
Mia perlahan menggerakan bulu-bulu matanya yang lentik, kelopak matanya pun perlahan terbuka. Pertama kali membuka mata yang ia rasakan adalah tengkuknya terasa nyeri dan sakit. Hendak menyentuh bagian tersebut, tapi anggota tubuh tak bisa digerakan.
"Kamu sudah bangun rupanya. Bagaimana, apa tidurmu nyenyak barusan?" Suara berat itu terdengar nyaring di telinga Mia. Nada suara dingin, tegas dan terdengar begitu ... menyeramkan.
Mata Mia memicing. Cahaya sinar matahari yang masuk melalui celah jendela menyilaukan mata membuat wanita paruh baya itu tak dapat mengenali siapakah gerangan yang sedang duduk di sebuah kursi tak jauh dari posisinya saat ini. Lalu, kepingan kejadian beberapa waktu lalu hadir di benak wanita itu.
Mia mengingat kala dirinya berada di kamar sedang bersiap untuk jogging. Tak lama setelah itu terdengar ketukan pintu dan ketika ia membukanya tampak dua orang pria asing berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat menyeramkan. Kedua pria itu menyuntikan sesuatu ke tubuh hingga ia tak sadarkan diri.
Ghani bangkit dari kursi, kemudian berdiri membelakangi arah pantulan sinar matahari. Saat cahaya mentari berhasil dihalau, detik itu juga sepasang mata Mia membulat sempurna.
"K-kamu ... Ghani, 'kan? S-suami Queensha?" ucap Mia lirih setelah kesadarannya pulih kembali. Ia cukup terkejut karena tidak pernah menduga dapat bertemu langsung dengan suami dari Queensha, anak dari mendiang suami keduanya yang telah meninggal dunia.
"Benar. Aku adalah suami dari anak tirimu yang selalu kamu perlakukan dengan tidak adil," kekeh Ghani memperhatikan Mia mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Tatapan pria itu begitu tajam seperti seekor binatang buas yang tengah mengawasi musuhnya di daratan.
"Sedang apa kamu di sini? Lalu, kenapa tubuhku diikat? Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?" Mia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelit seluruh tubuh.
"Tentu saja memberimu pelajaran. Kenapa, takut aku melakukan sesuatu kepadamu? Iya?" tanya Ghani menaik turunkan kedua alis.
Lagi dan lagi Ghani memperlihatkan sisi lain yang tidak pernah ia tunjukan kepada siapa pun, bahkan kepada orang tua serta adik-adiknya. Sisi gelap itu akan muncul jika seseorang telah menyinggung atau melampaui batasannya. Ibu, adik perempuan, istri dan anak perempuannya adalah batasan Ghani. Jika orang tersebut melampaui batas maka Ghani berubah menjadi sosok menyeramkan seperti ayah tercinta.
"Pelajaran? Memangnya apa yang sudah kulakukan kepadamu sampai kamu tega menyanderaku begini?"
Tampaknya Mia lupa akan kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian di mana ia tega menculik Aurora dan memperlakukan malaikat kecil Ghani dengan buruk. Ataukah mungkin Mia pura-pura lupa demi menghindari amukan kemarahan Ghani?
__ADS_1
Ghani tersenyum smirk. "Ehm, sepertinya obat tidur yang anak buahku suntikan tidak hanya membuatmu tertidur, tetapi juga membuat otakmu tak lagi dapat berfungsi dengan baik. Buktinya kamu dengan mudah melupakan insiden penculikan yang telah kamu, Lita dan Sarman lakukan kepada putriku."
Suara Mia tercekat detik itu juga. Sejak awal mengetahui akan ada konsekuensi yang diambil jika memaksakan diri menculik Aurora. Namun, ia tak pernah menyangka kalau Ghani akan mengetahuinya secepat ini.
Ghani berjalan perlahan mendekat ke arah Mia. Ia sedikit membungkukan punggung di hadapan wanita jahat tak berperasaan macam Mia.
"Kenapa? Kamu pasti terkejut, ya, kenapa diriku bisa tahu tentang penculikan yang kamu lakukan terhadap putriku?" Dengan kencang Ghani menarik helaian rambut Mia hingga kepala wanita itu mendongak ke atas. "Kamu pikir aku bodoh, tak dapat mengetahui apa yang disembunyikan istriku? Asal kamu tahu, aku mengetahui semua kejahatan yang telah diperbuat olehmu bukan hanya masa kini, tetapi juga di masa lalu."
"Masa lalu? Memangnya apa yang pernah kuper-" Perkataan Mia mengambang di udara saat sebuah gada yang cukup besar menghantam kesadarannya.
Tiba-tiba saja jantung Mia rasanya berhenti berdetak. Bumi tempatnya singfah seolah tak lagi berputar. Lalu wajah wanita itu berubah memucat.
'Mungkinkah pria ini mengetahui jika aku adalah pelaku yang telah memisahkan Queensha dengan anak haramnya itu?' batin Mia.
