
Penjara adalah tempat belajar yang sesungguhnya, di mana raga tak bisa mendapatkan kebebasannya. Sarman, Mia dan Lita sudah dua bulan mendekam di rumah tahanan. Bagi sebagian orang berada di tempat menyeramkan ini menghadirkan ketakutan tersendiri, tanpa terkecuali Mia dan Lita.
Mereka kini tinggal di ruang tahanan yang terpisah. Hampir setiap malam Lita tidak bisa tidur saat berada di kamar tahanan yang sempit dan harus dihuni enam belas orang.
Di balik tebalnya tembok penjara, Lita merasa kehilangan harapan. Kini sesal yang terus menggayuti benaknya. Seandainya dia dulu tak terpedaya dengan omongan Sarman dan Mia, mungkin kebebasan tetap menjadi miliknya. Saat ini Lita sedang tertatih-tatih menerima balasan atas perbuatannya. Penculikan dan penganiayaan terhadap anak di bawah umur bukan tuduhan yang sederhana.
Terkadang Lita sering dihantui mimpi buruk saat tertidur. Bayangan wajah Aurora yang baru berusia enam tahun dengan polosnya memanggil-manggil namanya. Jika mendapatkan mimpi buruk seperti itu, Lita langsung terbangun. Tentu saja hal itu mengagetkan penghuni sel lainnya.
“Tidurlah lagi, hari masih malam, jangan terbangun tiba-tiba begini dan mengganggu yang lain,” bisik Rosi, salah satu teman selnya yang terkena kasus penganiayaan. Rosi dihukum karena memukul kepala suaminya yang ketahuan berselingkuh menggunakan helm hingga suaminya menderita cedera otak.
“Maaf, Rosi, tapi aku enggak bisa tidur,” bisik Lita. Selama dipenjara dia sedikit banyak menggunakan bahasa formal agar tidak dianggap belagu oleh para tahanan yang lain. Mentang-mentang tinggal di Jakarta, seenaknya saja menggunakan kata "lo dan gue".
“Memang begitu kalau masih baru, nanti lama-lama kamu juga terbiasa.”
Rosi membalik badan memunggungi Lita yang masih terjaga. Tangan kanan bertumpu di bawah kepala, sedangkan tangan kiri memegang dahi. Lita merasa dirinya seperti burung yang terkurung dalam sangkar besi, tak bisa terbang bebas seperti dulu lagi, dan hal ini sangat menyiksa.
Malam berlanjut hingga pagi menjelang ....
“Bangun … bangun sudah siang, ayo bersiap ke musala!” Petugas rutan yang berjaga membangunkan para penghuninya. Hari sudah pagi. Rasanya baru sebentar Lita memejamkan mata, ternyata sekarang hari sudah berganti. Perlahan terdengar suara kumandang azan Subuh dari musala.
“Lita, ayo bangun kita ke musala.” Rosi membangunkan kawan satu selnya. Wanita itu selalu setengah berbisik jika berbicara karena tak mau menganggu penghuni lainnya.
Lita menuruti ajakan Rosi. Gadis itu bangun dari tidurnya, kemudian mengekori teman satu selnya itu berjalan menuju musala yang ada di belakang rutan.
Usai melakukan salat berjamaah, dilanjutkan dengan olahraga. Senam kebugaran di lapangan rutan setiap pagi sedikit memberi kesegaran pada tubuh yang terasa penat. Usai olahraga ringan, mereka kembali ke dalam sel untuk membersihkan diri.
Suasana di dalam rutan terasa sumpek dan hening. Perasaan cemas dan rasa bersalah memenuhi hati para tahanan wanita, termasuk Lita. Meskipun demikian, dengan berjalannya waktu, Lita mulai mencoba membaur dengan para tahanan lainnya. Dia menyadari bahwa mereka semua memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Kini ada Rosi yang membantu menyemangati dirinya.
__ADS_1
'Lo harus ikhlas menerima ini semua, Ta. Udah untung lo enggak diapa-apain sama Pak Ghani dan anak buahnya. Coba kalau saat itu mereka gelap mata, nasib lo sama seperti Mama dan Papa,' batin Lita berbicara sendiri.
Hari itu, suasana di ruang tahanan berubah sedikit berbeda. Lita dan beberapa tahanan wanita lainnya diberitahu bahwa mereka akan mengikuti program pembinaan dan peningkatan ketrampilan. Salah satu kegiatan yang dijadwalkan adalah pembuatan kue.
“Semua harus ikut berpartisipasi, jangan melewatkan acara penting seperti ini supaya kalian tetap waras.”
Ketua sel bernama Tiwi yang lebih sering di panggil Mak Towok yang berbadan besar mulai memberi instruksi. Tidak ada yang tahu bagaimana Mak Towok bisa dipilih menjadi ketua tahanan. Mungkin karena badannya yang besar dengan suaranya yang berat, membuatnya terpilih karena semua orang menginginkan rasa aman.
“Acaranya di aula, jadi kalian bisa mulai datang ke aula sekarang.” Mak Towok berteriak membuat beberapa tahanan wanita segera bergegas pergi.
