
"Baby sitter. Ya ... dia baby sitter putriku, Aurora." Ghani mencoba bersikap tenang meski sebetulnya irama jantung pria itu berdetak tak beraturan. Saking kencangnya hingga rasanya mau meledak saat itu juga.
Raut wajah semua orang yang ada di sekeliling Ghani berubah jadi lebih rileks, tapi tidak bagi Queensha. Wanita itu justru terlihat kecewa saat mendengar jawaban sang suami.
Kamu mikir apaan sih, Sha? Berpikir kalau dia akan menjawab kamu adalah istrinya, begitu? Jangan mimpi! Ingat, kamu itu dinikahi Pak Ghani hanya karena Aurora. Kalau anak asuhmu enggak meminta, mana mungkin itik buruk rupa macam kamu berubah jadi Cinderella.
Queensha memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan semua orang. Meskipun hati terasa sakit seakan ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata, tetapi ia harus bersikap biasa saja seakan tak terjadi hal buruk menimpanya.
"Maaf kalau kedatangan saya ke sini mengganggu Pak Ghani dan semuanya. Saya ke sini ingin mengantarkan Aurora bertemu dengan Papanya sekalian memberikan ini untuk Bapak," tutur Queensha sambil menyerahkan plastik minuman kesukaan Ghani.
Wanita itu menundukan pandangan ke arah Aurora. "Sayang, kita udah ketemu sama Papa dan ngasihin minuman juga. Gimana, kalau kita pulang sekarang? Papa pasti sibuk banget hari ini. Kan kasihan kalau kita di sini takut ganggu kerjaan Papa," sambung Queensha mencoba membujuk Aurora agar mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
Entah mengapa, rasanya dada Queensha sesak sekali bagai dihimpit bongkahan batu yang sangat besar. Hidung terasa masam dan bola matanya pun seperti perih seperti kelilipan.
Aurora menggeleng. "Enggak mau, Ma. Rora mau di sini aja sama Papa."
Untuk kesekian kali, rekan sejawat Ghani dibuat terkejut oleh perkataan Aurora barusan. Bola mata terbelalak disertai rahang melebar sempurna.
Anita, rekan sejawat Ghani yang berdiri di sebelah atasannya segera menoleh ke samping. Mata gadis itu memicing tajam. "Ma? Maksudnya ... Mama? Kenapa Rora memanggil baby sitter-nya dengan panggil Mama? Terdengar intim sekali padahal hubungan mereka hanya sebatas anak asuh dan baby sitter saja."
"Aku baru dengar ada anak majikan manggil baby sitter-nya dengan sebutan Mama. Istimewa sekali, ya?" bisik salah satu perawat berkacamata. Kendati terdengar lirih bagai desau angin di musim gugur, Queensha masih dapat mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, benar. Biasanya dipanggil Mbak dan Kakak, enggak manggil dengan sebutan mama juga, kali." Ketiga perawat itu terkikik geli dibuatnya.
Ghani tidak tahan mendengar bisikan itu bergegas berjalan setengah berlari mendekati Queensha. "Ikut saya sebentar!" bisik pria itu sambil menarik paksa tangan sang istri dan membawa wanita itu menjauhi kerumunan.
Sementara Queensha hanya pasrah saat tangan kokoh sang suami membawanya pergi dari tempat itu. Ia abaikan cengkeraman tangan yang dirasa semakin erat menyentuh pergelangan tangan.
Si pemilik mata sipit menghempaskan tangan Queensha saat mereka telah berada di tangga darurat. "Sebenarnya tujuan kamu datang ke sini apa? Ingin memberitahu semua orang bahwa kamu adalah istri saya, iya?" tuduh Ghani, masih belum percaya kalau kedatangan Queensha di rumah sakit hanya ingin mengantarkan Aurora dan memberi minuman boba saja. Ia pikir, istrinya mempunyai tujuan lain selain dua hal itu.
Mata sipit Queensha mulai berkaca-kaca. Sepanjang jalan tadi ia sempat melihat sekilas ke arah para perawat yang kebetulan sedang lalu lalang di bangsal Bougenville, beberapa dari mereka menatap aneh ke arahnya. Bahkan secara terang-terangan mengatakan kalau Queensha adalah fans fanatik Ghani yang tak tahu malu, rela mengejar sang idola sampai nekad datang ke rumah sakit demi bertemu idola.
