Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Rora Mau Punya Adek, Ma?"


__ADS_3

Keesokan hari ....


Tampak Ghani dan Queensha telah rapi dengan pakaian casual mereka. Keduanya sengaja bangun pagi karena hendak pergi ke rumah sakit guna memeriksakan kehamilan Queensha yang diperkirakan berusia dua bulan. Selain ingin mengetahui usia kandungan, pasangan itu pun ingin mengetahui kondisi kesehatan calon bayi mereka.


"Sayang, tadi aku buatkan kamu sandwich dan segelas susu ibu hamil. Yuk, dimakan dulu. Aku tidak mau kamu dan calon anak-anakku kelaparan saat kita melakukan pemeriksaan nanti," ujar Ghani seraya berjalan mendekati meja rias di mana istrinya berada.


Sepasang mata Queensha berbinar kala melihat sepiring sandwich isi sayuran, daging, serta telur mata sapi tersedia di atas piring bundar terbuat dari keramik. Tidak ada yang spesial dari hidangan di depan sana, tetapi entah mengapa di mata Queensha sandwich itu terlihat begitu lezat hingga membuat air liurnya nyaris terjatuh.


Dengan segera Queensha meraih makanan yang disodorkan Ghani kepadanya. "Eum, enak. Terima kasih, Papa. Kami menyukai menu sarapan kali ini. Papa memang is the best, deh." Wanita itu menirukan gaya bicara anak kecil seolah yang sedang berbicara adalah calon anak mereka.


Ghani tersenyum lebar melihat istrinya yang begitu lahap menyantap sandwich buatannya. Menu sederhana, tetapi ia tak menduga istrinya akan begitu senang melahap semua hidangan yang ada.


Jari kokoh Ghani terulur ke depan, menyingkirkan sisa makanan yang berada di pinggir bibir. "Papa akan melakukan apa pun asalkan kalian bahagia. Sehat-sehat di dalam sana, ya, Nak. Papa, Mama, dan Kak Rora, sangat menyayangi kalian."


Sementara itu, di ruang makan Aurora pun tengah menyantap sarapan buatan asisten rumah tangganya. Ia ditemani bik Anah duduk manis di kursi seraya mengayunkan kakinya yang mungil secara bergantian.


"Bik Anah, apa benar sebentar lagi Rora mau punya adek bayi?" Pertanyaan gadis kecil bermata bundar mengalihkan perhatian bik Anah yang saat itu sedang mencuci piring.


"Bibik kurang tau, Neng Rora. Tapi Neng Rora berdoa saja, semoga memang adek bayi sudah ada di perut Mamanya Neng. Jadi, Neng Rora enggak main sendirian lagi karena ada temennya."


"Rora selalu berdoa, kok, Bik. Sehabis solat, Rora minta pada Tuhan, semoga lekas ada dedek bayi di perut Mama. Rora ingin sekali ajak adik-adik mewarnai, menggambar, dan melukis bersama pasti seru," sahut Aurora antusis. Ia membayangkan hidupnya jauh lebih mengasyikan jika seandainya memiliki adik yang bisa diajak bermain. Melakukan aktivitas apa pun bersama hingga ia tak merasa kesepian lagi seperti sekarang.

__ADS_1


"Neng Rora emang pintar. Bibik yakin, kelak Neng akan jadi kakak yang baik dan sangat menyayangi adik-adik kalau mereka sudah lahir nanti. Neng Rora emang paling juara." Dua ibu jari Bik Anah terangkat ke udara, petanda ia sangat mengapresiasi ucapan Aurora tadi.


Beberapa menit kemudian, Ghani dan juga Queensha keluar dari kamar utama. Keduanya berjalan mendekati Aurora yang baru saja menghabiskan sarapannya.


"Sudah siap pergi ke sekolah, Sayang?" Ghani mengusap kepala Aurora dengan perasaan sayang, sementara Queensha memasukan bekal makanan yang telah disiapkan bik Anah ke dalam tas ransel Aurora.


Suara lantang terdengar nyaring di telinga. "Siap, Papa! Ayo, kita berangkat. Rora udah enggak sabar ingin cepat belajar." Si kecil tampak begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Apalagi hari ini ada jadwal menggambar jadi semangatnya bertambah ratusan kali lipat.


Ghani dan Queensha menggandeng jemari mungil Aurora. Tubuh mungil itu berada di tengah papa dan mamanya. Dari kejauhan, mereka seperti keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak perempuan.


