
"Apa? Jadi wanita sialan itu dua hari lalu berlibur ke Puncak bersama Ghani dan Aurora? Kenapa kamu baru memberitahuku, heh? Bukannya aku pernah bilang untuk terus melaporkan berita apa pun tentang Queensha kepadaku, lalu kenapa baru sekarang kamu memberitahuku?" Cassandra bangkit dari kursi karena saking terkejutnya akan berita yang disampaikan orang kepercayaannya itu. Tanpa sadar tangannya sedikit menggebrak meja.
Orang suruhan Cassandra yang ditugaskan untuk memata-matai Queensha menjawab, "Maaf, Nona. Bukannya tidak ingin memberitahu Nona Cassandra, hanya saja saat saya mencoba menelepon, nomor telepon Anda berada di luar jangkuan. Saya mengirim pesan pun hanya centang satu sehingga membuatku kebingungan dengan cara apa lagi untuk menyampaikan berita ini. Segala macam cara sudah dilakukan, tetapi tak ada respon apa pun dari Anda."
Seketika sebuah palu besar menghantam kesadaran Cassandra. Wanita itu baru tersadar jika dua hari lalu diperintahkan sang paman untuk pergi ke suatu tempat yang ada di sebelah Timur Indonesia guna membantu para korban bencana alam. Akibat bencana banjir yang melanda membuat saluran listrik dan telepon terputus. Oleh karena itu, selama berada di sana ia tak dapat mengirim pesan maupun menerima pesan dari siapa pun.
Api amarah yang sempat berkobar perlahan meredup karena sadar jika ini bukan murni kesalahan orang kepercayaannya. Jika ada yang harus disalahkan orang itu adalah sang paman karena menugaskan dirinya tanpa meminta pendapatnya terlebih dulu.
Menghela napas kasar lalu kembali berucap, "Berapa lama mereka liburan? Dan ... apakah mereka tidur satu kamar selama berlibur bersama?" cecar Cassandra.
"Dua hari satu malam, Nona. Dari informasi yang didapat, mereka tinggal di kamar terpisah. Nona Queensha dan si kecil Aurora tidur di kamar yang sama, sedangkan Dokter Ghani di kamar lain. Namun, mereka memesan kamar bersebelahan."
"Aargh. Kenapa harus bermalam segala? Kenapa tidak langsung pulang setelah mereka puas bermain?" raung Cassandra melempar semua barang di atas meja kerja. Dada wanita itu kembang kempis, mata memerah karena diselimuti api cemburu.
Menatap tajam dengan deru napas memburu. "Gue yakin pasti ada seseorang di balik ini semua. Jika tidak, mana mungkin Ghani mau berlibur bersama perempuan asing. Dia kan paling anti jika harus menghabiskan waktu dengan orang yang tak dikenalnya."
Cassandra mengulum senyum. Mengingat bagaimana sikap Ghani yang terkesan menjaga jarak dengan lawan jenis ketika mereka masih menimba ilmu di negeri Sakura. Berpikir jika dirinya mempunyai peluang besar untuk mendapatkan hati Ghani dan menjadi istri dari pria yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Nona Cassandra, apa ada hal lain yang ingin Anda tanyakan kepada saya?" ujar orang kepercayaan Cassandra setelah cukup lama terdiam, membiarkan majikannya meluapkan kekesalannya.
Menggeleng cepat. "Tidak ada! Tugasmu tetap laporkan segala hal yang berkaitan dengan wanita siala itu. Mengerti?"
"Mengerti, Nona. Kalau begitu saya tutup dulu sambungan teleponnya. Selamat siang." Sambungan telepon dimatikan maka berakhir pulalah percakapan antara pria itu dengan Cassandra.
***
Usai menerima panggilan telepon dari orang kepercayannya, Cassandra melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju restoran cepat saji di kawasan Jakarta Pusat. Siang ini secara khusus ingin menemui Queensha dan sedikit memberinya pelajaran karena sudah berani menerima ajakan Ghani berlibur bersama ke Puncak, Bogor.
Melangkah dengan langkah panjang menuju bangunan dua lantai. Cassandra semakin mempercepat langkah ketika melihat seorang wanita muda tengah melayani salah satu pelanggan.
Queensha yang cukup terkejut akan kedatangan Cassandra, tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah wanita sinting yang ada di sebelahnya. Pergelangan tangan di cengkeram erat semakin menyulitkan Queensha untuk dapat melepaskan diri dari cengkeraman Cassandra.
"Gue udah pernah bilang, jangan pernah coba mendekati Ghani, tapi kenapa lo bersikeras mendekatinya, heh! Apa lo enggak takut gue akan melakukan sesuatu kepada lo?" kata Cassandra tanpa basa basi. Ia paling tidak suka basa basi jika menyangkut Ghani.
Queensha menyeringai walau pergelangan tangan terasa sakit akibat dicengkeram Cassandra. Ia menatap Cassandra dengan tatapan meremehkan. Lelah, tidak ingin terus ditindas oleh wanita gila yang berangan menjadi nyonya muda Wijaya Kusuma.
__ADS_1
"Kalau gue enggak takut, gimana? Emangnya lo mau melakukan apa terhadap gue?" sahut Queensha tanpa rasa takut sedikit pun.
"Lo mau memerintahkan seseorang untuk mencelakai gue, iya?" Queensha maju beberapa langkah ke depan hingga posisinya berhadapan dengan Cassandra. "Jika itu yang ada di benak lo sebaiknya urungkan segera karena gue enggak pernah takut dengan ancaman lo! Bagi gue, semua ucapan lo hanya gertakan belaka dan enggak akan pernah jadi kenyataan."
Napas Cassandra memburu cepat mendengar ucapan Queensha. Kedua tangan wanita itu mengepal di samping tubuh. Mulut wanita itu terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi Queensha lebih dulu bersuara.
"Asal lo tahu, sejak masih remaja gue udah terbiasa menerima siksaan dari orang terdekat. Tamparan, pukulan bahkan hinaan sudah menjadi makanan sehari-hari jadi saat lo mengancam ingin melakukan sesuatu kepada gue, gue enggak takut tuh. Paling apesnya gue disekap lalu dilecehkan oleh orang suruhan lo. Benar begitu?" tanya Queensha seraya memajukan wajahnya ke depan wajah Cassandra. Keduanya saling berpandangan, menatap iris coklat masing-masing.
Queensha memundurkan lagi tubuhnya lalu memutari tubuh Cassandra yang seakan membeku di tempat. "Gue tahu lo itu sangat mencintai Mas Ghani sampai rela melakukan apa pun untuknya. Namun, lo juga harus sadar jika cinta lo itu bertepuk sebelah tangan. Mas Ghani enggak cinta sama lo jadi berhenti mengharap sesuatu yang enggak pasti."
"Omong kosong! Ghani itu cinta mati sama gue. Dia cintanya cuma sama gue!" teriak Cassandra dengan nada suara tinggi.
Jari telunjuk Queensha bergerak ke kanan dan kiri. Senyuman mengejek masih terukir di wajahnya yang cantik jelita. "No, no, no. Mas Ghani enggak cinta lo, Sandra. Mas Ghani itu cintanya sama gue. Buktinya dia memberikan ini sebagai bukti keseriusannya." Wanita itu menunjukan punggung tangannya ke hadapan Cassandra. Sengaja memperlihatkan cincin berlian warisan milik keluarga Wijaya Kusuma.
Mata terbelalak lebar dengan rahang terbuka sempurna. Cassandra terkejut ketika melihat cincin berkilau di jemari manis Queensha.
"I-itu ...."
__ADS_1
...***...