
Kediaman Orang Tua Leon
"Yon, mama dengar katanya Queensha dirawat di rumah sakit. Apa benar?" Pertanyaan Bu Ayu menjadi pembuka percakapan mereka.
"Benar, Ma. Queensha mengalami pendarahan gara-gara didorong mantan pacar Lulu. Akibat cowok sialan itu, Ghani hampir kehilangan istri dan ketiga calon anak-anaknya," sahut Leon.
"Pria bajingan itu lagi. Kenapa dia selalu berbuat onar. Seharusnya anak nakal seperti dia tidak terlahir ke dunia. Dia itu lahir dari rahim perempuan, tapi kok menyakiti perempuan mulu. Kalau mama punya anak macam dia, sudah mama kutuk jadi batu, biar tau rasa!" kata Bu Ayu berapi-api. Saking kesalnya, dia bahkan menaruh piring kosong sekuat tenaga di atas meja makan hingga menimbulkan bunyi nyaring. Pak Imran dan Leon bahkan tersentak kaget dibuatnya.
"Sabar, Ma. Jangan ngomel-ngomel begitu, nanti darah tinggimu kumat, bagaimana?" kata Pak Imran, mengelus-elus dada.
"Lagian mama kesal, Pa, sama si Andri itu. Dulu dia melecehkan Lulu dan nyaris memperkosa calon menantu kita, eh sekarang dia malah mencelakai menantu dari temanku. Mama benar-benar geram akan kelakuan dia, Pa. Mama tidak tau bagaimana orang tuanya mendidik si Andri sampai dia menjadi lelaki berengsek seperti itu."
"Mungkin saja orang tuanya terlalu memanjakan dia hingga tumbuh menjadi anak nakal. Karena keseringan dimanja jadi ngelunjak dan tau diri," sahut Pak Imran. Dia pun ikut kesal saat mendengar Leon menceritakan kisah masa lalu calon menantunya beberapa waktu lalu.
Bu Ayu menuangkan nasi goreng beserta lauk pauk ke atas piring sang suami lalu duduk di sebelah pak Imran. "Maka dari itu, dulu mama tidak mau terlalu memanjakan anak biar dia tak tumbuh menjadi anak manja, cengeng, dan berengsek seperti si Andri."
Wanita paruh baya yang sebentar lagi mempunyai menantu baru menatap ke arah Leon yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulut. "Lalu, apa kamu sudah membesuk Queensha? Kalau belum, ajak mama, dong. Mama juga mau membesuk Queensha. Tidak enak kalau tidak membesuk Queensha di rumah sakit."
Helaan napas berat meluncur dari hidung Leon. Dia menatap nanar pada mamanya. "Belum, Ma. Ghani tak memperbolehkanku membesuk istrinya."
Bu Ayu dan pak Imran melongo. Mata keduanya melotot dengan rahang terbuka sedikit.
"Kok bisa. Memangnya kenapa sampai Ghani melarangmu membesuk istrinya? Apa kalian bertengkar?" tanya Bu Ayu penasaran. Belum tahu jika terjadi sedikit perselisihan antara anak lelakinya dengan anak teman arisannya.
"Sudah pada dewasa masih saja bertengkar. Dasar anak muda. Kamu pasti buat masalah hingga Ghani melarangmu datang menengok istrinya. Kalau tidak, mana mungkin tiba-tiba saja Ghani berbuat begitu padamu." Pak Imran menimpali ucapan sang istri.
Lagi dan lagi Leon menghela napas berat. "Papa benar, aku yang duluan buat masalah. Sebelum kejadian, Ghani minta tolong padaku menjemput Queensha yang sedang bertemu Lulu di kedai bakso Mang Jawir. Tanpa diduga siapa pun, Andri datang dan berniat membawa Lulu secara paksa. Queensha yang tak mau Andri menyakiti Lulu, menghadang pria itu, tapi si berengsek malah mendorong Queensha hingga terjatuh ke jalan beraspal. Akibat dorongan keras membuat Queensha pendarahan."
"Karena hal itulah Ghani melarangku dan Lulu datang membesuk Queensha di rumah sakit. Ghani marah pada kami karena dianggap lalai menjalan tugas yang diberikan."