Wajar saja mereka beranggapan begitu sebab tiga hari lalu ada salah satu mantan pasien Ghani datang ke rumah sakit dengan membawa buket bunga dan cokelat untuk si dokter tampan. Bukan hanya itu saja, gadis itu pun mengutarakan isu hatinya yang terdalam kepada Ghani. Jadi saat melihat Queensha ditarik secara kasar oleh Ghani, mereka berpikir kalau ibu sambung Aurora adalah fans fanatik dokter tampan.
Queensha sedang mengatur napas agar saat menjawab pertanyaan Ghani, air mata yang susah payah ia tahan tak meluncur begitu saja. Akan sangat memalukan jika di depannya tahu sisi lemahnya.
"Saya akui Pak Ghani mempunyai paras yang nyaris mendekati kata sempurna. Namun, saya tidak tertarik tuh pada pria seperti Bapak. Pria dingin, cuek dan anti panti terhadap perempuan bukanlah tipe saya. Jadi jangan pernah berpikir kalau saya datang ke sini karen ingin melihat wajah Bapak!" skak Queensha yang mana ucapan itu sukses membungkam mulut Ghani. Pria di hadapan Queensha bergeming, kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa menatap sang istri dengan kesal.
Queensha mengalihkan pandangan ke arah lain. Menghela napas kasar dan kembali berucap, "Kita sudah terlalu lama meninggalkan Rora di tengah para manusia bermulut pedas macam rekan sejawat Bapak. Sebaiknya kita kembali sebelum mereka berpikir bahwa kita mempunyai hubungan istimewa. Akan sangat memalukan bukan jika mereka tahu bahwa wanita kampungan seperti saya adalah istri dari seorang dokter hebat yang mempunyai banyak prestasi di bidang kesehatan?"
Pemilik nama asli Queensha Azura Gunawan tidak ingin terlihat berdebat lagi. Sepertinya ia cukup lelah karena seharian ini menemani Aurora bermain hingga tak punya banyak energi untuk melayani Ghani. Wanita muda itu berbalik dan pergi tanpa berpamitan pada suaminya.
"Apa kata dia barusan? Pria dingin, cuek dan anti pati terhadap perempuan bukanlah tipenya? Lalu, tipe pria yang seperti apa yang diinginkan wanita itu hah? Dasar wanita sombong, bisa-bisanya dia berkata begitu di depanku. Awas saja, kalau sampai dia jatuh cinta padaku, enggak akan kurespon perasaanmu, Sha!" sungut Ghani berapi-api. Seumur hidup baru kali ini ada wanita yang secara terang-terangan menolak di hadapannya dan itu sukses membuat harga diri Ghani terluka.
__ADS_1
Queensha menghentakan kaki di atas lantai. "Pak Ghani nyebelin banget sih! Hanya karena punya tampang keren, harta melimpah ruah seenaknya aja menuduhku yang bukan-bukan. Kalau bukan karena Rora, aku pun ogah menemuinya di rumah sakit. Emangnya aku cewek murahan yang enggak punya malu datang ke sini untuk menemui seorang pria."
Wanita penyuka warna biru langit mempercepat langkahnya saat melihat Aurora sedang duduk ditemani Anita, salah satu rekan sejawat Ghani. "Maaf sudah merepotkan Anda, Dokter," kata Queensha lembut. Meskipun di dalam hati sebetulnya Queensha kesal melihat sikap Anita yang seolah sedang merebut hati Aurora, tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak membuat masalah di rumah sakit milik ayah mertuanya.
Anita tersenyum manis di hadapan Queensha. Dengan suara yang dibuat mendayu dia menjawab, "Tidak masalah. Lagi pula saya senang bisa menemani gadis cantik seperti Aurora."
Ya iyalah senang, kalau kamu bisa mendekati Rora maka kesempatan mendekati Papanya terbuka lebar. Emangnya dipikir aku enggak tahu wanita seperti apa kamu ini? gerutu Queensha dalam hati.
"Ya udah, kalau gitu saya permisi dulu. Rora, ayo kita pulang sekarang. Kasihan Mang Aceng nungguin kita kelamaan." Queensha menggenggam tangan Aurora dan membawa gadis kecil itu dari bangsal Bougenville.
...***...
Visual Queensha Azura Gunawan
Visual Muhammad Ghani Hanan
Visual Aurora Syafiatunnisa
__ADS_1