedung perkantoran.
Setelah mendapatkan kunci, akhirnya Queensha dan Ghani masuk ke dalam lift untuk pergi menuju kamar mereka di lantai sepuluh. Saat berada di lift, kebetulan mereka berbarengan dengan seorang wanita bersama kekasih prianya yang tengah berlibur juga.
"Maldives, begitu menakjubkan dan aku merasa betah tinggal di sini,” kata wanita itu menggunakan Bahasa Cina. Wanita asing bermata bundar bergelayut manja di lengan kekasihnya.
“Kamu benar, Baby. Aku pun merasa nyaman tinggal di sini. Kapan-kapan, kita ke sini lagi dalam rangka bulan madu,” sahut sang kekasih sambil mencium wanita itu tanpa malu-malu di depan Queensha dan Ghani.
Queensha dan Ghani yang melihatnya sontak melotot, kemudian memalingkan muka ke sembarang arah. Wajah keduanya bersemu merah, menahan malu. Bermesraan di tempat umum amatlah lumrah di sini, tetapi melihatnya secara langsung membuat getaran tersendiri bagi pasangan yang baru beberapa hari melangsungkan ijab kabul.
Yang membuat Queensha makin malu, pasangan itu tak berniat menyudahi ciumannya. Refleks Queensha melirik Ghani dan di saat bersamaan rupanya sang suami pun tengah menatapnya dengan pandangan penuh arti.
Jantung Queensha langsung berdegup kencang. Dia tahu arti tatapan suaminya itu. Dia wanita dewasa sehingga mengerti arti tatapan tersebut.
'Ya Tuhan, kenapa mereka tidak menunggu sampai tiba di kamar? Kenapa mereka berciuman di tempat umum?' keluh Queensha dalam hati.
'Dasar muka tembok! Tidak dapat mengenal situasi dan kondisi, main sosok saja seperti bebek!' gerutu Ghani kesal. Kesal karena sampain sekarang belum berhasil membobol gawang Queensha sejak terakhir kali mereka bertemu sebab istrinya belum siap untuk melayani Ghani di ranjang. Jadi sangat wajar jika Ghani jadi berhasrat saat berdekatan dengan Queensha. Apalagi ditambah melihat dua orang yang sedang bermesraan di tempat umum begini.
'Sabar, Ghan. Jangan sampai trauma yang dialami istri lo semakin bertambah dengan cara lo yang terkesan memaksanya untuk menjalankan tugas sebagai seorang istri. Percayalah, suatu saat nanti lo bisa menggempur Queensha sepuasnya. Sekarang yang harus lo lakukan adalah bersabar!'
Melihat Queensha seperti tengah menanggung beban berat, Ghani mendekati sang istri dan berbisik, “Aku akan menunggumu sampai siapa." Ghani tiba-tiba berucap di telinga Queensha.
Jantung Queensha makin berdebar kencang. Rasanya dia ingin pingsan di tempat gara-gara dibisiki oleh Ghani. Embusan napas pria itu membuat bulu kudunya berdiri.
Queensha hanya mengangguk kecil, sampai akhirnya lift terbuka di lantai sepuluh, pertanda Queensha dan Ghani sampai di lantai kamar mereka.
***
__ADS_1
Setelah makan dan istirahat sejenak di hotel, sekarang waktunya menikmati keindahan pulau Maldives. Mereka memutuskan duduk-duduk di pantai untuk menikmati laut yang amat biru dan terkenal sangat jernih.
“Aku betah sekali di sini, Mas,” ucap Queensha sambil bersandar di bahu Ghani. Embusan angin laut menerbangkan helaian rambut panjang tergerai indah.
Ghani mengusap-usap pucuk rambut istrinya tanpa mengalihkan perhatian dari hamparan pasir putih di depan sana. “Aku juga, Sayang. Di sini lautnya indah sekali, pasirnya putih, dan udaranya pun sejuk. Walaupun panas, tapi tak ada polusi. Tidak seperti Jakarta. Sudah panas banyak polusi pula."
Queensha mendongakan kepala demi memandangi wajah tampan Ghani. “Coba kita bisa liburan dengan Rora, Mas, pasti lebih seru."
Dengan gerakan cepat Ghani mencubit gemas ujung hidung Queensha. “Jangan sembarangan bicara. Ini moment bulan madu kita mana boleh membawa Rora ataupun anggota keluarga yang lain. Aneh-aneh saja permintaanmu ini, Sayang."
“Yah, aku hanya berandai-andai saja, Mas.” Queensha memasang wajah cemberut diikuti bibirnya yang ranum maju beberapa centi meter ke depan.
Memandangi wajah Queensha, Ghani melihat raut kesedihan di sana. Ia berpikir mungkin Queensha belum bisa jauh dalam waktu yang cukup lama dengan Aurora sebab mereka pernah terpisah selama kurang lebih hampir enam tahun lamanya.
Terlintas sebuah ide untuk menghibur istri tercinta. “Lain kali bagaimana kalau kita ajak seluruh anggota keluarga berlibur ke Maldives? Kurasa pulau ini cocok untuk dijadikan destinasi wisata bagi anggota keluarga kita. Kamu setuju, Sayang?"
Queensha semringah mendengarnya. “Setuju banget, Mas. Terima kasih, Kokoku sayang. Kamu selalu mengerti apa yang kuinginkan.” Ia berikan sebuah kecupan di pipi kanan Ghani sebagai tanda terima kasih. Lalu merangkul lengan suaminya, menyenderkan kepala di lengan kokoh tersebut dengan manja.
Setelah puas menikmati indahnya pantai dengan cara berenang di pantai, Queensha dan Ghani memutuskan untuk jalan-jalan ke sekitar area penginapan. Walaupun matahari bersinar terik, tapi tak membuat mereka menyerah. Keduanya justru semakin bersemangat mengeksplor keindahan sekitar.