"Walaupun Ghani melarangmu, tapi tidak seharusnya kamu menuruti kemauan dia, Nak. Membesuk orang sakit hukumnya sunnah muakkad, yang artinya sangat dianjurkan oleh agama kita. Apalagi hubungan kita dengan keluarga Ghani sangat baik, masa iya kamu tidak mau menjenguk Queensha sama sekali. Terlebih Lulu dan Queensha sahabatan, alangkah baiknya kalian tetap datang ke rumah sakit "
"Misalkan Ghani marah ketika kalian tiba di sana, tak mengapa terpenting kamu dan Lulu sudah menunjukan perhatian kalian pada Queensha. Daripada tidak sama sekali, itu malah akan memperburuk hubungan antar kedua keluarga," sambung Bu Ayu.
Pak Imran mengangguk setuju. "Mamamu benar. Kamu ajak Lulu ke rumah sakit, temui Queensha dan berikan buah-buahan atau buket bunga sebagai bentuk perhatian kalian pada istri sahabatmu itu. Dan jangan lupa, minta maaf yang tulus pada Ghani karena kalian lalai menjalankan tugas yang diberi. Siapa tau mata hati Ghani terbuka dan mau memaafkan kalian."
***
Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya Leon memutuskan untuk menjenguk Queensha di rumah sakit. Dia berniat mengajak Lulu agar kekasihnya itu dapat bertemu dengan sahabatnya.
Ketika Leon tiba di indekos Lulu, dia langsung disambut hangat Ratna--teman sebelah kamar Lulu. Gadis berkacamata itu meminta Leon menunggu, sementara dirinya memanggilkan Lulu turun ke bawah.
“Hmm, lebih baik kamu berangkat sendirian ke sana,” tolak Lulu waktu Leon mengutarakan ajakannya.
“Kok gitu? Kamu enggak penasaran dengan keadaan sahabatmu sendiri?”
Lulu termenung. Bukannya dia tidak penasaran, dia hanya merasa malu dan juga bersalah karena tak dapat melindungi sahabatnya itu.
Queensha berniat menolongnya, tetapi justru terseret dalam masalahnya dengan Andri. Karena Andri, Queensha sampai mengalami pendarahan. Jika terjadi apa-apa dengan kandungan Queensha, Lulu akan merasa sangat bersalah pada sahabatnya.
“Aku enggak punya muka buat ketemu Queensha. Ini semua salah aku, Yon. Andai hari itu tidak mengajak Queensha pergi, pasti kejadiannya tidak akan begini," ucap Lulu sambil menundukan kepala. Meremas telapak tangan, menahan rasa bersalah bersarang di dada.
Leon mengusap punggung tangan kekasihnya dan berkata, “Ini bukan salah kamu. Semua ini kesalahan Andri yang telah mendorong Queensha sampai terjatuh."
“Tapi tetep aja. Coba kalau Andri bukan mantan aku mana mungkin Queensha sampai kayak gini. Aku berdosa banget sama dia, Yon."
__ADS_1
“Lu, tatap mata gue.” Leon menyentuh ujung dagu Lulu dan menatap mata kekasihnya itu dalam.
Lulu mengangkat wajahnya. Kini mata mereka bertatapan. Lulu bisa melihat iris mata Leon dalam jarak sedekat ini.
“Aku bilang sekali lagi, ini bukan kesalahanmu. Semua ini gara-gara Andri yang telah dirasuki iblis jahat. Kalau kamu masih anggap Queensha sahabat, kamu dan aku harus datang ke sana sebab diriku pun sama bersalahnya dengan kamu. Kita berdua sama-sama tidak dapat menjalankan amanah Ghani dengan baik."
"Kurasa cuma itu bentuk tanggung jawab kita sekarang, enggak ada yang lain. Kalau kita terus menghindar, bukannya malah membuat nama kita semakin buruk di mata Queensha dan juga Ghani."
Lulu termenung sejenak. Kata-kata Leon ada benarnya. Kalau dia tak muncul saat sahabatnya dirawat, Ghani pasti berpikiran yang bukan-bukan tentangnya.
“Baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang.”
“Bagus. Itu baru pacar aku." Leon tersenyum. Dia merasa bangga karena berhasil membujuk Lulu agar mau menemui Queensha di rumah sakit.
