
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, menembus kemacetan ibu kota, akhirnya mobil yang dikendarai Ghani tiba di depan pintu masuk taman hiburan yang berada di pinggiran kota Jakarta. Hari ini Ghani ingin pergi berkencan dengan calon istrinya tanpa diganggu siapa pun termasuk ... Aurora. Ia ingin mengukir kisah mereka berdua ... hanya berdua.
"Sayang, i-ini ...." Queensha membekap mulutnya menggunakan telapak tangan. Matanya berbinar bahagia ketika melihat deretan toko souvenir berjejer di sepanjang jalan sebelum pintu masuk arena taman hiburan.
"Ya, saya sengaja mengajakmu kencan ala rakyat biasa. Kalau pergi ke mall, bioskop ataupun mengajakmu makan di restoran mahal pasti kamu merasa kurang nyaman. Oleh karena itu, saya ajak kamu ke sini. Bagaimana, kamu menyukainya?" tanya Ghani seraya mencari tempat parkir yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk arena taman hiburan.
"Suka! Sangat suka!" jawab Queensha dengan wajah semringah. Ia kembali melingkarkan tangan di lengan Ghani dan untuk kedua kali mendaratkan satu ciuman di pipi pria itu dengan bersemangat.
Ghani mengusap puncak kepala Queensha, turut merasakan kebahagiaan yang istrinya rasakan. "Lain kali, saya akan sering mengajakmu berkencan, pergi ke mana pun yang kamu inginkan. Jadi saat kamu sedang ingin pergi keluar, bilang padaku nanti saya ajak kamu jalan-jalan melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan."
Queensha hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Wanita itu sangat bahagia sebab Ghani tahu apa yang ia mau. Rasanya ia tak menyesal telah memberi kesempatan kedua kepada pria itu.
"Sudah siap menikmati semua wahan permainan ini, My Queen?" gumam Ghani mengulurkan lengan dengan telapak tangan menengadah ke atas.
Menirukan gaya bangsawan jika hendak melangkah bersama pasangan wanita mereka. Meminta agar jemari lembut bersedia mengamit tangannya.
"Tentu saja, Kokoku sayang!" jawab Queensha menerima ajakan tangan sang calon suami dan meletakkan jemarinya yang lentik di sana.
Ghani tersenyum, dapat merasakan kembali kelembutan permukaan kulit Queensha, sosok wanita yang telah memberikannya seorang putri kecil cantik dan begitu menggemaskan. Satu-satunya wanita yang selalu membuat ia bermimpi akan malam indah pernah mereka lalui bersama.
Tak berkata apa-apa, keduanya melangkah menuju pintu masuk arena permainan. Tidak perlu mengantri membeli tiket sebab Ghani telah memesannya secara online sebelum ia melakukan tindakan operasi tadi pagi. Ya, Ghani telah mempersiapkan segalanya termasuk menitipkan Aurora kepada Zahira agar adik kembarnya itu mengurus si kecil selama ia berpacaran dengan Queensha.
Ghani berkali-kali melirik Queensha dan ia tahu jika wanita itu sedang menahan sesuatu di dada. Sebetulnya Ghani pun merasakan hal yang sama hanya saja ia dapat menyembunyikannya sehingga tak ada satu orang mengetahui betapa kencangnya genderam bertabuh di dalam dada.
__ADS_1
Queensha memindai sekitarnya, memilih wahana permainan mana yang pertama kali ingin ia coba. Roller coaster, bianglala, paralayang, kora-kora, turbo drop atau rumah hantu, semua wahana tersebut tampak begitu mengasyikan dan menguji adrenalin. Seandainya diperbolehkan, ia ingin mencoba semuanya.
"Sayang, ayo coba kora-kora!" pekik Queensha seraya menunjuk arena permainan yang berbentuk seperti kapal yang bergerak mengayun.
Tubuh Ghani lemas, tungkainya terasa tak mampu menopang beban tubuhnya ketika melihat segerombolan orang sedang duduk di kursi dengan pengaman yang dipasang di tubuh. Kapal tersebut bergerak maju mundur secara perlahan terlebih dulu, kemudian kecepatan dan ketinggian akan meningkat secara berkala. Jerit histeris menggema di telinga pria itu.
"Sha, tidak coba permainan lain? Di sana banyak wahana permainan yang lebih seru daripada kora-kora," ujar Ghani. Wajah pria itu tiba-tiba berubah pucat dibanding beberapa saat lalu.
Mata Queensha menyipit ketika menyadari telapak tangan Ghani mulai terasa basah dan dingin. Detik berikutnya ia menoleh ke arah suaminya dan mendapati wajah pria itu terlihat pucat.
Ingin rasanya Queensha tertawa melihat ekspresi wajah Ghani saat ini. Dari luar terlihat menyeram, tapi ternyata sosok itu takut akan wahana permainan yang menguji adrenalin. Benar-benar terlihat lucu pikir Queensha.