Menggeleng kepala cepat. 'Tidak mungkin! Kejadian itu sudah berlangsung lama dan semua orang yang terlibat telah kusogok sehingga mereka tak berani membocorkan kepada sembarang orang.'
Tidak sudi kotoran dari tubuh Mia menempel di permukaan kulitnya, lantas Ghani mengusut tangannya yang tadi menyentuh Mia.
"Jangan pura-pura tidak mengerti, Mia! Aku tahu apa yang kamu lakukan lima tahun lalu!" sembur Ghani kesal sebab setelah semua kebohongan terbongkar, Mia masih menyangkal, padahal ia sudah mendapat semua informasi dari Yogi tentang Mia.
"Kamu ... dengan tidak berprikemanusiaan tega memisahkan bayi baru lahir dari ibu kandungnya. Di mana hati nuranimu sebagai manusia, Mia? Kamu perempuan dan juga merupakan seorang ibu, tidakkah ada sedikit rasa kasihan pada bayi mungil yang baru saja dilahirkan Queensha? Bagaimanapun dalam darah bayi itu ada darah yang sama dari mendiang suamimu, ayah Queensha."
"Hanya karena dia terlahir tanpa legalitas jelas, kamu tega menjualnya kepada orang lain dan mengancam dokter sehingga dokter itu melanggar sumpah yang pernah diucapkannya. Benar-benar keterlaluan." Ghani memandang remeh kepada Mia. "Wanita kejam dan berhati iblis sepertimu tidak pantas disebut ibu!"
__ADS_1
"Diam, Berengsek! Kamu tidak pantas menyebutku dengan kata-kata itu!" teriak Mia, tidak terima dirinya dihina Ghani.
"Dasar Jalaang! Berani-beraninya kamu berteriak di depanku!" Ghani mengangkat tangan ke udara, kemudian menampar wajah Mia dengan sangat kencang. Saking kencangnya terdapat jejak merah di pipi Mia yang putih dan mulus.
"Aargh!" Rasa panas terasa di permukaan kulit. Mia meringis kesakitan usai mendapat tamparan keras di wajah. "Lelaki sialan! Bajingan! Berengsek!" Mia memakin Ghani dengan cara membabi buta. Ia luapkan kemarahannya di depan suami dari anak tirinya.
Melihat kemarahan Mia yang meledak bagai gunung berapi yang siap meluluhlantakan lava panasnya, Ghani justru tertawa terbahak. Untuk kedua kali ia menikmati perubahan air muka yang dialami musuh. Pertama Cassandra dan kini Mia.
"Hinalah aku sesuka hatimu, Mia. Aku sama sekali tidak keberatan dengan semua hinaan yang terucap dari mulut busukmu itu! Aku ... malah bahagia bila melihatmu menderita. Bagiku semua kesakitanmu adalah hiburan gratis yang sangat sayang untuk dilewatkan."
"Gila! Kamu gila!" teriak Mia kencang.
"Kamu benar Mia, aku memang gila! Aku gila karena ulahmu yang membuat Queensha hidup menderita. Istriku harus menjalani kehidupan yang sulit pasca dokter memberitahu bahwa bayinya meninggal dunia dan itu semua disebabkan oleh kamu. Kamu, Mia!" Ghani tak dapat lagi membendung amarahnya. Ia menampar wajah Mia berkali-kali.
Dada kembang kempis, pundak bergerak turun dan naik. Api amarah dalam diri Ghani semakin membara saat wajah kedua malaikatnya terlintas di benaknya. Ketika Queensha menangis di depannya, menceritakan bagaimana susahnya dia menjalani hidup ketika mengandung Aurora. Seorang diri memikul beban berat di pundak, sungguh Ghani tak bisa lagi mentolerir perbuatan Mia.
Yogi serta beberapa anak buah yang berjaga di depan pintu bergegas berlari, mencaritahu apa sebenarnya terjadi. Langkah kaki terhenti kala melihat Ghani dengan buasnya menampar Mia.
Bulu kudu Deni merinding menyaksikan adegan demi adegan yang disuguhkan di depannya. Sementara itu, Roni justru merasa iba kepada Mia karena dia baru beberapa bulan bekerja di dunia yang digeluti Yogi.
Berbisik di telinga Yogi. "Bos, apa tidak sebaiknya kita hentikan Dokter Ghani? Aku takut tawanan mati sebelum sempat dijebloskan ke penjara."
Yogi menggeleng cepat. "Biarkan saja. Kalaupun target mati di tangan Dokter Ghani, biarlah aku yang bertanggung jawab. Aku rela dipenjara demi membalas semua kebaikan yang dilakukan dia pada keluargaku."
__ADS_1
Lantas Roni, Deni serta anak buah yang lain mengangguk patuh. Tak lagi berani membantah titah Yogi. Mereka biarkan Ghani melakukan apa pun sesuka hati tanpa ingin mencegah.
...***...