***
Begitu tiba di rumah sakit, Leon dan Lulu segera berjalan menuju ruang VVIP. Tak perlu bertanya di mana ruangan itu berada sebab Leon telah hafal seluk beluk rumah sakit tempat Queensha dirawat. Jantung Lulu sedikit berdebar karena takut dengan respon Queensha dan Ghani nanti. Leon pun sama groginya dengan sang kekasih, tetapi berusaha menyembunyikan itu dari gadia di sebelahnya.
Menggenggam tangan Lulu untuk menguatkan hati kekasihnya. "Neko-chan, rileks. Aku yakin semua akan baik-baik aja."
Tiba di depan pintu ruangan tempat Queensha dirawat, Lulu mengetuk pintu. Dan ketika dirinya diperbolehkan masuk, barulah dia mendorong pintu tersebut. Tampaklah di depannya Ghani tengah menunggui istrinya yang tertidur.
“Dokter Ghani"
"Ghan."
Sepasang kekasih itu berkata hampir bersamaan.
Mendengar suara yang negitu familiar di telinga, Ghani mendengkus kesal. Dengan suara dingin dia berucap, "Mau ngapain lo ke sini? Bukannya gue udah bilang, jangan datang ke rumah sakit, eh sekarang lo malah ngajak cewek lo ini. Lo tuh budeg atau apa, sih, Yon!"
"Benar, Dok. Aku dan Leon benar-benar menyesal. Karena itulah kami datang secara langsung untuk minta maaf. Tolong maafkan kami," kata Lulu bersungguh-sungguh.
"Gampang sekali kamu minta maaf, setelah apa yang terjadi pada Queensha. Andai saat itu nyawa Queensha dan ketiga janin dalam kandungannya tidak selamat, memangnya kamu mau bertanggung jawab, hah?" sentak Ghani.
Leon berdiri di depan Lulu, bersikap siaga, siapa tahu Ghani lepas kendali dan menampar kekasihnya itu.
“Gue tahu lo marah besar, karena itulah kami minta maaf dengan tulus atas kecelakaan yang menimpa Queensha. Lagi pula, bukankah semua kesalahan terletak pada Andri. Cowok sialan itulah dalang di balik musibah ini," kata Leon. Sedikit tidak terima jika kekasihnya terus disalahkan.
“Mas Leon benar, Ko."
Tiba-tiba saja terdengar suara Queensha. Ghani, Lulu, dan Leon segera menoleh ke ranjang Queensha. Rupanya wanita itu sudah bangun dan mendengar pertengkaran Ghani dan Lulu barusan.
“Sayang, kamu sudah bangun? Apa kamu butuh sesuatu?” Ghani segera mengalihkan perhatian pada istrinya.
Queensha menggeleng lemah. “Aku tidak butuh apa-apa, Mas. Aku hanya butuh istirahat lebih lama, tapi malah mendengar bentakan kamu."
“Ko, jangan marah sama Lulu dan Mas Leon. Ini semua sudah takdir. Harusnya aku lebih mawas diri, dan lebih hati-hati. Apalagi saat itu berhadapan dengan laki-laki berengsek berhati iblis. Sudah ya, jangan marah pada mereka berdua." Queensha memegang lengan Ghani, menatap manik coklat suaminya dengan teduh.
Ghani menghela napas pendek. Sebagai korban, Queensha tak mempermasalahkan apa yang menimpanya. Jadi, dia pun harus bisa melupakan apa yang terjadi dan memaafkan Lulu dan Leon.
“Baiklah, aku maaf kalian berdua. Semua kulakukan demi Queensha. Lain kali, aku berharap jangan sampai ada kejadian kayak begini lagi. Jaga dan lindungi Queensha dengan baik. Paham?” tandas Ghani tegas.
Raut kebahagiaan terpancar dari wajah Lulu dan Leon. Akhirnya permintaan maaf meeka diterima Ghani.
"Siap, Bos!” sahut Leon sambil bergaya seperti orang yang sedang hormat pada atasannya.
__ADS_1
Melihatnya, Lulu mengikuti apa yang dilakukan Leon.
“Siap, Komandan!” seru Lulu sambil hormat pada Ghani.
Tak urung, Queensha menahan tawa melihat kelakuan Lulu dan Leon. Suasana tegang berubah menjadi menghangat. Ghani tak terlihat semarah tadi, mungkin karena Queensha membujuk suaminya dengan tulus, pria itu akhirnya melunak dan mau memaafkan Leon dan Lulu.
***
“Omong-omong, kalian tahu di mana Andri sekarang?” tanya Queensha ingin tahu.