“Kalian berdua jangan lemot gerakannya, acara dimulai jam sembilan, kalau masih pada di sini nanti petugas pasti datang. Rosi cepatlah kamu ajak Lita berkumpul di aula!”
“Iya, Mak, sabar dulu sebentar, Lita masih memakai body lotion.”
“Ah kalian ini, siapa pula yang akan melirik? Sudah sana cepat!” usir Mak Towok membuat Lita dan Rosi tertawa kecil.
“Tak ada itu chef yang di TV, bisa alergi gatal-gatal merah semua nanti badannya mereka kalau datang kesini.” Mak Towok menjawab dengan suara kerasnya.
Dalam ruang aula yang agak luas, tapi sedikit suram, beberapa meja panjang ditempatkan dengan rapi. Perempuan-perempuan tahanan berkumpul di sekitar meja, menunggu petugas memberi instruksi. Wajah-wajah cemas dan khawatir perlahan berubah menjadi wajah-wajah yang penuh antusiasme ketika para asisten chef memasuki ruangan aula. Aroma harum bahan kue mulai tercium di udara.
Lita berjalan dengan ragu-ragu mencari kursi kosong. "Ini pertama kalinya gue belajar membuat kue. Enggak terpikirkan sebelumnya gue bakalan belajar masak di sini. Jangankan belajar masak, masuk penjara aja kagak." Dia menggumam sambil tersenyum getir, menertawai kebodohan yang merenggut kebebasannya.
Rosi mengamati sekitar, sambil tersenyum, wanita itu menyahuti perkataan Lita. "Ya, kita semua punya kisah yang tak terduga di sini. Tapi paling tidak, dengan belajar dan melihat langsung seperti sekarang, kita bisa memiliki keterampilan baru setelah keluar dari sini."
Seorang tahanan wanita lainnya menimpali, "Betul sekali. Siapa tahu, suatu hari nanti aku bisa membuka usaha katering atau toko kue." Mereka saling tersenyum dan mengirimkan kekuatan satu sama lain.
Suasana di ruangan itu perlahan-lahan berubah menjadi hangat dan akrab. Tawa-tawa kecil terdengar di antara para tahanan wanita yang sedang sibuk mengaduk adonan dan mencampur bahan-bahan kue.
__ADS_1
Chef tamu yang diundang sudah memulai menularkan ilmunya. "Baik, Kakak-Kakak, Ibu-Ibu, kita lanjutkan step berikutnya. Pastikan adonan kalian diuleni dengan baik dan hati-hati saat memasukkan kue ke dalam oven."
Lita dan para tahanan lainnya bekerja keras, mencampur bahan-bahan dengan teliti. Semakin lama, mereka semakin terbiasa dan bersemangat dengan proses pembuatan kue tersebut.
Rosi tersenyum senang saat tangannya menyentuh adonan. "Lita, sepertinya adonanmu terlalu keras, coba tambahkan sedikit mentega lagi.” Rosi memegang adonan di tangan Lita.
"Aku enggak bisa membedakan, coba lihat adonanmu.” Lita mencubit sedikit adonan di tangan Rosi.
“Wah adonanmu lembut banget, Rosi. Aku enggak bisa bayangin kalau adonan ini matang, mungkin akan jadi roti paling keras dan enggak bisa dimakan, bahkan untuk melempar ke guguk bisa mati kali, ya.” Lita tergelak, geli dengan kebodohannya sendiri.
“Nih kasih mentega dikit. Urusan kuemu keras atau enggak, jangan risau. Namanya juga belajar.” Rosi menyodorkan mentega sachet.
Sementara kue-kue itu dipanggang di dalam oven, suasana terasa semakin hangat. Para tahanan wanita berbagi kisah hidup mereka satu sama lain, saling mendukung dan menguatkan. Mereka seperti saudara, bersama-sama mencari kekuatan di dalam keadaan yang sulit.
Waktu terus berlalu, dan akhirnya, kue-kue itu selesai dipanggang. Aroma harumnya menyebar ke seluruh ruangan. Petugas penjara membagikan kue-kue tersebut kepada para tahanan wanita. Mereka bergembira menikmati hasil kue buatan sendiri. Sungguh kebersamaan yang mahal.
Dalam suasana sederhana itu, Lita merasakan kebahagiaan terpancar dari wajah para tahanan wanita. Mereka merasa ada sedikit kebebasan di dalam momen langka ini, meskipun hanya sejenak. Semua penghuni sel merasakan hal serupa walaupun berada di dalam penjara, mereka masih memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh bersama, dan meraih sesuatu yang positif.
Lita yang sedari pagi berwajah murung juga merasakan suasana akrab itu, dengan senyum di wajahnya ia mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Terima kasih, semuanya. Kalian baik dan membuat hari-hari di sini jadi enggak terasa membosankan."
Mak Towok menyahuti perkataan Lita. "Kami saling mendukung di sini. Kita semua bisa keluar dari sini menjadi orang yang lebih baik."
Meskipun hidup di dalam rutan bukanlah hal yang mudah, Lita dan para tahanan wanita lainnya menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menghadapinya dengan kepala tegak dan berharap pada masa depan yang lebih baik.
...***...
__ADS_1