"Memangnya kenapa kalau aku ingin coba kora-kora? Bukankah itu lebih menyenangkan daripada wahana yang lain? Kita dapat menjerit kencang ketika kapal tersebut bergerak maju dan mundur," ucap Queensha menahan tawa, sengaja melakukan itu untuk menggoda sang calon suami.
"I-iya, sih. Hanya saja ... saya ...."
"Ngaco kamu. Saya bukan tipe lelaki penakut, Sha. Saya ini pemberani dan tak pernah mengenal takut, mengerti?" Ghani mencoba mengelak sebab tak mau kalau sampai Queensha mengetahui kelemahannya.
Queensha manggut-manggut. "Oh, begitu. Kalau memang tidak takut, ayo kita coba wahana itu."
Queensha menggandeng tangan Ghani menuju loket. Setelah membayar dan menunggu sebentar, akhirnya tiba giliran mereka. Ghani memilih kursi di bagian tengah karena menurutnya lebh aman daripada duduk di kursi depan dan belakang.
Wahana permainan dalam bentuk kapal mulai bergerak. Berawal dari gerakan pelan, lama kelamaan menjadi cepat lalu ketinggiannya bertambah membuat Queensha berteriak sekuat tenaga bersamaan dengan teriakan bersumber dari Ghani serta para penumpang lain. Ghani yang baru pertama kali naik kora-kora mencekal besi pengaman dengan kencang seraya memanjatkan doa semoga permainan ini cepat selesai.
__ADS_1
Queensha melihat ekspresi Ghani yang terlihat pucat memunculkan rasa penyesalan dalam diri. Merutuki kebodohannya karena tidak mendengar saran pria itu.
Menggenggam jemari tangan Ghani dan meninggikan suara di telinga Ghani. "Mas Ghani tenang saja, permainan ini aman digunakan oleh kita semua. Asalkan besi pengaman ini tetap melingkar di tubuh maka semuanya akan baik-baik saja."
Ghani menarik napas dalam dan menoleh pada Queensha. Walaupun masih ada keraguan dalam diri, tapi ia yakin selama ada Queensha di sisinya semua akan baik-baik saja.
Mengumpulkan keberanian dalam dada, mencoba menyingkirkan rasa takut yang membelenggunya selama ini. Ghani mencoba menikmati wahana permainan itu dengan berteriak histeri sama seperti Queensha dan yang lainnya.
"Hu, yeah! Ternyata seru juga, ya, Sha! Saya tidak menyangka jika naik kora-kora akan semenyenangkan ini. Seandainya tahu sejak dulu saya pasti mengajak Zavier dan Zahira mencobanya." Ghani tertawa puas karena telah mengalahkan rasa takutnya akan ketinggian. Dan itu semua berkat bantuan Queensha.
Queensha terkekeh melihat tingkah laku Ghani. "Ehm, bagaimana jika kita bertamasya bersama? Kamu ajak Ayah, Bunda serta adik-adikmu ke sini. Pasti seru karena dapat menghabiskan waktu bersama. Kapan lagi kita jalan-jalan satu keluarga."
Kedua sudut bibir Ghani tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan seperti busur panah. "Ide yang bagus. Nanti aku coba tanyakan apakah Ayah, Bunda serta adik-adik bersedia bertamasya bersama."
Setelah puas bermain, kini saatnya Ghani dan Queensha mengisi perut. Keduanya memutuskan mampir ke kedai bakso yang ada di sekitar.
"Sha, nanti malam saya berencana memberitahu Ayah dan Bunda tentang kejadian lima tahun lalu. Saya tidak mau menyembunyikan apa pun dari mereka biar bagaimanapun, Ayah dan Bunda berhak tahu apa yang terjadi di antara kita berdua."
Queensha menghentikan sejenak kegiatannya. Ia pandangi iris mata coklat dengan lekat. "Apa kamu yakin?" tanyanya sedikit ragu, merinding sendiri saat membayangkan apa yang akan terjadi kepada Ghani setelah Rayyan tahu jika putera tertuanya itu telah memperkosa seorang gadis saat kuliah di Jepang dulu.
Dengan tegas Ghani menjawab, "Yakin sekali! Saya tidak mau menunda terlalu lama untuk dapat menghalalkanmu. Saya sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya. Kamu, mau 'kan menemaniku bertemu kedua orang tuaku? Saya butuh dukungan dari orang yang kucintai."
Queensha mengulurkan tangan ke depan, mengusap punggung tangan Ghani perlahan. "Tentu saja. Aku akan selalu menemanimu sampai kamu sendiri yang memintaku untuk menjauh."
__ADS_1
"Queensha! Hentikan! Sampai kapan pun, kamu tetap berada di sisiku selamanya!" tandas Ghani dengan penuh penekanan.
...***...