Lulu mengendikkan bahu. “Entahlah. Gue juga enggak tahu di mana dia sekarang. Mungkin dia kabur keluar negeri karena takut dihajar Leon dan Dokter Ghani. Dia kan emang pengecut, buktinya sesaat setelah melecehkan gue, dia pergi ke Amerika karena takut gue laporin ke polisi."
“Cih, dasar cemen! Ghan, lo enggak berniat melaporkannya ke polisi?” Leon menatap Ghani.
Ghani terdiam, tak langsung menjawab. Tentu saja dia tak rela kalau orang yang telah mencelakakan istrinya bisa hidup tenang di luar sana sementara istrinya nyaris meninggal dan kehilangan calon anak-anak mereka.
"Tentu aja gue berniat melaporkan Andri ke polisi. Tapi gue nunggu timing yang tepat," jawab Ghani seraya membantu Queensha duduk di ranjang pasien.
“Bagus, dia memang patut mendapat ganjaran. Ko, aku mau kamu beri dia pelajaran karena nyaris melenyapkan nyawa ketiga anak kita. Beri dia hukuman setimpal." Queensha yang terkenal baik, tak pernah mendendam kini berubah menjadi wanita menyeramkan karena Andri telah bermain-main dengan nyawa ketiga jagoannya. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak terima bayi yang dikandungnya menderita. Dia ingin Ghani membalaskan dendamnya pada pria itu.
“Gue setuju. Andri emang pantas dihukum. Kelakuannya sudah keterlaluan!” Rahang Leon mengeras. Dia pun dendam pada pria itu karena berniat jahat pada kekasihnya.
“Benar. Dokter Ghani harus segera bertindak sebelum Andri kabur. Andri itu licik. Siapa tahu saat ini dia sedang mempersiapkan diri untuk kabur karena tidak mau ditangkap polisi," timpal Lulu.
Ghani manggut-manggut. “Setelah ini gue akan mengurus hal itu. Omong-omong, gue mau ngomong sesuatu sama lo, Yon. Bisa kita bicara di luar?” ajak Ghani pada Leon.
Leon mengerutkan keningnya bingung dengan permintaan Ghani. Namun, dia menerima ajakan sang sahabat.
***
Begitu sudah berdua saja, Ghani membicarakan sesuatu yang mengganjal hatinya pada Leon.
“Gue enggak mau Adri diserahkan pada polisi begitu aja.” Saat mengatakannya, tampak sorot membara pada tatapan Ghani.
“Apa maksud lo, Ghan?” tanya Leon bingung.
“Ya, gue enggak rela aja si Andri masuk penjara tanpa gue kasih pelajaran tipis-tipis. Minimal tangannya patah atau kalau perlu gue k3b1r1 dia karena sering merenggut kesucian anak gadis orang."
“Hah? Lo serius? Jangan bertindak gegabah, Ghan. Inget reputasi lo dan keluarga Wijaya Kusuma. Dokter Rayyan dan Dokter Arumi bisa malu karena lo terlibat dalam tindak kriminal."
“Gegabah gimana maksud lo? Emang kalau Andri bikin Lulu celaka, lo rela gitu aja dia dijebloskan ke penjara tanpa lo balas dendam? Ini udah menyangkut nyawa Queensha dan bayi kembar gue! Gue sakit hati banget lihat istri gue jadi korbannya!”
“Gue paham, Ghan. Tapi apa nanti enggak bakal ada masalah?”
“Gue yakin, Yon. Gue tinggal utus Yogi turun tangan buat celakain Andri. Setelah itu baru deh dijeblosin ke penjara."
Leon menghela napas pendek. Melarang pun sia-sia sebab Ghani akan tetap menjalankan rencananya itu.
"Gue dukung aja gimana baiknya."
“Oh ya, gue mau ngucapin makasih karena lo mau donorin darah untuk Queensha. Walaupun saat itu Queensha marah ke lo, tapi lo tetep berbuat baik sama bini gue."
Leon terkekeh pelan. Merangkul pundak sahabatnya hingga tubuh mereka menempel. “Itu udah tugas gue sebagai sahabat lo dan juga sebagai sesama manusia.” Mendonorkan darahnya pada Queensha hanya hal kecil yang bisa dia lakukan sebagai bentuk kemanusiaan.
...***...
__ADS_1