"Bik, saya titip rumah. Mungkin akan pulang malam jadi nanti sebelum Bibik pulang, tolong pastikan kompor tidak dalam keadaan menyala, kran air dalam keadaan tertutup, dan pintu terkunci rapat. Jangan sampai meninggalkan apartemen dalam keadaan semua menyala." Pesan Queensha sebelum keluar rumah.


"Bu Queensha tenang saja, bibik pasti mengeceknya dengan teliti sebelum meninggalkan apartemen ini."


Saat ini Ghani sudah berada di depan gerbang sekolah Aurora. Banyak para orang tua melakukan hal sama, mengantar anak-anak mereka ke depan pintu masuk halaman sekolah bertaraf internasional.


Queensha turun dari mobil, disusul Aurora yang mengekori di belakang. Ia meletakkan lututnya di tanah beraspal lalu membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah sang putri. "Rora, nanti mama dan Papa akan jemput kamu sehabis pulang dari rumah sakit. Jadi jangan pernah mau diantar siapa pun kalau yang datang bukan mama dan Papa, ya? Misalkan orang itu tetap memaksa, Rora teriak saja yang kencang, minta tolong agar orang-orang datang menghampirimu. Mengerti?"


"Mengerti, Mama. Ehm, Mama ke rumah sakit apa mau periksa dedek bayi? Apa Rora betulan akan punya adik kembar, Ma?" Aurora kembali mengajukan pertanyaan yang sama, padahal sepanjang jalan tadi Queensha dan Ghani sudah menjelaskan bahwa di perut Queensha memang betul sudah ada adik bayi. Akan tetapi, tampaknya si kecil belum merasa puas hingga bertanya berkali-kali kepada orang tuanya.


Dengan sabar dan lemah lembut Queensha menjawab, "Benar, Sayang. Makanya hari ini Papa mau anterin mama periksa ke dokter untuk melihat apa dedek bayinya baik-baik saja. Kalau sudah periksa, mama jemput Rora di sini. Bagaimana?"

__ADS_1


Si kecil berambut panjang kuncir kuda mengangguk cepat. "Oke, Mama. Rora tunggu, ya, Ma.


Queensha memeluk tubuh Aurora sebelum ia masuk ke dalam mobil. Tangan melambai ke udara saat melihat Aurora berjalan bersama wali kelasnya. Senyuman terus mengembang di bibir hingga tubuh mungil itu menghilang dari pandangan.


Tak berselang lama, akhirnya Ghani tiba di rumah sakit. Ia menggandeng jemari lentik Queensha memasuki gedung berlantai lima belas, tempat di mana suaminya bekerja selama ini.


Dengan sangat hati-hati, Ghani membantu Queensha duduk di kursi tunggu depan poli kandungan. "Bagaimana, nyaman tidak? Apa perlu aku bawakan bantal yang biasa kupakai untuk kamu jadikan alas duduk agar lebih empuk?"


"Tidak perlu, Mas. Begini saja sudah nyaman, kok. Terima kasih sudah perhatian sama aku."


Masih dalam posisi berjongkok, Ghani menjawab, "Jangan pernah mengucapkan kata terima kasih lagi, Sayang. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai suami dan ayah bagi anak-anak kita. Misalkan kamu merasa tidak nyaman selama menunggu antrian, katakan saja kepadaku, aku akan minta Leon membawakan bantal dari ruanganku."


Mendengar nama Leon diucap, Queensha terkekeh sendiri, membayangkan bagaimana kesalnya wajah pria itu saat Ghani memintanya ke lantai tiga dengan menenteng bantal kecil untuk dirinya. Pasti sangat menggemaskan.


"Tidak perlu, ah. Kasihan Mas Leon kalau kamu ganggu hanya untuk mengambilkan bantal di ruanganmu di lantai paling atas. Dia pasti punya kesibukannya sendiri, tidak bisa melayanimu begitu saja. Sudah, sebaiknya kamu duduk di sebelahku sambil nunggu namaku dipanggil."


Ghani menurut, ia duduk di sebelah istrinya seraya menggenggam erat jari tangan Queensha dengan begitu erat. Ada perasaan gugup, bahagia, dan cemas muncul dalam waktu bersamaan sebab ini kali pertama ia mendampingi Queensha memeriksakan kandungan.


'Ternyata begini rasanya jadi suami siaga. Bersyukur banget gue dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk bisa nemenin Queensha di saat dia hamil anak kedua,' batin Ghani. Lantas ia membawa kepala Queensha mendekati dada. Mencium helaian rambut hitam itu dengan penuh cinta. "I love you, Sayang."


...***...

__ADS_1



__ADS_2