Saat ini, Queensha dan Ghani sedang menikmati restoran dengan menu khas Maldives yang sangat khas. Perut kerocongan seusai menjelajahi keindahan alam bawah laut pulau Maldives jadi tidak heran kalau sekarang keduanya makan begitu lahap.
“Kuakui makanan di Maldives sangat cocok dengan lidahku,” ucap Ghani sambil memakan lobster berukuran besar.
“Wah, kalau itu aku juga kangen.” Ghani balas tertawa.
Queensha dan Ghani makan sambil sesekali bercanda. Kebersamaan itu membuat mereka merasa nyaman satu sama lain. Yang pasti, momen ini akan selalu dikenang hingga akhir hayat.
Matahari telah kembali ke peraduan dan kini saatnya sinar rembulan bertugas menyinari bumi. Diam-diam Ghani telah menyiapkan kejutan untuk istrinya, Queensha.
“Aku ada kejutan buat kamu, Sayang,” ucap Ghani tiba-tiba saat mereka sedang duduk bersantai di balkon kamar hotel.
“Kejutan apa, Mas?” tanya Queensha penasaran.
“Tapi, mata kamu harus ditutup dulu.”
“Ih, apa sih, Mas. Kenapa pakai ditutup segala?”
“Pokoknya kamu ikuti permintaanku. Oke?”
__ADS_1
“Iya deh.” Akhirnya, Queensha mau matanya ditutup menggunakan kain demi mengetahui kejutan apa yang telah disiapkan Ghani.
Setelah matanya ditutup, Queensha dituntun Ghani menuju ke sebuah tempat. Dari kejauhan, Queensha bisa mendengar debur ombak di kejauhan dan alunan biola yang amat syahdu.
“Nah, sekarang kamu bisa buka matamu,” ucap Ghani.
Queensha mencopot penutup matanya. Sepasang mata sipit itu membeliak saat melihat candle light dinner yang sudah disiapkan suami tercinta. Kelopak bunga mawar membentuk hati, mengelilingi kursi dan meja makan mereka. Deretan pemain biola tengah memainkan instrumen musik yang terdengar syahdu.
“Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan dan Nyonya,” kata pria itu menggunakan Bahasa Inggris sambil terus memainkan biola.
Queensha tak sanggup membendung perasaan bahagianya. Ia tak tahu kapan Ghani mempersiapkan semuanya. Namun, itu tak menjadi masalah, ia suka dengan apa yang dilakukan Ghani untuknya.
“Ya ampun, aku bahagia banget, Mas. Terima kasih.” Mata Queensha berkaca-kaca.
“Aku senang kalau kamu senang, Sayang.” Ghani tersenyum manis. Dia menggenggam tangan istrinya erat-erat. Apa pun akan dilakukannya demi membuat Queensha bahagia.
Setelah acara candle light dinner yang amat romantis, Queensha dan Ghani kembali ke kamar hotel. Perut mereka sudah kenyang jadi sekarang waktunya untuk beristirahat.
“Mas, aku penasaran. Kapan Mas mempersiapkan makan malam romantis tadi? Bukannya kita bareng-bareng terus dari tadi?” tanya Queensha saat berjalan menyusuri lorong sepi menuju kamar hotel mereka.
Ghani melirik sekilas, lalu tersenyum. "Aku minta pihak hotel untuk menyiapkan makan malam romantis buat kita. Nah, setelah semua persiapan sudah selesai barulah staf hotel memberitahuku.”
“Oh, pantas saja," sahut Queensha singkat.
“Ehm, omong-omong kamu menyukainya tidak?”
“Tentu saja. Tadi itu sangat romantis. Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Mas."
Queensha tak henti-hentinya berkata kalau dirinya amat bahagia. Yah, wanita mana yang tak bahagia diperlakukan spesial oleh suaminya sendiri? Apalagi saat bulan madu seperti ini. Queensha hanya wanita biasa, melihat Ghani mau repot menyiapkan kejutan tersebut membuat ia merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia.
Begitu sampai kamar, Queensha dan Ghani tak langsung tidur. Mereka saling menatap mata masing-masing dengat begitu lekat. Jemari tangan saling tertaut satu sama lain, tanda mereka tak ingin terpisah walau sedetik pun.
Karena situasi amat mendukung, Ghani mendekatkan wajahnya ke wajah Queensha, menempelkan bibirnya ke bibir ranum Queensha. Ia membuka mata sebentar, ingin memastikan apakah wanitanya keberatan jika ia menikmati manisnya madu di bibir ranum tersebut. Tak ada perlawanan maka ia melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda beberapa detik.
Ghani memperdalam ciuman dengan cara menerobos bibir Queensha yang terbungkam rapat. Setelah berhasil barulah ia menjarah seisi rongga mulut Queensha dengan sangat buas sampai terdengar suara desahaan merdu meluncur dari sang wanita.
“Aku cinta kamu, Sayang,” bisik Ghani dengan suara serak di tengah aktivitas berciuman mereka.
Queensha tak menjawab, ia hanya membalas ucapan Ghani dengan mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Mata terpejam, menikmati setiap sentuhan lidah yang membelit lidahnya. Ia akui, permainan Ghani tak mengecewakan, masih sama seperti saat mereka pertama kali berhubungan dulu.
__ADS_1
“Sayang, aku mau bilang sesuatu. Apa sekarang aku boleh minta hakku sebagai suamimu?” tanya Ghani tiba-tiba. Ia sudah tak sanggup lagi menahannya. Terlebih sesuatu yang berada di pangkal paha terus bereaksi membuatnya cenut-cenut ingin segera lolos dari sangkarnya.
...***...